TRIPLE R

TRIPLE R
10. Tutup



Setelah selesai makan Nara dan kedua orang tuanya mengobrol banyak hal di ruang keluarga dilantai dua, Nara menceritakan alasannya tidak pulang tepat waktu, karena masih menunggu tenaga medis yang akan menggantikannya, selain itu karena ponselnya tiba-tiba rusak, dan tak sempat memperbaiki, karena ia berada di Gaza tidak bisa seenaknya keluar masuk, karena dikuatirkan terjadi penyerangan secara mendadak dan brutal, ia tidak ingin mengambil resiko demi keselamatan dirinya. Kedua orang tuanyapun bisa memahami alasan putrinya.


"Mana ponselmu, biar papa perbaiki???, seingat papa Rey ponsel itu ia belikan saat mengantarkan Nara ke Amerika.


"Nara sudah beli yang baru pa, tadi sewaktu perjalanan pulang, tadinya mau aku perbaiki, tapi kata pemilik toko tidak bisa di perbaiki lagi, tapi aku masih menyimpanya, itu kan pemberian papa", ucapnya


"Kau punya uang nak untuk membeli ponsel, kamu kan tidak di bayar saat menjadi relawan".


Nara tersenyum, "Nara memang tidak di bayar saat menjadi relawan, Nara ada usaha sampingan sembari tetap melanjutkan pendidikan Nara, Nara mendapat beasiswa lanjutan, sayang kalau tidak di manfaatkan", jelasnya


"Usaha sampingan???, usaha apa???.


Nara menceritakan pada kedua orang tuanya bahwa saat kuliah dia benar-benar memanfaatkan waktu untuk belajar, selain kuliah kedokteran, Nara sering belajar di laboratorium dan penasaran untuk membuat skin care dan akhirnya ia berhasil membuat produk skin care sendiri, Nara tidak punya uang untuk produksi serta pemasaran, dan kemudian ada teman yang mengajaknya bekerjasama dan kemudian produknya dikembangkan di Indonesia, dan sekarang produk itu telah terjual di banyak negara .Jelasnya


"Maaf ma, pa, Nara baru bisa kasih tahu sekarang, karena Nara tidak mengerjakannya sendiri, Nara fokus untuk menyelesaikan pendidikan Nara disana agar bisa segera pulang untuk mengurus usaha Nara disini bersama teman Nara, agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, selama ini Nara tidak kekurangan uang, Nara punya penghasilan dari penjualan produk, karena ternyata produk itu banyak peminatnya" jelas Nara panjang lebar membuat kedua orang tuanya hampir tidak percaya.


"Benarkah sayang???, tanya mama


"Apa mama tidak memakainya???, bukanlah setiap bulan Hana memberikan paket skin care untuk mama dan papa juga Nata??, tanya Nara


"Jadi paket itu dari kamu sayang, bukan Hana yang beli???, tanya papa yang baru menyadari setiap bulan Hana memberikan paket skin care untuk di pakai istri dan juga Nata, serta dirinya.


"Perusahaan kami bekerja sama dengan perusahaan penerbangan tempat Hana bekerja, jadi para pramugari di anjurkan menawarkan produknya kepada penumpang pesawat, setiap bulan aku mendapat produk skin care dari perusahaan, jadi aku minta perusahaan untuk mengirimkannya pada Hana, untuk di pakai keluarga karena tidak akan habis jika aku pakai sendiri". jelasnya


"Ya Tuhan Nara, mama benar-benar tidak tahu kamu sepintar ini", ucapnya sembari menangis haru


"Iya nak kamu tidak pernah cerita soal ini, papa bangga padamu, trimakasih sudah lahir ke dunia ini".ucap papa Rey juga berkaca-kaca


"Nara yang seharusnya berterimakasih pada papa dan mama telah melahirkan dan membesarkan Nara dengan baik", ucap Nara mencium kedua tangan orang tuanya bergantian.


"Kenapa tidak telfon papa, papa kan bisa menjemputmu tadi". tanya papa lagi


"Tidak apa, Nara tidak ingin merepotkan papa".


"Kau itu putri papa dan mama, meski kamu dan kedua saudaramu sekarang sudah besar, dan bahkan kamu berani tinggal sendiri di negara orang, kamu tetaplah anak-anak bagi papa dan mama, jadi jangan pernah merasa kamu itu selalu merepotkan, justru papa dan mama selalu merasa bersalah padamu, membiarkanmu berjuang sendiri di negara orang, jauh dari keluarga", ucap mama Rey.


"Iya ma, Nara tahu kok, Nara sengaja tidak kasih tahu karena ingin buat kejutan", ucapnya sembari tertawa.


Nara menaruh kepalanya di pangkuan mamanya, wanita itu membelai rambut putrinya dengan lembut, sampai sore hari mereka mengobrol dan melepas rindu, hingga Nara menguap berkali-kali, Nara merasa lelah dan mengantuk.


"Ma, jam berapa Nata pulang???, aku kangen Nata dan Hana juga Raka". ucapnya


"Biasanya siang, tapi tadi dia pamit mau bertemu dengan dosen pembimbingnya, lalu mau ke rumah sakit", jawab mama Rey


"Siapa yang sakit???, tanya Nara


"Temanya", jawab mama Rey


"Kalau kamu mengantuk tidur saja nak, tidak usah menunggunya", ucap papa Rey sembari memijat kaki putrinya.


Dengan pelan papa Rey memindahkan putrinya untuk tidur di kamarnya agar lebih nyaman, Nara benar-benar merasa lelah dan nyaman sampai tak terusik sedikitpun saat dipindahkan ke kamar, papa Rey menatap putrinya haru, ada perasaan bangga, senang, sedih, dan menyesal dalam relung hatinya.


"Kenapa tidak segera keluar, biarkan Nara tidur, sebaiknya kita juga istirahat'', ucap mama Rey pelan.


Kedua orang tua paruh baya itupun memilih untuk beristirahat saja. Menurutnya pekerjaan tidak akan pernah habis, setiap hari sudah pasti sibuk melayani pembeli yang datang ke kedai.


Hari ini Nata harus ke kampusnya, setelah mengajar di pagi hari, siangnya dia ada janji dengan dosen pembimbingnya, dia juga memberitahu Adrian jika akan datang sore hari, hingga hampir jam sembilan malam baru pulang


Nata heran ini baru jam sembilan, biasanya kedai milik papanya akan ramai, tapi malam ini tidak ada satupun orang, dan kedainya pun di tutup. Nata masuk melalui pintu samping.


"Ma...., pa...., kok sepi sih, pada kemana???, ucap Nata


Terlihat mama dan papanya menunggunya sembari menonton TV di ruang lantai dua


"Pa kenapa sudah tutup, ini kan masih jam sembilan?, tanya Nata sembari duduk bersama kedua orang tuanya.


"Tidak apa-apa, sengaja tidak ingin buka kedai hari ini", jawab papa


"Kenapa,? apa tidak enak badan???, tanya Nata kuatir


"Papa dan mama baik-baik saja".


"Kalau begitu Nata mandi dulu ya??, Nata beranjak ke kamarnya, dan ia begitu terkejut melihat seseorang yang begitu familiar tidur di ranjangnya. Nata kembali keluar kamar dengan tergesa.


" Ma, dia Nara bukan????, ucapnya pelan tak ingin membangunkannya.


Mama dan papanya tertawa melihat wajah putrinya yang terkejut.


" Apa kamu sudah lupa dengan saudaramu itu???,


"Ihhh mama, kenapa tidak kasih tahu kalau Nara sudah kembali", ucap Nata berkaca-kaca


"Shuuuuttt, biarkan dia tidur, dia lelah menunggumu, kamu dari mana saja, akhir -akhir ini sering banget pulang malam". tanya papa penuh selidik.


"Nata kan sudah pamit sama papa, setelah mengajar, terus ke kampus ketemu dosen pembimbing, terus ke rumah sakit nengokin Adrian", jelasnya


"Bagaimana keadaanya sekarang??, tanya mama Rey


"Dia sekarang mulai terapi jalan".


"Papa minta sama kamu, jangan cerita dulu tentang Adrian, biarkan Nara sendiri nanti yang cerita, papa ingin tahu benar tidak apa yang di katakan Adrian".


Nata mengangguk, "pa... ma...,skripsiku ahirnya di acc sama dosen, aaahhh akhirnya, tinggal nunggu ujian". ucap Nata begitu senang.


"Baguslah, dosenmu tidak mempersulit kamu lagi".


"Ya semoga saja dia tidak mempersulit ku saat ujian nanti". ucapnya cemberut membuat papa dan mama Rey tertawa.