The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 6



Chapter 6


(Jungkook’s Birthday)





Seperti tetes hujan yang jatuh di kepalaku


Aku tak bisa menghindari perasaan ini





Pagi itu So Hyun menyibukan diri dengan memasak. Ini adalah kegiatan yang tak begitu disukainya. Karena memang biasanya, sekretarisnyalah yang selalu memasak untuknya. Atau jika bukan gadis itu, bibinyalah yang akan selalu mengiriminya makanan. Tapi sekarang keadaannya berbeda, dia sudah memiliki suami. Jadi, mau tidak mau dia harus mengurusnya meski dengan setengah hati.


Berbagai makanan hasil masakannya sudah tertata rapi di meja. Masih ada satu masakan yang belum matang, sup pereda mabuk. Dia sengaja membuatnya, mengingat betapa banyak alkohol yang pria itu minum semalam. Dia mengaduk sebentar sup itu yang masih berada di atas kompor. Mencicipinya sedikit sebelum menambah garam sebagai sentuhan akhir. Mematikan kompor kemudian.


Dia melihat pria itu tengah berjalan ke arahnya. Penampilannya sungguh acak-acakan, khas orang baru bangun tidur. Dia bahkan menguap lebar sambil berjalan. Mengucek matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Berjalan semakin cepat setelah mencium bau masakan So Hyun. “Baunya enak. Kau masak apa?”, tanyanya kemudian.


“Apapun, yang penting bisa dimakan”, jawab So Hyun. Dia meletakkan semangkuk penuh sup di meja. Dia mengambil air putih dari kulkas. Menuangkannya dalam gelas dan menatanya kembali di meja.


Pria itu duduk. Menatap setiap masakan yang tertata rapi di meja. Tangannya tergerak mengambil salah satu masakan yang paling menggodanya. Namun belum sempat tangannya menyentuh makanan itu, sebuah sendok berhasil melayang ke tangannya.


“Kau belum mencuci tangan Jimin-ssi”, ucap So Hyun setelah memukul tangan pria itu dengan sendok. “Pakai ini”. Dia memberikan sumpit pada pria itu. “Kau bahkan belum mencuci mukamu. Ck, ck”, ucap So Hyun lagi. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai ungkapan tak sukanya.


Pria itu menerima sumpitnya dengan senang hati. Dia tak memperdulikah ocehan So Hyun. Dia menyuapkan masakan yang tadi ingin diambilnya. Mengunyahnya dengan cepat sebelum menelannya. Dia mengangguk kepalanya kala merasa masakan itu cocok di lidahnya. Dia mengambil masakan yang lain. Menganggukkan kepalanya kembali kala merasa masakan itu enak. Mengulang hal itu beberapa kali sampai masakan yang dimasak istrinya berhasil ia cicipi semua.


So Hyun menggelengkan kepalanya kembali melihat tingkah pria itu. Dia meneguk susunya kembali. Mengambil selembar roti dan mengoles selai di atasnya.


“Bukankah ini sup pereda mabuk?”, tanya pria itu.


“Emmh”, jawan So Hyun. “Kau minum terlalu banyak semalam”.


Pria itu mengambil sendoknya. Menyuapkan sesendok kuah sup ke mulutnya. Dia terdiam setelah menelan sup itu. Entah karena rasana yang tak enak atau karena hal lain.


So Hyun yang melihatnya bertanya, “Kenapa? Apa tidak enak?”.


Pria itu terdiam. Dia masih memandang So Hyun lekat. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan begitu saja. Dia tersenyum kemudian. “Rasanya seperti buatan eomma”.


So Hyun terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dengan menyuapkan salad ke mulutnya. Sebenanya ini pertama kalinya dia membuat sup itu. Dia menggunakan resep ibunya dulu. Ibunya selalu membuat sup itu untuk ayahnya ketika mabuk dulu. Ingatan itu masih membekas dalam ingatannya. Dan siapa yang tahu jika itu sama dengan apa yang ibu pria itu buat.


Pria itu masih menatap So Hyun lekat. Senyum manis juga masih tepampang di wajah tampannya. “Terima kasih”, ucapnya masih dengan senyum manis khasnya. Dia kembali memakan makanannya dalam diam.


So Hyun memakan rotinya. Pandangannya tak lepas dari pria itu yang begitu lahap memakan masakannya. Dia tersenyum mengingat fakta itu. Ya, semalam pria itu tidak makan apapun. Dia hanya minum bersama sepupunya.


“Pelan-pelan. Tidak akan ada yang merebut makananmu Jimin-ssi”, ucap So Hyun kemudian. Dia tak tahan melihat tingkah pria itu ketika makan.


Pria itu mengangkat wajahnya. Hanya senyum yang dia berikan sebagai jawaban. Mulutnya penuh dengan makanan. Bahkan dia terlihat kesulitan mengunyah saking penuhnya.


So Hyun kembali menggelengkan kepalanya. Dia kembali menyuapkan salad ke mulutnya.


“Kau tidak ikut makan?”, tanya pria itu kembali setelah bersusah payah menelan semua makanan di mulutnya.


“Kau tidak lihat aku sedang makan?”, jawab So Hyun. Dia kembali mengunyah makanannya.


“Dari tadi kau hanya makan roti dan salad”, jawab pria itu. “Kau juga harus makan ini”, pria itu menyodorkan makanan ke arah So Hyun. “Buka mulutmu”.


So Hyun menggeleng. Dia masih mengunyah makanannya.


“Ayo. Tidak mungkin kan aku menghabiskan semua ini”, ucap pria itu masih dengan menyodorkan makanan pada So Hyun.


So Hyun masih menggeleng. Dia sebisa mungkin menghindarinya. Menjauhkan wajahnya dari sodoran pria itu. “Aku tidak mau. Kau makan saja semuanya”, jelas So Hyun kemudian.


Pria itu menaruh kembali makanan yang disodorkannya. Dia juga meletakkan sumpitnya di meja. Berdiri, menggeser kursi dan berjalan meninggalkan meja makan.


“Kau mau kemana? Kau belum menghabiskan makananmu Jimin-ssi”, ucap So Hyun.


“Untuk apa? Lagipula kau juga tak akan ikut makan”, jawabnya sambil berlalu.


“Iya, iya. Aku akan ikut makan”, jelas So Hyun. Dia mengambil sumpitnya. Memasukan beberapa makanan ke mulutnya.


Pria itu tersenyum kecil sebelum membalikkan tubuhnya. Sepertinya rencananya berhasil. Dia mendudukan dirinya kembali ke kursi. Dia tersenyum melihat gadis itu makan. Dia kembali mengambil sumpitnya. Mengambil sepotong daging dan menyodorkannya pada So Hyun.


So Hyun awalnya menolak. Namun karena pria itu terus menatap tajam padanya, dengan terpaksa dia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.


“Mulai sekarang kau harus banyak makan. Lihatlah betapa kurusnya dirimu”, jelas pria itu.


So Hyun hanya terdiam mendengarnya. Dia menatap aneh pria itu sambil mengunyah makanannya.


“Cha”, pria itu kembali menyodorkan makanan untuk So Hyun.


So Hyun hanya diam menerima suapan makanan pria itu.


“Aku tidak ingin istriku terlihat kurus”, jelas pria itu kembali. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


So Hyun hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia diam. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya.


-o0o-


Jungkook masih memandang lekat foto yang terlihat usang. Foto masa kecilnya bersama sahabatnya. Jika dilihat sekilas, sahabatnya itu terlihat seperti seorang pria. Tapi sebenarnya temannya itu adalah seorang gadis yang memiliki potongan rambut seperti anak laki-laki. Dia mengusap pelan foto itu.


“Bagaimana kabarmu So-ah? Aku harap kau baik-baik saja disana. Jika waktu bisa diulang, aku pasti tak akan membiarkanmu pergi kala itu”, ucapnya. Setitik air mata jatuh begitu saja melewati pipinya.


Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Dengan cepat dia menghapus air matanya dan menyembunyikan foto itu di bawah bantalnya.


“Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae Jungkook-ie. Saengil chukkae hamnida”.


Lagu selamat ulang tahun itu terdengar begitu saja di telinganya. Jungkook menoleh untuk melihatnya. Para personil BTS tengah membawakan kue ulang tahun untuknya. Ya, ini memang hari ulang tahunnya.


Seulas senyum mengembang begitu saja di wajah tampannya. Dia berjalan mendekat ke arah kerumunan. Menatap takjub kue yang mereka bawa. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun mulutnya terasa berat untuk dibuka. Hanya raut bersyukur yang terpampang di wajahnya.


“Sebutkan permintaanmu sebelum meniup lilin”, ucap salah seorang dari mereka.


Jungkook memejamkan matanya. Mengucap keinginannya dalam hati.


‘Meski hanya sekali, aku harap bisa bertemu denganmu So-ah’.


Dia meniup lilin ulang tahun setelahnya. Suara tepukan terdengar menggema di ruang itu.


-o0o-


“Jimin-ssi, please. Eoh, eoh”, dengan nada memelasnya So Hyun kembali meminta suaminya memenuhi keinginannya. Dia bahkan menahan lengan pria itu saat akan pergi.


“Sudah ku bilang aku tidak mau”, ucap Jimin dengan nada sedikit tinggi. Dia terlihat kesal dengan tingkah istrinya itu. Sebenarnya permintaannya cukup mudah. Hanya membawa masakan istrinya untuk diberikan pada Jungkook yang sedang berulang tahun. Tapi dia tak ingin melakukannya. Itu akan melukai harga dirinya. Bagaimana mungkin dia membawakan masakan istrinya untuk pria lain?


Ya, meski dia tahu sebenarnya mereka adalah teman baik.  Tapi tetap saja, rasanya tidak rela melihatnya. Apalagi, dia belum tahu pasti seperti apa perasaan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu padanya.


So Hyun akhirnya menyerah. Dia melepaskan genggaman tangannya pada lengan suaminya. Dia mendudukan dirinya ke sofa. Mendesah pasrah kemudian.


“Ya sudah. Pergi sana!”, ucapnya membuang muka.


Jimin tersenyum. Betapa lucunya melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk. Dia ikut duduk di sebelahnya. Gadis itu segera menggeser dirinya menjauhinya.


“Kau marah?”, tanya Jimin.


Gadis itu masih terdiam. Dia juga masih membuang mukanya. Masih enggan menatap wajah suaminya.


“Bukannya aku tidak mau So Hyun. Hanya saja, nanti akan sulit untukku mencari alasan darimana aku membawa makanan itu. Meski aku bilang itu dari eomma, mereka tak akan percaya. Karena rasanya pasti berbeda”, jelas Jimin.


Gadis itu kembali menghela nafas.


“Kenapa kau tak ikut saja. Kau bisa memberikan sendiri padanya”, ucap Jimin kembali.


“Justru malah aneh jika aku yang datang sendiri”, ucap So Hyun. Dia kembali membuang pasrah nafasnya. “Ya sudahlah. Biarkan saja!”. Dia berdiri bermaksud meninggalkan pria itu.


Jimin menarik lengan So Hyun. Hanya menarik, tidak keras. Karena gadis itu masih tegak berdiri.


So Hyun menoleh. “Apa?”, tanyanya malas.


“Ayo! Ikutlah denganku”, pinta Jimin. Dia tersenyum aneh pada So Hyun. “Anggap saja kau sedang mengantarku. Aku butuh tumpangan”, lanjutnya.


So Hyun memutar malas bola matanya. “Kau bisa memakai mobilku”, jawab So Hyun. “Lepas. Aku harus berangkat ke kantor”.


Bukannya melepaskannya, Jimin justru menggenggamnya semakin erat. “Ayo!”, ajaknya kembali.


“Jimin-ssi”, ucap So Hyun sambil berusaha melepas genggaman pria itu.


“So Hyun-ah”, kini giliran Jimin yang merengek pada So Hyun.


So Hyun menghela nafas berat. Perdebatan itu tak akan ada ujungnya jika tak ada salah seorang yang mengalah. “Baiklah! Aku ikut. Aku ganti baju dulu”, ucapnya pasrah.


-o0o-


“Untuk apa kotak besar itu?”, tanya Jimin yang kini fokus menyetir. Dia melihat istrinya meletakan kotak besar di jok belakang mobilnya tadi.


“Hadiah”, jawab So Hyun singkat. Pandangannya masih ia fokuskan pada tablet yang dipegangnya.


“Untuk Jungkook”, tanya Jimin kembali.


So Hyun mengangguk.


“Sebesar itu?”.


So Hyun kembali mengangguk.


“Aku iri”, ucap Jimin lirih.


So Hyun bisa mendengarnya. Tapi dia memilih mengabaikannya. Dia memasukan tabletnya ke dalam tasnya. “Itu hadiah yang ingin aku berikan pada Jungkook selama sembilan tahun terakhir setelah kami berpisah. Setiap kali ulang tahunnya, aku selalu menyiapkan kado untuknya. Aku tak bisa mengirimkannya, karena itu aku menyimpannya. Jika suatu nanti aku bertemu dengannya, aku akan memberikannya. Dan yah, baru kali ini ada kesempatan. Jadi aku akan memberikannya”, jelas So Hyun panjang lebar.


“Tapi bagaimana mungkin dia tak mengingatmu?”.


“Aku juga tak tahu. Mungkin karena aku memanjangkan rambutku?”, jawab So Hyun asal.


“Aku tidak setuju. Buktinya aku masih mengenalimu”, bantah Jimin.


“Entahlah!”, desah So Hyun pasrah. Dia mengalihkan pandangannya. Menatap jalanan yang mereka lewati. Pemandangan bunga sakura mekar, menghiasi sepanjang jalan yang dilewatinya. Bukan hanya bunga itu, jalanan juga tampak berwarna-warni oleh bunga yang sedang mekar. Ya, musim semi itu begitu indah. Namun tak seindah hatinya yang tengah gundah.


Dia masih merasa resah, entah karena apa. Mungkin kenyataan karena dia harus menikah dengan pria yang kini tengah fokur menyetir. Dia tak memiliki perasaan apapun pada pria itu. Benarkah! Entahlah! Dia sendiri bahkan bingung. Dia masih belum mengerti, kemana hatinya tengah berlabuh.


Tak ada pembicaraan setelah itu. Tahu tahu, pria itu sudah membelokkan mobilnya di area parkir gedung dimana para persobil BTS itu tinggal. Ya, So Hyun sedikit melamun tadi.


“Kita sudah sampai”, ucap pria itu setelah mematikan mesin mobilnya. Dia melepas sabuk pengamannya.


“Apa aku benar-benar harus ikut?”, ucap So Hyun penuh keraguan.


Pria itu mengangguk. “Kau sudah setengah jalan. Hanya tinggal naik, dan menyapanya”, ucap pria itu lagi.


“Tapi!”, So Hyun masih ragu dengan pilihannya.


“Kalau kau memang tak ingin menemuinya, ya sudah. Aku akan turun. Terima kasih sudah mengantarku”, ucap pria itu diselingi senyuman. Dia mengacak pelan puncak kepala So Hyun sebelum membuka pintu mobil.


So Hyun membuang nafas pasrah kala melihat pria itu turun dan pergi meninggalkannya. Haruskah dia menyusulnya? So Hyun menggeleng pelan. Dia masih berdebat dengan pemikirannya. Menyusul atau tidak. Jika dia tak melakukannya, belum tentu ada kesempatan lagi. Tapi jika dia menyusulnya, akan aneh nantinya.


Baiklah, sepertinya dia harus memilih pilihan pertama, menyusulnya. Anggap saja ini usaha terakhir untuk membuat pria yang bernama Jungkook itu ingat padanya. Ya, dia harus melakukannya. Masalah hasil, serahkan saja nanti. Yang penting dia sudah berusaha.


So Hyun mengangguk mantap. Dia melepaskan sabuk pengamannya. Mengambil kotak besar dan kotak makanan sebelum melangkah pergi menyusul pria itu.


-o0o-


“Apa aku terlambat?”, ucap Jimin dari balik pintu. Hanya kepalanya saja yang kelihatan.


Para personil BTS yang lai menoleh. Menatap ke arah pintu dimana pria itu berada. “Jimin-ah, kau baru datang?”, ucap salah seorang dari mereka.


Jimin tersenyum, memasukan dirinya kemudian. Ditangannya membawa kotak makanan yang dibuat oleh istrinya tadi.


“Apa itu?”, tanya pria yang biasa dipanggil Taehyung olehnya.


Jimin mengaangkat kotak makanannya. “Aku juga tak tahu apa isinya”, jawabnya bohong. Ya, sebenarnya dia tahu apa saja isi kotak makanan itu. Tapi dia harus melakukannya, berpura-pura tak tahu.


“Kau yang membawanya, bagaimana mungkin tak tahu isinya?”, protes pria yang bernama Namjoon.


“Kim daepyo yang memberikannya padaku”, jawab Jimin.


“Kim daepyo”, ulang mereka serentak. Tidak semua, hanya beberapa. Karena Jin terdiam, begitu juga dengan Jungkook.


“Pemilik Hera Fashion”, imbuh Namjoon.


Jimin mengangguk. Dia berjalan mendekat. Mendudukan dirinya di sofa sebelah Jungkook. Karena memang tempat itulah yang paling dekat dengannya. Dia menaruh kotaknya di meja yang sudah penuh camilan dan kue ulang tahun. “Dia ada di luar”, ucapnya kemudian.


“Kenapa kau tak menyuruhnya masuk?”, ucap Namjoon.


“Dia tidak mau. Katanya, dia ingin bertemu Jungkook”, jelas Jimin kembali.


Jungkook mendongakkan kepalanya. Dia menatap tajam Jimin. “Kenapa dia ingin bertemu denganku?”, tanya Jungkook.


Jimin mengangkat bahunya. Seolah berkata jika dia tak tahu.


“Sudah sana, temui dia. Kasihan kan dia di luar sendirian”, ucap Namjoon.


Jungkook kini beralih menatap sang leader.


“Iya, kasihan kan. Kalau perlu ajak dia masuk. Kau sudah tak punya dendam dengannya kan?”, Taehyung kini yang bersuara.


Jungkook medesah pasrah sebelum berdiri. Meletakkan topi kerucut yang dipakainya. Berjalan pelan meninggalkan mereka.


“Menurutmu, apa isi kotak itu?”, Taehyung kembali berucap setelah Jungkook menghilang.


“Sudah pasti itu makanan. Itu kan kotak makan”, Jin yang sedari tadi diam kini bersuara.


“Aku buka ya!”, tanya Taehyung. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling menatap mereka satu persatu minta persetujuan.


“Itu untuk Jungkook”, ucap Jimin.


Jin berdiri. Dia mengambil kotak makanan tersebut. Pergi meninggalkan kerumunan mereka.


“Yak Hyung. Kau mau membawanya kemana?”, protes Taehyung. Tangannya terulur mengikuti arah perginya.


“Aku akan menatanya. Jungkook tak akan marah hanya karena makananya dibuka”, jelas Jin.


Taehyung juga berdiri. Dia mengikuti Jin menuju dapur. Dia tak ingin kalah saing melihat makanan itu. Dia yang ingin membukanya, kenapa jadi pria itu yang membawanya? Protesnya dalam hati. Dia merasa cukup kesal.


“Kenapa kau mengikutiku, Tae”, tanya Jin yang melihat Taehyung di belakangnya.


“Aku ingin melihat apa isinya? Aku yang penasaran kenapa juga kau yang membukanya?”, protes Taehyung.


Jin membuka kain penutup kotak makanan terlebih dulu. Membuka tutupnya. Mengambil satu per satu susunan kotaknya.


“Salad”, ucap Taehyung saat Jin meletakan kotak pertamanya.


“Bulgogi”, ucap Taehyung saat Jin meletakan kotak kedua.


“Ayam pedas”, ucap Taehyung saat Jin meletakan kotak ketiga.


“Sup rumput laut”, ucap Taehyung melihat isi kotak terakhir.


“Kelihatannya enak”, ucap Taehyung kembali sambil mendekat ke arah sup yang masih mengeluarkan sedikit asap.


“Dia menambahkan kerang abalone”, ucap Jin saat melihat sup rumput laut.


“Kerang abalone”, ulang Taehyung. “Bukankah itu yang Jungkook suka untuk sup rumput lautnya?”, lanjutnya.


Mereka berdua saling melirik. Saling membulatkan mata. Seolah berbicara lewat tatapan itu.


-o0o-


Jungkook mengedarkan pandangannya setelah menutup pintu. Dia melihat seorang gadis tengah menyandarkan punggungnya pada dinding dengan membawa kotak besar. Kakinya diketukan beberapa kali ke lantai, seolah merasa bosan dengan apa yang dilakukannya. Gadis itu juga terlihat menghela nafas beberapa kali.


“Kim daepyo”, sapa Jungkook. Dia berjalan mendekati gadis itu.


Merasa namanya dipanggil, So Hyun menoleh. Dia tersenyum pada orang yang memanggilnya.


“Kata Jimin hyung, anda ingin bertemu denganku. Ada apa?”, tanya Jungkook.


So Hyun kembali tersenyum, namun terlihat kikuk kali ini. “Sebenarnya…..”. Dia tak sempat melanjutkannya, karena lelaki itu sudah menyelanya.


“Mari masuk”, ajak Jungkook.


So Hyun menggeleng. Menolak ajakan pria itu. “Tidak perlu. Aku hanya sebentar”, ucap So Hyun. Dia memberikan kotak besar itu pada Jungkook. “Ini untukmu”.


“Apa ini?”, tanya Jungkook penasaran. Dia menerima kotak besar tersebut.


“Hadiah”, ucap So Hyun kembali. “Saengil chukkaeyo, Jungkook-ssi”, lanjutnya.


“Terima kasih”, ucap Jungkook. Dia tersenyum aneh. Ya, dia masih merasa canggung dengan gadis itu. Masih merasa seolah mereka baru pertama kali saling mengenal.


“Aku juga membuatkan sup rumput laut yang dulu menjadi kesukaanmu. Aku tak yakin apa kau masih menyukainya sampai sekarang. Tapi aku harap kau mau mencobanya”, ucap So Hyun terdengar ragu.


“Aa, yang dibawa Jimin hyung tadi?”, tanya Jungkook memastikan.


So Hyun mengangguk. “Kalau begitu aku pergi”, So Hyun menunduk hormat. Dia berbalik, berjalan meninggalkan pria itu.


‘Aku harap kau mengingatku setelah membuka kotak itu, Kookie’, ucapnya dalam hati.


-o0o-


Jungkook berjalan pelan menuju kamarnya setelah pertemuannya dengan gadis tadi. Saat melewati ruang makan, dia dipanggil rekan-rekannya.


“Jungkook-ah. Ayo makan”, ucap salah seorang dari mereka.


“Aku akan menaruh kotak ini sebentar”, teriaknya sambil berlalu. Dia ikut duduk di meja makan setelah menaruh kotaknya.


“Mari makan”, ucap Taehyung antusias setelah melihat Jungkook duduk. Dia yang pertama mengambil sendok. Menyuapkan kuah sup rumput laut kemudian. “Wah, mashita. Ini bahkan lebih enak dari buatan Jin Hyung”, jelasnya.


“Yak, kau pikir siapa yang berulang tahun. Kenapa jadi kau yang begitu antusias memakannya”, potes Jimin.


“Aku sudah tergoda sejak membukanya tadi”, jawabnya acuh. “Jungkook-ah, kau juga harus mencobanya”, ucap Taehyung kembali.


Dengan sedikit ragu, Jungkook mengambil sendoknya. Menyuapkan kuah sup rumput laut tersebut. Rasanya begitu tak asing di lidahnya.


“Bagaimana rasanya?”.


“Mashita. Darimana kau belajar memasak?”.


“Eomma”.


“Sena ahjumma?”.


Gadis itu mengangguk.


“Jadi kemarin kau bertanya aku lebih suka kerang abalone atau landak laut karena ini?”.


Gadis itu kembali mengangguk. “Kau harus menghabiskannya”.


Ingatan kecil itu muncul begitu saja. Membuat Jungkook terdiam. Dia termangu karenanya. “So-ah”, ucapnya kemudian.


“So-ah. Siapa itu?”, tanya Hoseok yang duduk di sebelahnya.


Jungkook tak menjawab. Dia memilih berdiri. Berjalan cepat meninggalkan meja makan.


“Jungkook-ah, kau mau kemana? Kau belum menghabiskan makananmu?”, ucap Yoonggi. Pandangannya mengikuti kemana Jungkook pergi.


Jungkook berjalan cepat menuju kamarnya. Dia segera membuka kotak yang diberikan gadis tadi. Banyak barang yang terdapat di kotak itu. Mulai dari jam tangan, topi, kacamata dan masih ada lainnya yang tak bisa di sebutkan satu persatu. Jungkook terfokus pada hodie tudung yang terlipat rapi. Dia mengambilnya, mengangkat tinggi untuk melihat desainnya.


“Apa seperti ini?”.


Jungkook mengangguk. Dia mengambil buku yang digunakan temannya untuk menggambar. Meneliti setiap gambar yang temannya buat. “Kau berbakat menggambar baju ya. Kenapa kau tak menjadi desainer saja?”, ucapnya kemudian.


“Haruskah?”, tanya temannya itu.


Jungkook kembali mengangguk. “Pasti kau akan menjadi desainer terkenal jika melakukannya”.


“Akan aku pikirkan nanti”, jelas temannya itu. Dia merebut kembali bukunya. “Aku akan meminta imo membuatkannya untukmu. Tunggu saja di hari ulang tahunmu”.


“Itu masih lama”.


Ingatan kecil itu kembali muncul. Jungkook kembali termangu. Dia meletakan hodie itu kembali. Menggeledah isi kotak itu kembali. Dia mendapat kartu ucapan juga. Dia mengambil tumpukan kartu tersebut.


Ada foto menara eiffel di salah satu kartu ucapan itu. Dia membaliknya, membaca kalimat demi kalimat yang tertulis disana.


1 September 2010. Kookie. Kau pasti tak akan percaya. Aku ada di Paris sekarang. Kita pernah berjanji akan kemari bersama kan. Aku harap kita bisa mewujudkannya suatu saat nanti. Saengil chukkae. Aku membeli jam tangan untukmu. Aku harap kau bisa on time setelah memakainya. Dari sahabatmu.


So-ah.


Jungkook kembali membaca kartu ucapan yang lain.


1 September 2012. Kookie. Selamat atas debutnya dirimu. Aku membeli topi saat jalan-jalan kemarin. Semoga berguna. Saengil chukkae. Dari sahabatmu.


So-ah.


Jungkook mengambil kartu ucapan lain.


1 September 2015. Kookie. Aku sudah melihat lagu terbarumu. Kau semakin tinggi ya. Saengil chukkae. Aku punya teman seorang desainer perhiasan. Aku memintanya membuatkan kalung untukmu. Katanya itu kalung keberuntungan. Semoga benar ya. Dari sahabatmu. So-ah.


Jungkook termangu menatap foto itu. Foto gadis yang tadi memberinya kotak besar itu. Dia membalikknya, terdapa tulisan disana.


1 September 2017. Kookie. Kenapa kau tak mengingatku? Apa kenangan masa kecil bersamaku tak cukup berarti untukmu? Ini aku So-ah. Aku memanjangkan rambutku jika kau tak tahu. Saengil chukkae.


Jungkook masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Semua kartu ucapan itu di tulis di setiap ulang tahunnya setelah perpisahannya dengan teman lamanya. Bahkan kado-kado itu juga disiapkan untuknya sebagai hadiah ulang tahunnya.


Kenapa dia begitu bodohnya tak mengenalinya. Tapi memang gadis itu berbeda dengan apa yang difikirkannya selama ini.


“Bagaimana jika saat kau terkenal nanti, lupa denganku?” tanya temannya.


Jungkook terdiam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Itu tidak mungkin. Aku pasti akan selalu mengingatmu,” jelas Jungkook.


“Kalau itu terjadi?”.


“Kau bisa menendangku”.


“Seperti ini”. Temannya itu menendang kaki Jungkook.


“Akh, yak”, protes Jungkook. Dia mengusap pelan kakinya.


“Kau bilang aku boleh menendangmu kan”, ucap temannya tanpa dosa.


“Iya, tapi tidak sekarang juga kan”, ucap Jungkook masih protes.


Ingatan-ingatan kecil itu kembali muncul di kepalanya. Jadi gadis itu menendangnya kala itu bukan tanpa alasan. Memang dialah yang memintanya.


Jungkook menunduk pelan. Dia mengusap kasar wajahnya.


“Mari bertemu disini jika kita berpisah nanti”.


“Emmmh”, Jungkook mengangguk mantap.


Jungkook kembali mendongakkan kepalanya. Dia teringat satu tempat. Tempat dimana di berjanji bertemu bila mereka terpisah. Dia mengambil mantel, topi, serta maskernya. Memakainya dengan cepat sebelum meninggalkan kamarnya.


“Jungkook, kau mau kemana?”, tanya salah seorang dari mereka saat Jungkook melewati ruang makan.


“Ada urusan sebentar. Hyung, aku pinjam mobilmu”, teriak Jungkook tanpa berbalik. Dia melambaikan tangan sambil memegang kunci mobil. Entah siapa yang dia maksud, dia tak menyebutkan nama.


“Eoh, jangan sampai lecet”, ucap salah seorang dari mereka. Dia tersenyum miring. “Jadi dia baru ingat”, ucapnya pelan.


“Siapa?”, tanya Taehyung yang duduk disebelahnya.


“Bukan siapa-siapa? Lanjutkan saja makanmu”, jelas Jimin.


-o0o-


Dengan kecepatan penuh Jungkook mengemudikan mobilnya. Dia ingin segera sampai ke tempat dimana dia dan temannya dulu berjanji bertemu bila terpisah.


“Semoga dia pergi kesana”, kalimat itu yang diucapkannya sepanjang jalan.


Dia hampir sampai. Dia bisa melihat seorang gadis tengah berdiri di taman itu. Ya, taman dimana pertama kalinya mereka bertemu sewaktu kecil. Dengan cekatan Jungkook menginjak remnya. Gadis itu hampir beranjak. “Tidak, jangan pergi dulu. Aku mohon”, ucap Jungkook kembali.


Dengan tergesa-gesa dia melepas sabuk pengamannya. Turun dengan cepat. Berjalan cepat menyusul gadis itu. Merasa tak puas, Jungkook berlari menghampiri gadis itu.


“So-ah”, ucapnya sambil terengah. Dia berhasil mengejar gadis itu.


Gadis itu berbalik. Dia tersenyum melihat Jungkook. “Kau mengingatku?”, tanyanya.


Senyum itu, senyum yang selama ini Jungkook rindukan. Tepat seperti yang dia duga. Gadis itu adalah temannya. Teman masa kecilnya. Teman yang selalu dirindukannya. Dia berjalan cepat ke arah gadis itu. Menariknya dalam dekapannya.


“Aku merindukamu, So-ah”, ucapnya kemudian.


Gadis itu tersenyum kecil dalam dekapan Jungkook. Rasanya masih nyaman seperti yang terakhir diingatnya.


“Maaf, karena baru mengingatmu”, ucap Jungkook kembali. Dia mengusap pelan surai panjang gadis itu.


“Aku juga merindukanmu, Kookie”, ucap gadis itu.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue…..


🍭


🍭


🍭


Akhirnya Jungkook inget juga masalahnya... Hihi..


So-ah itu nama panggilan sayang dari Jungkook ya hehe..


Kalo SSo dari Jimin.


Aduh enak banget sih dikasih panggilan sayang😂


Bagaimana part ini? Mampu mengacak-acak hati kalian kah? 😆😆


Vote Commentnya jangan lupa!


Ok💜


Sampai jumpa di part selanjutnya 😊