The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 8



Chapter 8


(The Past)





Di ruang kosong ini, aku menemukan diriku telah hancur


Bersama kenangan indah cinta kita





Pagi itu, seperti biasa So Hyun sibuk menyiapkan sarapan untuk pria yang sudah mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Dia mengangguk senang saat makanan yang dicicipinya sesuai dengan selera lidahnya.


“So Hyun-ah. Kau melihat kunci mobilku?”, teriak seseorang dari kamarnya.


“Tidak. Memang kau bawa mobil”, ucap So Hyun juga sedikit berteriak. Dia mengangkat pancinya, dan menaruhnya di meja makan.


“Iya, aku pinjam mobilnya Namjoon hyung. Mobilku dipinjam Jungkook”, teriaknya kembali.


“Kenapa tak mencarinya di depan TV. Bukankah semalam kau bermain game disana”, ucap So Hyun kembali.


Dia menata mangkuk nasi, sumpit dan juga sendok di meja makannya. Mengambil gelas dan menuangkan air putih disana. Sarapannya sudah siap. Dia tersenyum senang melihat hasil kerja kerasnya.


“Jimin-ssi. Sarapannya sudah siap. Mari makan dulu”, ucapnya cukup lantang.


Dengan penampilan yang cukup rapi, pria itu berjalan mendekati meja makan. Dia duduk di salah satu kursi. Menatap lapar makanan di hadapannya.


“Belum ketemu kunci mobilnya?”, tanya So Hyun sambil memberikan semangkuk sup untuk pria itu.


“Sudah, terselinap di bawah bantal”, jelas pria itu.


Ting tong. Terdengar suara bel pintu apartemennya. So Hyun mendongakkan kepalanya menatap ke arah pintu itu.


“Siapa pagi-pagi seperti ini berkunjung?”, tanya pria yang kini sudah memasukan sesendok nasi ke mulutnya.


So Hyun mengangkat bahunya seolah berkata jika dia tak tahu. “Aku akan membukanya, kau lanjutkan saja makanmu”, ucapnya kemudian.


Dengan masih memakai celemek di tubuhnya So Hyun berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang tengah berkunjung ke apartemennya. Dia menatap layar tablet di dindingnya sebelum meneruskan langkahnya membuka pintu. Senyumnya mengembang kala melihat seorang gadis membawa kotak makanan. Tangannya terulur menyentuh knop pintu.


Gadis itu membungkuk memberi salam, setelah pintu itu terbuka. So Hyun membalas salam gadis itu sebelum mempersilahkannya masuk.


“Kenapa eonni sampai repot membunyikan bel terlebih dulu? Padahal aku tidak mengganti password apartemenku. Biasanya juga kau langsung masuk”, seru So Hyun.


“Sekarang keadaannya berbeda. Kau sudah tak tinggal sendiri lagi. Dan lagi, aku tak mau melihat kejadian yang seharusnya tak ku lihat. Seperti waktu”, jelas gadis itu.


So Hyun teringat kejadian yang dimaksud gadis itu. Ya, dia juga cukup malu waktu itu. Bagaimana tidak, gadis itu menemukan dirinya tengah ditindih oleh pria yang kini menjadi suaminya. Meski sebenarnya itu kejadian yang tak disengaja. Kala itu dia sedang berdebat kecil perihal perjodohan mereka, entah sebab apa mereka terjatuh bersama dengan posisi seperti itu. Dan tepat setelahnya pintu kamarnya dibuka oleh gadis yang menjadi sekretarisnya. Itu kejadian yang cukup memalukan untuknya.


Gadis itu meneliti penampilan bosnya. Netranya menelisik mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ini adalah penampilan langka yang dilihatnya. Bosnya tengah memakai pakaian rumah dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya. Rambut panjangnya digulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Masih terlihat natural, karena memang belum memakai make up. Beberapa anak keringat juga masih terlihat di keningnya. Khas orang yang baru selesai memasak. “Kau sudah terlihat seperti seorang istri ya”, ucapnya kemudian.


“Aku memang seorang istri kan”, jawab So Hyun santai.


Gadis itu mengangguk membenarkan.


“Ayo masuk!”, ajak So Hyun. Mereka berjalan beriringan.


“Dia disini?”, tanya gadis itu dengan menekankan kata dia.


So Hyun mengangguk sebagai jawaban.


Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam. Perasaannya jadi tak menentu. Entah sebab apa. Tapi yang pasti, dia masih merasa canggung jika harus berdekatan dengan pria itu.


“Kenapa berhenti?”, tanya So Hyun.


“Aku tidak mengganggu kan?”, tanyanya ragu.


“Tentu saja tidak”, So Hyun tersenyum sebagai penguat jawabannya. Tangannya terulur menarik lengan sekretarisnya. “Ayo”, ajaknya lagi. Dia membawa gadis itu ke meja makan dimana disana sudah duduk pria yang dimaksud gadis tadi. Dia mempersilahkannya duduk dan mengambil kotak makanan yang dipegangnya.


“Aku akan mengambil nasi untukmu. Eonni belum sarapan kan?”, tanya So Hyun kembali.


“Tidak perlu. Aku sudah sar……”, belum sempat dia melanjutkan kalimatnya perutnya sudah berbunyi. Gadis itu mengalihkan pandangannya, merasa sedikit malu karena ketahuan bahkan sebelum kalimat bohongnya terselesaikan.


So Hyun tersenyum. “Akan aku ambilkan nasi”. So Hyun beralih menuju dapur yang letaknya memang bersebelahan dengan meja makan. Dia juga membuka kotak makanan tersebut.


“Jimin-ssi, kau mau japchae?”, tanya So Hyun. Tangannya sibuk mengambil kotak makanan dari tas kain yang membungkusnya.


“Boleh juga”, jawab pria yang dipanggil Jimin tersebut.


So Hyun menata piring yang berisi japchae di meja. Dia juga memberikan nasi, sumpit dan sendok pada sekretarisnya. Duduk setelah mengambilkan semangkuk sup pada gadis itu. Celemek memasaknya sudah hilang dari tubuhnya. “Selamat makan”, ucap So Hyun kemudian. Tangannya terulur mengambil sumpit. Menyuapkan nasi kemudian.


“Kau yang memasak ini semua!”, tanya sekretarsinya. Dia memandang tak percaya makanan yang tersaji di depannya.


“Emmh”, jawab So Hyun.


“Aku terkejut”, jawabnya. Gadis itu mengambil sendok. Menyuapkan kuah sup ke mulutnya. “Tidak buruk juga untuk seorang amatiran”, ucapnya kemudian.


“Amatiran?”, Jimin mengulang kata yang terdengar aneh ditelinganya. Dia tak pernah menduga hal itu. Selama ini dia fikir jika gadis yang sudah menjadi istrinya itu memang pandai memasak. Karena masakan yang selalu dimakannya memang terasa enak, seperti seorang yang sudah berpengalaman dalam bidang itu.


Jimin mengangkat alisnya. Menatap ke arah So Hyun seolah minta penjelasan dari ucapan sekretarisnya.


“Habiskan saja makananmu”, jawab So Hyun yang mendapat tatapan aneh dari suaminya.


Jimin tak mau ambil pusing. Dia melanjutkan makannya. Mengambil japchae yang tadi disajikan istrinya. “Kau yang memasak ini?”, tanya Jimin sambil mengangkat sumpitnya. Pertanyaan itu dimaksudkan untuk gadis yang duduk di depannya.


Sekretaris Min menoleh, menatap sebentar pria yang bertanya padanya. “Eoh”, jawabnnya singkat.


“Mashita”, ucap Jimin dengan singkat pula. Dia kembali melanjutkan makannya.


“Masakan Aera eonni memang enak”, tambah So Hyun.


“Sejak kapan kau bisa memasak?”, ucap Jimin. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ya, dia masih samar mengingat jika gadis di hadapannya tidak bisa memasak.


“Aku maksudmu?”, Aera menunjuk dirinya sendiri. Dia sedikit ragu dengan ucapannya. Ya, dia tidak yakin pertanyaan itu untuk dirinya atau untuk gadis yang duduk di samping pria itu.


Jimin mengangguk pelan. Dia kembali memasukan makanan ke mulutnya.


“Memang sudah berapa lama kita tak bertemu?”, Aera tak menjawab, tapi dia memilih mengajukan pertanyaan lain.


Jimin tampak berfikir. Dia sedang mengingat kapan terakhir kali dia bertemu wanita itu. “Mungkin sekitar tujuh tahun”, jawabnya ragu.


Aera memilih diam. Dia kembali memakan makanannya.


Jimin masih memandang gadis di depannya menanti jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Sesekali dia memasukan makanan ke mulutnya.


So Hyun juga memilih diam. Dia masih belum paham dengan apa yang kedua orang di sampingnya bicarakan.


“Aku belajar semua hal yang tak ku bisa. Aku hanya ingin membuktikan jika gadis feminim itu juga tidak buruk”, jawab Aera karena merasa risih dengan tatapan pria di depannya.


Jimin terdiam. Pandangannya masih tertuju pada gadis dihadapannya. Namun dia tak benar-benar menatap gadis itu. Dia teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu.


So Hyun merasa cukup aneh dengan obrolah yang tercipta dari dua orang di sampingnya. Seolah merasa jika di menjadi orang asing jika berdekatan dengan mereka. Mereka terlihat begitu dekat, terbukti dari bahasa percakapan yang mereka gunakan. Ya, dia tahu jika mereka seumuran. Tapi aneh rasanya jika itu untuk orang yang baru saja saling mengenal. Kecuali mereka memang sudah saling kenal dimasa lalu. Tungggu! Dia bisa melihatnya, perasaan canggung mereka. Seperti seseorang yang bertemu dengan mantan kekasihnya. Jangan jangan…


“Kalian sudah saling mengenal?”, So Hyun akhirnya bersuara. Dia ingin membuang rasa penasarannya.


“Iya. Kami satu SMA dulu”, jawab Jimin. Pria itu sudah beralih menatap So Hyun.


So Hyun mengangkat alisnya. Dia masih belum terima dengan jawaban suaminya.


“Hanya teman SMA?”, tanya So Hyun kembali.


Jimin menelan kasar salivanya. Bingung harus menjawab apa. Salahkan mulutnya yang tak dapat dikendalikannya tadi. Apa dia harus jujur saja jika mereka memang pernah berkencan dulu?


“Iya. Memang kau fikir apa lagi?”, kini Aera yang bersuara.


So Hyun mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Juga masih tak terima dengan ucapannya. “Ku fikir kalian memiliki hubungan yang lebih dari itu”, ucapnya kemudian.


“Maksudmu?”, tanya Aera yang tak paham.


“Kalian masih terlihat canggung. Ku fikir karena baru saling mengenal. Tapi ternyata bukan itu. Bukan juga karena teman lama yang baru bertemu. Tapi lebih tepat seperti seseorang yang baru bertemu dengan mantan kekasihnya?”, terdengar nada ragu diakhir kalimat yang diucapkan So Hyun.


Mereka semua terdiam. Gadis itu bisa menebaknya dengan tepat. Apa sebegitu ketaranya sikap mereka?


So Hyun masih mengunyah makanannya. Menatap kedua orang itu bergantian. Menanti setiap kata yang akan dia dengar. Kenapa mereka berdua menjadi diam. “Jangan bilang jika kalian memang pernah berkencan dulu”, So Hyun kembali membuka suara. Tak tahan dengan kebisuan yang tercipta diantara mereka.


“Eoh”, jawab Jimin singkat. Dia memilih jujur. Dia tak ingin menyimpan rahasia lagi pada gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.


“Uhuk uhuk”, So Hyun tersedak. Dia tak pernah menyangka jika asumsinya benar.


Jimin menyodorkan minuman untu So Hyun. “Pelan-pelan makannya”. Dia juga pengusap pelan punggung gadis itu, berharap jika gadis itu akan menjadi lebih baik. “Kau baik-baik saja?”.


So Hyun meminum minuman yang disodorkan suaminya. Merasa sedikit lebih baik setelahnya. Ini akibat keterkejutannya mendengar pengakuan suaminya. “Emmmh”. Dia mengangguk untuk meyakinkan.


Jimin masih mengusap pelan punggung So Hyun. Berhenti setelah yakin jika gadis itu baik-baik saja.


Tak ada percakapan setelah itu. Mereka kembali makan dalam keadaan diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. So Hyun yang masih sedikit terkejut. Jimin juga nampak terdiam, merasa sedikit bersalah karena pengakuannya. Dan juga Aera yang terlihat enggan berkomentar.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


Masa lalu Jimin akhirnya terbuka juga.. hehe..


Waktunya masa lalu So Hyun.. hihi😁😁


Hati-hati ada pelakor(perebutlakiorang) or pebior(perebutbiniorang)!!! 🤣


Jangan lupa tinggalkan Like dan Comment ya😊


*Sengaja aku kurangin cerita ini, habisnya Like dan Commentnya kurang sih🙃*