
Nara keluar dari ruangan Adrian, seketika Nara menghentikan langkahnya, ia melihat Danu berjalan ke arahnya.
''Mas'', sapa Nara tak enak, Danu menghampirinya.
''Apa sudah selesai??, tanya Danu
"Aku baru akan pergi ke ruanganmu". jawab Nara
"Tadinya aku mau mengajakmu pergi makan siang, ternyata kamu disini", ucap Danu seperti tak terjadi apa-apa, sebenarnya Danu tahu sudah sejak tadi melihat Nara keluar dari ruang kerjanya, karena sebelumnya Danu melihat CCTV yang terpasang didepan ruang kerja Nara, sehingga ia tahu siapa saja yang keluar masuk ruangan Nara. Dia juga mencari tahu informasi tentang Adrian, dan yang mengejutkan Danu adalah Adrian merupakan lulusan universitas yang sama dengan Nara, Danu juga tahu bahwa Adrian senior Nara sekaligus pemilik beberapa rumah sakit di negaranya. Ada kekuatiran menyelimuti hati dan pikiran Danu.
Merekapun pergi meninggalkan rumah sakit, tidak ada yang bicara, Nara tahu mungkin Danu sedang marah karena dirinya, namun ia tidak ingin bertanya, hingga dalam perjalanan itu terasa hening dan Nara pun tertidur.
Sementara itu Adrian tetap diam di ruang perawatan, ia merasa tidak beruntung sudah datang sejauh ini, dan mengalami kecelakaan, masih juga mendapat penolakan, sampai ia ingat pada Nata, saudara kembar Nara. Adrian mencari nomor kontak Nata di ponselnya, dia sudah menyimpan nomor Nata karena sebulan ini Adrian selalu minta tolong padanya. Biasanya jam segini gadis itu sudah datang, tapi hari ini sudah lewat dari biasanya gadis itu belum terlihat batang hidungnya, Adrian segera menekan tombol hijau untuk menghubunginya.
Tut... tut.... tuutt
Saat ini Nata sedang berada di kampusnya, gadis cantik itu sedang memastikan jadwal ujian skripsinya yang akan di selenggarakan dua hari lagi. Ia sedang bersama teman-temanya mengobrol di kantin. Nata segera mengambil ponselnya dari dalam tas, terlihat nama Adrian di layarnya, ia segera menggeser tombol hijau.
"Halo Adrian, ada apa???, ucap Nata
"Bisakah kau segera kesini???, ucapnya tak bersemangat
"Aku tidak janji, karena aku masih ada kepentingan di kampus, ada apa??? bukanya Nara disana???, ucap Nata
Adrian terdiam sebentar, ''aku akan menunggumu sampai kamu datang, temani aku pergi ke suatu tempat", ucapnya lalu mematikan ponselnya.
Nata terdiam panggilan itu mati begitu saja. ''Kenapa denganya???.
Sementara itu Nara masih tertidur dengan pulasnya, seakan tak terganggu, Danu menungguinya di kursi kemudi, tanganya terulur membetulkan rambut Nara, hingga beberapa menit kemudian Nara terbangun.
''Apa kita sudah sampai di perusahaan mas???, tanya Nara
''Melihatmu tertidur pulas seperti itu, aku tidak tega mengajakmu kesana, karena perusahaan lumayan jauh", jawab Danu
"Lalu ini di mana???, Nara sedikit linlung melihat sekeliling ia sedang berada di depan sebuah bangunan yang terlihat unik, hijau dan asri, terdapat halaman yang begitu luas dengan rumput yang hijau, juga pohon pohon dan tanaman bunga yang tertata rapi.
"Kita berada di rumah kita sekarang'', jawabnya santai
''Rumah kita???, Nara melihat sekeliling
''Sayang sepertinya kamu sangat lelah, aku terlalu memaksamu untuk segera bekerja di rumah sakit??
''Tidak juga, aku memang ingin segera bekerja''. Tiba-tiba perut Nara berbunyi kruuukkk, kruukk, kruukkk, membuat mereka tertawa.
''Ayo turun kita sudah melewatkan makan siang'', ajak Danu.
''Mas!!!, Nara menarik tangan Danu
''Ada apa???
''Aku belum siap bertemu keluargamu'', ucap Nara memelas semberi mengerucutkan bibirnya, membuat Danu tak tahan ingin melahap bibir seksi itu dan seketika bibirnya langsung menempel di bibir Nara cup.
''Jangan menggodaku seperti ini, aku hanya tinggal sendiri disini, ayo!!!!, ucap Danu setelah melepas ciumannya, ia segera turun
"Siapa yang menggodamu, kamu saja yang mesum", kesal Nara ia pun segera turun dan mengikuti langkah Danu
Nara begitu terpukau melihat bangunan yang melingkar dengan nuansa hitam dengan bentuknya yang unik. Rumah yang di kelilingi dengan pepohonan hampir tidak nampak seperti rumah jika di lihat dari luar pagar, karena pagar rumah itu juga banyak ditumbuhi pohon yang tinggi dan rindang beberapa meter dari rumah.
''Kalau begitu temani aku tinggal disini, atau kita segera menikah saja", ucap Danu berhenti saat hendak membuka pintu
"Well come my Queen", ucap Danu membungkuk dan mempersilahkan Nara masuk setelah pintu itu terbuka.
Nara tersenyum diperlakukan seperti seorang ratu, ''mas sendirian tinggal disini??, ia begitu takjub dengan desain ruang tamunya
''Aku tidak memperkerjakan orang di rumah ini, hanya
penjaga di gerbang depan'', jelasnya
''Mas ini lucu banget sih rumahnya, setiap ruangan menampakan pemandangan yang indah, dapat ide dari mana????, tanya Nara sembari melihat-lihat isi rumah.
"Aku hanya ingin membuatmu dan anak-anakku nantinya nyaman dan betah tinggal disini", ucap Danu seketika Nara pun melihat Danu.
"Jika seperti ini, aku bisa males berangkat bekerja, setiap hari disuguhi pemandangan yang sangat indah'', ucapnya hinga sampai di sebuah ruangan dan Nara langsung membukanya.
Nara menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ''Ini kamarmu mas???,
"Ini kamar kita sayang, bisik Danu sembari memeluk pinggang Nara dari belakang. Sebuah kamar yang simple dan pemandangan pepohonan yang hijau.
"Apa kamu menyukainya???
Nara hanya mengangguk saja, bukan hanya karena takjub, akan tetapi pelukan dan bisikan Danu membuatnya meremang. Terlebih dengan gigitan kecil di telinga membuat dadanya berdesir. Danu menyibakan rambut Nara dan mengecup leher jenjangnya, Nara merasakan sensasi yang tak biasa saat dengan perlahan Danu meyesap telinganya dan mengigitnya perlahan.
''Kita akan membuat anak-anak kita disini'', bisik Danu lagi
Nara menyandarkan kepalanya di dada Danu yang terus mencumbunya dan ******* bibirnya perlahan membalik tubuh Nara tanpa melepaskan ciumanya, sehingga mereka kini berhadapan dan saling bertukar saliva, Danu meremas pinggul Nara dan mendorongnya ke ranjang, keduanya jatuh diatas ranjang, Danu mengungkung tubuh seksi Nara tanganya mulai menjamah tubuh Nara, meremas dua bukit kembar Nara yang besar dan padat, tangan Danu bergerilya ke mana -mana membuka kemeja Nara dengan paksa, terlihat dua gundukan yang terbalut kain bra tipis memperlihatkan p****g yang menonjol, Danu memilinya dan meremasnya bergantian, lalu ********** perlahan membuat Nara merasakan sensasi yang luar biasa.
Danu terus mencium tubuh Nara yang sudah setengah polos, dua anak manusia itu sedang di selimuti kabut, Nara tak kuasa menolaknya, dan justru menikmatinya.
"Ah Mas", Nara tak bisa menahan gejolak saat Danu mengigit P****gnya, menciptakan sensasi luar biasa,
''Kamu hanya milikiku dan tidak akan ada orang lain yang bisa memilikinya'', ucap Danu namun tiba-tiba perut Nara berbunyi lagi krukkk kruukkk, Danu menjatuhkan kepalanya dan segera menghentikan kegiatan nakalnya dan beranjak.''Aku akan memasak untukmu, betulkan baju dan riasanmu'', ucapnya meninggalkan Nara yang lemas. Danu beranjak ke Dapur