TRIPLE R

TRIPLE R
11. Janji



Pagi ini di atas kedai Mr. R, tepatnya di lantai dua, dua saudara kembar yang sudah terpisah sekitar 9 tahun lamanya itu bertemu kembali, Nata dan Nara tampak saling bercengkrama tak ingin ada yang keluar dari kamar, semalam Nata tak ingin menganggu tidur saudara kembarnya, dan pagi ini ia enggan beranjak dari ranjangnya.


"Aku senang akhirnya kamu kembali Ra", ucap Nata


"Aku juga senang kita bisa berkumpul lagi", ucap Nara


"Kita foto dulu, akan kukirimkan ke Hana, dia pasti ingin cepat pulang juga", Nata mengambil foto bersama Nara di atas ranjang tidurnya lalu mengirimkanya pada Hana, saudara kembarnya.


"Apa kamu tidak mengajar hari ini???, tanya Nara


"Aku masih kangen sama kamu Nara, bolehkan hari ini aku ijin tidak mengajar".


"Itu tanggung jawabmu Nata, kalo kamu tidak berangkat bagaimana dengan muridmu nanti, ia akan merindukan ibu guru yang cantik ini", goda Nara sembari mencubit pipi saudara kembarnya gemas.


"Nara, bukankah kita terlahir kembar, tapi kenapa kita berbeda???" kau sudah membuat mama sama papa bangga", tanya Nata, ia sudah tahu semalam kedua orang tuanya memberitahu jika Nara kembali untuk mengurus usahanya dan juga bekerja sebagai dokter.


"Kau ini bicara apa, apanya yang berbeda, banyak orang yang tidak bisa membedakan kita bertiga bukan, kita bahkan bisa saling bertukar peran, papa sama mama juga pasti bangga padamu juga bangga pada Hana, kau begitu telaten mengajari anak-anak, murid-muridmu begitu menyukaimu, setiap hari masih membantu di kedai, jadi sekarang bangunlah dan segera bersiap ke sekolah, didiklah muridmu dengan benar, agar bisa menjadi orang yang sukses di masa depan, kamu sudah menemukan dirimu sendiri, kamu adalah pahlawan tanpa tanda jasa", ucap Nara menyemangati saudara kembarnya yang enggan bangun.


"Kamu tidak ada rencana kemana hari ini???, Nata akhirnya bangun dan masuk ke kamar mandi.


"Entahlah, belum terpikirkan", jawab Nata mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama di daftar kontaknya, Nara mengetik sebuah pesan dan mengirimkanya.


Nata telah berangkat ke sekolah setelah sarapan bersama tadi, Nara membantu di kedai melayani pembeli, Nara sama sekali tidak gengsi membantu kedua orang tuanya, kedai inilah yang menghidupi dirinya dan kedua saudara kembarnya tumbuh besar, ayahnya juga tidak perlu pergi jauh lagi meski hasil kedai tak sebesar bekerja di kapal pesiar.


Dreett.. Dreett... Dreett..... Nara melihat ponselnya yang bergetar di meja kasir, ia melihat ada voice note masuk.


"Kau sudah kembali, kenapa tidak memberitahuku, apa kita bisa bertemu hari ini, kebetulan siang ini aku akan ke rumah sakit Harapan, temui aku di sana jam 11 sekalian membahas kerjasama kita".


Nara tersenyum senang, "akhirnya kita bertemu lagi".


"Kok senyum-senyum sendiri sayang", tegur mama melihat Nara yang terlihat senang


"Ma, Nara mau bertemu dengan teman, dia minta Nara menemuinya siang ini, bolehkan???.


"Kamu gak capek sayang, baru juga sehari di rumah".


"Capek Nara sudah ilang, sudah di pijitin kakinya sama papa, sudah di peluk mama juga", ucapnya sambil tersenyum, "oh ya ma nanti sekalian Nara mau ke rumah mama dan papa Raka, Nara kangen mereka juga".


"Ya sudah, mama sama papa titip salam ya sama mereka, mereka pasti senang kamu datang,", ucap mama Rey.


"Iya ma".


Setelah pamit pada kedua orang tuanya Nara pergi dengan menggunakan taxi.


"Rumah sakit Harapan pak", ucap Nara


"Baik nona?, Nara begitu menikmati perjalanan menuju rumah sakit, dia seakan tidak percaya akhirnya bisa merampungkan pendidikanya dan segera kembali ke tanah kelahirannya, bertemu dengan keluarga dan orang-orang tercinta. Hampir 1jam Nara sampai di rumah sakit yang di tuju, ia segera turun setelah membayar.


"Slamat siang, saya ada janji temu dengan bapak Danuartha Alvarendra, bisa tunjukan dimana ruangan beliau???, tanya Nara sopan.


"Maaf apa anda dokter Reynara???, tanya, staff itu dengan ramah dan sopan.


"Iya benar", jawab Nara sopan karena staf itu terlihat lebih dewasa daripada dirinya.


"Ohhh mari saya antar dokter, bapak Danuartha sudah menunggu anda di ruanganya.


Danurtha Alvarendra adalah pemilik rumah sakit harapan, setahu Nara dulu ia kuliah bisnis, dia juga yang mengembangan produk skin care Nara. Pertemuanya dengan Nara mungkin adalah suatu takdir yang mengubah hidupnya, Danu dan Nara bertemu saat ada acara di kedutaan, Nara yang saat itu di daulat sebagai pembawa acara disana, terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan kebaya dan batik yang melekat indah pada tumbuhnya, membuat semua mata berdecak kagum bukan hanya dengan kecantikan Nara, tapi dengan kecerdasan dan kepintarannya, karena di usia yang belum genap 13tahun ia sudah duduk di bangku universitas ternama melalui jalur undangan, Danu yang saat itu sedang kuliah semester akhir di jurusan bisnis begitu terpesona hingga memberanikan diri meminta nomer Nara, Nara dengan sopan memberikanya, meski mereka jarang bertemu mereka sering bertukar kabar dan membuat mereka menjadi akrab, Danu jatuh cinta pada Nara, namun ia tidak berani mengungkapkanya, ia merasa tak pantas, karena saat itu ia tidak memiliki apa-apa untuk diandalkan, bahkan saat itu Danu bekerja sampingan sebagai pelayan toko, hingga akhirnya Danu kembali ke Indonesia dan menjelma menjadi pembisnis muda yang handal, bukan hanya rumah sakit saja, tapi Danu juga memiliki bisnis di penerbangan, properti dan pertambangan.


Nara mengikuti staf itu berjalan di belakangnya melewati lorong rumah sakit.


Silahkan ini ruangan bapak Danu", ucap staf itu sopan dan kemudian ia pergi meninggalkan Nara.


tok.... tok.... tok


"Slamat siang pak Danu", sapa Nara sopan


"Sejak kapan aku menjadi bapakmu", ucap Danu tak suka Nara memanggil dengan sebutan itu"panggil aku seperti biasanya jika sedang berdua" , titahnya


"Mana bisa begitu, anda kan pimpinan disini", tolak Nara, sejak mereka kenal Nara memanggilnya mas


"Nara, kita sudah kenal lama, dan aku lebih suka kamu memanggiku tetap seperti dulu".


"Baiklah pak, ehhh maksudku mas Danu", ucap Nara mengalah tak ingin banyak berdebat.


"Nah begitu lebih bagus kan, bagaimana apa kau sudah siap bekerja disini, aku akan perkenalkan kamu sekarang pada dokter dan seluruh karyawan disini". ucap Danu.


"Harus sekarang pak eh maksudku mas???.


"Aku harus menunggumu berapa lama lagi", ucap Danu


Nara terdiam,"aku baru datang kemarin, dan mas Danu sudah menyuruhku bekerja".


"Aku punya alasanya???


"Apa alasanya???, tanya Nara


"Nara apa kau tidak pernah sedikitpun mencari kabar tentangku???.


"Aku tahu kabar bahwa mas Danu sekarang memiliki banyak bisnis, apa itu benar????


"Ya aku sudah mengembangkan bisnis skin care milikku, dan sekarang aku mau kamu membantuku mengelola rumah sakit ini, karena rumah sakit ini adalah mahar untukmu", ucap Danu.


"Apa mas, mahar", kaget Nara


"Nara, kamu tahu dulu aku bukan siapa-siapa, aku tak punya apa-apa untuk di andalkan, bahkan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, aku tak berani, aku terus berusaha agar bisa pantas bersanding denganmu, apa salah jika aku bilang sekarang bahwa aku mencintaimu sejak kita bertemu", ucap Danu penuh harap


Nara tidak menyangka, dikira hari ini akan membicarakan tentang pekerjaan, tapi ternyata malah mendapat pernyataan cinta dari Danuartha, teman sekaligus rekan bisnisnya.


Nara terdiam, "mas aku belum ingin menikah, aku belum siap berumah tangga, apalagi punya anak", ucap Nara


"Tidak apa, aku akan menunggu sampai kamu siap", ucap Danu meraih kedua tangan Nara dan menciumnya " aku tidak main-main Nara". ucapnya lagi


Danu meraih dagu Nara dan langsung menciumnya.


Nara tak bisa menghindar dengan serangan Danu yang begitu tiba-tiba, entah kenapa tubuh Nara tak bisa menolaknya.


"Aku mencintaimu Nara, aku sudah menunggumu selama ini", ucap Danu sesaat setelah melepas ciumanya, "maaf Nara aku tidak bermaksud merendahkanmu, aku sangat merindukanmu", ucap Danu membawa Nara dalam dekapanya.


"Mas, kau ini benar-benar tidak jelas, kita sedang membahas pekerjaan, malah ngomongin perasaan", ucap Nara


"Aku tidak ingin kedahuluan orang lain, jadi apakah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan", ucap Danu mengurai pelukan, "please'', mohon Danu lagi


Nara tersenyum melihat wajah Danu yang begitu berharap.


"Aku tidak mau mahar rumah sakit"., ucap Nara


Lalu kamu mau mahar apa??


Nara tidak menjawab, membuat Danu gemas sendiri.


"Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri",


"Aku akan membuatmu yakin", ucap Danu, ia memeluk Nara erat hingga terdengar bunyi detak jantungnya. Sebenarnya Nara juga memiliki perasaan pada Danu, tapi ia tidak tahu apakah itu cinta atau sekedar suka saja, tapi ia selalu merasa nyaman setiap kali berbicara dengan Danu dan berada di dekatnya, ia tahu selama ini Danu berusaha dengan keras untuk sukses, dan ia telah membuktikannya sekarang.