
Nara dan Danu memutuskan menginap di kedai orang tuanya, dia juga meminta Raka datang untuk makan malam bersama disana, karena memang tempat kerja Raka yang juga berada di pusat kota, sedang Hana juga telah kembali bekerja lagi. Setelah beristirahat siang tadi Nara berbincang sebentar dengan Nata, lalu belajar memasak di dapur kedai ditemani suami dan diawasi langsung oleh papanya. Papa Rey mengenalkan beraneka jenis bumbu dan rempah yang digunakan untuk memasak, Danu tersenyum melihat istrinya yang kesulitan membedakan rempah-rempah untuk membuat bumbu masakan. Papa Rey merasa kasihan pada putrinya Nara yang tidak memahami cara memasak, berbeda dari kedua sadaurinya, karena memang Hana dan Nata sudah terbiasa membantunya di kedai, sedang Nara berada jauh darinya untuk menuntut ilmu.
Saat ini Nara ingin memasak ayam dan bebek goreng kesukaannya, karena ayam dan Bebek goreng buatan papanya menurutnya sangat lezat, apalagi taburan diatasnya yang gurih dan renyah dan sambelnya yang membuat nafsu makanya bertambah. Nara memasukan potongan ayam ke wajan berisi minyak yang panas, tapi karena takut, dia malah melemparnya membuat minyak panas itu memercik dan membuat kobaran api, Danu yang saat itu di sampingnya spontan menarik istrinya menjauh dari api.
''Ahhh.....'', teriaknya membuat Nata dan mamanya kaget dan berlari ke dapur.
''Sayang kau bisa membakar dapur kedai milik papa'', ucap Danu sembari mematikan kompornya.
''Kalian tidak apa-apa???, tanya papa Rey yang juga kaget dan segera memadamkan apinya.
''Ada apa pa???, tanya mama
''Kau lihat, putrimu Nara sangat payah dalam memasak, dia hampir saja membakar dapur kita'' ucap papa Rey setelah memadamkan apinya.
Wajah Nara seketika menjadi pias karena dirinya juga kaget dengan api yang tiba-tiba menjadi besar, tanganya sampai gemetar.
Sedang Nata dan mama langsung tertawa, melihat wajah Nara yang pias.
''Sayang sudahlah sebaiknya kamu keluar dari sini, kau benar-benar bisa membakar dapur kedai papa'', ucap Danu tak ingin istrinya terluka karena memaksa belajar memasak
Nara cemberut dan berjalan keluar dari dapur, karena Danu menariknya keluar.
''Kamu bantu mama saja melayani pembeli, aku tidak menuntutmu bisa memasak untuku'', ucap Danu lagi mengelus pipi istrinya lalu mencium bibirnya yang cemberut, tak peduli ada Nata dan mama mertuanya, kemudian kembali ke dapur untuk membantu papa Rey menyiapkan makan malam.
''Sepertinya kau harus sabar untuk bisa makan masakan istrimu'', ucap papa Rey
''Aku tidak pernah meminta dia melakukan yang tidak ia bisa pa, aku menerima semua kekuranganya tapi dia memaksakan diri hanya karena bosan''. ucap Danu
Papa Rey hanya geleng-geleng kepala, menantunya ini cukup sabar dan memahami kekurangan putrinya. Mereka melanjutkan memasak.
Nata mengambilkan segelas air untuk Nara, sedang mama Rey menenangkan putrinya yang duduk di dekatnya.
''Minum dulu Ra'', ucap Nata menyodorkan segelas air
''Sudah sayang tidak perlu memaksakan diri kalau tidak bisa, lagi pula suamimu tidak menuntutmu bisa memasak untuknya'', ucap mama Rey
''Ma pa, ada apa???, kenapa kamu gemeteran begitu Ra???, tanya Raka yang tiba-tiba sudah ada di sana
''Nara tuh, maunya belajar masak tapi hampir membuat dapur papa terbakar, untung tidak ada yang celaka'', jawab Nata
''Kenapa ingin belajar masak, lagipula suamimu itu menerimamu apa adanya, kamu tidak bisa masak dia juga tidak masalah selama ini, membahayakan diri sendiri saja'', ucap Raka yang mendapat pelototan dari Nara
''Aku bosan hanya diam saja di rumah'', jawab Nara kemudian sedikit tenang
''Kalau bosan pergi jalan-jalan saja, ke mall, ke pantai, pergi makan berdua, ke bioskop, habiskan saja uang suamimu, tidak usah ribet belajar masak, tinggal beli saja banyak'',ucap Raka lagi yang langsung mendapat pukulan dari mama mertuanya.
Raka menggeleng, ''mama tahu kan Hana jarang pulang, kalaupun dia pulang kami sering makan di luar atau disini, kalau di rumah ya makan masakan mama, tiap hari ketemu cuma sebentar, itupun aku harus ke asrama dia, tidak enak ma jauh dari istri, kepikiran terus'', curhat Raka.
''Ya itu resikonya, kamu sendiri yang mengizinkan Hana tetap bekerja'', ucap Nata
''Bagaimana kalau kamu gantikan dia sementara, kami belum pergi bulan madu Ta'', rayu Raka
''Terus bagaimana dengan muridku???, tanya Nata
''Nara kan masih cuti, dia bisa menggantikanmu, apalagi dia sedang bosan diam di rumah, itung-itung cari pengalaman baru, lagi pula tidak akan ada yang curiga dan tahu kalian bertiga menggantikannya'', ucap Raka lagi
''Sepertinya ide kamu bagus juga Ka, nanti tanya mas Danu, kamu mau kan Ta, dulu kan kamu sudah pernah menggantikan Hana'', ucap Nara tersenyum senang
''Hai Ka sudah datang'', Danu muncul dari dapur dengan membawa beberapa menu dan di letakkan di meja.
''Ini baru datang, butuh bantuin tidak???, tanya Raka
''Duduk saja, bantu habiskan makananya nanti'', ucap Danu kembali lagi ke dapur.
Aku salut sama suamimu, karena begitu tergila-gila mencintaimu dia melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia, kamu harus banyak bersyukur Ra'', ucap Raka
''Iya mas Danu sabar banget, suami idaman, tidak perlu menjadi wanita sempurna yang bisa segalanya'', ucap Nata sembari tersenyum tulus
''Kamu juga akan mendapatkan pria yang baik yang bisa menerimamu apa adanya sayang, doa mama sama untuk kalian bertiga''. ucapnya mengelus punggung putrinya itu.
Danu dan papa Rey keluar dengan membawa makanan yang sudah selesai di masak.
''Sudah selesai masaknya ayo makan dulu'', ucap papa Rey, kemudian mereka berpindah duduk mengitari meja makan.
''Bagaimana pekerjaanmu Ka???, tanya papa Rey
''Sampai saat ini masih lancar pa'', jawab Raka, mereka mulai mengisi piringnya.
Danu mengisi piringnya dengan menu kesukaan istrinya lalu makan sepiring berdua, itu sudah kebiasaan Danu dan Nara sejak menikah, Danu dan Nara tidak sungkan saling menyuapi, membuat Raka dan Nata iri, kedua orang tuanya pun sampai tak habis fikir jika menantunya begitu pada putrinya, akan tetapi mereka tentu bahagia melihatnya.
Saat mereka sedang menikmati makanan sembari mengobrol, tiba-tiba saja datang seorang pria yang masuk ke dalam kedai, seketika mereka mengalihkan pandangannya ke arah pria itu yang tak lain adalah Adrian.
''Adrian....!!!!, ucap Nara dan Nata terpaku melihat Adrian berdiri tak jauh darinya
''Untuk apa kamu datang kesini lagi??, bentak mama Rey
''Ma, biar papa yang bicara denganya'', ucap papa Rey
''Tuan nyonya, saya minta maaf sudah datang kesini dan mengganggu kenyamanankenyamanan semua,ijinkan saya berbicara dengan Nata'', ucap Adrian yang sudah tidak sabar bertemu Nata yang tak ingin menemuinya. Adrian lelah menunggu dan nekat kembali datang ke kedai, dan bersiap menerima resikonya, asalkan dia bisa bertemu dengan Nata.