
Jadi bagaimana???, tanya Danu mengurai pelukannya
"Bagaimana apanya???
Danu merasa gemas, "kau ini cerdas dan pintar, tapi tidak punya perasaan", wanitanya tidak memahami pertanyaanya.
"Kamu sendiri yang bilang akan meyakinkanku", jawab Nara
"Jadi kamu belum bisa melihat ketulasku???, kamu bukan gadis 13 tahun lagi, dan aku heran bagaimana kamu bisa meraih gelar SpOG itu???, sedang kamu tak berperasaan" Danu bebar-benar heran dibuatnya, padahal baru saja Danu menciumnya untuk menyalurkan rasa yang terpendam selama ini, dan Nara tidak menolaknya, ya walaupun itu terjadi secara tiba-tiba, Nara tidak peka dengan perasaanya sendiri, selama ini Nara hanya fokus dalam belajarnya, gadis itu terkesan cuek.
"Kapan kamu bisa mulai bekerja, atau kamu ingin mengunjungi perusahaan skincaremu dulu????, tanya Danu mengalihkan pembicaraan, karena sudah beberapa kali bicara masalah hati dengan Nara, namun Nara sulit memahaminya, tapi Danu sudah lega bisa mengungkapkan perasaannya meski dia masih harus membuktikan cintanya itu.
"Itu perusahaanmu juga kan, bukankah selama ini perusahaan baik-baik saja di bawah kendalimu". jawab Nara
"Itu perusahaanmu nona, aku hanya sebagai direktur Pelaksana, kamu yang sudah berhasil mencetuskan ide membuat skin caremu sendiri, aku hanya membantu mengembangkanya, atau jangan-jangan kamu sengaja memilih menjadi relawan di Gaza, karena tidak ingin segera mengurus perusahaan, membuatku kuatir saja". jelas Danu membingkai wajah Nara yang begitu cantik, mereka berbicara begitu dekat, hingga hembusan nafasnya terasa.
Nara menatap Danu dan tersenyum" itu panggilan jiwa mas, beri aku waktu beberapa hari lagi untuk mulai bekerja, hari ini aku ingin mengunjungi kerabatku".
"Ok...., baiklah, beri tahu aku jika kamu sudah siap, ayo kita pergi makan siang dulu'', ajak Danu.
Danu berjalan beriringan dengan Nara melewati ruang perawatan dan bangsal. Ia tidak peduli dengan tatapan karyawan dan pengunjung rumah sakit saat ini, mereka menjadi pusat perhatian seisi rumah sakit sekarang, Danu sadar jika kekasih hatinya itu sudah pasti akan membuat mata orang tertuju padanya, pintar, cerdas, dan cantik, Danu tidak tahu bagaimana nanti jika wanitanya itu sudah bekerja di rumah sakit dan karyawan tahu bahwa dia seorang dokter muda yang hebat, ada perasaan bangga di hati Danu.
Seorang perawat dan dokter yang sedang mendampingi Adrian pun terpaku pada Danu dan Nara yang terlihat begitu serasi, pasalnya ia tahu gadis itu hampir sebulan ini bolak-balik datang ke rumah sakit dan menemani Adrian, pasien yang kini bersamanya untuk menjalani terapi.
Adrian juga heran melihat Nata berjalan dengan seorang pria yang terlihat begitu akrab, ia bahkan tidak melihat keberadaanya saat ini, Adrian sedang terapi berjalan di dampingi dokter dan perawat, Adrian tidak tahu kalau gadis itu bukan Nata melainkan Nara, Gadis yang ia kejar hingga sampai membuatnya datang ke Indonesia untuk mencarinya, dan sekarang ia malah celaka, ia berfikir siapa pria yang bersama Nata di jam kerja seperti sekarang, kenapa Nata tidak menemuinya atau sekedar melihatnya sebentar, sebulan ini Adrian memang selalu menunggu kedatangan Nata, tapi Nata selalu datang siang hari karena Nata masih bekerja, atau bahkan sore hari jika ia sedang ke kampus menemaninya sampai waktu kunjung habis.
Nata yang ada di pikiran Adrian saat ini, dia hampir lupa dengan sosok Nara, karena sejati Adrian tidak bisa mencari perbedaan diantara saudara kembar itu, Adrian sangat menyukai pribadi Nata yang ulet dan telaten menemaninya selama di rumah sakit, tidak seperti Nara yang dulu selalu menghindarinya, Adrian tidak yakin dengan perasaanya sekarang, apakah ia benar-benar jatuh cinta dengan Nara atau sekarang telah berpindah hati pada Nata. Sesaat Adrian sadar perbedaan antara Nara dan Nata.
"Bukankah dia gadis yang sebulan ini selalu datang ke kamar pasien di ruang VIP??, bagaimana bisa sekarang dia berjalan bersama direktur rumah sakit??, ucap staf yang tadi mengantar Nara
"Dia perempuan yang cantik dan juga seksi, tentu saja banyak pria yang menyukainya", jawab staf lainya
"Dia benar-benar beruntung di kelilingi oleh pria-pria tampan". ucapnya lagi
"Direktur memperlakukanya dengan sangat baik", ucap lainya yang melihat direktur rumah sakit itu membukakan pintu untuk Nara.
"Jangan bergosip terus waktunya makan siang, mereka bikin aku lapar tahu", ucap staf tadi.
Baru beberapa menit Danu dan Nara berlalu, orang-orang di kagetkan dengan kedatangan Nata, dengan santai ia berjalan memasuki rumah sakit, melewati orang-orang yang menatapnya dengan aneh. Orang-orang yang ada disana merasa heran dan mulai saling berbisik satu sama lain bergunjing, ia buru-buru menuju ruang perawatan Adrian.
Nara langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Adrian yang sudah berada di kamarnya setelah selesa terapi tadi juga terheran melihat kedatangan Nata.
"Hai Adrian!!!, sapanya
Nata mengernyit, "direktur rumah sakit", siapa, aku baru saja kesini", jawab Nata
Adrian pun menjelaskan bahwa tadi ia melihat Nata di rumah sakit bersama seorang pria, dan Adrian baru tahu kalau pria itu direktur rumah sakit.
"Aku baru sekarang ke rumah sakit, sebentar apa Nara datang kesini, dimana dia???, ucap Nata
"Nara katamu, dia sudah kembali", Adrian begitu antusias
Nata mengangguk, maaf Adrian aku belum sempat memberitahumu, semalam saat aku sampai di rumah, Nara sudah tidur, papa melarangku membangunkanya, dan tadi pagi kami hanya mengobrol sebentar lalu aku pergi bekerja, nanti aku akan memberitahunya". jelas Nata ada perasaan yang begitu aneh yang Nata rasakan, entah itu perasaan apa, ia sendiri tidak mengerti, dia merasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
Adrian diam, dia tidak tahu kenapa hatinya tidak merasakan apa-apa sekarang, tadi saat melihat Nara yang berjalan dengan seorang pria, yang Adrian kira adalah Nata, ia merasa tak suka bahkan dadanya bergemuruh hebat karena merasa diabaikan, tapi sekarang setelah tahu bahwa dia bukan Nata, hatinya menjadi tenang.
"Nat....., Nata!!, panggil Adrian mengagetkan Nata yang melamun
"Iya, ada apa???, jawab Nata kaget
"Kamu melamun, aku sudah lapar, kamu bawa apa???, tanya Adrian
"Ini makan siang, aku beli untukmu juga", ucap Nata kikuk, kemudian mereka makan dalam diam, tidak ada candaan dan gurauan seperti hari-hari sebelumnya, tiba-tiba air mata Nata keluar begitu saja tanpa permisi, tidak tahu apa penyebabnya.
"Nat kamu kenapa???, tanya Adrian yang heran dengan Nata gadis itu tiba-tiba menangis.
"Tidak apa-apa, ini sambelnya pedes banget?, ucab Nata berbohong
"Sudah tahu pedas masih juga di makan, hentikan memakan sambalnya", tegurnya
"Iya, aku ke kamar mandi dulu", Nara buru-buru berjalan ke kamar mandi menyalakan kran air dan menangis tersedu hingga Adrian mendengarnya.
Tak berapa lama Nata pun keluar dari kamar mandi setelah merasa tenang, ia kaget saat Adrian berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa Nata, apa terjadi sesuatu????, tanya Adrian kuatir.
Nata mencoba tersenyum, "tidak apa-apa Adrian, cuma sambalnya saja yang terasa pedas, tenggorokanku rasanya panas", kilahnya, "kamu mau ngapain???.
"Aku hanya kuatir terjadi sesuatu sama kamu tadi", ucap Adrian membuat Nata tersenyum.
"Kamu sudah selesai makan???, tanya Nata mengalihkan pembicaraan.
Adrian mengangguk, ia kembali berjalan dan duduk di sofa sedang Nara ia tidak melanjutkan makan dan membersihkan sisa makanan tadi membuangnya di tempat sampah.
Keduanya diam menjadi canggung, Adrian dan Nata sama-sama merasakan gemuruh di dadanya.