TRIPLE R

TRIPLE R
42. Ingin Bertemu



Selama seminggu lebih Adrian terus datang ke kedai ingin bertemu dengan Nata, tetapi selalu saja diusir oleh kedua orang tuanya, dan Nata pun tidak pernah menampakan dirinya, meski dia berada di dalam rumah.


Hari libur sekolah telah usai, Nata pun bersiap kembali untuk mengajar, kedua orang tuanya tidak mengijinkannya melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, karena takut putrinya akan diculik lagi, hari ini Nata berangkat mengajar diantar oleh papanya, meski sebenarnya Nata menolaknya, tapi papa Rey tetap mengantarnya, karena tiap hari Adrian masih saja datang ingin bertemu denganya. Nata pun mengalah daripada harus berdebat dengan kedua orang tuanya daripada dirinya tidak diijinkan pergi mengajar.


Saat mobil papa Rey keluar dari halaman rumahnya, Adrian juga sampai disana, dia melihat Nata keluar bersama papa Rey, Adrian pun membuntutinya hingga sampai di sekolah tempat Nata mengajar, papa Rey segera pergi setelah Nata masuk ke halaman sekolah dan disambut muridnya, sedang Adrian tidak menampakan diri, dia menunggu Nata sampai selesai mengajar.


Suasa disekolah terlihat tenang, semua murid telah masuk ke ruang belajar, dan penjaga bersiap menutup pintu gerbang sekolah, Adrian mengambil buket bunga yang sudah ia persiapkan sebelumnya, kemudian menghampiri seorang penjaga itu.


''Selamat pagi pak!!!


"Slamat pagi, jawab penjaga itu sigap.


"Saya bisa minta bantuan bapak, tolong berikan bunga ini kepada ibu guru Reynata, dan ini sebagai ucapan trimakasih sudah membantu saya", Adrian memberikan sebuah amplop kepada penjaga yang terlihat sudah tua, seumuran dengan papa Nata.


"Anda siapa dan darimana???,tanya penjaga itu curiga dengan wajah asing pria itu, tapi kemudian menyadari bahwa ibu guru Reynata begitu cantik dan seksi sudah pasti banyak disukai pria mapan, bahkan muridnya saja saling berebut mendapatkan perhatianya.


"Saya kekasihnya, dia sedang marah dan tidak mau bertemu dengan saya, saya ingin berbaikan denganya, saya mohon bantu saya menyerahkan ini".


"Ok, baiklah". jawab penjaga itu sembari memasukan amplop ke saku celananya, diapun menutup pintu gerbang dan berjalan menuju ruang kelas Nata mengajar.


Adrian kembali masuk ke dalam mobilnya dan menunggu, Adrian tidak punya cara lain, setelah berfikir lama selama seminggu lebih terus diusir dari kedai orang tua Nata, dan terbesit mendatangi sekolah tempat Nata mengajar. Selama menunggu Adrian gunakan waktu untuk membuka laptopnya mengecek laporan yang di kirim Angela, banyak sekali email yang dikirimkan oleh Angela karena sejak Adrian pamit akan pergi mengunjungi ibunya, dia belum kembali lagi ke Amerika untuk bekerja dan lagi-lagi Adrian tidak bisa dihubungi.


Tok.....tok.....tok


"Slamat pagi bu Nata".


"Slamat pagi, ada apa pak???, tanya Nata


"Saya ingin mengantar ini untuk anda, katanya dari pacarnya bu Nata, dia bilang ingin berbaikan, tolong ditrima", ucap penjaga itu memberikan buket bunga pada Nata


"Siapa???, pikir Nata, dirinya tidak punya pacar.


"Saya permisi bu", ucap penjaga itu kemudian meninggalkan Nata yang masih bengong.


"Waaahhh bunganya cantik sekali bu'', ucap seorang muridnya


"Siapa yang memberikan bunga untuk bu guru???, ucap murid pria, dan masih banyak pertanyaan muridnya yang lain, suasana kelas jadi ramai.


"Anak-anak ayo duduk kembali ke tempatnya, kita mulai pelajaranya". Sembari mengajar Nata membaca kartu yang terselip di buket bunga.


Dear Nata,


''Aku tahu kamu marah padaku,


Maafkan aku dan jangan abaikan aku,


I miss you''.


From Adrian.


''Ciiiihhhhh, dasar bajingan'', ucap Nata lirih, kemudian kembali fokus mengajar, dia ingin membuang buket bunga itu, tapi muridnya banyak yang menginginkannya, ia pun membongkar buket bunga itu dan membaginya kepada semua muridnya, ia merasa jijik dengan pria yang pernah ia sukai sebelumnya dan sudah berani melecehkannya, harusnya Adrian bisa lebih menahan diri saat itu, karenanya Nata hampir saja diperkosa dan menjadi penjahat dengan menusuk Adrian dengan pisau.


Hingga sampai selesai proses belajar Adrian masih didalam mobil menunggu Nata keluar, terlihat Nata keluar bersama muridnya dan para orang tua yang sedang menjemputnya berjubel di pintu gerbang. Nata terlihat cantik dan seksi, muridnya satu bersatu berpamitan, ada yang mencium tangannya, ada yang memeluknya dan ada yang berani mencium pipinya, paras cantik dan seksi itu tersenyum lepas mengantar muridnya pulang, sebagai dokter Adrian tahu bahwa Nata sedang mengalami trauma, karena perbuatanya.


Adrian hendak turun menemui Nata, tapi dari belakang berhenti sebuah mobil dan turunlah seorang pria yang tak lain adalah papa Nata, Adrian mengurungkan niatnya, begitu sulit dirinya untuk sekedar bertemu, keluarganya sangat menjaganya. Adrian kembali dibuat pusing, bagaimana caranya bisa bertemu dengan Nata. Adrian juga tidak melihat Nata membawa buket bunga yang dia kirimkan, dan teringat muridnya tadi keluar dengan memegang setangkai bunga.


''Sial'', umpat Adrian,entah kenapa kini Nata terus menganggu pikiranya. Adrian kembali mengikuti mobil yang dikendarai Nata dan papanya hingga sampai ke kedai rumahnya, tapi ia tidak turun hanya melihatnya dari dalam mobil, otak Adrian berfikir keras bagaimana caranya bisa bertemu Nata, tak berapa lama sebuah mobil masuk ke halaman Kedai, Adrian memperhatikan dua orang yang keluar dari mobil itu yang tak lain Nara dan Danu, Adrian segera turun dan bergegas menghampiri mereka.


''Dokter Nara!!!, panggil Adrian, Nara dan Danu pun menoleh.


''Dokter Adrian'', ucap Nara terkejut, Danu langsung menarik istrinya dan mengenggam tanganya erat, ia tidak ingin istrinya benar-benar akan memukul Adrian saat bertemu, istrinya baru saja pulih, Danu masih belum mengijinkannya pergi bekerja.


''Ada apa dokter Adrian kemari???, ucap Danu berbasa-basi, dan memeluk pinggang istrinya seolah ingin menunjukan pada Adrian bahwa mereka telah bersama.


''Bisakah kita bicara sebentar, aku tidak akan membuat keributan'', mohon Adrian


''Apa yang ingin dokter bicarakan???, tanya Nara begitu tenang namun juga muak dengan seniornya.


''Sayang, kamu bilang ingin memukul pria ini jika bertemu denganya, aku tidak ingin kamu membuang tenagamu, aku bisa menggantikanya'', bisik Danu dengan tangan mengepal


''Aku mohon ijinkan aku bertemu dengan Nata, aku ingin menjelaskan semua, aku tahu kalian marah dan menyalahkanku, jika kalian tidak percaya, kalian boleh mendampinginya'', mohon Adrian


''Apalagi yang ingin anda jelaskan, semua sudah jelas bukan, jangan mengganggu kehidupan kami'', ucap Danu terpancing emosi karena ia tahu pria didepannya tergila-gila pada istrinya.


Nara menggenggam tangan suaminya erat, tidak ingin suaminya emosi dan ribut dengan Adrian, bagaimanapun semua ini bermula darinya.


Dokter, aku tidak tahu Nata mau bertemu dengan anda atau tidak, anda seorang dokter tentu tahu keadaanya setelah apa yang anda dan keluarga lakukan padanya, Nata butuh waktu untuk bisa menerima semua, aku sangat menyayangkan tindakan anda dan keluarga anda, kenapa anda sangat egois, kenapa harus melecehkan Nata''. jawab Nara dengan emosi


''Aku tahu kami salah, aku bisa menjelaskanya dan bertanggung jawab, aku sudah beberapa kali datang kesini, tapi selalu saja diusir, aku tidak tahu harus bicara dengan siapa selain dengan anda'', ucap Adrian bersungguh-sungguh


''Sebaiknya sekarang anda tinggalkan tempat ini karena mengganggu kenyamanan kami'', ucap Danu tak ingin istrinya yang baru sembuh itu marah dan mengamuk.


''Aku akan pergi, tapi aku mohon ijinkan aku bertemu Nata'', ucap Adrian lagi.


''Anda sudah dengar dokter, Nata butuh waktu untuk bertemu dengan anda, jadi sekarang pergilah'', ucap Danu menarik tangan istrinya masuk kedalam kedai, Nara memang kesal pada Adrian, ingin sekali dia memukul seniornya itu sekarang, tapi dia tahu kondisinya benar-benar belum pulih sekarang dan tidak ingin membuat kegaduhan yang menganggu pengunjung kedai, meninggalkan Adrian yang kemudian juga pergi dari sana.