TRIPLE R

TRIPLE R
22. Belum siap



Setelah banyak berbincang mengenai anak-anak mereka, keempat orang tua paruh baya itu turun untuk sarapan pagi, karena mereka tadi terburu-buru pergi saat mendapat kabar ada masalah dengan anak mereka, mereka membiarkan ketiganya untuk berfikir sejenak.


''Aku masih tidak habis pikir bisa-bisanya kalian tidur bareng, kalian benar-benar keterlaluan'', ucap Nata


''Kamu bisa seenaknya bicara begitu, kamu juga mabuk semalam, waktu keluar dari rumah karaoke kamu juga muntah-muntah disana, bagaimana jika ada yang mengambil gambarmu dan disebar luaskan, apa kamu tidak takut reputasimu sebagai guru hancur dalam semalam'', ucap Raka pada Nata, Nata sama sekali juga tidak ingat, dia hanya ingat badanya lemas saat menaiki tangga lalu tidur sembarangan di lantai.


Nata hanya menanggapi dengan tersenyum,''tidak ada yang mengabadikanya kan semalam???, tanya Nata lalu mengecek ponselnya.


''Raka, kamu malah ngurusin Nata sih, bilang sana sama mama dan papa, aku tidak bisa menikah sekarang, aku masih terikat kontrak kerja, aku tidak ingin kehilangan pekerjaan'', omel Hana


''Kamu lihat sendiri, orang tua kita sudah memutuskan, lagi pula kalau kamu kehilangan kerja, aku masih bisa menghidupimu, jadi tidak masalah jika harus menikah sekarang'', ucap Raka, dia justru merasa senang dengan kejadian ini, ia bisa menikah dengan Hana, baginya tidak masalah siapa yang menjadi istrinya, Nara tidak mungkin karena baru kemarin dia menikah, dan Nata sudah pasti menolak karena dia melihat dirinya dan Hana sudah tidur bersama.


''Sayang ayo makan, jangan sampai anakku kelaparan di dalam sana'', ucap Raka menggoda Hana


''Raka!!!!!, teriak Hana begitu kencang, hingga terdengar sampai ke lantai bawah.


''Sayang, jangan berteriak dan cemberut seperti itu, nanti anakku bisa tidak secantik dan seseksi kamu'', goda Raka lagi semakin membuat Hana kesel.


Nata tertawa cekikikan dia menarik tangan Hana dan beranjak turun.


''Ayo makan, jangan marahan terus, dia calon suamimu'', ucap Nata


Ketiganya turun dan melihat orang tuanya sedang menikmati sarapan bersama.


''Akhirnya turun juga, apa kalian mau berdebat terus'', ucap papa Raka yang tentunya mendengar perdebatan putranya dengan calon menantunya yang terlihat masam.


Mereka ikut bergabung disana dan mulai mengisi piringnya masing-masing.


''Calon suamimu tidak di layani sayang!!!, tegur mama Rey, wanita paruh baya itu sudah tidak marah lagi, meski Hana tahu orang tuanya kecewa padanya.


''Belum jadi suami, dia bisa ambil sendiri!!!!, ucap Hana ketus


''Calon istri tidak boleh begitu, semarah-marahnya pada suami tetap harus melayani, kalau tidak belajar bagaimana nanti'', ucap mama Raka lembut.


''Ma ayolah, Hana belum siap menikah, dan masih terikat kontrak kerja'', rengeknya


''Kalian itu sudah dewasa, harusnya tahu batasan diri, kalau mau tidur berdua, pingin buat anak nikah dulu seperti Nara, dia tidak takut menikah, bahkan dia sendiri yang bilang sama papa, lebih baik menikah dari pada hubungan yang tidak jelas seperti kalian ini ???, ucap papa Rey.


''Kalian mau main-main saja, tanpa memikirkan resikonya'', ucap papa Raka.


''Ma pa Hana mohon kali ini saja, kasih kesempatan ke Hana, Hana tahu Hana salah, tapi kami tidak melakukan apa-apa, Raka sendiri yang bilang, kalo Hana muntah terus Raka bantuin lepas baju Hana'', mohon Hana


''Kamu yakin kalian berdua hanya tidur tanpa melakukan apa-apa, papa tidak yakin sama Raka'', ucap Papa Raka


''Pa bagaimana bisa tidak percaya sama anak sendiri, Hana dulu yang mulai memeluk dan menciumku, aku laki-laki normal, jadi mana bisa menolaknya'', ucap Raka tanpa malu di hadapan semua, dia tidak ingin kehilangan kesempatan menikah dengan Hana, karena harapanya tinggal Hana saja. Sejujurnya Raka masih bisa mengingat kejadian semalam, mereka memang tidak sekedar tidur saja, Raka mencuri ciuman di bibir Hana, hingga membuat Hana tak bisa mengendalikan diri.


''Raka!!!!!, teriak hana, ingin sekali dia berteriak menendang Raka dan mencabik-cabiknya, Hana sedang memohon pada orang tuanya, tapi Raka malah mengatakan hal yang Hana tidak ingat sama sekali.


''Ma pa, aku siap menikah dengan Hana, aku tidak masalah jika Hana ingin tetap bekerja, aku tidak mau Hana bosan dan mengekangnya di rumah, tapi kalau Hana tidak ingin bekerja aku juga tidak mempermasalahkan, aku tidak memasaknya, Raka minta maaf sudah membuat kekacauan ini, harusnya Raka bisa menahan diri, tapi karena situasinya berbeda jadi ini semua juga diluar kendali Raka'', ucap Raka dewasa


''Hana maafkan aku, aku tahu kamu sangat menyukai pekerjaanmu, aku bukan pria tidak bertanggung jawab, kita menikah saja dulu, nanti aku bantu cari solusinya'', ucap Raka tegas, membuat air mata Hana jatuh begitu saja, Hana tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia menyesalinya.


''Sudahlah Nak kamu dan Raka itu sudah sama-sama dewasa, tidak apa-apa menikah muda daripada nanti terjadi hal-hal diluar kendali kalian, kita sebagai orang tua tidak ingin kalian melakukan hal-hal yang membuat kalian menyesal nantinya'', ucap mama Raka menenangkan Hana yang menangis sesenggukan.


''Benar kata mama Raka sayang, kita semua menyayangi kalian, ingin yang terbaik untuk kalian semua, bukankah kamu bekerja di perusahaan milik suami Nara, kalian bisa bicarakan tentang pekerjaan denganya, boleh tidak menikah saat masih dalam kontrak kerja, semua bisa dibicarakan, Raka sudah bilang dia tidak akan memaksamu berhenti bekerja'', ucap mama Rey


''Apa diantara kalian sudah memiliki kekasih lain???, tanya papa Raka


''Raka tidak ada, gak tahu kalau Hana'' jawab Raka


''Tidak punya apanya, dasar play boy'', kesal Hana


''Aku memang tidak punya sayang, kau waktu itu menolakku, Nata juga menolak ku, Nara belum sempat ngomong sudah di sambar orang duluan'', ucap Raka


''Kau ini, cukup satu saja jangan semuanya kamu mau'', mama Raka menjitak kepala putranya.


''Ma dari awal aku sudah bilang sama Hana, Hana saja yang tidak mengerti'', ucapnya sembari menghabiskan makananya.


''Raka tidak pernah serius ngomongnya'', ucap Hana sudah mulai tenang.


''Tidak serius bagaimana, sekarang ini aku sangat serius''. ucap Raka tak mau kalah


''Sudah jangan seperti tom Jerry, dari kecil kalian berdua masih suka berdebat'', ucap papa Raka


''Kamu bagaimana Nata, apa Nata sudah punya calon juga??, tanya mama Raka


''Belum ma, Nata masih mau lanjut kuliah dulu'', jawabnya dari tadi Nata diam mendengarkan perdebatan yang tidak ada habisnya, ia merasa ngeri jika tiba-tiba harus menikah seperti Hana dan Raka, dia merasa belum siap, dirinya baru sekali menyukai seorang pria yaitu Adrian, tapi pria itu sudah pergi dan Nata bertekat melupakanya.