The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 3



Chapter 3


(Bad Day 2)





Gadis itu mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dia ingat jika tadi dia pingsan. Tidak. Mungkin lebih tepatnya semalam, karena dia bisa melihat sinar matahari sudah muncul dibalik gorden kamar yang ditempatinya. Kepalanya masih pusing, efek dari alergi yang dideritanya. Selalu saja seperti itu, dia tak pernah kuat jika harus menghadapi makanan yang satu itu, kacang.


Dia memejamkan matanya beberapa kali, mencoba menetralkan pandangannya. Dia juga menggelengkan kepalanya untuk membuat kesadarannya menjadi penuh. Menarik nafas dalam lalu membuangnya, begitu seterusnya hingga dia merasa benar-benar membaik. Dia bisa merasakan nafas teratur seseorang di tengkuknya. Bahkan sepasang tangan tengah melingkar manis di perutnya. Tunggu! Siapa yang sedang tidur sambil memeluknya.


Gadis itu mencoba berfikir kemungkinan besarnya. Tapi kepalanya masih pusing. Dia menggelengkannya karena tak dapat berfikir dengan jernih. Bukankah seharusnya mudah, dia tinggal berbalik dan melihat wajah orang itu. Tapi bagaimana jika orang itu adalah penculik? Gadis itu membulatkan mata. Tunggu! Jika memang dia diculik tidak mungkin juga dia tidur di tempat yang nyaman. “Dasar bodoh! Kenapa berfikir sampai sejauh itu?”, gadis itu mengejek dirinya sendiri.


Dia kembali membulatkan mata kala mengingat satu orang. Jangan-jangan orang itu. Dengan cepat gadis itu membalikkan tubuhnya. Tepat seperti yang dia duga, pria itu. Ya, pria itu masih terlelap di sampingnya. Bagaimana bisa? Gadis itu memeriksa tubuhnya. Masih berpakaian, hanya saja sudah berganti dengan piyama kesukaannya. Dan pria itu juga sudah berganti memakai kaos oblong putih polos.


Gadis itu kembali memeriksa sekelilingnya. Ini kamarnya. Ya, foto yang dipajang, hiasan dinding, jam dinding, serta perabot itu semua miliknya. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu kembali muncul. Seingatnya dia di rumah bibinya semalam. Kenapa sekarang sudah di kamarnya? Selagi gadis itu sibuk dengan pemikirannya, mata pria itu terbuka. Gadis itu masih tak menyadarinya.


“Kau sudah bangun?”, ucap pria itu. Dia bisa melihat jelas raut bingung di wajah gadis itu. Ya, dia bisa mengerti. Siapapun yang berada diposisi gadis itu pasti merasakan hal sama. Semalam pingsan, setelah sadar sudah berada di ranjang bersama seorang pria.


“Kenapa kau disini?”, tanya gadis itu. Dia mengabaikan pertanyaan pria itu yang sudah pasti tak membutuhkan jawaban. Ya, dia sudah membuka mata. Secara teknis dia sudah terbangun.


“Bukan!”, gadis itu kembali bersuara sebelum pria itu bersuara. Dia juga menggelengkan kepalanya menolak pertanyaan pertamanya. “Kenapa aku bisa disini? Ini kamarku kan. Bukankah semalam kita di rumah imo?”, lanjutnya.


“Kau tidak ingat!”, itu pertanyaan terbodoh yang pernah diucapkannya. Tentu saja gadis itu tak akan pernah ingat, semalam gadis itu pingsan. Karena sudah terlanjur, sekalian saja menggodanya tak apa kan. Lagipula sebentar lagi dia akan menikahi gadis itu.


Gadis itu tersenyum mengejek. “Bagaimana aku bisa ingat, aku pingsan semalam”, jawab gadis itu. “Dan kenapa aku sudah memakai piyamaku?”, dia menatap tajam pria yang ada di depannya. “Jangan bilang jika kau yang menggantikannya”, lanjutnya masih dengan tatapan tajamnya.


“Menurutmu siapa lagi yang melakukannya. Disini tidak ada siapapun selain kita”, jelas pria itu kembali. Dia tersenyum dalam hati sudah berhasil menggoda gadis itu.


Gadis itu membulatkan matanya. Dia juga menyilangkan tangannya di depan dada. “Apa? Kau sedang tidak bercandakan?”, ucap gadis itu.


“Apa aku terlihat sedang bercanda?”, pria itu kini merapatkan tubuhnya. Dia juga sedikit memajukan wajahnya. “Aku sudah pernah melihat semuanya. Kau tidak lupa itu kan!”, ucap pria itu kembali. Dia juga menyeringai kecil.


Gadis itu mengangkat alisnya. Dia mencoba mencerna sebentar perkataan pria itu. Dia menatap tajam pria itu setelah berhasil mengingatnya.


“Apa perlu aku mengingatkanmu?”, ucap pria itu kembali. Dia yang mendapat tatapan tajam kembali merapatkan tubuhnya, hingga membuat gadis itu terpaksa mundur.


“Hajima! Jika kau mendekat lagi, aku….”, gadis itu tak sempat melanjutkan kalimatnya.


“Jika aku mendekat lagi, kau akan apa?”, sela pria itu di telinga gadis di hadapannya.


“Ku bilang mundur!”, ucap gadis itu kembali. Dia juga mendorong tubuh pria itu dengan tangan kanannya. Tubuhnya ia mundurkan kembali. Namun pria itu tak mengindahkan perkataannya, dia semakin merapatkan dirinya. Membuat gadis itu terpaksa memundurkan tubuhnya.


Buugg. Tubuh gadis itu akhirnya terjatuh dari ranjang. “Akh”, rintihnya setelah merasakan kerasnya lantai. Untung saja lantai  itu dilapisi karpet permadani yang lumayan tebal, jika tidak gadis itu akan merasakan sakit yang lebih.


“Kim So Hyun, kau baik-baik saja”, ucap pria itu sedikit panik. Dia segera terbangun dari tidurnya dan dengan cepat pula dia menghampiri tubuh gadis itu. Dia tak punya maksud membuat gadis itu terjatuh. Dia hanya sedang menggoda gadis itu, karena memang itu terasa menyenangkan baginya. Dia mencoba membantunya berdiri.


Gadis itu dengan tegas menepis uluran tangan pria itu. “Kau sengajakan Jimin-ssi”, ucapnya setelah berhasil berdiri. Dia menaruh selimutnya yang ikut terjatuh kembali ke ranjang.


“Aku tak bermaksud seperti itu, sungguh!”, raut wajah pria itu masih terlihat cemas. “Aku hanya…..”.


“Terserahlah!”, ucap gadis itu menyela ucapan pria tadi. Dia berjalan cepat menuju kamar mandi. “Kau yang menggodaku malam itu”, ucapnya lantang sebelum menutup pintu kamar mandi dengan keras.


“…. berniat menggodamu”, lanjut pria itu. Hanya dia yang bisa mendengarnya, karena memang pintu kamar mandi sudah sepenuhnya tertutup. Dia juga bisa mendengar jika gadis itu menguncinya. “Apa dia marah?”, ucapnya lagi. “Aish”. Dia juga mengacak pelan rambutnya.


Sementara itu, di kamar mandi So Hyun masih menyandarkan dirinya di pintu. Dia masih memegangi dadanya yang terasa nyeri. “Kenapa dengan diriku? Berhentilah berdetak dengan keras”, marahnya entah pada siapa.


Dia berjalan cepat ke arah westafel. Mencuci mukanya, berharap rasa malunya hilang. “Kenapa dia harus mengingatkan kejadian malam itu? Aish”, dia menggelengkan kepalanya untuk menepis ingatan malam itu. “Kenapa juga aku harus tergoda dengan rayuannya?”, dia mengacak pelan rambutnya.


Dengan cekatan dia melepas semua kain yang menutupi tubuhnya. Membuangnya ke sembarang tepat. Berjalan cepat menuju bilik mandi. Menyalakan shower, hingga membuat seluruh tubuhnya basah. Semoga dengan mandi, beban fikirannya akan berkurang.


-o0o-


Dengan mengenakan bathrobe So Hyun keluar dari kamar mandi. Rambut basahnya ia basuh dengan handuk. Dia tampak lebih segar dari sebelumnya. Netranya meneliti setiap sudut kamarnya. Dia tak menemukan pria itu. ‘Kemana dia? Apa dia sudah pulang?’, dia bertanya pada dirinya sendiri. ‘Baguslah!”, dia tersenyum kecil.


Dia masih membasuh rambutnya dengan handuk. Berjalan pelan menuju jendela kamarnya. Menyibak gorden yang sudah setengah terbuka. Matahari sudah nampak tinggi. Jalanan yang dapat dilihatnya juga sudah tampak padat. Dia memejamkan matanya sebentar, membiarkan sinar matahari menerpa wajahnya.


“Kau sedang apa?”.


So Hyun bisa mendengar suara berat pria itu. ‘Kenapa dia masih disini?’, umpatnya dalam hati. Dia diam tak menjawab. Tangannya kembali ia sibukan dengan membasuh rambutnya yang mulai mengering.


“Pemandangan dari sini indah”, pria itu kembali bersuara. Pria itu sudah berdiri di samping So Hyun.


So Hyun menoleh ke arah pria tersebut. Tatapan tajam ia tunjukan untuknya. “Kenapa kau masih disini? Ku pikir sudah pulang”, tanyanya dengan nada tak sukanya. Itu memang pertanyaan yang terlintas di otaknya setelah keluar dari kamar mandi.


“Kau mencariku!”, ucapnya disertai smirk andalannya. Pria itu juga sudah selesai mandi. Bisa dilihat dari penampilannya. Mengenakan bathrobe dan juga membasuh rambut basahnya dengan handuk.


So Hyun memutar malas bola matanya mendengar ucapan pria itu. “Dalam mimpimu”, dia bergumam kecil. Kemudian menjauhkan dirinya dari pria itu. Dia berjalan pelan menuju lemari pakaiannya, setelah sebelumnya menggantung handuk yang dipakainya membasuh rambutnya tadi.


“Pria itu Jungkook kan?”, pria itu kembali bersuara.


So Hyun menghentikan langkahnya. Dia menoleh kembali ke arah pria itu. Dia mengangkat alisnya tak paham. “Maksudmu?”, tanyanya kemudian.


“Pria yang ada di album itu”, pandangan pria itu kini tertuju pada meja samping ranjang.


“Kau melihatnya!”, tanya So Hyun penuh selidik.


Pria itu tersenyum sambil mengganggukan kepalanya. Dia juga masih sibuk dengan mengeringkan rambutnya.


“Iya, dia memang Jungkook”, jawab So Hyun. Dia kembali melanjutkan langkahnya.


Pria itu berjalan mengikuti langkah So Hyun. “Jadi, kau yang menendangnya kemarin?”, pria itu kembali bersuara. Dia menggantung handuknya setelahnya.


“Itu karena dia sudah berani melupakanku”, jawab So Hyun. Dia memasuki walk in closenya. “Dia bilang jika dia tak akan pernah lupa meski nanti dia menjadi idol terkenal. Omong kosong”, lanjutnya lagi.


“Dia memang punya ingatan buruk”, jelas pria itu. Dia kembali mengikuti langkah gadis itu.


“Sejak kapan pakaian-pakaian ini ada di lemariku”, So Hyun kembali berucap. Dia mengabaikan perjelasan pria itu.


“Bukankan ini pakaian pria!”, entah sejak kapan pria itu sudah berada di samping So Hyun.


“Ini pasti ulah sekretarisku”, dia mengambil gaun acak lalu meninggalkan pria itu. “Pakai saja jika kau tak memiliki baju ganti”, ucapnya sebelum keluar dari ruang itu.


-o0o-


So Hyun kembali menyuapkan salad ke mulutnya. Dia makan dalam keadaan diam. Ya, sejak mereka memulai sarapan tidak ada percakapan apapun diantara mereka. Entah karena canggung atau memang enggan bicara. Ini membuat So Hyun sedikit merasa bosan.


So Hyun melirik ke arah pria yang tengah duduk di hadapannya. Pria itu dengan tenang melahap makanannya. Dia juga tak menoleh ke arah lain. Pandangannya lurus menatap makanan di piringnya. Sesekali mengambil lauk di piring lain.


So Hyun berganti melirik ke arah samping kanannya. Ya, sekretarisnya juga ikut sarapan bersama mereka. Dia pulalah yang membawa sarapan untuk mereka. So Hyun sebenarnya sedikit malu pada gadis di sampingnya. Pasalnya, gadis itu menemukan dirinya bersama pria itu dalam posisi yang kurang baik. Pasti setelah ini, dia akan diintrogasi olehnya.


Rasa bosan So Hyun semakin menjadi. Dia benar-benar sudah tak tahan dengan kebisuan yang tercipta diantara mereka. “Tidak biasanya kau datang sepagi ini eonni. Apalagi sampai repot membawa sarapan. Apa imo yang menyuruhmu?”, kata So Hyun tiba-tiba bersuara. Dia melihat ke arah sekretarisnya.


Gadis itu mendongak ekor matanya melirik sekilas pada pria di hadapannya. Pria yang dipandangnya masih sibuk dengan makanannya. Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dia hanya bilang jika semalam alergimu kambuh. Ku pikir kau tak akan sempat membuat sarapan. Jadi, aku membawakan makanan untukmu”, jelasnya.


“Hanya karena itu”, So Hyun kembali bersuara.


“Bukan sih. Masalah pekerjaan juga”, jawab sekretrisnya. “Kau jadi berangkat ke Paris?”, tanyanya.


So Hyun masih terlihat sedang berfikir. Dia juga masih mengunyah saladnya.


“Kau akan menemui Lee uncle”, pria yang sedari tadi diam kini bersuara.


“Iya”, katanya sambil mengangguk. Dia menelan saladnya setelah lama mengunyah. “Tunggu!”, dia teringat sesuatu. “Dari mana kau tahu?”, lanjutnya.


“Semalam dia menelfonmu”, jawab pria itu lagi.


“Kau mengangkatnya?”, tanya So Hyun penuh selidik.


“Karena sangat berisik, aku mengangkatnya”, jawap pria itu kembali.


Sekretaris So Hyun hanya terdiam mendengarkan kedua orang itu berbicara. Dia masih sibuk dengan makanannya. Tapi pandangannya sesekali ke arah pria di depannya. Dia masih menatap tak percaya pria itu. Ini seperti mimpi, melihat pria itu secara langsung. Biasanya dia hanya bisa melihatnya dari layar kaca.


“Apa yang dia katakan?”, So Hyun kembali bertanya.


“Kau tak perlu datang. Dia ada di Kanada sekarang”, jelas pria itu kembali. “Aku sudah selesai”, lanjutnya. Dia meletakkan sumpitnya di meja.


“Hanya itu yang dia katakan”, So Hyun masih bertanya. Dia masih sangat penasaran tentang pembicaraan pria itu dengan pamannya.


Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Kau yakin!”, So Hyun masih tak terima dengan jawaban pria itu.


“Pada intinya hanya itu. Haruskah aku mengatakan setiap kata yang keluar dari mulutnya!”, jawab pria itu sedikit kesal. Ponsel pria itu berbunyi. Dia merogoh saku celananya untuk mengambilnya. Menatap layarnya sebentar sebelum meninggalkan meja makan.


So Hyun menyandarkan kepalanya di meja setelah kepergian pria itu. “Kenapa Lee uncle membatalkan janji seenaknya”, katanya pada dirinya sendiri. Dia juga berbicara dalam bahasa yang tak di mengerti oleh sekretarisnya. Sepertinya itu sebuah umpatan.


“Kau tak menghabiskan sarapanmu”, tanya sekretarisnya.


So Hyun mendongakkan kepalanya. Dia menggeleng kemudian. “Aku sudah tak selera makan”, jawabnya.


“Ya sudah. Aku akan membersihkannya”, jelas sekretarisnya.


So Hyun masih terduduk diam. Dia memilih memperhatikan sekretarisnya yang mulai membersihkan meja makannya.


“Apa dia benar-benar Jimin BTS?”, pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut sekretarisnya.


“Bagaimana bisa?”, tanya sekretarisnya kembali. Kini dia menyalakan keran untuk mencuci piring kotor.


So Hyun berdiri. Sepertinya dia sudah menemukan solusi untuk masalahnya. “Akan aku ceritakan nanti”, jawabnya singkat. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang itu.


Sekretarisnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh bosnya. Dia kembali melanjutkan kegiatannya, mencuci piring. Butuh sekitar lima belas menit untuk membuat ruang itu tampak rapi. Setelah mengeringkan tangannya, gadis itu berjalan menuju ruang santai. Dia berniat menonton TV sebari menunggu bosnya siap.


Niatnya terhenti kala melihat majalah di meja depan TV. Dia memilih mengambil majalah tersebut. Membukanya dan mencari sesuatu yang menarik untuk dibaca. Pilihannya jatuh pada artikel kosmetik keluaran terbaru. Dengan seksama dia membaca setiap kata yang tertulis di situ.


“Dimana So Hyun?”.


Suara itu tiba-tiba terdengar di telinga gadis itu. Dia cukup hafal siapa pemilik suara tersebut, karena itu dia memilih tak memandangnya. “Di kamarnya mungkin”, jawabnya singkat. Dia kembali memfokuskan diri untuk membaca.


Pria itu mendengus pelan. Ingin sekali dia menyapa gadis itu. Tapi, entah mengapa dia tak bisa melakukannya. Takut jika gadis itu marah padanya. Sebenarnya dia tahu siapa gadis itu. Min Aera, dia tak akan pernah lupa dengan nama itu. Nama yang pernah mewarnai harinya dulu, sebelum dia membuat gadis itu membencinya.


Pria itu memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan gadis itu. Pandangannya tak lepas dari gadis itu. Meneliti setiap gerak-geriknya.


Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam. Sibuk dengan urusannya masing-masing.


“Kau masih marah padaku?”, pria itu kembali bersuara setelah bosan dalam suasana canggung bersama gadis itu.


“Kenapa aku harus marah?”, jawab gadis itu. Pandangannya tak lepas dari majalah di tangannya. Tak berniat melirik pria itu.


Pria itu hanya membuang pasrah nafasnya. Niatnya mengajak gadis itu berbaikan, namun tak diindahkan. “Aku minta maaf jika memang dulu aku menyakitimu”, pria itu menarik nafas dalam. Dia mencoba merangkai kata untuk kembali membuka suara.


“Kau sudah tahu alasannya, mengapa aku melakukannya. Tidak bisakah kita menjadi teman! Dan berhentilah berpura-pura tak mengenalku, Min Aera”, lanjut pria itu kembali.


Gadis itu membuang kasar nafasnya. Dia menutup majalahnya. Meletakkannya begitu saja di meja. Dia ingin bersuara, namun suara lain di belakangnya menghentikan niatnya.


“Eonni, antar aku ke rumah imo”, So Hyun bersuara cukup lantang. Dia sudah siap dengan penampilannya. Kemeja putih polos yang dimasukan dalam rok hitam sebagai pakaian dalamnya. Dibungkus dengan blazer cream yang panjangnya hampir mencapai lututnya. Tas slempang juga bertender manis di tangan kanannya. Jangan lupakan heels berwarna senada dengan blazernya juga menghiasi kaki jenjangnya.


Sekretarisnya mengangkat alis. Sepertinya dia tak setuju dengan bosnya. “Kenapa harus aku?”.


“Dia ada pemotretan jika dia tidak lupa”, ucap So Hyun. “Imo ku yang cerewet itu mengirim jadwalnya padaku”, dia mengangkat ponselnya lalu menggoyangkannya. “Aku tak pernah bilang akan setuju menjadi istrinya. Untuk apa imo melakukannya. Ck. Menyebalkan”, gerutu So Hyun.


“Jimin-ssi. Kau bisa pergi sendirikan! Ini kunci mobilku, kau bisa memakainya”, So Hyun kembali bersuara namun ia tujukan untuk satu-satunya pria di ruangan itu. Dia juga melempar sembarang kunci mobilnya.


“Ayo eonni”, So Hyun menarik tangan sekretarisnya karena gadis itu tak kunjung mengikutinya.


“Untuk apa kita kesana?”, tanya sekretarisnya yang berjalan malas mengikuti So Hyun.


“Membatalkan perjodohan bodoh ini”, teriak So Hyun. Dia sengaja mengeraskan volume suaranya untuk membuat pria itu mendengar ucapannya.


“Memangnya kau bisa”, sekretarisnya kembali bersuara.


“Kita lihat saja nanti”, jawab So Hyun.


-o0o-


So Hyun memukul-memukul kecil kepalanya pada kaca pintu mobil. “Seharusnya aku tak datang tadi. Sial”, gerutunya di sela-sela kegiatannya.


“Berhentilah memukulkan kepalamu. Nanti sakit”, ucap sekretarisnya yang tengah fokus di kursi kemudi.


Ya, So Hyun kini dalam perjalanan pulang dari rumah bibinya. Niatnya menolak perjodohannya, namun yang diterimanya justru hal yang mengerikan untuknya. Pernikahannya di percepat. Dua minggu, waktu yang dia punya untuk menikmati masa bujangnya. Waktu yang cukup singkat sebelum dia melepas masa lajangnya.


“Aku sudah bilang kan tadi. Kau tak akan bisa”, sekretarisnya kembali berucap.


So Hyun sudah berhenti dari kegiatannya. Dia kini hanya pasrah, menyandarkan kepalanya pada kaca pintu mobil. Dia hanya mengangguk membenarkan perkataan sekretarisnya. Dia diam setelahnya, meratapi nasib buruk-menurutnya.


“Kita mau kemana?”, tanya So Hyun saat tahu skretarisnya membelokkan mobilnya. Jalan ke apartemennya seharusnya lurus saja.


“Ada pemotretan untuk katalog baru perusahaan. Karena kau tak jadi berangkat ke Paris, sebaiknya kau melihatnya”, jelas sekretarisnya.


So Hyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia sedang dalam mood yang buruk. Kesal, marah, kecewa semua bercampur menjadi satu dalam benaknya.


“Kau bersikeras ingin menolaknya. Bagaimana dengannya? Apa dia sependapat denganmu?”, sekretarisnya kembali bersuara, memecahkan keheningan di antara mereka.


So Hyun kembali menggeleng. Dia membenarkan posisi duduknya. “Dia tak sependapat denganku”, So Hyun membuang kasar nafasnya. “Katanya tak ada alasan untuk menolak perjodohan ini”, lanjut So Hyun kemudian.


“Tak ada alasan untuk menolak”, sekretarisnya kembali bersuara. Dia juga menirukan perkataan So Hyun.


So Hyun menggelengkan kepalanya mengingat percakapannya dengan pria itu pagi tadi. “Jangan bahas itu lagi. Kepalaku semakin bertambah pusing nanti”.


-o0o-


“Hyung. Mana Kinder Joy ku?”, tanya Jungkook sesaat setelah Jimin bergabung dengan mereka.


“Nanti setelah ini, kita pergi ke supermarket. Dan belilah sesukamu. Aku tak sempat mampir tadi”, jawab pria yang di panggil hyung oleh Jungkook.


“Aish, padahal aku sudah menunggunya”, keluh Jungkook.


“Kau baru datang?”, tanya pria yang biasa di panggil Namjoon oleh mereka. Dia baru datang dari ruang rias.


Jimin hanya mengangguk.


“Masuklah! Kau harus berganti pakaian”, lanjut Namjoon.


Jimin kembali mengangguk. Lalu berjalan menuju ruang yang di maksud Namjoon.


Ya, mereka kini berada di ruang tunggu sebari menunggu pemotretan di mulai. Semua sudah siap, hanya menunggu pria pendek yang baru datang tadi.


“Jungkook, bukankah dia gadis yang kemarin?”, kata Taehyung. Dia tak sengaja melihat ke arah dua orang gadis yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


Jungkook yang tadi sibuk dengan ponselnya mendongakkan kepalanya. Benar yang dikatakan Taehyung, itu gadis aneh yang menendangnya kemarin. Sebuah ide gila melintas begitu saja diotaknya. Dia segera berdiri, berjalan tergesa menghampiri gadis itu.


“Yak, Jungkook. Kau mau kemana?”, tanya Taehyung.


Jungkook tak memperdulikan perkataan rekannya. Dia terus saja berjalan menghampiri gadis itu. Dia masih sedikit sakit hati padanya.


So Hyun memang sedang berjalan pelan menuju tempat dimana akan di adakan pemotretan untuk katalog baru perusahaannya. Dia tak memandang depan, dia berjalan sambil menundukan kepalanya. Dia bahkan tak bisa menyamakan langkah sekretarisnya yang sudah jauh di depannya. Pikirannya sedang kacau, karena itu dia tak benar-benar memperhatikan jalan.


So Hyun juga tak sadar jika di depannya sudah berdiri seorang pria yang di kenal sebagai Jungkook. Dia menabrak begitu saja pria itu. Dia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung, hampir jatuh ke lantai. Namun, sebuah tangn berhasil menahan pinggangnya.


Dia mengangkat kepalanya. Melihat siapa yang tengah membantunya. Pandangan mereka saling bertemu untuk beberapa saat. So Hyun masih terpaku. Dia masih belum sadar dengan apa yang baru saja menimpanya.


“Depyonim”, teriak sekretarisnya. Dia yang tak sengaja menoleh, melihat kejadian itu. dia berteriak karena takut jika bosnya akan jatuh ke lantai.


Suara sekretarisnya menyadarkannya. Dia bermaksud berterima kasih pada pria itu. Saat dia akan bersuara, dia melihat seringai jahat dari wajah pria itu. “Terima kas….”, belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dia sudah merasakan lebih dulu kerasnya lantai yang dipijakinya.


Ya, Jungkook melepaskan tangannya dari pinggang So Hyun. Dia mengangkat kedua tangannya, “Sorry”, katanya sambil tersenyum jahat.


“Akh”, rintih So Hyun. Dia memegang pantatnya yang terasa sakit.


“Depyonim”, sekretarisnya kembali berteriak melihatnya. Dia berjalan cepat menghampiri So Hyun.


Jungkook mundur beberapa langkah untuk memberikan gadis itu ruang. Dia tersenyum senang karena dia berhasil membalas gadis itu.


“Jungkook apa yang kau lakukan!”, tanya Namjoon yang sudah berada di samping Jungkook. Dia diikuti oleh personil BTS lainnya.


“Kau baik-baik saja depyonim”, tanya sekretaris So Hyun. Dia membantunya berdiri.


So Hyun masih enggan menjawab. Dia masih mengusap pelan pantatnya yang sakit.


“Anda baik-baik saja nona?”, tanya Namjoon. Raut khawatir terpampang jelas di wajahnya.


So Hyun masih terdiam. Dia masih menikmati detik-detik kesakitannya.


“Apa yang sudah kau lakukan! Minta maaf padanya sekarang!”, perintah Namjoon dengan nada khasnya.


“Untuk apa aku meminta maaf. Dia yang memulainya”, jawab Jungkook. Dengan tampang tak berdosanya dia menolak.


Terjadi perdebatan kecil antara mereka. Jungkook yang masih kekeh dengan pendiriannya, juga Namjoon yang kekeh dengan perintahnya.


“Apa mereka artisnya?”, bisik So Hyun. Yang dijawab anggukan oleh sekretarisnya. So Hyun memejamkan matanya sebentar. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Sebenarnya dia tak benar-benar kesal dengan kejadian tadi. Hanya saja, karena dia dalam mood yang buruk semuanya menjadi buruk untuknya.


So Hyun melepas kepalan tangannya. Dia membuang kasar nafasnya. “Batalkan pemotretannya sekarang. Aku tak peduli dengan katalog atau apapun itu. Kalau perlu kau ganti saja artisnya”, ucapnya begitu saja. Terdengar nada kesal di setiap ucapannya.


“Tapi depyonim. Kita sudah….”, ucap sekretarisnya, terputus oleh suara So Hyun


“Aku tidak peduli”, ucap So Hyun lantang. Dia berjalan cepat meninggalkan mereka. Membuka salah satu ruang dan menutupnya dengan keras.


––




To Be Continue…..





Gimana menurut kalian?


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.