
Setelah makan siang berdua Danu mengantar Nara mengunjungi kerabatnya. Saat ini mereka tengah menuju ke rumah keluarga Raka.
"Sayang, apa kamu akan menginap disana???, tanya Danu
"Tidak, nanti malam aku pulang, tunggu Raka pulang kerja".
"Raka, siapa???, tanya Danu penasaran
Nara bingung menjelaskanya pasalnya keluarga Raka sebenarnya hanya tetangga, tapi Nara dan keluarganya sudah seperti saudara.
"Raka itu anak dari kerabat keluarga kami", jelasnya kemudian
"Dia tidak akan macam- macam sama kamu kan???. Danu jadi kuatir
"Ya enggak lah, dia seorang polisi, dia juga pernah menjadi relawan di Gaza, kami pernah bertemu disana, hanya saja waktunya tidak bersamaan, saat aku datang Raka sudah bersiap pulang kembali ke sini, mereka itu sangat baik, Raka anak satu-satunya, kami sudah menganggapnya seperti orang tua sendria, mereka banyak berjasa pada keluargaku saat kami belum tinggal di kedai", jelasnya.
"Jadi tidak ingin aku jemput???.
"Kamu bukanya masih mau pergi ke perusahaan, jauh juga kan dari sini, biar nanti aku naik taxi saja", tolak Nara
Akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Raka, rumah itu tampak sepi. Nara hendak turun tapi tiba-tiba Danu menarik tangan Nara hingga terduduk kembali.
"Mas, apa.. an emmmmm, emmmm".
Danu langsung membungkam bibir Nara dengan sebuah ciuman. Entah kenapa Danu tidak bisa mengontrol diri, bibir itu sudah menjadi candu baginya.
Nara mencubit perut Danu, dan mau tak mau pria tampan itupun menyudahi ciumanya, Nara melotot dan Danu tersenyum sembari mejilati bibirnya sendiri".
Nara kesal dengan pria ini, baru juga jadian sudah main sosor saja. "Pergilah", ucap Nara segera turun
"Itu bukti bahwa aku tergila-gila padamu", jawab Danu segera melajukan kendaraanya kembali setelah Nara masuk ke halaman rumah Raka.
tok.... tok... tok
''Ma..., pa....!!!, panggil Nara, seorang wanita paruh baya muncul dari dalam dan membukakan pintu ia tertegun menatap gadis cantik di depannya.
"Ma ini Nara", langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan erat mencium pipinya
"Ya ampun Nara, kapan kamu datang, mama tadi takut salah mengenalimu", ucapnya
"Kemarin ma, papa Raka kemana???, tanya Nara sembari menaruh oleh-oleh yang tadi di belinya.
"Papa lagi bersepeda sore, dan Raka anak itu selalu pulang malam", keluh mama Raka. "Mama sama papa sehat Nak??.
"Iya ma sehat, mereka nitip salam".
Tak berapa lama papa Raka pun datang
"Pa!!!, sapa Nara langsung mencium tangan papa Raka.
"Siapa ini, Hana, Nara, atau Nata", tanya papa Raka yang sudah tidak bisa membedakan ketiga putri angkatnya, mereka memang sudah seperti orang tua angkat bagi Nara dan sebaliknya Nara, Hana dan Nata sudah seperti anaknya sendiri.
"Ini Nara pa", memeluk pria paruh baya itu, "papa sehat selalu ya''.
"Ya beginilah, papa dan mama sudah pensiun, tidak ada kegiatan, apa Raka sudah tahu kalau kamu kemari??
Nara menggeleng
"Ma telfon Raka, biar dia cepat pulang, anak itu sekarang sering pulang malam, bahkan sampai pagi, kadang juga tidak pulang beberapa hari, rumah ini sangat sepi nak, papa dan mama rindu masa kecil kalian yang selalu ramai bermain disini, curhat papa Raka.
"Mungkin Raka banyak kerjaan pa, dan lagi kami tidak mungkin kecil terus, apa Hana dan Nata tidak pernah kesini??.
Mereka terlihat asyik mengobrol hingga hari menjelang malam Raka baru tiba di rumah.
"Pa mana Nara???, Raka masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Masuk rumah itu ucap salam Raka", tegur papa, "dia lagi bantu mama menyiapkan makan malam", ucas papa Raka lagi
"Nara!!!, panggil Raka menuju dapur
Nara segera menoleh, Raka segera berhambur memeluk Nara dengan erat, begitu juga Nara ia memeluk Raka erat.
Mama Raka begitu bahagia putra dan putri angkatnya bisa rukun seperti ini, saling merindukan.
"Apa ada yang terluka coba lihat wajahmu", ucap Raka menelisik wajah cantik Nara.
"Aku tidak kenapa-napa Raka, lebay tahu". ucap Nara
"Kamu darimana saja, papa bilang kamu suka pulang malem, bahkan kadang tidak pulang". Tanya Nara
"Siang kerja, malem masih kuliah, pulangnya nongkrong, kadang tiba-tiba ada tugas negara, makanya kamu pulang kesini saja, biar rumah gak sepi dan aku bisa pulang tepat waktu", ucap Raka spontan mendapat pelototan tajam dari Nara, membuat mama sama papa Raka tertawa.
"Sudah ayo makan dulu", ucap mama Raka, mereka segera duduk dan mulai makan.
"Kamu nginep sini kan nak???, tanya Papa Raka
"Iya Nara, mama masih kangen sama kamu", ucap mama Raka
"Maaf ma, Nara besok sudah mulai kerja, lain kali Nara pasti main lagi kesini", tolak Nara sopan
"Kamu kerja dimana???, baru juga datang", tanya Raka
"Rumah sakit Harapan, sudah lama dapat tawaran kerja disana, dan tadi siang aku dari sana ketemu sama direkturnya, terus kesini", jelasnya.
"Kau tidak bertemu seseorang yang special disana???, tanya Raka.
"Maksudnya apa Raka", tanya Nara tidak mengerti
"Calon suami kamu sedang di rawat disana, sekarang masih dalam proses pemulihan, dia habis kecelakaan, menabrak mobil Hana, Nata bahkan hampir tiap hari ke rumah sakit menemaninya", jelas Raka.
"Sembarangan saja bicara, calon siapa, kecelakaan, Nata menemaninya di rumah sakit, maksudnya apa Raka??, Nara penasaran.
"Adrian namanya, dia bilang senior kamu di Universitas, dia datang kesini menemui papa dan mama Rey lalu meminangmu, tapi naas dia mengalami kecelakaan saat mengendarai motor, dan menabrak mobil Hana, aku dan Hana yang membawanya ke rumah sakit karena kebetulan aku lewat tempat kejadian, karena Hana harus bekerja dia minta Nata untuk menjaganya", jelas Raka
"Adrian", Nara berusaha mengingat nama yang tidak asing. "Mama dan papa tidak cerita apapun, Nata juga tidak".
"Apa benar begitu Nara, jadi calon suami kamu orang asing???, itu berarti kamu akan kembali ke sana", tanya mama Raka.
"Ma, sepertinya ini salah paham, aku ingat ada senior yang bernama Adrian, tapi dia bukan kekasih Nara", jelasnya.
"Sebaiknya tanyakan pada Nata dan juga pama sama mama Rey, karena hampir tiap hari Nata ke rumah sakit menemaninya, papa dan mama sendiri yang mengizinkanya", jelas Raka.
"Aku sih curiga, dia pria-pria yang terobsesi sama kamu, salah siapa kamu cantik dan pintar, juga seksi'', bisik Raka di telinga Nara.
"Raka, aku sedang serius", kesal Nara
"Aku juga serius Nara, aku dengar sendiri dari Nata juga mama dan papa Rey, aku menginap di sana hari itu, dia sudah sekitar sebulan di rumah sakit", jelas Raka
"Ya sudah nak, nanti tanyakan sama keluargamu, biar kamu pulangnya diantar sama Raka", ucap papa Raka
Nara akhirnya pulang diantar Raka dengan mengendarai motornya, Nara memeluk Raka dengan erat, Raka merasakan begitu hangat, Raka begitu mengagumi Nara sejak kecil karena selain cantik, Nara pintar dan cerdas, juga bersikap dewasa, di banding Hana atapun Nata.