
Beberapa hari Raka disibukan mengurus surat- surat untuk pernikahanya dengan Hana, jadwal terbang Hana yang tinggi serta kesibukan Raka sendiri, membuat pernikahan mereka baru bisa digelar beberapa bulan kemudian. Meski sejak kelulusan Nata, Hana di boyong keluarga Raka untuk tinggal di rumah keluarganya yang juga merupakan rumah masa kecil Hana bersama kedua saudara kembarnya, tapi Hana ternyata tidak memiliki banyak waktu untuk tinggal disana terus, Hana hanya pulang sesekali, untuk mengurus berkas yang memang dia sendiri yang harus mengurusnya, Hana juga harus mengikuti psikotes dan wawancara serta tes kesehatan sebelum menikah, setelah itu Raka dan Hana juga harus mengikuti sidang BPAR (Badan Pembantu Penasehat Pernikan Perceraian dan Rujuk) sebagai syarat untuk pernikahan mereka.
Hari ini adalah hari pernikahan Raka dan Hana, Pernikahan itu diselenggarakan di rumah keluarga Raka, karena memang dari awal Hana dan kedua saudaranya sepakat akan mengadakan resepsi pernikahan bersama ketiga saudaranya nanti saat semua sudah menikah, selain itu karena Raka hanya anak tunggal, keluarganya ingin mengundang keluarga besarnya, kerabatnya serta rekan dan teman-teman Raka, untuk menjadi saksi pernikahan putra tunggalnya itu. Keluarga Raka memasang tenda yang didesain layaknya di dalam gedung yang terpasang di jalan depan rumahnya, banyak tetangga dan saudara yang membantu disana. Persiapan sudah di lakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Pernikahan Raka dan Hana terlihat mewah, tamu terus berdatangan sejak pagi, suasana begitu meriah, selain tamu dari kedua orang tua Raka dan tamu Raka sendiri begitu banyak, namun yang menjadi perhatian semua tamu adalah wajah pengantin wanita, Hana terlihat begitu cantik dengan gaun pengantinnya dan mahkota di kepalanya, Hana bagaikan seorang ratu yang bersinar di singgasananya, Raka sesekali mencuri pandang wajah istrinya yang benar-benar cantik, dalam hati ia begitu bersyukur karena akhirnya bisa menikah dengan salah satu gadis kembar yang sudah ia anggap sebagai saudaranya, meski terkesan terburu-buru, usia Hana dan Raka hanya terpaut dua bulan saja, sejak lahir hingga dewasa mereka tumbuh bersama, sekolah di sekolah yang sama, diantara ketiga kembar bersaudara itu Hana lah yang paling sering berdebat denganya dan membuat Raka selalu mengalah, Kedua orang tua Raka pun begitu bahagian akhirnya salah satu putri angkatnya kembali bersamanya, senyum mereka terlihat mengembang, bahkan tawa papa Raka tertawa terbahak saat rekannya memuji kecantikan menantunya.
Selain kecantikan Hana yang memukau semua tamu, wajah dua wanita cantik yang memiliki wajah serupa dengan pengantin wanita itu mencuri perhatian para tamu. Nara dan Nata tak kalah cantik di acara pernikahan saudara kembarnya, Kedua saudara kembar itu memakai gaun yang sama dan rambut panjangnya di biarkan tergerai, polesan make up natural terkesan cantik alami. Membuat para tamu banyak yang berbisik membicarakan kecantikan mereka.
Entah kenapa hari ini Nara begitu terobsesi dengan makanan, wanita itu terus mencoba semua menu yang tersaji disana, membuat Danu terus mengikuti istrinya kemanapun ia melangkah.
''Sayang kamu tumben banget hari ini, biasanya kamu tidak suka makan aneh-aneh'', tegur Danu
''Mas, aku sudah lama tidak makan menu seperti ini, ini tuh makanan adanya cuma di pesta pernikahan yang mewah seperti ini'', ucap Nata
''Jangan banyak-banyak aku takut kamu sakit perut'', tegur Danu lagi
''Iya aku hanya mencicipinya sedikit, mas Danu mau coba, ini enak banget???, Nara menyendok sedikit makanan di piring dan ingin menyuapi suaminya.
''Enggak, perut aku sedikit tidak enak'', tolak Danu yang memang sejak bangun dari tidurnya merasakan mual.
''Mas Danu lagi sakit, kenapa tidak bilang, ya sudah kita duduk dekat Nata saja'', ucap Nara menarik suaminya dan duduk dekat Nata bersama keluarga besar mereka.
''Kamu gak makan Ta???, tanya Nara
''Nanti saja, masih kenyang, lihat Hana dia cantik banget ya'', ucap Nata
''Ya, Hana sangat cantik, iya kan mas???, ucap Nara membelai pipi Danu yang banyak ditumbuhi bulu-bula halus.
''Istriku wanita paling cantik'', puja Danu pada istrinya
''Duuhhh yang lagi bucin'', ketus Nata
''Sebaiknya kamu juga segera cari pasangan Ta, biar papa dan mama segera menyelenggarakan resepsi pernikahan kami'', mohon Danu.
'' Iya Ta, lihat banyak teman polisi Raka yang tampan, masak tidak ada yang menarik bagimu'', goda Nara dan justru membuat Danu kesal karena istrinya memuja pria lain di depannya.
''Sayang, apa kamu lupa kalau sudah memiliki suami, bisa-bisanya kamu memuja pria lain'', kesal Danu
''Ahh iya mas, kamu paling tampan, aku hanya kasih tahu Nata biar dia pilih sendiri'', ucap Nara dan Danu langsung membungkam bibir istrinya dengan ciuman.
''Kalian ini tidak tahu tempat, pulang saja sana kalau mau bermesraan'', Nata menjadi kesal melihat tikah pasangan pengantin baru di sebelahnya.
''Kamu saja yang iri Ta, karena belum punya pasangan'', sarkas Danu
''Siapa yang iri, aku tidak seperti itu, aku bahagia dengan pernikahan kalian'', Nata tiba-tiba berdiri dari duduknya.
''Mau kemana Ta???, tanya Nara
''Capek duduk terus, mau keluar bentar'', Nata melangkah meninggalkan Nara dan Danu.
Dalam keramaian pernikahan Raka dan Hana, banyak sekali tamu, Nara yang sudah sembilan tahun tidak kembali itu hampir tidak mengenali teman masa kecilnya yang merupakan teman Raka juga. Bahkan tetangga lamanya di perumahan ini ia tidak hafal. Hingga acara itu hampir selesai Nata belum kembali ke tempat duduknya.
''Mas, Nata jalan-jalan kemana ya kok tidak kembali kesini'', Nara tiba-tiba kuatir
''Mungkin Nata dapat teman baru atau kenalan di luar'', jawab Danu.
''Mas aku mau ke kamar mandi dulu, sepertinya aku terlalu banyak makan'', ucap Nata
''Aku antar'', Danu berdiri menggandeng istrinya entah kenapa Nara merasa suaminya itu posesif sekali, ke kamar mandi saja mau antarin, padahal jelas banyak orang di dalam rumah. Nara keluar menoleh kesana kemari mencari Nata, tapi gadis itu tak terlihat batang hidungnya.
Setelah keluar dari kamar mandi Nara duduk di sofa rumah masa kecilnya dulu bersama Danu, dia mencari benda pipih di dalam tasnya mencoba menghubungi Nata, akan tetapi beberapa kali dihubungi nomernya tidak aktif.
''Telfon siapa sayang??, tanya Danu yang duduk di sampingnya sembari memeluk pinggang istrinya itu.
''Nomer Nata kenapa tidak aktif sih, kemana anak ini tiba-tiba menghilang??, ucap Nara lirih
''Mungkin kehabisan daya, sayang pulang duluan yuk, acaranya sudah selesai kan'', ucap Danu mengendus punggung Nara, Nara sangat tahu jika suaminya seperti itu dia tidak bisa menahan diri.
''Pamit dulu mas'', ucap Nara dan dengan senyum lebar Danu beranjak menarik tangan istrinya untuk berpamitan pada orang tua dan juga pasangan pengantin.