
Nata berdiri dari duduknya berjalan mondar-mandir di depan ruang oprasi, ia jenuh karena oprasinya ternyata membutuhkan waktu yang lama, tidak ada yang bisa diajak bicara, hingga hampir dua jam lebih ia menunggu, dan akhirnya lampu ruang oprasi menyala hijau menandakan tindakan operasi sudah selesai, seorang dokter keluar dari ruang oprasi dan dua perawat pria mendorong ranjang Adrian menuju ruangan perawatan Adrian, Nata mengikutinya dari belakang tidak menanyakan apapun.
"Apa anda keluarganya?,tanya dokter yang terlihat lebih muda dari Adrian
Nata bingung mau jawab apa, dokter itu mengamati wajah Nata yang cantik, menunggu jawaban darinya
" Saya kenalanya", jawab Nata sembari tersenyum menawan membuat setiap yang melihatnya berdebar.
"Oooohh, mau tahu kondisinya??
Nata mengangguk
Dokter itu menjelaskan tentang kondisi Adrian yang saat ini masih tertidur karena pengaruh obat, serta kondisi kaki sehabis oprasi, Nata hanya mendengarkan saja karena ia sendiri tidak tahu harus bagaimana, ia tidak begitu paham dengan dunia medis, yang ia tangkap hanya Adrian perlu istirahat 6-8minggu, itu berarti sekitar 2 bulan ia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menemaninya.
"OMG", batin Nata meronta, belum lagi ia harus bolak-balik ke kampusnya menemui dosen pembimbingan yang menyebalkan. Nata tanpa sadar menganggukan kepalanya seolah-olah ia mengerti dengan yang di sampaikan dokter itu. Kemudian dokter dan perawat itu keluar dari ruangan itu.
Nata memandangi wajah Adrian yang begitu tampan, bersih dengan bulu-bulu tipis di dagu dan sekitar pipi, badanya juga sangat bagus, "benarkah Nara pernah menolakmu, tidak mungkin Nara bodoh kan, dia bahkan mendapat undangan belajar ke negaramu", batin Nata, ia menguap beberapa kali hingga akhirnya gadis itu tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala di pinggiran ranjang.
"Adrian merasa berada di suatu tempat yang asing baginya, ia melihat gadis pujaannya Nara tersenyum padanya lalu pergi begitu saja, ia ingin mengejarnya tapi kakinya tak bisa untuk berjalan, "Nara", panggilnya ,namun gadis itu seperti tak mendengarkan suaranya, Adrian berteriak lebih kencang memanggilnya, tapi Nara terus berjalan tanpa menoleh, hingga Adrian tak bisa menggapainya, Nara hilang dari pandangan Adrian yang terus memanggilnya, "Nara,...Nara,...Reynara. .....!!!!!
Nata terbangun kala mendengar suara seseorang, ia segera membuka mata dan menyadari dirinya sedang menemani Adrian di rumah sakit, entah berapa lama dirinya tertidur tadi, di luar ruangan terlihat sudah gelap, Nata melihat Adrian yang masih memejamkan matanya mengigau menanggil nama saudara kembarnya Nara.
"Apa begitu besar cintamu pada Nara, sampai-sampai kau memanggilnya dalam tidurmu, haaahhh Nara cepatlah pulang aku takut tak bisa menjaganya untukmu", ucap Nata lirih, ia segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Ketika Nata keluar dari kamar mandi, terlihat Adrian sudah sadar, pria itu terkejut melihatnya. "Nara!!!!, serunya
"Hai kau sudah sadar Adrian, aku Nata bukan Nara", ucapnya sembari tersenyum
"Nata'', Andrian seperti orang binggung dan Nata pun menggangguk untuk meyakinkanya
"Ahhh maaf, aku tidak bisa membedakan kalian???, ucap Adrian setelah mengingat bahwa mereka kembar
"Tidak apa- apa Adrian".
"Kau menjagaku dari tadi???, tanya Adrian
Nata hanya mengangguk
"Trimakasih Nat, maaf merepotkanmu"
"Apa kau butuh sesuatu????
"Tidak trimakasih".
Suasana begitu canggung mereka berdua jadi saling diam tak ada yang berbicara, Adrian memperhatikan Nata dengan seksama membuat Nata merasa risih.
"Jangan menatapku seperti itu, aku ini benar-benar Nata", ucapnya
Andrian tersenyum, "aku hanya sedang mencari sesuatu yang bisa membuatku membedakanmu dengannya".
"Kau sudah mendapatkanya????, tanya Nata
Adrian menggeleng, hingga seseorang mengetuk pintu dan membukanya.
"Raka", ucap Nata senang karena akhirnya pria itu datang.
"Hai Adrian kau sudah sadar, bagaimana oprasinya lancar???, tanya Raka
"Dia baru sadar, aku sampai ketiduran menunggunya??, lapor Nata
"Dasar tukang tidur, disuruh jagain malah tidur sendiri", ucap Raka gemas sembari mengacak rambut Nata membuat dada Adrian terasa berdesir, perasaan begitu aneh yang ia rasakan.
"Oh ya ini kopermu, aku bawakan semua barangmu", ia menaruh koper Adrian di dekat ranjang.
"Trimakasih Raka".
"It's ok".
Mereka mengobrol sebentar, dan setelah memastikan keadaan Adrian Raka dan Nata berpamitan, karena besok pagi mereka harus bekerja.
...****************...
Nata menyusuri lorong rumah sakit, sepulang dari mengajar di sekolah taman kanak-kanak, ia langsung menuju rumah sakit, Adrian telah di pindahkan di ruang VIP pasca operasi atas permintaanya, karena dia butuh privasi.
Tok.... tok... tok
"Masuk", ucap Adrian dari dalam.
"Hai, ucap Nata tersenyum memasuki ruangan Adrian, begitu juga dengan Adrian ia merasa senang dengan kehadiran Nata, karena sejak semalam hingga siang ini tidak ada yang ia lakukan dan tidak ada yang mengajaknya berbicara, hanya perawat dan dokter yang masuk sebentar memeriksanya, membuatnya bosan sendiri. Dia sengaja menunggu kedatangan Nata seperti janjinya semalam bahwa ia akan datang setelah mengajar.
"Baru pulang???, tanya Adrian, ia sudah tahu kalau Reynata sedang magang di sekolah taman kanak-kanak
"Menunggumu, kamu kan tahu aku kesepian disini" ucapnya memelas
Mata Nata membola, "kamu belum makan??, tanya Nata saat melihat makanan yang masih belum disentuh sama sekali dan meletakan tasnya dan kantong plastik di meja.
Adrian menggeleng", tanganku masih kaku", jawanya
"Kamu belum makan dari pagi???, tanya Nata
Andrian mengangguk.
"Ihhh gimana sih, kan bisa minta tolong sama perawat", gerutu Nata
Adrian diam saja, ia malah menyungingkan senyumnya, menurutnya expresi Nata sangat lucu saat bicara seperti itu.
"Ini makan pagi atau siang???, tanya Nata lagi
"Siang yang pagi sudah diambil".
"Ya sudah sekarang makan dulu", Nata mengambil nampan berisi makanan di atas nakas memindahkanya di depan Adrian
"Aku tidak mau makan ini".
"Kenapa, terus mau makan apa??
"Mau yang lain, makanan rumah sakit itu hambar", ucap Adrian
"Kamu kan sedang sakit".
"Yang sakit kakiku Nata, bukan mulutku", kamu bawa apa itu di meja", ucap Adrian melihat kantong plastik di meja.
"Itu makan siangku, mau mencobanya???.
Adrian mengangguk
"Serius mau makan itu??, Nata berjalan ke meja lalu mengambil kantong plastik yang tadi dibawanya yang berisi paket nasi kotak, menaruhnya di depan meja makan Adrian dan membukanya. "Ini makanlah".
"Apa ini???, tanya Adrian yang pertama kali melihat paket menu box yang baginya aneh.
"Ini ada sayur, ayam goreng, bergedel kentang, telur balado dan sambal, lalu ini salat buah", jelasnya
Adrian hanya menatapnya, tapi perutnya memang sudah lapar, tadi pagi ia tidak makan menu yang di siapkan oleh rumah sakit, tanganya perlahan bergerak mengambil sendok, tapi terlihat kesulitan. "Aaahhhhh", keluhnya
"Kenapa, tidak bisa???, tanya Nata.
Adrian mengangguk malu.
"Bilang saja minta di suapin", ucap Nata duduk di pinggiran ranjang kemudian mulai menyuapi Adrian.
Satu, dua, tiga suap Adrian masih tahan tapi tak berapa lama kemudian keringatnya mulai keluar, mulut Adrian mulai mendesis.
"Enak tidak???, tanya Nata
"Air Nat, aku tidak tahan, ini agak pedas, aku tidak mau pakai itu'', tunjuknya pada sambal.
"Ahhh iya maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak bisa makan sambal, ia segera mengambil air di botol membukanya dan menyerahkan pada Adrian, "minum dulu",
Adrian segera meneguk air mineral dengan kedua tanganya yang masih kaku.
"Masih mau lagi tidak atau ganti makanan rumah sakit saja???, tanya Nata sedikit tertawa melihat wajah Adrian yang memerah dan berkeringat.
"Adrian mengigit bibirnya, kamu tidak makan???
"Nanti saja, kalau masih mau habiskan saja", ucapnya.
"Tapi aku tidak mau pakai sambal, ini sangat pedas". keluh Adrian
"Iya maaf, tidak usah di makan sambalnya". Nata menyuapi Adrian lagi sampai habis, lalu Nata mengambil nampan makanan dari rumah sakit membawanya duduk di sofa.
"Kamu mau makan itu???, tanya Adrian yang melihat Nata membuka menu makan siang Adrian dari rumah sakit.
"Iya".
"Rasanya hambar, biar aku pesankan", ucap Adrian
"Tidak usah, ini sudah cukup, tidak perlu buang-buang makanan". Nata segera memakan semua makanan dari rumah sakit tanpa sisa.
Adrian hanya melihatnya dari atas ranjang, ia mengingat Reynara yang selalu menolak pemberianya, terutama jika ia memberikan makanan dengan alasan ia memasak sendiri makananya, berkali-kali Adrian mencoba mendekati Reynara dengan mengajaknya makan di luar tapi gadis itu selalu menolaknya dengan alasan tidak ingin menghabiskan uang Adrian, Adrian sedikit menyadari kedua gadis itu memiliki sifat yang hampir sama tidak suka memanfaatkan orang lain. Bahkan Hana begitu baik mengirimkan saudara kembarnya untuk menjaga dan menemaninya di rumah sakit, padahal jelas ia tidak bersalah, kecelakaan ini murni kesialan dirinya sendiri.