
Sekembalinya dari rumah sakit, Nara masih nampak pucat dan lemah, Nara telah kehilangan banyak darah saat mengalami keguguran, senyum yang biasa menghiasi wajah cantiknya hilang begitu saja, wanita cantik itu meringkuk di atas ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Danu begitu sabar merawat istrinya, meski hatinya sendiri begitu sedih telah kehilangan calon bayinya, saat Danu memakamkan sendiri janin yang baru berumur beberapa minggu dan belum diketahui jenis kelaminya itu di pekarangan rumahnya, pria itu menangis hingga punggungnya berguncang, ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga istri dan calon bayinya, sebelum akhirnya menutupnya dengan tanah dan menandainya dengan batu serta menanami bunga di sekitarnya.
Setelah membersihkan diri Danu ikut berbaring disisi istrinya, sejak kejadian yang menimpa istrinya, Danu tidak bisa tidur nyenyak, ia sering mendengar istrinya menangis meski dalam keadaan tertidur, kesedihan di hatinya membuat hubungan mereka terasa hambar, Danu merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur memeluk erat istrinya, dan dalam hitungan detik saja Danu sudah mendengkur.
Bunyi ponsel itu membangunkan Nara, karena Danu tak juga bangun untuk mengangkat panggilan ponselnya yang menganggu waktu istirahat mereka.
''Mas..., mas Danu...!!, Nara menggeliat membangunkan suaminya yang begitu lelap tak terganggu memeluk tubuhnya seperti guling.
''Mas ponselmu bunyi, angkat dulu'', ucap Nara lembut, tapi Danu tidak bangun juga, perlahan Nara meraih ponsel suaminya yang diletakkan di nakas dan melihat nama pemanggil yang tak lain Raka.
''Mas bangun, Raka telfon mungkin ada hal penting'', ucapnya membangunkan suaminya
''Angkat saja sayang'', Danu masih enggan bangun juga
Nara segera menekan tombol hijau
''Halo Ka ada apa????
''Nara!!!, suamimu kemana??, maaf menggangu'',
''Mas Danu sedang tidur, ada apa Ka???, tanya Nara.
''Aku mau kasih tahu kalau uncle Mike, maksudku papa mertuamu sekarang sedang bersamaku, dia datang untuk mengawal para penculik yang menculik Nata untuk menyerahkan diri, Adrian dan ibunya juga datang bersamanya, sekarang aku akan mengantar uncle Mike ke tempatnya menginap, dia ingin segera beristirahat sedang rumah kalian jauh dari sini, dia ingin bertemu kalian sebelum balik'', jelas Raka.
''Menyerahkan diri, serius Ka???, Nara terkejut
''Iya sekarang sedang ditangani, kamu tenang saja, istirahatlah''. ucap Raka
''Kirimkan alamat tempatnya menginap, nanti biar mas Danu yang menemuinya''.
''Baiklah, cepat sehat Ra, aku tutup dulu''.
''Trimakasih Ka''.
Nara menaruh kembali ponsel suaminya di nakas,lalu bersandar di ranjang, entah apa yang dipikirkannya, Nara melamun cukup lama, tidak sadar jika suaminya sudah bangun dan memperhatikannya.
''Sedang memikirkan apa sayang??, cuupppp", Danu ikut bersandar di sisinya
"Sudah bangun mas", Nara tersenyum tipis dan sayu
"Bagaimana tidurnya??, tanyanya lagi
''Lumayan, kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang sedang kamu pikirkan tadi", ucap Danu
"Tadi Raka telfon, dia bilang sedang bersama papa Mike'', lalu Nara menceritakan apa yang dikatakan Raka di telfon pada suaminya.
''Kamu tidak perlu kuatir, mereka sudah ditangani pihak berwajib, fokus saja untuk kesembuhanmu '', ucap Danu menenangkannya.
Danu memang tidak memberitahu istrinya tentang keadaan saudara kembarnya Nata yang dilecehkan Adrian, Nara hanya tahu keadaan saudaranya itu terlihat baik saat menjenguknya dirumah sakit, tapi sebagai seorang dokter Nara sangat tahu saudara kembarnya pasti mengalami trauma, dan belum tahu apa yang akan terjadi kedepanya.
''Iya, kapan mas Danu akan menemui papa???
"Mungkin besok saja, mana bisa aku meninggalkanmu sendirian, aku takut ada yang menculik istriku yang cantik ini", Danu meraih tubuh Nara dan memeluknya
"Tentu saja ada, seseorang yang sudah terobsesi tidak akan peduli dengan apa yang ingin dimilikinya, apalagi sekarang dia sedang berada disini", ungkapnya
"Maksud mas Danu Adrian, aku rasa dia tidak seperti itu mas, terakhir kali kami bertemu, sepertinya dia sudah mengerti, aku memang tidak mengenalnya dengan baik, tapi selama ini dia baik padaku, padahal aku sering menolaknya, jika dia ingin menculiku, pasti sudah dia lakukan dari dulu, saat aku masih tinggal disana'', jelas Nara
"Memang bukan Adrian yang melakukanya, tapi orang-orangnya atas perintah ibunya, jadi tidak ada salahnya waspada, aku sudah sering kehilangan, orang tuaku berpisah dan memiliki kehidupan masing-masing, dan aku tidak ingin kehilanganmu, semua ini sudah cukup menjadi pelajaran hidup bagiku, sudahlah jangan membicarakanya lagi, aku tidak suka mendengar nama itu kamu sebut dengan bibirmu'', ucapnya
Nara mendongak menatap wajah suaminya, lalu ia duduk dipangkuan Danu, Nara memegang erat tangan Danu jemarinya saling bertautan lalu mencium telapak tangan suaminya, "trimakasih sudah merawat dan menjagaku, aku tidak akan menyebut namanya lagi", ucapnya lalu mencium bibir suaminya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, sangat -sangat mencintai'', Danu merasa senang istrinya sudah bisa tersenyum kembali, istrinya sangat bisa meluluhkan hatinya saat tidak tenang seperti sekarang.
Nara mencium lagi dengan gerakan yang begitu menggoda, Danu memeluk erat pinggang istrinya, dan membalas dengan ciuman yang lebih dalam, hingga Danu tak bisa menahan diri dengan permainan lidah yang mereka ciptakan, Danu membalik tubuh Nara yang kini berada di bawahnya dan mulai menjelajahi leher jenjangnya, membuat istrinya menggeliat di bawahnya, hingga kemudian ciuman itu berhenti di perut rata istrinya. Sesaat ia teringat baru beberapa hari lalu ia begitu bahagia mengetahui kehamilan istrinya, tapi kemudian ia harus merasakan kesedihan, ia seperti dipermainkan oleh takdir hidupnya.
"Sayang, sampai kapan aku harus menahan diri???, kepalaku pusing jika seperti ini'', ucapnya lirih sembari terus mencium perut istrinya, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Siapa yang menyuruh mas Danu menahan diri", ucapnya sembari tersenyum, Nara tahu maksud ucapan suaminya.
Danu menatap istrinya dalam, wajahnya terlihat masam mendengar ucapan istrinya yang justru seperti menggodanya.
"Sabar dulu mas, beneran pusing, mau minum obat??.
"Minum obatpun tidak akan bisa menyembuhkannya".
tiba-tiba perut Nara berbunyi Kruuuukkkk...kruuukkk
''Kamu lapar sayang??? tanya Danu
''Sepertinya begitu'', Nara mengalungkan kedua tanganya di leher Danu.
Danu tersenyum, ''mau makan apa???
''Aku ingin makan sesuatu yang enak, yang bisa mengurangi pusing di kepala", ucapnya manja
''Kamu masih pusing???.
Nara mengangguk, melihat suaminya yang kuatir dengan keadaanya, dalam hati ia bersyukur memiliki suami yang begitu mencintainya. Nara tahu suaminya masih sedih dengan keguguran yang dialaminya, tapi itu bukan disengaja, semua terjadi begitu saja tanpa bisa di cegah, dia juga ingin memiliki keturunan yang akan memperkuat cinta mereka, tapi sepertinya ia belum dipercaya untuk memilikinya.
''Aku masak dulu ya'', ucap Danu
''Aku ikut, aku bosan tiduran terus'', ucapnya manja tak melepaskan tangannya dari leher suaminya. Danu pun beranjak dengan mengendongnya seperti koala, lalu mendudukan istrinya itu di meja dapur.
''Tunggu sebentar, aku akan masak''
Nara melepas suaminya untuk segera memasak, sejak awal pernikahan mereka, Danulah yang selalu menyiapkan makanan untuk istri dan dirinya. Danu tidak keberatan melakukan itu semua, sejak awal Danu ingin mengutamakan keluarga, karena ia tidak ingin keluarga yang ia bangun dengan wanita yang sangat ia cintai berakhir dengan perpisahan seperti kedua orang tuanya, yang memilih berpisah dan memulai kehidupan dengan orang lain, tanpa memikirkan bagaimana perasaa Danu sebagai anak, bahkan hubunganya dengan kedua orang tuanya tidak begitu dekat.
''Mas, kamu seperti papaku, hobinya masak''. ucap Nara hanya melihat suaminya yang mulai menyiapkan bahan-bahan untuk di masak.
''Aku tidak ingin membuat istriku kelaparan, apalagi papa bilang istriku tidak bisa masak''.
''Papa bilang begitu!!!!, Nara sedikit kaget kemudian tersenyum, ''maaf ya'', imbuhnya
Danu memasukan buah anggur ke dalam mulutnya lalu memasukan anggur itu ke mulut istrinya dan Nara pun memakanya,''Aku tidak keberatan melayanimu, berjanjilah untuk setia padaku selamanya''.
Nara mengangguk tersenyum memeluk leher suaminya.