![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 47
(New Happiness)
__
__
__
Hidup denganmu saja ku sudah sangat bersyukur dan bahagia.
Dan akan lebih membahagiakan hidup dengan pemberian-Nya.
Terima kasih telah melengkapi kehidupan burukku๐
__
__
__
So Hyun sedikit malu setelah dipergoki mertuanya. Singkat cerita, dia berniat mempersiapkan sarapan. Tenaganya terkuras setelah malam panjang yang mereka lewati. Namun suaminya meminta hal tak terduga. Morning kiss. Mertuanya datang ketika mereka melakukannya. So Hyun tahu setelah kegiatannya berakhir.
Dia kini hanya bisa diam, sepanjang mereka sarapan. Rasa malu masih menggerogoti, apalagi sarapan yang dinikmati adalah buatan mertuanya. Yang dibawa dari rumah. Katanya untuk merayakan ulang tahunnya kemarin. Dia sibuk dengan cucunya, sampai melupakan hari penting untuk menantunya.
"Apa supnya tidak enak?" tanya mertuanya.
Sejak tadi, So Hyun memang belum menyentuh supnya. Dia tersentak kaget. Segera menyuapkan kuah sup. "Ini enak," jawabnya dengan senyum. Detik berikutnya, dia membungkam mulut. Mual tiba-tiba datang. Membuatnya harus berlari meninggalkan meja.
"Apa Eomma menambahkan kacang?"
"Tidak. Aku tahu istrimu alergi kacang."
Desahan halus terdengar. "Aku akan menyusulnya." Jimin beranjak. Meninggalkan ibu dan putranya yang masih lahap makan.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian. Pijatan di tengkuk istrinya dia berikan. Berharap akan mengurangi mual yang dirasakan olehnya.
So Hyun mengangguk. Mencuci mulutnya kemudian. Berbalik untuk memperlihatkan wajahnya.
"Bagaimana bisa bilang baik jika wajahmu sepucat itu?"
So Hyun kembali muntah. Namun tak ada yang keluar. Hanya cairan bening yang tampak seperti air ludah. Tubuhnya limbung jika suaminya tak sigap menangkap.
"Sayang." Tepukan pelan di pipi pria itu berikan. Berharap istrinya akan membuka mata. Namun nihil, So Hyun masih tertidur. Diangkatnya menuju kamar. Raut khawatir terpancar jelas di wajahnya.
-o0o-
So Hyun masih menyesuaikan cahaya yang masuk. Kepalanya terasa berat. Rasa nyaman dia dapat. Sepertinya di berbaring di ranjang. Benar saja, seorang dokter sedang memeriksanya.
"Anda sudah bangun," sapa dokter tersebut.
"Iya," jawab So Hyun lirih.
"Apa yang Anda rasakan?"
"Pusing."
"Tekanan darah Anda rendah. Akan saya resepkan penambah darah nanti. Biarkan saya bertanya satu hal."
"Silakan."
"Kapan terakhir Anda datang bulan?"
"Sekarang tanggal tiga belas. Sebentar." So Hyun mencoba mengingat. Sedikit terganggu karena pusing di kepala. "Biasanya tanggal satu atau dua. Tapi bulan ini belum."
Dokter itu tersenyum. Memeriksa perut So Hyun dengan stetoskop.
"Kenapa, Dok? Jangan bilang jika aku..." So Hyun tak mampu melanjutkan. Dia menggeleng menyangkal pemikirannya. Sangat tidak mungkin mengingat kemungkinannya hanya tiga persen.
Jimin masuk dengan wajah khawatir. "Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Netranya kemudian tertuju pada So Hyun. "Kau sudah bangun?"
Hanya anggukan kecil yang bisa So Hyun lakukan. Dia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaannya. Rasanya seperti mimpi mendengar dokter mengatakan jika dia sedang mengandung. "Dokter tidak bercanda kan?" So Hyun kembali bersuara. Hingga mampu membuat suaminya mengangkat alis.
"Tidak. Ini memang keajaiban. Selamat Tuan Park, istri Anda sedang hamil enam minggu," jelas sang dokter.
Jimin tak bisa bereaksi. Terlalu syok. Seperti mimpi mendengar hal itu.
"Mulai hari ini, Anda tidak boleh bekerja terlalu keras. Apalagi sampai stres. Jangan membebani pikiran dengan berat. Jaga kesehatan baik-baik. Anda sudah keguguran dua kali. akan berakibat fatal jika sampai terjadi ketiga kalinya. Saya akan resepkan vitamin penambah darah," tutur sang dokter panjang lebar.
"Iya. Saya mengerti." So Hyun mengangguk. Air matanya hampir menetes karena terharu.
"Ini." Dokter itu memberikan resep pada Jimin. "Anda bisa menebusnya di apotik. Saya permisi dulu."
"Terimakasih, Dokter." Akhirnya Jimin bersuara.
"Ingat, jangan sampai stres." Dokter itu berujar lagi untuk So Hyun. Setelah mendapatkan anggukan, dia pamit undur diri.
Ibu Jimin masuk bersama Jungkook. Jungkook berlari kearah ibunya. "Eomma, baik-baik saja kan?" Dia naik ke ranjang ikut berbaring memeluk So Hyun. Mertuanya juga memberikan pertanyaan yang sama.
So Hyun mencium kening Jungkook. Menampilkan senyum terbaik untuk putranya. "Eomma baik-baik saja. Jangan khawatir!"
Ibu Jimin menoleh pada anaknya. Anggukan dia dapat dari putranya. "Syukurlah!" ucapnya penuh kelegaan.
"Ada kabar gembira. Eomma akan punya cucu." Jimin berucap kembali.
"Benarkah!" tanya ibunya sedikit ragu.
Jimin mengangangguk membenarkan.
"Selamat ya, Sayang." Wanita itu menoleh pada menantunya. Wajah senjanya terlihat gembira.
So Hyun hanya bisa mengangguk. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain fakta jika dia akan menjadi wanita seutuhnya. Memberikan keturunan untuk suaminya. Keinginannya semalam terkabul.
๐
๐
**************-END-**************
๐
๐
Hai, saya kembali lagi.
Ini sudah End ya...
Karena saya baik hati, nanti akan ada epilog, ditunggu saja.
Bagaimana? Endingnya mengecewakan kan. Aku sudah berusaha maksimal, tapi sepertinya tidak sesuai harapan. Tak masalah. Terserah kalian mau bilang apa.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya... VOTE, LIKE COMMENTNYA!!
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA CERITA INI, YANG SABAR MENANTI CERITA ABAL-ABAL INI. KAN CHAPSLOCK๐ POKOKNYA LOVE YOU PARA PEMBACA SETIAKU๐๐๐ณ๐๐๐๐๐
Comment ya pembaca ku terzheyeng๐
Terima kasih untuk 3 bulannya untuk cerita ini๐๐ค๐ค๐๐
Goodbye, see you๐ค
LopU๐
Maafkan saya yg bacot๐