
Nata memeluk erat tubuh mamanya yang bersandar di ranjang kamarnya, ibu dan anak itu menangis haru menumpahkan segara rasa di dada, tak ada kata-kata yang bisa diucapkan selain rasa syukur kepada sang pencipta, sejak Nata menghilang kesehatan mamanya menurun, Nata adalah anak yang tidak pernah jauh dari kedua orang tuanya, sejak saat itu Nara yang merawatnya dan tidak disangka kehamilan Nara bermasalah, mungkin karena harus naik turun tangga, Nara kelelahan sehingga mengalami keguguran, mama Rey merasa bersalah sehingga terus menyalahkan dirinya sendiri dan kesehatannya justru tidak lekas membaik.
''Sudah jangan menangis terus, yang penting sekarang Nata sudah kembali bersama kita, mama juga harus cepat sehat, kita sama sekali belum melihat Nara sejak dia di rawat, maafkan papa tidak bisa menjaga kalian, semua terjadi diwaktu yang hampir bersamaan, Raka trimakasih sudah membawa Nata pulang'', ucap papa Rey memeluk Raka.
''Ini sudah tugas Raka pa, dan lagi ada Danu dan keluarganya yang telah banyak membatu kami'', ucapnya
Papa Rey kemudian mengajak kedua orang tua Raka untuk makan bersama dirumahnya sembari mengobrol ringan, papa Rey tidak ingin bertanya macam-macam pada putrinya Nata, ia tahu jika putrinya masih shok akan kejadian yang menimpanya, akan tetapi papa Rey sudah tahu cerita tentang Nara dari papa Danu, setelah mengintrogasi Adrian dan nyonya Veronika dan tahu alasan di balik penculikan Nata, besanya itu langsung menghubungi papa Rey sendiri dan menceritakan semuanya.
Sejak Raka menjemputnya di rumah keluarga Adrian, Nata sama sekali tidak cerita apa-apa, ia tahu Nata pasti ketakutan hingga sampai menusuk Adrian dengan pisau, cerita itupun ia dengar dari uncle Mike, Raka hanya menjelaskan alasan penculikan Nata yang sebenarnya salah sasaran, Nara lah yang menjadi sasaran utama, dan menjelaskan bahwa bukan Adrian yang melakukan penculikan melainkan ibunya, karena wanita itu mengalami gangguan mental sepeninggalan suaminya, ia sering melakukan hal-hal diluar kendali, Adrian juga tidak tahu jika mamanya akan melakukan hal sejauh itu, menyuruh orang untuk memata-matai Nara, karena tahu jika Adrian menyukainya, tapi karena Nara menolaknya berkali-kali, Adrian justru melampiaskan kekecewaanya dengan mengencani banyak gadis, sehingga mama Adrian berinisiatif untuk menculik Nara, bermaksud agar Adrian menjalani hubungan yang lebih serius.
*****
Sementara itu Danu tidak tahu bagaimana lagi membujuk istrinya untuk tidak terus bersedih , sejak di pindahkan di ruang perawatan khusus keluarga dan mengetahui dirinya keguguran, Nara hanya diam dan menangis, dia juga tidak ingin ditemui siapapun. Sejujurnya Danu sangat sedih dan kehilangan, namun melihat istrinya yang begitu terpuruk, dia hanya bisa memeluk istrinya dan menangis di dalam hatinya. Sampai sekarang pun dia tidak berani memberitahu kedua orang tuanya perihal Nara, Danu hanya bisa memberikan pelukan untuk saling menguatkan sembari menghapus air mata istrinya.
''Sayang makanlah sedikit, sejak kemarin siang sampai sekarang kamu tidak makan apapun, jangan menyiksa diri sendiri'', bujuk Danu
''Makanlah sendiri mas, aku tidak berselera'', ucap Nara
''Sayang, aku tahu ini berat untuk kita, akupun juga tidak ingin ini terjadi, jangan terus menyalakan diri'', ucap Danu matanya berkaca-kaca dan justru membuat Nara menangis terisak
''Maafin aku mas, tidak bisa menjaganya, aku tidak hati-hati'', ucap Nara menyalahkan dirinya.
''Kamu tidak salah, ini salahku tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku'', ucap Danu memeluk erat istrinya erat, pasangan itu menumpahkan kesedihan yang mereka rasakan, hingga terdengar ketukan di pintu. Danu segera melepas pelukanya dan beranjak membuka pintu, Danu terkejut melihat keluarganya datang bersama keluarga Raka. Padahal mama mertuanya itu sedang sakit, Raka dan Nata juga baru sampai siang tadi dan Hana pasti juga baru pulang kerja.
"Ma, pa, om, tante, kalian semua datang???, sapa Danu tidak menyangka keluarganya datang bersama-sama.
"Iya, kami ikut sedih mendengarnya nak, bagaimana keadaan Nara sekarang'', tanya mama Rey
Merekapun masuk dan melihat Nara yang duduk di ranjangnya dengan mata bengkak, Nara pasti telah banyak menangis karena kehilangan calon bayinya.
''Nara bagaimana keadaanmu nak???, ucap mamanya dan langsung memeluknya diikuti kedua saudara kembarnya, dan menangis bersama.
"Sudah jangan menangis lagi, sabar ya nak, nanti pasti dikasih lagi", ucap papa Rey
"Mama kan belum sembuh, kenapa datang kemari???, ucap Nara sesenggukan
"Mama ingin melihatmu, maafin mama ya, karena harus merawat mama, kalian harus kehilangan", ucap mama Rey sedih memeluk putrinya
"Maafin aku juga Ra, harusnya aku tidak minta padamu untuk menjaga mama, padahal aku tahu kamu sedang hamil", ucap Hana penuh penyesalan, Hana sadar dirinya sedikit egois.
Nara tidak bisa menjawab dia hanya mengangguk dan menangis.
"Sudah jangan menangis terus, kita memang sedang di uji, jadi kita harus sabar dan iklas menerima semuanya", ucap papa Rey, menenangkan wanita-wanita kesayangannya.
"Kapan kamu kembali, maafin aku Ta", ucap Nara memeluk Nata dengan erat", Nara merasa bersalah dengan penculikan Nata, hingga membuatnya cemas, susah tidur, dan stress, takut jika memang Adrian melakukannya, karena dirinya saudaranya harus menjadi sasaran keluarga Adrian, itu juga yang mempengaruhi kehamilanya.
"Kamu tidak salah Ra", ucap Nata mengigatnya dan menangis sejadinya, Nata tidak ingin menyalahkan Nara, meskipun Nara adalah alasan utama penculikan dirinya, tapi mungkin sudah jalan hidupnya, memiliki saudara kembar yang mempunyai wajah dan postur tubuh yang hampir sama dan membuat banyak orang tak bisa membedakanya. Nata marah pada Adrian yang telah melecehkanya, meski pada awalnya Nata menyukai Adrian dan kemudian ingin melupakan Adrian yang telah kembali ke negaranya, sekarang justru dia tidak akan pernah bisa melupakanya, seumur hidupnya Nata mungkin akan mengingat Adrian yang hampir memperkosanya dan dirinya menjadi orang yang jahat dengan menusuk lengan Adrian, tapi semua itu Nata lakukan untuk melindungi dirinya.
''Sudahkah, kalian sudah terlalu banyak menangis, mama tahu ini berat kamu harus berfikir positip, tanamkan padi dirimu bahwa kamu kuat dan sehat'', ucap mama Raka memberikan kekuatan untuk Nara, wanita itu sangat tahu rasanya kehilangan, karena dulu dia juga kehilangan bayinya jauh sebelum memiliki Raka, bayinya meninggal saat dilahirkan, jika diingat mungkin kakak Raka seumuran Danu.
Raka dan Danu, papa Rey serta papa Raka duduk berbincang di sofa ruangan itu, Danu sesekali melirik istrinya yang sedang makan disuapin oleh mama Raka, ia lega keluarganya datang menjenguknya, dan rencananya besok Danu akan membawa istrinya pulang ke rumahnya, agar dia bisa beristirahat dengan nyaman, hingga malam keluarganya pun berpamitan, Danu sangat berterima kasih, keluarga istrinya begitu peduli, padahal mama mertuanya sedang sakit, dan Nata yang baru selamat dari penculikan juga ikut datang, hal inilah yang membuat Danu suka dengan keluarga istrinya yang tidak pernah ia dapat dalam hidupnya, Danu selalu merasa sendiri selama ini.