TRIPLE R

TRIPLE R
19. Akan menikah



Nara dan Danu tiba di kedai menjelang malam, selama perjalanan tadi mereka telah membahas tentang rencana pernikahan mereka.


"Ma pa, Nara pulang!!!!, sapanya


Mama Rey duduk di meja kasir, dan melihat seorang pria berjalan berjajar dengan putrinya.


''Ma papa dimana???, tanya Nara


''Papa di belakang???, jawab


''Sibuk ya ma, bisa minta waktu sebentar tidak??, kenalkan ini mas Danu rekan kerja Nara dan juga pemilik rumah sakit tempat Nara bekerja.


''Halo tante saya Danu'', sapa Danu sopan


''Saya mama Nara, ajak duduk dulu, biar mama panggilkan papa'', ucap mama Rey


Mama beranjak ke belakang, suasana begitu tenang, tidak ramai pengunjung seperti akhir pekan.


''Duduk sini dulu mas, mau minum apa, biar aku buatkan???


''Terserah kamu sayang'', jawab Danu, Nara segera pergi ke dapur untuk membuat minum dan memberitahu papanya.


''Pa ma, ada yang mau di omongin mas Danu sama mama dan papa'', ucap Nara


''Ada apa??,


''Papa sama mama temui saja dulu'', ucap Nara


Kedua orang tua itu meninggalkan Nara di dapur dan menemui Danu, mama Rey sudah memberitahu papa Rey tadi tentang Danu. Mereka saling berjabat tangan berkenalan. Nara pun datang membawakan minum untuk kedua orang tuanya dan juga Danu, lalu ikut duduk disana.


Tanpa basa -basi Danu langsung mengutarakan keinginannya untuk memohon ijin menikah dengan Nara. Dan menjelaskan hubunganya dengan Nara, mereka sudah saling mengenal sejak di luar negeri, hingga merintis usaha bersama.


''Bukanya kemarin kamu bilang belum ingin menikah nak???, tanya papa Rey


''Iya pa, Nara tidak tahu kalau mas Danu akan secepat ini memutuskan, setelah Nara pikir tidak masalahkan nikah muda, daripada hubungan yang tidak jelas, mas Danu juga tetap membolehkan Nara bekerja, jadi kami pikir tidak perlu menunda lagi'', Nara pun menjelaskan tidak ingin ada pesta pernikahan dan hanya akad nikah saja, cukup keluarga inti saja yang tahu, karena Nara tidak ingin banyak rumor tentang hubungan mereka.


''Lalu bagaimana dengan Adrian???,tanya mama Rey


''Ma, Nara sudah bicara dengan Adrian tadi, Nara tidak ada hubungan dengan Adrian dan Nara rasa itu sudah cukup'', jelas Nara


''Apa kau juga memberitahu dia jika akan menikah dengan Danu???, tanya papa Rey


''Untuk apa ma, Nara dan mas Danu sepakat hanya akad Nikah, dan tidak mengadakan pesta sekarang, nunggu Hana sama Nata nikah juga, jadi papa sama mama tidak perlu menyiapkan pernikahan sekarang'', jelas Nata.


''Ma pa Nata pulang!!!, tiba-tiba Nata masuk ke kedai


''Hai Ta baru pulang??, sapa Nara, ''ma pa aku siapin makan malam dulu sama Nata'', ucap Nara menarik tangan Nata


''Kami akan menikah!!!, jawab Nara dengan santai


''Serius, lalu Adrian bagaimana???, tanya Nata


''Kamu kan sudah tahu, bukanya kamu tadi bersamanya, dia benar akan balik ke negaranya???, ucap Nara


''Dia sih bilangnya begitu, makanya aku minta tolong sama kamu bantu uruskan, dia kan datang kesini karena kamu, lagi pula aku lusa mau ujian skripsi, mau fokus belajar dulu'', ucap Nata.


''Iya besok aku bantu urus dia, dan aku minta jangan kasih tahu Adrian tentang pernikahanku dengan mas Danu, karena kami hanya akan melaksanakan akad nikah, tidak ada pesta dan tidak mengundang siapapun, hanya keluarga kita saja'', jelas Nara


''Kenapa, bukanya dia mampu hanya untuk membuat sebuah pesta pernikahan???, tanya Nata


''Aku yang memintanya, karena aku ingin pestanya nanti saja bareng sama Hana dan juga kamu, jadi papa sama mama tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk kita bertiga'', ucap Nara


''Lalu apa mama sama papa setuju???, tanya Nata lagi


''Mereka sedang membahasnya'', jawab Nara


Mereka segera menata menu makan malam yang di masak papa Rey, dan Danu ikut makan malam disana, setelah itu Danu segera berpamitan. Meski papa dan mama Rey merasa ini begitu mengejutkan, karena baru sebulan lalu seorang Adrian datang untuk meminang salah satu putrinya dan Nara menolaknya, dan sekarang pria yang juga baru di kenalnya datang dengan niat yang sama, akan tetapi kali ini mereka tidak bisa menolak karena putrinya sendiri menerima pilihanya, dan kedua orang itupun setuju saja dengan keputusan putrinya.


Malam hari kedua gadis itu tidak tidur dan malah mengobrol.


''Ra kamu gak kasih tahu Hana, kalau kamu mau nikah sama Danu'', tanya Nata


''Nanti saja kalau sudah ditentukan harinya'', jawab Nara


''Kenapa kamu lebih memilih Danu dari pada Adrian???, kalau aku lihat Danu dan Adrian itu kurang lebih seumuran, sama-sama sudah mapan'', ucap Nata.


''Aku menghargai usaha mas Danu, dari awal kita kenal kita tidak memiliki apa-apa, dia mau berusaha keras hingga menjadi seperti sekarang, dan dia begitu gigih hanya karena ingin hidup bersamaku dan mungkin kami saling suka hanya saja dulu tidak pernah memikirkan itu, dan sekarang aku baru menyadarinya,'', jawab Nara


''Lalu Adrian??, apa kamu tidak menyesal menolaknya??, dia bilang padaku pernah menawarimu bekerja di rumah sakitnya, dan bahkan jika kamu ingin memiliki rumah sakit, dia akan memberikanya, aku yakin dia akan kecewa jika kamu menikah dengan pria lain'', ucap Nata penasaran.


''Aku hanya menganggapnya sebagai senior ku, dia memang baik padaku, tapi aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya, jodoh itu tidak mengenal siapa yang datang awal ataupun akhir, kalau memang sudah di takdirkan berjodoh, kita bisa apa, aku juga tidak menyangka hubunganku dengan mas Danu bisa sajauh ini, kami hanya bertemu sesekali saja, lalu kami sering bertukar kabar lantas mas Danu pulang ke sini dan memulai semua usahanya, lalu kami memulai usaha bersama'', jelasnya


Entah kenapa hati Nata merasa sedikit lega mendengarnya, meski Adrian mungkin tidak memiliki perasaan untuknya, tapi dia diam-diam menyukainya, walaupun ia akan kehilangan sosok Adrian karena sebentar lagi akan kembali ke negaranya.


''Bagaimana denganmu, siapa yang sudah berhasil mendapatkan hati ibu guru yang cantik ini??, candanya


''Apain sih, tentu saja muridku''jawab Nata dan mereka tertawa berdua.


''Ra tiba-tiba aku juga ingin belajar ke luar negeri, apa mama sama papa akan mengijinkan ku ya, aku kan tidak sepintar kamu'', ucap Nata


''Kenapa tidak!!!, sekarang kita sudah dewasa bukan anak-anak lagi, kita boleh mengejar impian kita setinggi langit, kamu tahu berapa umurku saat meninggalkan negara ini, bahkan papa harus meninggalkan mama dan kalian berdua untuk menemaniku disana hingga aku berani'', ucap Nara


Malam semakin larut, kedua gadis itu terus berbincang banyak hal hingga mereka pun tak lagi bersuara, hanya hembusan nafas yang teratur, tenggelam dalam mimpi indah mereka.