
Hari ini adalah hari pertama Nara bekerja di rumah sakit Harapan, Nara berangkat diantar Nata terlebih dahulu, setelah itu Nata berangkat ke sekolah, sebenarnya Danu ingin menjemputnya, tapi Nara menolaknya, dia tidak ingin hubunganya dengan Danu pemilik rumah sakit di ketahui banyak orang, alhasil Danu hanya bisa menurut. Sebenarnya banyak yang ingin Danu ketahui tentang hubungan Nara dengan Adrian, melihat interaksi keduanya kemarin yang terlihat dekat, tapi Danu tak ingin merusak suasana hari ini, karena akan ada acara menyambutan dan pengenalan Nara sebagai dokter baru di rumah sakit.
Hana dan Raka juga sudah pergi sejak kemarin sepulang dari rumah sakit, tanpa menunjukan kegundahan hatinya. Mereka bertiga masih bersikap seperti biasa meski banyak hal yang tak bisa di ungkapkan pada Nara.
"Selamat datang dan selamat bergabung di rumah sakit Harapan dokter Nara", ucap Danuartha begitu berwibawa. Danu mengenalkan Nara pada dewan direksi pagi ini beserta jajaranya, di sambut dengan tepukan tangan meriah, beberapa rekan dokter senior mengagumi Nara, di usia yang belia sudah meraih gelar SpOG, ada juga yang terang-terangan memuji kecantikanya.
"Trimakasih atas sambutan baik ini, saya harap kita bisa bekerjasama untuk memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan semua pihak, bukan hanya sekedar keuntungan bagi rumah sakit saja tapi juga kepuasan pasien, serta bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya". ucap Nara mengangguk hormat.
Setelah berbasa-basi dan berbincang dalam rapat pagi ini, Nara bersama Danu dan direktur pelaksana rumah sakit berkeliling rumah sakit menyapa setiap karyawan disana.
"Eh tahu tidak, ternyata gadis yang kemarin bersama direktur itu dokter baru, hari ini mulai bekerja".ucap staff informasi
"Oh ya, masih muda banget sudah dapat gelar SpOG dan cantik banget", jawab rekanya.
"Dan ternyata dia itu punya saudara kembar, kemarin aku lihat tiga orang yang mirip denganya, masuk ke ruang pasien VIP yang ditempati orang asing itu", ucap yang lain.
"Aku dengar ia dekat dengan direktur, dan direktur sendiri yang memintanya untuk bekerja disini", tambah yang lain
Nara langsung menjadi perbincangan banyak orang di rumah sakit.
Danu memang menunjuk dokter kenalanya untuk memimpin rumah sakitnya, karena dia tidak memiliki keahlian di bidang medis hanya sesekali saja ia datang ke rumah sakitnya, Danu lebih banyak bekerja di perusahaan skin care yang di dirikan bersama Nara, setelah selesai berkeliling Danu menunjukan ruang kerja Nara yang di buat senyaman mungkin.
"Selamat bekerja sayang, aku harap kamu nyaman bekerja disini, setelah selesai nanti segera ke ruanganku", ucap Danu
"Apa aku harus melapor kalau sudah selesai bekerja??, jawab Nara asal
"Aku ingin mengajakmu makan siang lalu kita pergi ke perusahaan, aku mau mengenalkanmu dengan pegawai disana", ucap Danu.
"Trimakasih", Nara duduk di kursi kebesaranya yang terlihat nyaman.
"Pergilah sekarang, karena kalau bapak direktur tetap disini aku tidak bisa bekerja", ucap Nara
"Kau selalu saja mengusirku, ....baiklah aku akan pergi", ucap Danu beranjak dari duduknya, dan cup...., sebuah ciuman yang tiba-tiba mendarat di bibir Nara, seketika Nara melotot.
"Mas!!, ia memukul dada Danu, "kebiasaan banget sih, bagaimana jika ada yang melihat", kesal Nara
"Tidak ada orang, semangat!!!!, Danu pergi begitu saja dengan menjilati bibirnya dan senyum puas.
Nara mulai sibuk, saat melewati ruang tunggu tadi, banyak ibu muda yang mengantri, satu persatu mulai di periksa, adapun alasan mereka karena malu jika harus di periksa oleh dokter pria atau suaminya tak mengijinkan di periksa oleh dokter pria, dan beberapa alasan lain. Nara di bantu dengan seorang perawat yang menjadi assistensinya yang bernama Novita.
"Suster Novi, banyak juga ya, padahal ini baru hari pertama aku bekerja", ucap Nara
"Iya dok, sebelumnya dokter yang praktek disini kan laki-laki, terus prakteknya sore hari, jadi banyak ibu hamil yang minta dokter kandungan perempuan, jadi sebelum dokter datang sudah banyak yang minta dicarikan dokter perempuan, dan untungnya sekarang ada dokter Nara", jelas suster Novi.
"Begitu ya??, apa masih ada lagi yang mau periksa???
"Sudah habis, ibu tadi yang terakhir dok".
"Dokter Adrian", sapa Nara yang melihat Adrian selesai terapi di temani seorang perawat dan dokter pria yang di ketahui bernama Wildan."Sudah selesai terapinya". tanya Nara
"Hai dokter Nara, apa anda mengenal pasien ini???, sapa dokter Wildan.
"Iya dok, dokter Adrian ini senior saya di Universitas dulu", jelas Nara.
"Kebetulan sekali ya", dokter Wildan dan Nara berbincang bersama di ruang Adrian, Nara juga menanyakan keadaan kaki Adrian pada dokter Wildan, membuatnya lupa kalau kekasihnya Danu sedang menunggunya. Setelah itu dokter Wildan serta perawat pamit undur diri, saat Nara hendak pamit, Adrian mencegahnya.
"Dokter Nara, bisakah kita bicara sebentar??, ucap Adrian.
" Iya tentu???, biasanya jam berapa Nata datang kemari??tanya Nara berbasa-basi untuk menghilangkan kecangungan.
"Dia datang setelah mengajar, tapi aku tidak tahu hari ini dia datang atau tidak", jawab Adrian
"Aku senang sepertinya kalian sudah menjadi teman akrab, dia memperlakukan anda dengan baik kan???, tanya Nara dia ingin mengalihkan pembicaraan yang serius
"Ya, dia sangat baik, mungkin kalau tidak ada dia aku akan sangat bosan berada disini, aku tidak menyangka kalau anda punya saudara kembar yang begitu mirip, sampai-sampai sulit sekali mencari perbedaan diantara kalian, meski awalnya kami canggung, tapi sebulan ini kami sudah bisa menjadi teman,", ucap Adrian
"Aku senang mendengarnya", ucap Nara suasana menjadi sepi tak ada yang berbicara.
"Dokter Nara apa keluargamu sudah memberitahumu tentangku???, aku datang kesini karena mencarimu dan ingin melamarmu pada kedua orang tuamu", ucap Adrian tak ingin berbasa-basi.
Nara diam, sebenarnya dia sudah tahu, dia tidak ingin melukai hati Adrian, terlebih dia dalam keadaan seperti sekarang.
"Nara, aku tahu kau sudah beberapa kali menolaku, tapi aku tak peduli itu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tolong pikirkan lagi", ucapnya
"Adrian, sebenarnya aku tidak ingin membahas hal ini, aku turut prihatin dengan keadaanmu sekarang, kenapa kau begitu memaksakan diri hingga jauh-jauh datang kemari, meninggalkan pekerjaanmu, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu", ucap Nara
"Apa aku tidak pernah ada di hatimu, tidak adakah cintamu untukku selama ini???, ucap Adrian
"Adrian, Aku sudah mengatakan beberapa kali padamu, selama ini aku menganggapmu sebagai senior yang baik, aku menghormatimu sama dengan menghormati rekan kita yang lainya.", ucap Nara
"Tapi Nara, kita belum pernah mencobanya, aku ingin tahu kenapa kau selalu menolakku, dulu mungkin aku bisa menerima alasanmu, kamu mau fokus dalam belajar, kamu juga masih remaja saat masuk universitas, tapi sekarang kamu sudah dewasa".
"Adrian aku sudah memiliki kekasih sekarang", jawab Nara tak ingin memberi harapan untuk Adrian.
"Apa dia orangnya, maksudku direktur utama rumah sakit ini???, aku pernah memintamu bekerja di rumah sakit keluargaku tapi kamu menolaknya, apa kamu ingin memiliki rumah sakit aku bisa memberikanya", ucap Adrian
"Tidak Adrian, bukan seperti itu, aku dan dia sudah kenal lama, sejak kami di Amerika, sebelum dia tidak memiliki apa-apa dan aku bukan siapa-siapa, aku juga ingin tinggal dekat dengan keluargaku, makanya aku menolak tawaranmu saat itu, maaf Adrian", ucap Nara.
Adrian terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku harap kita tidak akan membahas masalah ini lagi, aku juga berharap kamu segera sembuh seperti sebelumnya, dan kita tetap bisa berteman", ucap Nara.
"Aku masih ada urusan Adrian, aku permisi dulu", ucap Nara pergi meninggalkan Adrian yang hanya bisa terpaku menatap kepergian Nara.