![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 19
(Confusing)
—
—
Cinta ini indah
Jika aku berada di bawah langit yang sama denganmu
__
—
Senyum mengembang, raut bahagia tergambar jelas di wajah tampannya. Ya, Jungkook kini tengah memasuki dorm tempatnya dan para personil BTS lain tinggal. Kadang dia bersiul menunjukkan betapa senangnya dia hari ini. Setelah memakai sandal rumahannya, dia ikut bergabung Taehyung dan Jin yang sedang bermain game. Senyum manis masih terlihat di wajahnya.
“Kau darimana? Senang sekali kelihatannya!” tanya Taehyung setelah melirik orang yang membuat sofa di sampingnya bergerak. Pandangannya masih terfokus pada layar di depannya.
“Jungkook-ah, kau sudah pulang?” tanya seseorang yang baru datang dari arah dapur, sang leader. Dia membawa secangkir kopi.
Jungkook hanya mengangguk dengan tetap memasang senyum manis dan raut bahagia.
“Sudah makan?” sang leader kembali bertanya.
Jungkook kembali mengangguk.
“Bahagia sekali! Darimana?” lagi sang leader yang bersuara. Sementara Taehyung dan Jin masih sibuk dengan permainan yang mereka mainkan.
“Kencan,” ucap Jungkook singkat. Berdiri menjadi kegiatannya selanjutnya. Dengan langkah tanpa dosanya dia meninggalkan sekawanan rekannya yang memasang tanda tanya besar di dahinya. “Aku mau mandi dulu hyungdeul,” ucapnya dengan sunggingan manis. Dia menghilang dibalik pintu kamarnya kemudian.
Mereka bertiga saling menatap seolah bertanya dengan siapa? Mereka juga saling mengangkat bahu karena tak menemukan jawabannya.
“Memangnya dia punya kekasih?” itu adalah suara Jin.
“Mustahil. Dia kan tak punya teman dekat gadis,” jelas Taehyung setelah membanting stiknya. Dia kalah melawan Jin setelah konsentrasinya terbelah sejak kedatangan pria berwajah tampan tersebut. “Kecuali…..” Taehyung menggantungkan kalimatnya.
“Kecuali…..” sang leader mengikuti perkataan Taehyung sambil mengangkat cangkirnya. “Siapa memangnya?” diakhir dia justru balik bertanya, padahal nada bicaranya tadi seolah mengetahui dan akan mengungkapkannya.
“Kim daepyo,” kata Hoseok yang entah datang darimana. Tau-tau dia sudah duduk di sofa bergabung dengan ketiga orang tersebut.
“Aaa, kau benar. Akhir-akhir ini dia memang dekat dengan gadis itu kan,” Jin kembali bersuara.
Taehyung mengangguk membenarkan. Entah setuju dengan perkataan Hoseok atau Jin. Tak ada yang bersuara setelahnya. Sang leader sibuk dengan cangkirnya. Taehyung dan Jin kembali sibuk dengan gamenya. Dan Hoseok sibuk dengan ponselnya.
“Hyung, aku pergi dulu,” ucap seseorang memecah keheningan di antara keempat orang itu.
“Kau mau pergi kemana?” tanya sang leader.
“Pulang,” ucap orang itu kembali. Dia terlihat sibuk memakai jaketnya.
“Selarut ini?” tanya Jin.
Jimin itu hanya mengangguk.
“Bilang saja kalau mau ke club,” ucap Taehyung yang tak mengalihkan pandangannya dari layar gamenya.
“Club”, ulang Jin. “Yak, aku ikut”, lanjutnya antusias.
“Aku mau pulang bukan ke club,” bantah si Jimin. “Memangnya aku pernah datang ke tempat seperti itu!”
“Kau sendirikan yang bilang waktu itu. Kau bahkan bertemu gadis disana. Lebih parahnya kau tidur dengannya.” jelas Taehyung kembali.
Jimin itu memejamkan mata dan membuang muka. Si mulut ember selalu berhasil mempermalukannya.
“Mwo!”, teriak mereka serentak selain Taehyung dan Jimin tersebut tentunya.
“Benarkah hyung!” Jungkook yang entah sejak kapan keluar dari kamar ikut bertanya.
“Itu tidak sengaja,” ucap Jimin itu. Terdengar keraguan disetiap katanya.
“Tidak sengaja. Wah, kau memang sesuatu hyung,” ucap Jungkook. Ada raut kagum di wajahnya.
“Anggap saja aku sedang gila waktu itu, jadi jangan ditiru. Kau mengerti!” ujar Jimin itu kembali. Dia juga mendorong kening Jungkook dengan jari telunjuknya.
“Apa dia cantik?” Hoseok kini yang bersuara.
“Tentu saja. Senyumnya manis dan yang pasti seksi,” jawab Jimin itu dengan cengirannya. Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja dia menyelam.
“Siapa namanya?” sang leader yang kelihatan acuh kini bersuara.
“Kim So Ah,” Taehyung kembali menyahut dengan mengeja nama sang gadis.
“Kim daepyo!” Hoseok yang terdiam dari tadi juga ikut bersuara.
“Benarkah itu So-ah, hyung,” tutur Jungkook. Raut wajahnya tampak kecewa.
“Entahlah!” jawab pria itu sambil mengangkat bahunya. “Aku pergi dulu. Annyeong.” Tangan pria itu mengacak rambut Jungkook sebelum benar-benar berlalu. Dia juga mengedipkan sebelah matanya.
“Park Jimin,” teriak Jungkook tak terima.
Pria itu berbalik sebelum mencapai pintu. “Yak, kau pikir berapa gadis yang bernama Kim So Hyun di negara ini?” tanyanya kemudian.
“Banyak,” jawab Jungkook.
Pria itu tersenyum dan menghilang di balik pintu.
“Jadi itu bukan So-ah,” Jungkook kembali berteriak meski Jimin itu tak akan mendengarnya. Dia tersenyum setelahnya.
-o0o-
“So Hyun-ah. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Aera setelah meletakkan ponselnya di meja.
“Mau tanya apa?” jawab So Hyun acuh. Pandangannya masih tertuju pada keindahan kota Seoul di hadapannya. Tangannya terulur mengambil gelas yang berisi cairan pekat berwarna ungu kehitaman, lalu meneguknya secara perlahan.
“Kau ingat malam saat kita pergi ke club kan,” ucap Aera kembali.
So Hyun hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kau pergi kemana saat itu? Menghilang begitu saja tanpa pesan.”
“Uhuk,” So Hyun tersedak minumannya. Sial, kenapa dia harus diingatkan malam itu? Itu adalah kesalahan yang tak ingin diulangnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Aera sedikit khawatir.
“Aku baik-baik saja,” tutur So Hyun sambil mengangguk. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya itu?” lanjutnya.
“Aku hanya penasaran.”
So Hyun kembali menyesap minumannya. Fikirannya menerawang mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. “Aku bertemu seorang pria. Kami berkenalan. Mengobrol sebentar. Lalu kami pergi.”
“Kemana?”
“Hotel.”
“Kau tidur dengannya!” raut terkejut tergambar jelas di wajah Aera.
So Hyun kembali mengangguk. “Itu kesalahan. Karena aku terlalu mabuk, jadi aku tergoda dengan rayuannya.”
Aera tersenyum miring. Dia merebut gelas yang akan diminum So Hyun. Menegak isinya sampai habis.
“Yak, itu milikku,” protes So Hyun.
“Kau bisa mengambil lagi. Aku mau mengangkat telfon dulu,” tutur Aera sambil mengangkat ponselnya. Dia berlalu pergi.
So Hyun hanya membuang pasrah nafasnya. Dia berdiri. Tangannya ditumpukan pada pembatas balkon tempatnya berada. Menikmati keindahan Seoul di malah hari. Dia tak memperdulikan hembusan angin sepoi yang mengenai wajahnya. Bulan purnama juga menjadi penambah keindahan pemandangan.
-o0o-
“Iya, iya aku akan pulang,” ucap Aera mengakhiri panggilannya. Dengusan kesal terdengar setelahnya. Dia berjalan meninggalkan tempatnya bermaksud mengambil tasnya.
“Astaga. Kau mengagetkanku. Sejak kapan kau berdiri disitu?” tanya Aera pada pria yang berdiri di depannya.
“Baru saja,” ucap Jimin yang melipat tangannya di dada.
“Aku harus pulang. Sampaikan salamku untuk So Hyun. Dia ada di balkon,” ujar Aera kembali sebelum berlalu pergi. Dilangkah ketiganya dia berbalik. “Aaa, satu lagi. Dia dapat salam dari "Min Hyuk.”
"Minhyuk siapa?”
“Btob.”
“Bagaimana bisa mereka saling mengenal?”
“Dia Kim So Hyun. Siapa yang tak mengenalnya? Kecuali jika kau lupa fakta bahwa dia CEO dari Hera Fashion. Dan sebenarnya Minhyuk itu sepupuku. Aku pergi dulu. Annyeong.” Aera melambaikan tangannya kemudian. Dia tersenyum sebelum menutup pintu. Sepertinya dia berhasil membuat pria itu kesal.
“Dia benar. Hera Fashion adalah perusahaan pakaian terbaik disini.” Pria itu membuang pasrah nafasnya dan pergi menyusul istrinya. Tepat seperti yang dikatakan sekretarisnya, wanita itu ada di balkon. Sedang menikmati pemandangan.
Botol wine masih berdiri manis di meja dengan isi yang tinggal sedikit. Di sampingnya gelas kosong juga berdiri kokoh. Sepertinya istrinya hampir menghabiskannya. Dan lihat pakaian yang dipakainya, piyama tipis. Dia kembali mendengus kesal. Melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya pada tubuh istrinya.
“Kau bisa masuk angin jika terus disini,” ujar pria itu setelahnya.
So Hyun menoleh setelah merasa hangat. “Kau disini. Katanya tidak akan pulang.” Senyum manis juga tersungging di bibirnya.
“Kenapa? Tidak suka aku datang,” pria itu memasang tampang kesal.
“Bukan begitu,” So Hyun berjalan mendekat. Tangan mungilnya memeluk pinggang pria itu. Kepala juga ia sandarkan di dada bidangnya. Menghirup wangi tubuh pria itu. “Aku merindukanmu,” ucapnya kemudian.
“Aku juga,” tutur pria itu sebelum membalas pelukan istrinya.
Cukup lama mereka saling terdiam. Tanpa kata. Menyalurkan perasaan lewat pelukan itu.
“Kau mabuk,” tanya pria itu setelah mencium bau wine dari mulut istrinya. Dia melepaskan pelukannya.
“Tidak. Aku bahkan belum habis segelas. Tadi Aera eonni yang menghabiskannya,” So Hyun berjalan mendekati meja. Dia menuangkan wine itu ke dalam gelas. “Kau mau. Ini enak lo.”
Pria itu menerima gelasnya. Mencium wanginya sebentar sebelum meneguknya. Dia mengangguk kemudian.
“Dimana Aera eonni? Katanya mau menganggkat telfon. Kenapa lama sekali?” ujar So Hyun. metranya juga menelisik ke dalam kamar berusaha mencarinya.
“Dia sudah pulang.”
“Pulang. Kau tidak mengusirnya kan?”
“Saat aku sampai dia sudah mengakhiri panggilannya. Dan dia pamit setelahnya. Titip salam untukmu.”
So Hyun masih menatap tajam pria dihadapannya.
So Hyun tersenyum. “Ayo masuk. Disini dingin,” ucapnya kemudian sambil memeluk tubuhnya.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?” pria itu kembali melayangkan pertanyaan sebari mengikuti istrinya masuk. Pertanyaan yang sama dengan yang ia ajukan pada sekretaris istrinya.
“Hari itu hari pertamaku sampai di negara ini. Aku memilih jalan-jalan sebelum pulang ke rumah Imo. Aku melihatnya dikejar-kejar penggemar. Dan aku membantunya bersembunyi. Sejak saat itulah kami menjadi dekat. Seringnya bertemu di tempat kerja juga karena dia sepupunya Aera eonni,” jelas So Hyun panjang lebar. Dia sudah melemparkan jaketnya ke sofa. Tangannya terulur mengambil ponselnya. Memperlihatkan potret dirinya dengan pria yang dibicarakannya.
Pria itu mendengus kesal. “Kau dekat dengan semua orang,” ucapnya sedikit ketus. Dia memilih tiduran di ranjang dan menyalakan TV.
“Kau tidak sedang cemburu kan,” tutur So Hyun sedikit menggoda. Dia ikut berbaring, juga mendekatkan wajahnya di telinga suaminya.
Pria itu hanya diam. Pandangannya lurus ke layar monitor di depannya.
“Jimin-ssi.”
Pria itu juga tak bergeming.
“Oppa,” lagi So Hyun memanggil pria itu. Dia juga mengguncang pelan bahu suaminya.
Dan lagi pria itu hanya diam.
Helaan pasrah terdengar dari mulut So Hyun. “Aku mengerti. Selamat tidur. Aku akan tidur di kamar lain.” Dia beranjak bangun, bermaksud meninggalkan kamarnya. Perasaan tak nyaman mulai berkecamuk, namun sebisa mungkin dia menepisnya.
Tangannya sudah lebih dulu ditarik bahkan sebelum dia sempat melangkah. Alhasil membuatnya jatuh ke dalam pelukan pria itu. “Disini saja,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
So Hyun tersenyum samar disela-selanya. Ada seribu cara untuknya bisa membuat pria itu tak betah lama-lama marah padanya. Juga dia tak ingin zona nyamannya hilang. Ya, bersama pria itu dia bisa menemukan yang namanya kenyamanan. Meski belum pada tahap cinta. Ah, sepertinya dia mulai mencintai pria itu. Rasa rindunya semakin menjadi jika lama tak bertemu, meski sudah bertukar pesan ataupun berbicara via telfon. Bukankah itu salah satu bukti.
Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Pandangannya juga tertuju pada objek bergerak di depannya. Tak ada kata terucap antara mereka. Sedang sibuk menonton TV.
“Kau sudah tidur?” tanya pria itu memecah keheningan. Dia juga mengusap lembut rambut So Hyun.
“Heemm. Aku lelah,” gumam So Hyun.
“Aku bahkan belum memulainya.”
So Hyun semakin mengeratkan pelukannya.
Hanya dengusan pasrah yang terdengar. “Selamat tidur.”
-o0o-
So Hyun masih betah memandang bintang di langit. Terhitung sudah setengah jam dia duduk manis di balkon kamarnya. Dia tak bisa tidur. Memejamkan matanya pun juga akan percuma. Meski dia sudah berada dalam pelukan suaminya, hal itu juga tak lantas membuatnya pergi ke alam lain. Itulah kenapa dia memutuskan duduk di tempat itu.
Ada yang mengganggu pikirannya. Ini tentang Jungkook yang mengajaknya berkencan sore tadi. Dia mendengarkannya, hanya saja dia berpura-pura tidur agar tak ditagih memberikan jawaban. Meski begitu, dia khawatir jika pria itu akan melakukannya di lain kesempatan. Dia sangat hafal sifat Jungkook.
Dia bisa saja menghindar untuk beberapa hari ke depan. Tapi, tidak selamanyakan dia bisa melakukannya. Dia benar-benar bingung dibuatnya.
Apa yang dilakukannya sekarang? Memikirkan pria lain bahkan ketika statusnya sudah menjadi istri orang. Dia mengacak asal rambutnya. Kakinya di naikkan ke kursi. Ditekuk, dipeluk erat dan menyembunyikan wajahnya disana.
“Kau sedang apa?” suara khas suaminya terdengar.
So Hyun masih tak bergeming. Dia terlalu malu menunjukkan wajahnya sekarang.
“Kau baik-baik saja kan,” lagi suara suaminya terdengar. Meski tak mendapat respon, dia tetap setia bertanya. Tangannya terulur mengusap kepala istrinya.
“Kenapa?” pria itu kembali bersuara.
So Hyun memperlihatkan wajahnya. Kepalanya masih ia sandarkan pada lututnya. “Aku tak bisa tidur,” jawabnya lirih.
“Kau tak punya obat tidur?”
So Hyun menggeleng. “Aku tak pernah minum obat seperti itu. Lagipula aku tak pernah insomnia. Biasanya aku bisa tidur dimana saja.”
“Ada yang kau khawatirkan?”
So Hyun mengambil nafas dalam. Pria itu benar-benar tahu apa yang sedang difikirkannya. Dia mengangangguk sebelum bersuara, “Jungkook.”
“Kenapa dengan Jungkook. Dia baik-baik saja. Bahkan dia terlihat bahagia tadi.” Pria itu ikut duduk di samping istrinya.
“Dia mengatakan perasaannya tadi,” kata So Hyun lagi. Terdengar lirih, namun masih dapat didengar karena kesunyian malam.
“Lalu apa jawabanmu?” Pria itu masih menatapnya dengan tatapan hangat. Itulah mengapa So Hyun tak pernah bisa menyimpan sesuatu dari pria itu. Sudah hampir dua bulan mereka hidup bersama. Di mulai paham kebiasaan dan hal-hal pribadi yang pria itu lakukan.
“Aku berpura-pura tidur.”
Pria itu tertawa mendengar perkataan So Hyun. “Dan dia percaya.”
So Hyun mengangguk.
“Lalu apa yang menganggu pikiranmu. Kau bahkan tak perlu menjawabnya. Dia pasti sudah mengira jika kau tak mendengar ucapannya.”
“Bagaimana jika dia mengatakannya di lain kesempatan. Dia bukan pria yang mudah menyerah. Jika dia tak berhasil di percobaan pertama, maka dia akan berusaha lebih keras di percobaan berikutnya.”
“Apa kau menyukainya?” Pertanyaan yang cukup menyakitkan untuk diucapkan. Tapi harus dilakukannya untuk mengusir rasa penasarannya.
“Emmh. Sangat.” So Hyun mengangguk meski ragu.
Tatapan pria itu berubah sendu. Seolah ada rasa bersalah disana.
“Bukan sebagai pria, tapi sebagai sahabat,” jelas So Hyun kemudian. “Aku tidak punya sahabat baik selain dia. Aku juga tak ingin ada perasaan lain dalam persahabatan kami. Meski aku tahu, tak ada persahabatan abadi antara pria dan wanita.” So Hyun mendesah pasrah. Kakinya sudah ia turunkan dari kursi. “Apa yang harus aku lakukan? Aku takut akan menyakiti perasaannya. Dan aku juga tak ingin kehilangannya,” lanjutnya lagi.
“Kau hanya perlu jujur padanya,” tutur pria itu yang diikuti senyum mengembang di bibirnya. Senang mendengar penjelasan istrinya.
“Dia pasti akan marah.”
“Mungkin awalnya iya. Tapi lama-kelamaan dia pasti akan mengerti. Dia hanya perlu waktu untuk merenungkannya. Bukankah lebih baik mendengar penjelasan langsung darimu daripada harus mendengar dari orang lain kan.”
So Hyun mengangguk. Mendengar penjelasan suaminya dapat mengurangi setengah dari kekhawatirannya. Meski belum sepenuhnya, dia hanya perlu optimis untuk membuatnya menjadi penuh. “Gomawo,” ujarnya kemudian. Dia juga memeluk hangat pria itu.
“Sama-sama.” Pria itu berdiri setelah melepaskan pelukannya. Tangannya terulur, bermaksud mengajak istrinya masuk. Udara malam terasa cukup dingin di permukaan kulitnya. Terlebih istrinya hanya memakai piyamanya. “Sekarang kau bisa tidur kan.”
“Tapi aku belum mengantuk,” jawab So Hyun sambil menggeleng.
“Ya sudah, kita bergadang,” ucap pria itu disertai seringai aneh menurut So Hyun.
So Hyun mengangkat alis dan menatap tajam suaminya saat tahu maksud dari perkataannya. Dan sebelum sempat protes, pria itu sudah menggedongnya ala bridal masuk ke dalam kamarnya.
-o0o-
Jungkook masih betah memandang gambar yang diambilnya tadi. Potret dirinya bersama So Hyun dengan pose jari membentuk huruf V. Senyum mengembah terus terpampang di wajah tampannya. Tidak ada yang lebih bahagia, selain melihat gadis itu tersenyum. Senyum lepas yang selalu dirindukannya.
Sebut saja dia gila. Senyum sendiri tak jelas. Mencium ponselnya beberapa kali. Jangan lupakan kakinya yang menendang-nendang tanpa arah.
Pria yang baru memasuki ruang dimana pria albino itu berada menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan tingkah aneh rekannya tersebut.
“Kau masih waras kan?” tanya pria itu ragu.
“Hyung, saranghae,” ucap Jungkook yang sudah memeluk pria itu.
Seketika bulu kuduk pria itu merinding mendengarnya. Dia dengan keras berusaha melepaskan pelukan Jungkook. Dia harus menyadarkan pria itu atau dia akan tertular tingkah gilanya. “Yak, lepas,” ucapnya sedikit berteriak.
“Aku mau ambil minum dulu,” kata Jungkook sebelum berlalu pergi.
Pria itu mengambil ponsel yang tergeletak manis di ranjang. Meneliti isinya untuk mengusir rasa penasarannya. Dia tersenyum miring setelah faham. “Dia sedang jatuh cinta rupanya. Pantas saja seperti orang gila.”
Dia mengembalikan ponsel itu. Berjalan menuju ranjangnya. Membaringkan dirinya disana. Pandangannya masih menerawang langit-langit kamarnya. Matanya masih terbuka lebar. Sebenarnya dia memang belum mengantuk.
Suara decitan pintu membuyarkan lamunannya. Jungkook sudah kembali dengan sebotol air mineral. Dia menaruhnya di nakas setelah meminumnya.
“Kau menyukainya?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Maksud hyung?” Jungkook balik bertanya karena tak paham.
“Gadis yang ada dalam ponselmu itu,” ucap pria itu kembali. Pandangannya ia arahkan pada ponsel Jungkook.
“Terlihat jelaskah?”
“Tentu saja. Kau sudah seperti orang gila tadi,” jelas pria itu lagi.
Jungkook mengangguk. “Mungkin ini terdengar tak masuk akal. Sebenarnya aku sudah menyukainya bahkan sebelum kami berpisah.”
“Wah, benar-benar tipe pria yang setia.”
“Kau salah, hyung. Aku baru menyadarinya hari ini.” Terdengar hembusan pasrah dari mulut Jungkook. “Apa dia punya perasaan yang sama denganku?”
“Kau tak akan pernah tahu jika tak mengatakannya kan.”
“Aku sudah mengatakannya tadi.”
“Lalu apa jawabannya?” raut penasaran tergambar jelas di wajah pria itu. Dia bahkan merubah posisinya menjadi duduk untuk memperjelas pendengarannya.
“Dia tak mendengarkannya karena tertidur.”
“Kau hanya perlu mengatakannya di lain kesempatan. Jadi, berusahalah dengan keras. Cinta tak dapat diraih tanpa perjuangan. Fighthing!” celoteh pria itu panjang lebar. Dia mengangkat tangannya untuk mendukung ucapannya.
“Gomawo, Namjoon hyung,” kata Jungkook dengan senyuman.
🍭
🍭
🍭
To Be Continue...
🍭
🍭
🍭
Saya balik lagi dengan chapter 19.
Gimana menurut kalian?
Kayaknya makin lama makin gak jelas ya ceritanya.
Semoga tetep suka ya…..
Terima kasih sudah setia menunggu.
See you next time.
Like Comment juseyo 😉