The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 11



Chapter 11


(Sick)


_


_


“Terima kasih untuk kerja kerasnya”, So Hyun menunduk hormat kepada para personil BTS. Ya, mereka telah menyelesaikan sesi pemotretan untuk katalog perusahannya.


“Iya”, jawab Namjoon sang leader.


“Kami permisi dulu, Kim daepyo”, ucap sang manajer.


“Iya. Hati-hati di jalan”, jawab So Hyun. Dia membalas salam hormat dari manajer BTS tersebut.


Para personil BTS tersebut berjalan meninggalkan So Hyun menuju mobil yang akan membawa mereka pergi dari tempat itu.


“So-ah”.


So Hyun yang sudah berbalik menoleh kembali. “Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak memanggilku dengan nama itu”.


“Aku tidak mau”, jawab Jungkook.


So Hyun hanya berdecak kesal. “Ada apa?”.


“Kau ada acara malam nanti?”.


“Sepertinya tidak”, jawab So Hyun.


“Jungkook-ah ayo. Kita masih punya jadwal lain”, teriak salah seorang dari mereka. Para personil BTS yang lain memang sudah memasuki mobil.


“Iya hyung, sebentar”, jawan Jungkook. “Aku akan menelfonmu nanti. Aku pergi dulu”. Dia mengacak pelan rambut So Hyun sebelum melangkah pergi.


So Hyun hanya membuang pasrah nafasnya melihat kepergian Jungkook. “Jungkook-ah”, teriaknya sebelum pria itu memasuki mobil.


Jungkook menoleh. “Iya”.


“Hati-hati”.


Jungkook tersenyum. “Eoh”, jawabnya. Dia juga melambaikan tangan pada So Hyun.


Pria itu masih mengawasi So Hyun dari kaca mobil. Gadis itu benar-benar pandai menyimpan masalah, pikirnya. Dia masih terus melihat, bahkan saat mobil yang ditumpanginya bergerak menjauh.


So Hyun masih berdiri mengamati mobil itu yang semakin menjauh. Dia berbalik ketika mobil itu sudah tak terlihat dipandangannya. Sekretarisnya masih berdiri di belakangnya. Dia berjalan pelan meninggalkan halaman perusahaannya. Namun, baru tiga langkah pandangannya mulai mengabur. Dia menggelengkan kepala mencoba memperjelas pandangannya. Nihil, kepalanya justru terasa sakit sekarang. Pandangannya juga semakin mengabur hingga semuanya menjadi gelap. Tubuhnya limbung jatuh ke tanah.


“Daepyonim”, teriak sekretarisnya.


-o0o-


“Jungkook-ah. Apa Kim daepyo sudah menikah?”, tanya pria itu.


“Ku rasa belum. Dia memang pernah bercanda soal menikah, tapi aku pikir itu memang hanya candaan”, jelas Jungkook.


Pria itu mengangguk paham. Dia diam setelahnya. Menikmati perjalanannya menuju tempat tinggalnya.


“Apa menurutmu, Kim daepyo baik-baik saja”, ucap pria itu lagi setelah lama terdiam.


“Tentu saja. Dia masih ramah seperti biasa. Senyumnya juga masih manis seperti biasa”, jawab Jungkook. “Kenapa memangnya?”.


“Aku pikir sebaliknya. Dia tak terlihat baik-baik saja”, ucap pria itu lagi.


“Sejak kau kembali dari toilet kau terlihat aneh. Pandanganmu tak lepas dari Kim daepyo. Dan sekarang kau bahkan membicarakannya. Kau tidak benar-benar menyukainya kan?”, kini Hoseok yang bersuara.


“Jika aku membicarakannya bukan berarti aku menyukainya kan”, jawab pria itu.


“Semua berawal dari pembicaraan. Semakin sering kau membicarakannya, semakin besar pula kemungkinan kau menyukainya”, Jin yang biasanya diam, kini ikut bersuara.


“Taehyung-ah, kau baik-baik saja. Kau benar-benar terlihat aneh ya”, kini Yoonggi yang bersuara.


“Aku baik-baik saja”, jawab pria itu.


Mereka diam setelahnya. Sibuk dengan dirinya masing-masing. Ya, setelah pemotretan yang mereka jalani mereka merasa sedikit lelah.


Pria itu mengamati Jimin yang diam sejak tadi. Lebih tepatnya sedang sibuk dengan ponselnya.


“Jimin-ah. Kau mengenal Kim daepyo”, pria itu kembali membuka suara.


“Emmh. Dia CEO dari Hera Fashion”, jelas Jimin. Dia masih sibuk dengan ponselnya.


“Maksudku, selain fakta jika dia CEO dari Hera Fashion”, jelas pria itu kembali.


“Emmh, aku sering ke rumahnya dulu”, ucap Jimin.


“Mwo?”, ucap Jungkook kaget. Pandangannya kini ia alihkan pada Jimin. Bukan hanya Jungkook, para personil BTS yang lain juga menatapnya aneh.


Jimin mengedipkan matanya beberapa kali, melihat tatapan aneh dari rekan-rekannya. “Ayahnya teman baik ayahku”, ucapnya lagi. Namun pandangan aneh masih dia dapat. “Aku berteman baik dengan kakaknya”, ucapnya lagi.


“Jadi kau mengenal Hyunmin hyung, hyung”, tanya Jungkook.


“Emmh”, ucap Jimin.


“Jadi, kau dekat dengannya”, pria itu masih bertanya.


“Tidak. Aku dekat dengan kakaknya bukan berarti dekat dengan adiknya juga kan. Lagipulan aku tak yakin apa dia masih mengingatku. Bukankah begitu, Jungkook-ah”, ucap Jimin kembali.


“Iya. So Hyun bukan tipe gadis yang mau mengingat nama teman-teman kakaknya”, jelas Jungkook.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”, Jimin kini kembali bersuara.


“Aku hanya berfikir jika kalian dekat”, ucap pria itu.


“Jawaban macam apa itu”, ucap Jimin kembali.


“Berapa banyak warga Korea yang bernama Jimin?”, tanya pria itu kembali.


“Yak, Taehyung-ah. Kau kenapa sebenarnya? Kau semakin aneh ya”, Jimin menggelengkan kepalanya. “Tentu saja yang bernama Jimin itu banyak. Bukan aku saja”, lanjutnya.


“Benar juga sih”, jawab pria itu pasrah pada akhirnya.


-o0o-


So Hyun membuka matanya setelah sekitar tiga jam tak sadarkan diri. Dia mencoba memperjelas pandangannya dengan memejamkannya beberapa kali. Rasanya asing melihat tempatnya terbaring sekarang. Ini bukan kamarnya, pikirnya. Dia bisa melihat selang infus menancap di tangan kirinya. Dia menghela nafasnya. Dia ada di rumah sakit sekarang.


“Daepyonim, kau sudah sadar”, suara khas sekretarisnya menggema di ruang tersebut. “Syukurlah. Aku akan panggilkan dokter”, lanjutnya.


“Kepalaku pusing”, jawab So Hyun.


“Bagaimana keadaannya dokter?”, tanya sekretaris Min.


“Untuk malam ini biarkan dia istirahat disini. Besok, jika keadaannya sudah membaik dia bisa pulang”, jelas dokter tersebut. “Saya permisi dulu”, dokter itu menunduk memberi salam pada mereka.


“Iya. Terima kasih dokter”. Sekretaris Min menunduk hormat membalas salam dokter tersebut.


“Sebenarnya, aku kenapa?”, tanya So Hyun setelah mendengar pintu ruangan itu tertutup.


“Kelelahan karena stress. Sebenarnya apa yang anda bicarakan dengan hwejangnim?”, jelas sekretaris Min disertai pertanyaan. Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran.


So Hyun tersenyum miring. Dia menertawakan dirinya sendiri. Ini bukan kali pertama. Selalu seperti itu, jika dia punya masalah besar dan mencoba meyakinkan diri jika dia akan baik-baik saja tubuhnya bereaksi lain. Seolah tak kuat menanggungnya.


“Bukan apa-apa”, ucap So Hyun kemudian. “Kau tak memberitahu imo kan?”.


“Belum”.


“Jangan beritahu dia”.


“Iya”.


So Hyun membuang muka. “Kau juga tak memberitahu Jimin-ssi kan”, tanya So Hyun kembali.


Sekretaris Min menghela nafasnya. “Aku belum menghubungi siapapun setelah anda pingsan”, jelasnya.


“Syukurlah. Jangan beritahu siapapun”.


“Kau baik-baik saja”, tanya sekretaris Min.


So Hyun mengangguk. “Aku baik-baik saja”.


Sekretaris Min tersenyum mengejek. “Kau selalu berkata baik-baik saja. Tapi tubuhmu bereaksi lain”, protesnya tak terima dengan jawaban So Hyun.


So Hyun membuang muka. Dia hanya bisa mendesah pasrah. Memang benar yang dikatakan sekretarisnya.


Sekretaris Min beranjak. Dia memilih duduk di sofa.


Deringan ponsel terdengar menggema di ruang itu. Sekretaris Min mengambil ponsel yang tergeletak di meja. “Daepyonim, ponselmu berdering”, ucapnya sambil berjalan mendekat.


“Dari siapa?”.


“Jungkook”.


“Bisakah kau mengangkatnya untukku. Jangan beritahu keadaanku. Bilang saja jika aku sudah tertidur karena kelelahan”.


“Iya”. Sekretaris Min melakukan apa yang diperintahkan So Hyun untuknya. Dia terpaksa harus berbohong demi kebaikan. Dia merasa bersalah saat mendengar nada kecewa dari orang yang tengah menghubungi bosnya. Dia meletakkan kembali ponsel tersebut. Bukan di meja, tapi dimasukan dalam kantung coat milik bosnya. Dia beranjak menuju kamar mandi.


“Eonni”, panggil So Hyun setelah memastikan jika sekretarisnya sudah keluar dari kamar mandi.


“Iya, kau butuh sesuatu”, tanya Sekretaris Min. Dia beranjak mendekati So Hyun.


“Aku lapar”, ucap Saera sambil tersenyum.


Sekretaris Min ikut tersenyum. “Kau mau makan apa?”.


So Hyun tampak berfikir. Menimang sesuatu yang enak untuk mengisi perut kosongnya.


“Kau harus makan makanan yang bergizi. Tunggu ya, aku akan membelikannya untukmu. Jangan kemana-mana”, jelas Sekretaris Min. Dia mengambil coat dan tasnya sebelum meninggalkan ruang inap So Hyun.


“Hati-hati”, ucap So Hyun sebelum sekretarisnya menutup pintu. Dia mendesah pasrah. Mengalihkan pandangannya melihat pemandangan yang tersaji lewat jendela. Langit yang tadinya biru kini sudah berganti menjadi gelap.


Matanya terpejam. Dia mendengar suara-suara aneh. Tidak, dia bisa mendengarnya lagi. Nafasnya memburu. Pandangannya kosong.


Dengan cekatan di menarik selang infus dari tangannya. Berjalan meninggalkan ranjangnya. Menyambar coatnya. Berjalan kembali meninggalkan kamarnya. Dia berusaha menutupi telinganya, namun suara-suara aneh itu masih memenuhi pendengarannya.


Dia berjalan tak tentu arah. Tetesan darah juga mengalir dari tangannya akibat selang infus yang ditarik paksa olehnya. Dia seperti orang linglung. Tak disangka jika kini dia sudah berada di jalan depan rumah sakit.


“Taksi”, panggilnya kala melihat taksi melaju ke arahnya.


Nafas So Hyun masih memburu saat dia masuk dalam taksi tersebut.


“Aghassi, anda baik-baik saja”, tanya sang supir.


So Hyun mengangguk, meski keadaannya berbanding terbalik. “Paradise Hotel”, ucapnya kemudian.


“Iya”, sang supir melajukan taksinya meski tak yakin.


So Hyun kembali berjalan linglung memasuki area hotel tersebut. Sepanjang perjalannya dia mendapat tatapan aneh. Bagaimana tidak, dia masih memakai pakaian khas pasien rumah sakit. Dan lihatlah penampilannya, terlihat seperti pasien yang kabur dari rumah sakit.


Dia memencet tombol salah satu kamar hotel tersebut. Nafasnya masih memburu. Pandangannya juga masih terlihat kosong.


Seorang lelaki membuka pintu kamar tersebut. “So-ah”, ucapnya melihat So Hyun berdiri mematung di depan kamarnya.


Tanpa ba bi bu, So Hyun memeluk erat pria itu. “Jack. Aku takut”, ucapnya disela-sela pelukannya.


Pria itu bisa merasakan tubuh bergetar So Hyun. Nafas gadis itu juga memburu. Keringat dingin juga keluar daru tubuh gadis itu. Dia membulatkan matanya. Mencoba mencerna situasi yang dialaminya. “So-ah, kau mendengar suara itu lagi?”, tanyanya.


So Hyun yang masih memeluk pria itu mengangguk. Nafasnya masih memburu.


“Masuklah”, pria itu berjalan pelan mengajak So Hyun memasuki kamarnya.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


Haduh penyakit So Hyun kambuh.. author nya demen bgt ngacak2 perasaan pembaca nih... Hehe😁😁


TIDAK PERNAH LUPA MENGINGATKAN!!


Jangan lupa tinggalkan LIKE DAN COMMENTNYA!!