![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 35
(Disappear)
—
—
Bahkan kalau bagian dalam tubuhku terbakar dan jantungku akan memar
Aku memanggilmu sekali lagi
Karena aku sudah dibutakan oleh sinarmu
—
—
“Kita pergi sekarang,” ajak Jimin. Dia yang sudah siap dengan jaket tudungnya menggandeng lengan So Hyun. Sesuai janjinya malam kemarin, dia mengajak istrinya pergi, bahkan sebelum wanitanya diperbolehkan pulang. Dengan pandangan waspadanya dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat sepi. Mereka bahkan memilih melewati tangga darurat untuk menghindari orang-orang.
So Hyun hanya diam mengikuti ke manapun lelaki itu membawanya. Pakaian rumah sakitnya sudah diganti dengan pakaian yang pria itu bawakan. Raut kesedihan masih terlihat di wajahnya. Bukah hanya itu, wajahnya masih sedikit pucat. Sebenarnya dia memang masih harus mendapat perawatan.
Sepuluh menit adalah waktu yang mereka butuhkan untuk sampai di basement. Pria itu membukakan pintu penumpang untuk istrinya. So Hyun sempat terdiam menatap mobil asing di depannya. Ini bukan mobilnya maupun mobil pria itu.
“Masuklah!” ucap pria itu sambil memberikan usapan halus di kepala istrinya. So Hyun hanya diam dan mengikuti perintah pria itu.
“Kita mampir ke apartemen dulu ya,” ucap pria itu kembali setelah memasangkan sabuk pengaman untuk So Hyun maupun untuknya. Dengan kecepatan sedang pria itu mulai melajukan mobilnya. Membelah kota Seoul yang bahkan masih tampak padat. Meski hari sudah larut, masih banyak mobil yang berlalu lalang di jalan.
-o0o-
“Kau ingin membawa serta Mongsuk?” tanya Jimin yang masih sibuk memasukkan beberapa baju ke dalam koper.
So Hyun yang terduduk di ranjang mengangguk. Dia sejak tadi diam menatap semua aktifitas yang pria itu lakukan. Suaminya memang melarang membantu bahkan sebelum dia menawarkan diri.
Pria itu sudah siap dengan kopernya. Dia membawa Mongsuk beserta kandangnya. Anjing kecil itu masih terlelap. Dia berjalan ke arah So Hyun. Memakaikan coat tebal untuknya. Juga melilitkan syal padanya. Dia berharap istrinya tak akan merasa dingin mengingat ini sudah memasuki musim dingin. “Ayo!” ajaknya kemudian. Tangannya juga terulur meraih tangan istrinya. Mereka pergi meninggalkan kamar. Mematikan lampunya. Dua ponsel tergeletak manis di atas nakas. Juga selembar kertas yang dilipat rapi di bawah ponsel tersebut.
Setelah menata barangnya ke bagasi. Jimin kembali menghampiri So Hyun yang duduk di kursi penumpang. Dia menyampirkan selimut ke tubuh istrinya. “Tidurlah! Aku akan membangunkanmu saat tiba nanti,” ucapnya sambil mengusap lembut pipi istrinya.
So Hyun hanya mengangguk. Dia memejamkan mata setelah dibantu pria itu mencari posisi ternyaman. Dia memiliki banyak pertanyaan. Namun hanya dia simpan. Entah mengapa rasanya masih berat untuk sekedar bersuara.
Jimin melajukan mobilnya. Tidak ada yang tahu kemana tujuannya. Yang pasti hanya sinar bulan purnama yang menemaninya membelah gelapnya jalanan yang dilewatinya. Dia memenuhi janji yang diucapkannya. Membawa pergi istrinya ke tempat di mana tidak akan ada yang mengusik kehidupannya. Tempat di mana tak ada seorang pun yang akan mengenali mereka. Dan tempat yang pasti akan menjadi sejarah kisah baru cerita cintanya dimulai.
-o0o-
Pagi itu Aera menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan gembira. Di tangannya membawa kotak makanan. Hatinya sedikit tenang mengingat fakta jika bosnya tak jadi memintanya membuat surat gugatan cerai. Siulan kecil terdengar lirih dari mulutnya. Raut senang terpampang gamblang di wajah manisnya.
Dia mengetuk pintu saat sampai di depan ruang bosnya dirawat. Sebenarnya bisa saja dia langsung masuk. Namun dia meilih hal itu mengingat mungkin suami dari bosnya ada di situ. Dia tak ingin melihat hal yang seharusnya tak dilihatnya.
Cukup lama dia menanti, namun tak kunjung ada respon. Lagi, dia mengetuknya. Dan lagi, tak ada respon. Dia mendengus kesal. Tanpa ragu lagi, gadis itu membuka paksa pintu ruang tersebut. “Daepyonim,” panggilnya sambil memasukan kepalanya. Hanya kepala.
Pandangannya ia edarkan, namun tak ada seorang pun di sana. Dia perlahan masuk menuju kamar mandi. Nihil, tak ada siapapun. Dia mendekat ke ranjang. Baju khusus pasien rumah sakit terlipat rapi di sana. Aera membulatkan mata. Bosnya pergi. Atau mungkin sudah diperbolehkan pulang? Tidak mungkin, dia yakin betul jika bosnya belum boleh pulang kemarin.
Tanpa pikir panjang Aera merogoh ponselnya. Menghubungi nomor bosnya dengan cepat. Tak ada jawaban. Diulangnya beberapa kali, namun hanya suara operator yang terdengat. Dengan cepat dia berjalan menuju meja resepsionis. Menanyakan perihal bosnya.
“Perawat Han, apa Kim daepyo sudah pulang?” tanyanya pada perawat yang berjaga di sana.
“Belum. Bukankah dia ada di kamarnya?” jawab perawat bername tag Han Ahra.
“Dia tidak di sana. Aku sudah mencarinya ke seluruh ruang. Tidak ada siapa pun di sana,” jelas Aera kembali.
“Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu. Tapi baju pasiennya sudah terlipat rapi di sana?” Aera kembali berucap. Wajahnya terlihat cemas.
“Ada apa?” tanya seorang yang baru datang. Berbalut jas dokter khas rumah sakit tersebut. Di saku kirinya tertulis Song Hana.
“Dokter Song, Kim daepyo menghilang,” jawab Perawat Han.
“Apa? Kau yakin. Semalam dia masih di sini bersama suaminya,” ucap Dokter Song yang ditujukan untuk perawat Han. Perawat Han hanya mengangguk. “Anda sudah menghubunginya?” Kini pertanyaan itu ia tujukan untuk Aera.
Aera mengangguk. “Tidak dijawab.”
“Kita cari dulu di sini,” perintah Dokter Song. “Minta bantuan yang lain.”
“Iya,” jawab Perawat Han disertai anggukan. Segera saja dia meninggalkan Dokter Song dan Aera, setelah sebelumnya menunduk memberi salam.
“Aku akan cari di apartemennya. Siapa tahu dia pulang ke sana,” tutur Aera.
“Iya. Hubungi kami jika dia ada. Dia masih harus mendapat perawatan.”
Aera menunduk sebelum berlalu. Perasaannya menjadi kacau sekarang. Dalam perjalannya dia mencoba menghubunginya kembali. Nihil, tak ada jawaban. Dia beralih menghubungi suami bosnya. Sama, pria itu juga tak mengangkat ponselnya.
Aera memasukan password yang dihafalnya di luar kepala. Membuka pintu itu dengan cepat. Memeriksa sudut demi sudut apartemen tersebut. Dia menemukan dua ponsel di atas nakas samping ranjang. Yang satu ia yakini sebagai ponsel bosnya dan yang satu pasti milik suami bosnya. Dia mengangkat alis menemukan lipatan kertas di bawah ponsel tersebut.
Dengan penuh keraguan Aera membuka lipatan kertas tersebut. Membaca kata perkata yang tertulis di sana. Badannya merosot, terduduk di ranjang. Tangannya bergetar, membuat kertas yang di pegangnya terjatuh.
Pria itu membawa pergi So Hyun. Meninggalkan semua yang dimilikinya di sini. Karier, popularitas, rekan, bahkan mungkin harta bendanya. Dia tak menyebutkan ke mana dia pergi. Dia hanya meminta maaf sudah pergi tanpa izin. Bahkan dia meminta untuk tidak mencarinya.
Tanpa diduga air mata Aera mengalir. Dia menangis. Entah mengapa rasa sesak tiba-tiba menghampirinya. Dia mungkin tak akan bisa melihat bosnya. Entah untuk berapa lama.
-o0o-
“Bagaimana ini bisa terjadi? Katakan Aera!” Itu adalah suara Sera, bibi So Hyun yang pertama.
Aera memang kini berada di kediaman keluarga bosnya, lebih tepatnya di rumah bibi keduanya, Kim Nara. Setelah tadi dia mendatangi tempat tersebut. Melaporkan hilangnya So Hyun. “Aku juga tidak tahu. Kemarin aku datang sepulang kerja. Dia masih baik-baik saja. Setelah Jimin kembali, aku pulang. Dan tadi pagi aku datang untuk mengantarkan sarapan. Dia sudah tidak ada. Begitu juga dengan Jimin. Aku menemukan ini di apartemennya.” Aera memberikan surat yang tadi ditemukannya.
“Apa tidak ada sesuatu yang terjadi sebelum itu?” Lagi suara bibi kedua So Hyun terdengar.
“Iya. Daepyonim sempat memintaku untuk mengurus gugatan cerainya pada Jimin. Belum sempat aku melakukannya, Jimin sudah mendengarnya. Dia tidak setuju, karena itu aku meninggalkan mereka berdua untuk berdiskusi. Besoknya, daepyonim membatalkan niatnya,” jelas Aera kembali.
“Cerai” Kim Sera mengulang kata yang menjadi inti ucapan Aera. “Apa alasannya? So Hyun tidak akan melakukan sesuatu yang begitu gegabah tanpa alasan yang jelas,” lanjutnya. Dia masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Dokter mengatakan jika kemungkinan dia untuk hamil lagi sangat tipis. Hanya tiga persen. Belum lagi, PTSD-nya yang belum benar-benar sembuh. Dia tak ingin membebani Jimin. Karena itu dia melakukannya.”
Nara yang sedari tadi diam, kini mengepalkan tangannya. Beberapa kali dia memejamkan matanya. Dia tampak gelisah meski dia sudah berusaha mengkontrol emosinya.
Sera hanya bisa diam. Dia tak mampu berucap. Tubuhnya sudah terasa lemas. Tak pernah terlintas dalam benaknya, jika keponakan satu-satunya itu akan begitu menderita.
“Kau bisa pergi. Aku yang akan bertanggung jawab mencari So Hyun. Untuk saat ini kau hanya perlu menangani perusahaan dengan baik,” ujar Nara yang sedari tadi diam.
Aera menunduk memberi salam sebelum pergi. Masih dengan pemikiran cemasnya dia beranjak. Ini bukan wilayahnya, meski dia ingin dia harus menahan diri. Dia tahu batasannya.
“Kau yang menyembunyikan mereka?” ucap Sera setelah memastikan jika sekretaris keponakannya telah pergi.
Nara bungkam. Dia hanya menghela nafas. Dia bahkan membuang muka.
“Aku anggap itu benar. Dimana kau menyembunyikan mereka?”
Nara masih bungkam. Masih belum ingin menjawab.
“Jika kau tak mau memberitahukannya. Aku yang akan mencari mereka sendiri.” Sera berdiri. Dia melangkah pergi.
“Jangan pernah mencari mereka. Biarkan mereka bahagia.” Masih dengan mengepalkan tangan Nara berucap.
Sera menghentikan langkahnya. Kembali berbalik menatap adiknya yang masih duduk di tempatnya. “Dia keponakanku. Sudah seharusnya aku mencari keberadaannya,” tutur Sera dengan nada sedikit meninggi. Dia mengenal betul adik bungsunya itu. Wanita yang masih duduk di depannya punya berbagai cara untuk melakukan apapun yang diinginkannya.
“Lakukan sesukamu. Kau tak akan pernah bisa menemukan mereka.” Nara bangkit dia berlalu pergi meninggalkan kakaknya.
“Kim Nara.”
Teriakan itu mampu membuat Nara berhenti. Hanya berhenti. Tak ada niatan untuk menoleh.
“Kenapa kau melakukan ini?”
Nara hanya menghela nafas mendengarnya. Dengan malas dia menoleh. “Untuk membuat keponakanku bahagia. Aku sudah pernah sekali merebut kebahagiannya. Aku tidak ingin merebutnya kembali.”
Tepat setelah mengatakan itu dia benar-benar melangkah pergi. Menyisakan kakaknya yang hanya menatap sendu kepergian adiknya.
💜
💜
To Be Continue..
💜
💜
Saya kembali lagi.
Bagaimana menurut kalian?
Kira-kira Tante Nara bawa mereka kemana ya? Love u Tante Nara 😍
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Vote, Like, dan Comment wajib!!
Terima kasih sudah jadi pembaca setia.
See you.