
Semalam Raka telah memberi tahu Hana istrinya perihal dugaan penculikan Nata, dan keadaan mama Rey yang menangis dan terlihat kelelahan, pagi ini pun Hana ingin pamit pada kedua mertuanya untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya untuk menjenguk dan berpamitan kembali bekerja, karena Hana mengambil cuti sebentar saja untuk acara pernikahannya dan sore nanti dia sudah harus bekerja kembali. Pagi sekali Hana bangun dan mulai berkemas.
''Kamu yakin akan pergi bekerja???, tanya Raka yang ikut terbangun di pagi buta.
Hana mengangguk,''tentu saja, masa cutiku sudah habis'', ucap Hana sembari menyiapkan kopernya
''Tidak bisa nambah cuti???, tanya Raka lagi, rasanya tidak rela membiarkan Hana pergi bekerja.
Hana hanya menggelengkan kepala sembari mengambil beberapa pakaian yang akan dimasukan ke kopernya.
''Kamu kan bekerja di tempat Danu, masa tidak boleh Na, kita kan baru menikah'', keluh Raka, dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
''Ka, meski bekerja di perusahaan Danu memangnya bisa seenaknya sendiri, ini sudah peraturan, kamu tidak lihat Nara, pulang bulan madu juga langsung kerja padahal dia istrinya dan juga pemilik rumah sakit'', jelasnya
''Itu dua hal yang berbeda Na, setiap hari Nara bekerja dan setiap hari dia juga pulang ke rumah dan lagi kita belum bulan madu'', ucap Raka lagi
''Bapak Raka yang terhormat, apa anda punya waktu pergi bulan madu, baru kemarin kita menikah saja, kamu sudah pulang malam terus, ninggalin aku sendiri di rumah'', kesal Hana
Raka terdiam, dia memang sibuk dengan tugas yang di limpahkan padanya untuk mencari Nata, saudara kembar istrinya yang tiba-tiba menghilang dan harus meninggalkan istrinya di rumah dan menunggunya hingga malam, ''Ya maaf kan tugas mendadak'', ucap Raka
''Sekarang aku juga harus bertugas Raka, bolehkan???, ucap Hana
'' Hana, bicaralah sama Danu atau Nara minta tambah cutinya'', wajah Raka cemberut dan masam, dia merengek seperti anak kecil.
''Tidak bisa Raka, kan tidak enak, dari awal sudah di jelaskan sama pak Danu, bisa-bisa aku di pecat dan akan menjadi pengangguran,'', jelas Hana
''Ya kan tidak apa-apa, kamu sekarang istriku, jadi kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang, nih kamu yang pegang, semua gajiku disitu, kamu atur sendiri'', ucap Raka sembari menyerahkan sebuah kartu ATMnya pada Hana.
''Raka kita sudah sepakat dari sebelum menikah, jadi tidak perlu membahasnya lagi, aku masih harus bekerja dua tahun lagi, setelah itu aku akan mempertimbangkan ya lagi, bukanya kamu juga masih harus selesaikan kuliahmu, jika kamu menyerahkan kartu itu sekarang, terus kamu mau bayar pakai apa, lagi pula kita sudah berjanji tidak ikut campur dengan pekerjaan masing-masing'', jelas Hana.
''Sayang!!!!, panggil Raka, lidahnya terasa aneh setiap kali ingin memanggil Hana seperti itu, Raka terbiasa memanggil nama saja dan sekarang teman kecilnya telah menjadi istrinya.
Hana melirik Raka sebentar dan tersenyum, panggilan sayang itu terdengar lucu, ''kenapa???, tanya Hana
''Aku kuatir jika kamu jauh'', ucap Raka
''Dari sebelum kita menikah, aku sudah bekerja sebagai pramugari, dan kamu tidak pernah mengkuatirku, yang kamu kuatir kan hanya Nara saja'', kesal Hana
''Aku selalu mengkuatirkan kalian bertiga karena kalian bagian dari hidupku, tapi sekarang kan kamu yang jadi istriku, jadi aku lebih kuatir padamu, aku takut kamu di culik orang'', ucap Raka
Hana tertawa terbahak mendengar ucapan Raka, wajahnya yang cemberut seperti itu sangat lucu.
''Apanya yang lucu, ok baiklah aku tidak melarangmu bekerja, tapi kamu harus ingat, kalau sekarang kita sudah menikah, aku harap kamu bisa menjaga diri dan tahu batasanmu, dan ingat rumah ini tempat kamu pulang'', ucap Raka tegas
''Dan itu berlaku juga untuk kamu, awas saja kalau berani main-main di luar, berhenti mengoda perempuan di luar sana'', acam Hana tak mau kalah tegas
''Main-main apa dan siapa yang mengoda, suamimu ini sangat serius dalam bekerja'', ucap Raka
''Benarkah???, awas saja kalau sampai aku dengar kabar kamu macam-macam'', ancam Hana lagi
Raka duduk di pinggir ranjang melihat Hana begitu bersemangat pergi bekerja, pagi sekali sudah bangun.
''Sayang, sejujurnya aku lebih senang jika kamu di rumah saja, tapi kamu pasti tidak mau dan akan bosan jika harus di rumah terus'', ucap Raka menarik pinggang istrinya dan memeluknya dari belakang.
''Raka kita kan sudah membahas ini sebelumnya dan kita sudah sepakat dengan pekerjaan masing-masing, jadi tidak perlu membahasnya berulang kali'', ucap Hana.
Raka diam saja tapi detik kemudian di langsung mengangkat tubuh Hana dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang, lalu mengungkungnya, Hana sampai berteriak karena terkejut.
''Aku takut tidak bisa menahan rindu saat kamu jauh dariku, kamu harus sering mengabariku dimanapun kamu berada'', ucap Raka di sela-sela pergulatan mereka yang memburu.
Hana menatap wajah Raka, ''akan aku usahakan, tapi aku tidak janji'', ucap Hana.
''Harus Na, aku takut kamu di culik seperti Nata'', ucap Raka sembari melucuti pakaian yang dikenakan istrinya, Hana tidak menjawab, dia sangat tahu, Raka selalu mengkuatirkanya, tapi apa boleh buat, dia tidak ingin jadi wanita yang hanya berdiam diri di rumah, dan menerima gaji suami, meski gaji Raka cukup untuk kehidupan mereka berdua, tapi Hana tidak mau hidup bergantung pada yang namanya suami, dari dulu sudah menjadi cita-cita Hana menjadi wanita mandiri, seperti juga saudaranya Nara dan Nata, dan kemudian hanya suara e*****n dan d*****n yang menggema di dalam kamar.
Sementara itu sudah beberapa hari ini Danu selalu bagun pagi karena mual yang tiba-tiba datang mengusik tidurnya, setelah memuntahkan isi perutnya di toilet kamar mandi Danu kembali membaringkan tubuhnya di sisi istrinya, dan memeluk tubuh istrinya dengan erat, menyelimuti tubuh mereka berdua mencari kehangatan. Danu mengendus dan menyesapi punggung istrinya yang terbuka
Nara menggeliat namun enggan untuk membuka mata, semalam dia sulit sekali tidur, memikirkan saudaranya yang tiba-tiba menghilang, dan terus teringat ucapan mamanya tentang Adrian yang mungkin ingin menculiknya dan justru malah keliru menculik saudara kembarnya. Sejak kepulangannya ke tanah kelahiran, masalah demi masalah terjadi dan bermula darinya, Nara merasa cemas dan takut jika Adrian sampai nekat berbuat jahat pada Nata.
Danu terus saja mengusili istrinya hingga akhirnya Nara pun membuka mata dan membalikan badanya, mata mereka saling beradu.
''Pagi sayang'', sapa Danu lalu mengecup bibir istrinya dan ********** begitu lama, ini sudah menjadi kebiasaan Danu setelah menikahi Nara.
''Pagi suamiku, mual lagi mas'', tanya Nara setelah Danu melepas ciumanya, ia sedang mengingat kapan terakhir dia haid, dia lupa setelah menikah seingatnya baru dua kali haid dan ini sudah berjalan empat bulan sejak mereka menikah. Diawal pernikahan Nara memang berniat menunda kehamilan tanpa sepengetahuan Danu suaminya, mengingat pernikahannya yang hanya di ketahui keluarganya saja, namun kemudian dia mengurungkan niatnya karena Danu ingin segera memiliki keturunan, mengingat usia Danu yang sudah tidak muda lagi.
''Iya, tambahkan energi untuku'', ucap Danu sembari terus menyesapi leher istrinya yang berada dalam kungkunganya.
''Mas sepertinya aku telat bulanan'', ucap Nara dan seketika menghentikan aktivitas Danu.
''Telat bulanan apa, aku kan sudah kasih ke kamu semua'', ucap Danu
''Bukan itu mas, maksud aku telat haidnya'', Nara tertawa dan gemas dengan suaminya yang justru tidak paham maksudnya.
''Terus apa??
''Sepertinya bulan ini aku tidak haid, bisa jadi aku hamil, dan mungkin mas Danu mual tiap pagi karena ngidam, tapi aku belum memeriksanya'', jawab Nara sembari mengelus bulu-bulu halus yang tumbuh di pipi suaminya.
''Hamil, kamu serius, kalau begitu ayo periksa dulu'', ucap Danu bersemangat
''Priksa kemana???, mas Danu lupa kalau aku seorang dokter obgyn'', jelasnya sembari tertawa.
''Sayang aku ingin melihatnya dia tumbuh'', ucap Danu menyingkap baju tidur Nara lalu meraba perut yang masih datar dan mengecup perut istrinya.
''Kalau benar kamu hamil, kenapa perutmu masih rata??, ucap Danu yang tidak mengerti
''Ya kalau benar kan usianya mungkin baru beberapa minggu mas, mana bisa langsung besar'', jelas Nara.
''Sayang kamu serius tidak bohong kan??, tanya Danu lagi seperti tidak percaya bahwa di dalam perut istrinya sudah tumbuh janinya.
''Nanti aku periksa dulu mas, sabar dulu'', ucap Nara mencium bibir suaminya, lalu beranjak ke kamar mandi.
Danu masih mencerna ucapan istrinya, dan beberapa menit kemudian, Nara berteriak memanggilnya.
''Mas Danu!!!
Danu buru-buru berjalan masuk ke kamar mandi, dan Nara langsung menunjukan benda kecil bergaris merah dua.
''Apa maksudnya ini???
''Ihhh mas, ini artinya aku beneran hamil'', ucap Nara gemas dengan suaminya yang tidak bisa membaca alat tes kehamilan yang ditunjukkan padanya.
''Serius, beneran hamil'', Danu tak bisa menyembunyikan keterkejutanya dan merasa begitu bahagia, dia memeluk Nara dengan erat dan kemudian mereka langsung beraktivitas panas di dalam sana