![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 14
(Uncovered)
—
—
—
Kau memegang tanganku saat aku jatuh
Kau dengan hangat dan dengan erat memelukku
—
—
—
“Jimin-ssi, bangun”, ucap So Hyun sambil mengguncang tubuh suaminya yang masih terbungkus selimut.
“Bukankah kau ada rekaman hari ini”, ucap So Hyun lagi. Dia sudah tak lagi mengguncang tubuh suaminya. Dia memilih diam dan menatap wajah pria itu yang masih enggan membuka mata.
Ini sudah lewat beberapa hari sejak peristiwa itu. Hubungan mereka kini terbilang dekat. Meski So Hyun masih belum bisa membuka hatinya untuk pria itu, tapi dia berusaha untuk memahaminya. Mencoba untuk membangun kepercayaan pada pria itu.
Dia mendesah pasrah, pria itu masih rapat menutup matanya. Dia tahu jika pria itu masih lelah karena konsernya semalam. Tangannya terulur merapikan anak rambut di kening pria itu. Senyum kecil juga menghiasi wajahnya.
“Jam berapa sekarang?”, gumam pria itu. Matanya masih tertutup.
So Hyun melirik sekilas jam dindingnya. “Jam delapan lewat lima belas menit”. Dia masih setia duduk di samping suaminya terbaring.
“Sebentar lagi, aku masih mengantuk”, gumam pria itu kembali. Dia mengeratkan pelukannya pada guling.
“Ya sudah kalau begitu. Aku mau ke minimarket sebentar, persediaan makanan kita habis”, ucap So Hyun kembali. Dia segera beranjak meninggalkan pria itu.
“Emmh”, pria itu menjawabnya dengan gumaman.
-o0o-
Jimin sudah rapi dengan penampilannya. Setelah mengambil jaket, ponsel serta kunci mobilnya dia meninggalkan kamarnya. Dia menuju dapur. Dia melihat seorang wanita berdiri membelakanginya sambil menata makanan di kulkas. Dia tersenyum, karena dia pikir itu istrinya. “So Hyun-ah, kau sudah kembali”, ucapnya sambil berjalan mendekat.
Wanita itu menoleh. Dugaannya salah, itu bukan istrinya. Melainkan, bibinya. Dari belakang mereka terlihat sama memang. “Owh, Nara imo. Maaf, ku pikir So Hyun tadi”, ucapnya sambil tersenyum malu. Dia juga mengusap tengkuknya yang tak gatal.
“Kau baru bangun?”, tanya wanita itu sambil tersenyum. Senyum yang terlihat mirip dengan istrinya.
“Iya”, jawab Jimin.
“Duduklah! Kau belum sarapankan?”, tanya wanita itu kembali.
Jimin duduk mengikuti saran wanita itu.
“Memangnya So Hyun kemana? Bukankah dia seharusnya sudah berangkat ke kantornya?”, tanya wanita itu kembali. Dia menata beberapa jenis masakan di piring.
“Dia bilang pergi ke minimarket”, jelas Jimin kembali.
“Minimarket”, ulang wanita itu. Dia juga mengangkat alisnya. Ini hal baru yang di dengarnya. Keponakannya pergi berbelanja ke minimarket? Ini kemajuan. Selama ini keponakannya juga tak pernah suka pergi ke tempat itu. Jangankan untuk membeli makanan, membeli kebutuhan pribadinya saja dia enggan. Selalu saja wanita itu yang membelikannya. Jika bukan begitu, maka wanita itu akan menyuruh sekretaris keponakannya untuk membelanjakan kebutuhan keponakannya.
“Katanya persediaan makanannya habis”.
Wanita itu menata beberapa jenis masakannya di meja. “Memangnya selama ini dia memasak?”, tanyanya kembali. Tangannya sibuk menata beberapa piring makanan.
“Iya”, jawab Jimin sambil mengangguk.
Ini kemajuan baru. Keponakannya itu tak pernah suka berkutat dengan panci dan wajan, dia sangat tahu itu. Dan dia tak pernah tahu jika keponakannya bisa memasak. Wanita itu tersenyum kemudian. Ada untungnya juga menikahkan mereka lebih awal.
“Aku baru tahu dia bisa memasak. Bagaimana rasanya? Kuharap tidak buruk, mengingat bagaimana tak sukanya dia berurusan dengan yang namanya dapur”, tanya wanita itu kembali.
“Masakannya selalu enak”, ucap Jimin sambil tersenyum.
“Kau mengatakan itu bukan karena ingin membela istrimu kan”.
“Tidak. Aku berkata benar”, jelas Jimin lagi.
“Ya, dia memang selalu tak terduga”, jawab wanita itu. “Hari apa ini?”.
“Jum’at”.
“Pantas saja. Dia tidak suka bekerja di hari jum’at”. Wanita itu memberikan sumpit pada Jimin. “Makanlah”.
“Iya”. Jimin menerima sumpitnya dan mulai memasukan makanan ke mulutnya. “Imo tidak ikut sarapan?”.
“Aku sudah sarapan tadi”.
Jimin hanya mengangguk mengerti. Dia kembali menikmati makanan di depannya.
Sementara wanita itu sibuk menata makanan yang tadi sempat tertunda. Dia memang selalu membawa masakan untuk keponakannya tersebut. Seperti yang dibilangnya tadi, keponakannya memang tidak suka memasak sebelum menikah.
“Kau sudah pernah mengajak So Hyun ke rumah orang tuamu?”, tanya wanita itu setelah menutup kulkasnya. Dia juga memberikan segelas air pada Jimin.
“Belum”, ucap Jimin disertai gelengan.
“Kau pasti sibuk. Ku dengar kau akan merilis album baru lagi”.
“Iya. Hari ini aku ada rekaman”.
“Kalian bahkan tak sempat berbulan madu”, wanita itu menghela nafas panjangnya. “Jika memang kau punya waktu senggang, ajaklah dia ke rumah orang tuamu. Tidak etis rasanya jika menantu tak pernah mengunjungi mertuanya, bukankah begitu”.
“Iya, anda memang benar”, jawab Jimin sambil tersenyum kikuk.
“Imo, kau disini”, suara itu mengintrupsi mereka untuk menoleh. Seorang gadis tengah yang meneteng tas belanja tengah berjalan ke arah mereka.
“Kau belanja?”, tanya bibinya.
So Hyun tersenyum aneh. Dia kemudian mengangguk membenarkan. “Iya. Bahan makananku habis, jadi aku harus melakukannya”, jawabnya. Dia menaruh barang belanjaannya di meja dekat kulkas.
“Itu bagus. Jadi aku tak perlu menyuruh Aera untuk membelanjakanmu”, jelas wanita itu. “Imo pergi dulu”.
“Iya. Mau ku antar?”, ucap So Hyun.
“Tidak perlu. Baik-baiklah dengan Jimin”. Wanita itu menepuk pelan pundak Jimin. “Ingat pesanku”, lanjutnya, namun kali ini ditujukan untuk Jimin.
“Iya”, jawab Jimin.
“Tentu saja. Terima kasih makanannya. Hati-hati di jalan imo”, So Hyun melambaikan tangan pada bibinya yang sudah berjalan meninggalkan dapur.
So Hyun mengambil sumpit kemudian. Ikut duduk di depan Jimin. Tangannya terulur mengambil makanan tersebut. Dia mengunyah pelan setelah memasukan ke mulutnya. “Masakan imo memang yang terbaik”, ucapnya disela-sela mengunyah.
“Lebih enak masakanmu”, ucap Jimin. Dia juga kembali fokus makan.
So Hyun berhenti mengunyah. Dia menelan kasar makanannya. Menatap tajam pria yang duduk di depannya. Namun pria itu justru sibuk dengan makanan-makanan itu. “Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa kau membandingkan masakanku dengan masakan imo. Kau tahu, imo pernah sekolah chef di Amerika. Bahkan tanpa sekolahpun sebenarnya dia akan tetap bisa memasak. Ini karena bakat keluarga”, jelas So Hyun.
“Bakat keluarga”, ulang Jimin.
So Hyun mengangguk. Dia menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. “Ya, bakat keluarga dari ayahku adalah memasak. Semua yang berasal dari keluarga ayahku bisa memasak. Appa juga, Sera imo juga, Nara imo jangan ditanya. Dia yang paling pandai diantara saudaranya. Dan itu juga menurun pada Hyunmin oppa. Kau sudah tahukan bagaimana kemampuan memasaknya”, jelas So Hyun disela-sela mengunyahnya.
Jimin mengangguk. “Itu juga menurun padamu kan”, ucap kemudian.
“Sepertinya iya”, jawab So Hyun sambil tersenyum.
“Menggambar adalah bakat keluarga ibuku. Kakek dari ibuku adalah seorang pelukis. Itulah kenapa ibuku juga pandai melukis, dia mewarisinya dari ayahnya. Adiknya juga, meski bukan melukis tapi dia sangat pandai mendesain perhiasan”, jelas So Hyun kembali.
“Lalu ibumu mewariskannya padamu, iya kan. Hyunmin buruk dalam hal menggambar”.
So Hyun mengangguk. Dia kembali mengunyah makanannya.
“Jadi kau bisa melukis?”.
So Hyun kembali mengangguk. “Meski tak sebagus eomma”.
“Kau juga bisa mendesain kan”.
“Iya, itu karena aku masuk sekolah desain, baju khususnya. Aku juga bisa menggambar webtoon”.
Mereka diam setelahnya. Sibuk dengan makanan masing-masing. Sesekali Jimin menyodorkan lauk untuk So Hyun. So Hyun awalnya menolak, namun setelah mendapat tatapan tajam dari suaminya dia akhirnya mau memakannya.
-o0o-
“Aku berangkat dulu”, ucap Jimin. Mereka memang sudah menyelesaikan sarapannya.
“Emmmh. Hati-hati”, ucap So Hyun. Dia mengantarnya sampai di pintu depan.
“Kau benar-benar tak ke kantormu?”, tanya Jimin kembali.
“Emmh. Mereka sudah tahu jika hari ini aku tak akan datang ke kantor”.
“Lalu apa yang akan kau lakukan seharian ini”.
“Menggambar. Aku sudah bilang kan jika aku bisa menggambar webtoon. Mau baca webtoonku”.
“Lain kali saja. Aku pergi”. Baru dua langkah pria itu kembali berbalik ke arah So Hyun. “Apa judul webtoonmu?”.
So Hyun tersenyum miring. “Katanya nanti. Aishitteru”, ucap So Hyun.
“Aku juga”.
“Itu judul webtoonku”.
“Ku pikir kau mengatakan itu untukku”.
“Cepat pergi. Kau bisa terlambat”.
Jimin mendekat ke arah So Hyun. Dia memeluknya. “Aku tak akan pulang hari ini. Aku pasti akan merindukanmu”.
“Pastikan makan tepat waktu”.
Jimin mengangguk. Dia melepaskan pelukannya. “Aku pergi dulu”, dia mengacak pelan puncak kepala So Hyun. Juga mengecup singkat keningnya.
So Hyun mematung dibuatnya. Dia bahkan tak sadar jika kini pria itu sudah menghilang di balik pintu.
-o0o-
“Bwahahaha”, Jimin tertawa keras saat menatap layar ponselnya. Dia sedang duduk di sofa dormnya setelah sesi rekaman tadi.
“Yak, bisakah kau memelankan suaramu. Berisik tau. Kau lihat apa sampai tertawa seperti itu?”, ucap Taehyung yang ikut duduk di sampingnya. Dia menyalakan TV di depannya kemudian. Dia juga melirik sekilas layar ponsel Jimin.
“Sejak kapan kau jadi penggemar webtoon?”, tanya Taehyung kembali.
Jimin masih tidak merespon. Dia masih tertawa meski tak sekeras tadi.
Taehyung hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke layar kaca di depannya.
“Aku tidak pernah menyangka So Hyun memiliki selera humor yang bagus”, ucap Jimin setelah menyelesaikan bacaannya. Ya, dia membaca maraton webtoon yang dibuat So Hyun. Karena memang wentoon itu sudah sampai di episode yang ke 27. Webtoon itu bertajuk romance-comedy, itulah mengapa dia tak bisa berhenti tertawa.
Taehyung mengangkat alisnya kala mendengar sebuah nama keluar dari mulut rekannya. Dia tak salah dengarkan tadi. Angannya menerawang mengingat kejadian beberapa hari lalu di kantor milik gadis yang namanya tadi disebutkan oleh Jimin. Dia mendengar dengan jelas jika gadis itu menikah dengan Jimin. Tapi dia masih ragu, apakah itu Jimin rekannya atau orang lain yang memang memiliki nama sama dengan rekannya.
Bukankah pria itu bilang jika orang tua mereka berteman bukan. Kemungkinan besar memang rekannyalah yang dimaksud bibi gadis itu. Tapi, kapan mereka menikah? Tunggu! Akhir-akhir ini, Jimin memang jarang pulang ke dorm. Dia lebih sering pergi dan kembali saat ada jadwal untuknya. Jangan-jangan, Jimin yang dimaksud bibi gadis itu memang rekannya?
“So Hyun. So Hyun siapa?”, tanya Taehyung. Dia ingin memastikan pemikirannya.
“Maksudmu?”, tanya Jimin yang tak paham. Sial, dia keceplosan menyebutkan nama istrinya tadi.
“Kau menyebut nama So Hyun kan tadi. So Hyun siapa? Kim daepyo ?”, ucap Taehyung kembali.
“Ah, iya”, jawab Jimin disertai anggukan.
“Memang kau dekat dengannya?”, Taehyung tak bosan-bosannya melemparkan pertanyaan.
Jimin tampak ragu saat akan membuka mulutnya. “Kau bisa menyebutnya seperti itu. Ternyata dia mengingatku”, ucapnya terdengar ragu.
“Ku yakin dekat hanya karena itu?”.
Jimin mengangguk. Ada yang terdengar aneh dari ucapan Taehyung. Rekannya yang satu itu sedikit sensitif jika menyangkut topik seputar istrinya. Sebenarnya ada apa dengannya. “Memangnya kenapa? Kau selalu menjadi aneh jika berbicara seputar Kim daepyo ”, ucap Jimin akhirnya menyuarakan isi hatinya.
Taehyung membuang kasar nafasnya. “Sebenarnya hari itu aku mendengar pembicaraan Kim daepyo dengan bibinya”, ucap Taehyung cukup lirih.
Jimin mendengarnya. Dia memasang pendengarannya dengan baik untuk mendengar setiap kata yang terucap dari rekannya.
“Awalnya, aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Karena memang aku mendengar ditengah-tengah pembicaraan, bukan sejak awal. Setelah aku fikir-fikir, kini aku paham. Dia kembali ke Korea karena hubungannya yang tak direstui oleh bibinya. Dia sudah dijodohkan dengan seseorang. Mereka mungkin sudah menikah sekarang. Bukankah begitu?”, jelas Taehyung. Pandangannya yang tadi lurus ke depan kini beralih pada rekannya yang duduk di sampingnya.
Jimin mengangkat alisnya. Berpura-pura tak paham dengan apa yang di ucapkan rekannya. “Mana aku tahu. Dia tak bercerita”, ucap Jimin. Dia mebuang mukanya setelah berkata.
“Begitukah! Bukankah kau yang menikah dengannya?”.
Jimin menoleh. Dia menatap tajam ke arah Taehyung.”Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?”, tanyanya.
“Sudah ku bilang kan, jika aku mendengar pembicaraan mereka”.
Jimin hanya bisa diam. Untuk beberapa saat mereka hanya saling terdiam dan saling menatap. Jimin yang bingung harus menjawab apa. Sedang Taehyung menanti jawaban dari Jimin yang menjadi rekannya tersebut.
“Kenapa kalian berdua masih disini? Kalian lupa jika kita ada latihan”, jelas seseorang yang tak lain adalah sang leader.
Mereka berdua otomatis menoleh dan menghentikan acara tatap menatap tersebut. “Iya, hyung. Kami akan bergabung”, jawab Taehyung akhirnya. Dia menoleh ke arah Jimin sebentar. “Kau masih punya hutang penjelasan denganku”, lanjutnya kemudian. Tangannya terulur mengambil remot dan mematikan TV. Berjalan mengikuti sang leader.
Jimin membuang nafas leganya. Untuk hari ini dia selamat. Tapi untuk hari-hari berikutnya, dia tak yakin. Dia ikut berdiri dan menyusul kedua orang tersebut kemudian.
🍭
🍭
🍭
To Be Continue...
🍭
🍭
🍭
Haduh Taehyung mulai tau tuh. Akankah dia tau dengan cepat?😌
Budayakan LIKE COMMENT!!
Tolonglah hargai author ini..🤧🤧
Kuylah jadiin tenar nih cerita hehe😁