The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 26



Chapter 26


(Knowing)




Kau adalah matahari yang terbit lagi dalam hidupku


Aku sangat senang sampai aku tak bisa bernapas        




So Hyun melangkah pelan keluar supermarket dengan dua kantong penuh belanjaan. Dia baru saja menyelesaikan belanja bulanannya. Langkahnya begitu ringan telah menyelesaikan tugasnya.


Ini hari Minggu, itulah kenapa dia terlihat begitu santai. Terbebas dari pekerjaan kantor yang kadang membuatnya bosan, jika dia tak mengingat fakta bahwa di bawah kepemimpinananya, terdapat berarus-ratus orang yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya.


Dari arah lain dia mendengar teriakan sekumpulan gadis sambil berlari. Mereka seperti mengejar seseorang. Namun dengan acuh So Hyun menanggapinya. Dia memilih membuka pintu mobil dan menaruh barang yang dibelinya tadi di jok belakang mobilnya.


Senyum manis tampak mengembang dari bibirnya setelah menutup pintu. Dia mengingat sesuatu yang mungkin lupa terbeli. Dia mendengus kesal karena baru tersadar. Kenapa dia bisa lupa dengan benda itu?


Tungkainya kembali membawanya masuk ke supermarket tersebut. Dia sedikit lelah, tapi mau bagaimana lagi. Dia harus membeli benda itu jika tak ingin kesusahan saat butuh nanti. Di apartemennya sudah habis. Butuh lima belas menit untuknya kembali ke mobil. Antrian panjang di depan kasir memang menyita cukup banyak waktu.


Teriakan sekumpulan gadis kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Dia bisa melihat pria bermasker tengah dikejar sekumpulan gadis tersebut. Sepertinya pria itu seorang artis.


Netranya kembali menelisik keadaan sekitar. Dia tersenyum menemukan tempat yang bagus. Dia bersembunyi di balik dinding. Kadang mengintip melihat pria bermasker tersebut semakin mendekat.


Ketika sampai di dekatnya, So Hyun menarik lengan pria itu. Mengajaknya bersembunyi. Saat mendapat protes, dia memberikan isyarat untuk diam dengan meletakkan jari telunjukknya di depan mulutnya. Dia kembali mengintip ke arah sekumpulan gadis tersebut, mereka berlari ke arah lain. Dengusan lega terdengar dari hidung So Hyun.


“Kau sudah aman. Mereka sudah pergi,” ucapnya kemudian.


Pria itu masih terlihat terkejut. Matanya dikedipkan beberapa kali. Dia tak percaya jika dirinya baru saja diselamatkan. Apalagi Sang Penyelamat adalah gadis tak terduga. Gadis yang tak pernah ia sangka akan ditemuinya. “Kim daepyo,” gumamnya tanpa sadar.


“Iya. Kau mengenalku?” tanya So Hyun. Dia belum mengenali pria itu.


Pria itu melepas maskernya. “Ini saya, Taehyung,” jawab pria itu kemudian.


So Hyun mengangguk paham setelah melihat wajah pria itu. “Aa, Taehyung-ssi. Bagaimana bisa kau dikejar-kejar gadis-gadis itu?” Raut penuh tanya tergambar jelas di wajahnya. Dia memang cukup penasaran dengan apa yang baru saja menimpa pria itu.


“Aku ingin membeli sesuatu. Tak disangka mereka akan mengenaliku meski aku sudah mengenakan pakaian tertutup,” jelas Taehyung. Dia mengusap tengkuknya. Merasa sedikit malu tentu saja. Suasana canggung juga menyelimutinya.


“Tentu saja. Mereka bahkan mungkin mengenalimu meski kau berada di antara ribuan orang berdemo,” ujar So Hyun sedikit bercanda.


Taehyung hanya tersenyum canggung. Tak tahu harus merespon apa. Padahal biasanya dia selalu cerewet jika bersama rekan-rekannya. Namun entah mengapa bersama gadis yang sempat menarik perhatiannya, dia menjadi orang lain. Dan apa yang dilakukannya sekarang bukanlah gayanya.


“Karena kau sudah aman aku pergi dulu,” pamit So Hyun. Dia menunduk memberi salam sebelum melangkah.


Baru dua langkah dia kembali berbalik. “Kau bawa kendaraan kan?” tanyanya ragu.


Taehyung menggeleng. Dia memang tak membawa mobil. Tadi dia naik taksi yang dipesannya secara online.


“Kalau begitu ikutlah denganku! Aku akan mengantarmu,” tutur So Hyun dengan senyum mengembang. Dia tulus mengatakannya. Lagipula dia akan melewati tempat tinggal pria itu.


“Tidak usah, aku bisa naik taksi,” tolak Taehyung dengan nada halus.


“Kau ingin dikejar mereka lagi?” So Hyun menunjuk pada sekumpulan gadis yang kelihatan sedang bingung. Pasalnya, idol mereka menghilang entah ke mana. “Ikutlah! Mobilku ada di sana. Jika kau pikir akan merepotkan itu tidak mungkin. Lagipula apartemenku melewati tempat tinggalmu,” lanjutnya lagi.


Taehyung masih diam saat So Hyun sudah melangkah. Masih bimbang antara setuju atau tidak. Jika dia menolak, sembilan puluh persen kemungkinan dia akan di kejar-kejar penggemarnya kembali. Jika dia ikut? Tungkainya akhirnya membawanya menyusul gadis yang menenteng tas belanja. Entah apa isinya, karena memang tak terlihat.


So Hyun kembali tersenyum melihat pria bermasker itu membuka pintu mobilnya. Setelah memastikannya menutup pintu, dia baru memasuki mobilnya. Menyalakan mesin untuk meninggalkan basement supermarket tersebut.


Saat melewati sekumpulan gadis tadi, dia melihat Taehyung membungkukkan badanya. Pria itu takut ketahuan. Ya, kaca mobilnya memang dapat dilihat dari luar. Tak kurang dari tiga puluh detik mereka sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan.


Sepanjang perjalannya mereka hanya diam. So Hyun fokus dengan mengemudinya. Sedang Taehyung, entahlah! Dia menjadi pendiam bersama gadis yang dia tahu sudah menikah.


Jika membahas pernikahan, sebenarnya masih menjadi pertanyaan tentang siapa yang dinikahi gadis itu. Dia sangat yakin jika mendengar bibi gadis itu menyebut nama Jimin. Meski dia tak yakin apa itu rekannya atau bukan.


Sesekali dia mencuri pandang pada gadis yang tengah fokus menyetir. Mulutnya ingin berucap, namun kembali tertutup. Dia berkali-kali berfikir ulang untuk membuka suara.


Dia takut jika menyinggung perasaan gadis itu. Mereka kan tidak sedekat itu untuk saling tahu masalah pribadi. Sepertinya dia harus menelannya kembali. Ya, hanya itu pilihan yang tepat meski harus menyimpan tanda tanya besar.


“Kenapa? Ada yang aneh denganku?” tanya So Hyun yang sadar jika dirinya sedang diperhatikan.


Taehyung yang ketahuan membuang muka. Dia tersenyum canggung kemudian. Bukan maksudnya seperti itu sebenarnya.


“Aku tahu, kau pasti memiliki pertanyaan untukku,” ujar So Hyun kembali dengan pandangan masih terfokus pada jalan.


“Dari mana kau tahu?” ucap Taehyung tanpa sadar.


So Hyun hanya menanggapinya dengan senyum. Saat dia akan membuka mulutnya, suara deringan telfon memecah konsentrasinya.


Jimin oppa adalah nama yang tertera di layar dalam mobil tersebut. Ada sedikit keraguan saat akan mengangkatnya. Entah kenapa? Mungkin karena ada orang lain yang duduk dalam mobilnya.


“Aku akan mengangkat telfon dulu,” izin So Hyun. Dia menggeser ikon hijau di layar tersebut.


“Yeobseyo,” kata So Hyun membuka percakapan.


“Sayang, kau lihat flashdiskku tidak? Yang kemarin ada di dalam saku celana,” suara khas suaminya langsung terdengar memenuhi mobil tersebut.


So Hyun tersenyum miring. Pria itu berkata seolah baru kemarin pulang ke apartemennya. “Kemarin yang mana? Kau sudah lima hari tidak pulang.”


“Kau benar.” Terdengar kekehan dari seberang sana. “Yang terakhir.”


Untuk beberapa detik hening di seberang sana. Mungkin pria itu sedang menuju tempat yang disebutkan So Hyun tadi. “Iya, sudah ketemu. Terimakasih, sayang.”


“Eoh,” kata So Hyun.


“Tunggu.”


“Apa lagi?” jawab So Hyun sedikit kesal. Dia sudah akan menekan ikon pada layar dalam mobilnya.


“Kau di mana sekarang? Jangan bilang kalau kau belum pulang dari Paris? Aku mengizinkanmu ke sana karena kau bilang ada janji dengan pamanmu. Kau tidak menemui pria itu lagi kan?”


“Pria itu siapa? Dia punya nama,” jawab So Hyun dengan dengusan kesal.


“Mantan kekasihmu itu. Kenapa dia harus memiliki marga yang sama denganku?”


“Jackson maksudmu. Aku memang menemuinya.”


Hening kembali terjadi. Pria itu tak lagi mengeluarkan kalimatnya. Hal ini membuat So Hyun sedikit khawatir.


“Jangan lupakan jika dia itu dokterku. Ada beberapa hal yang perlu aku konsultasikan dengannya. Itulah mengapa aku menemuinya.”


“Kenapa? Penyakitmu kambuh lagi?” Bukan nada marah yang terdengar, lebih kepada nada khawatir.


So Hyun melirik sekilas pada pria yang duduk di sampingnya. “Akan aku beritahu saat ketemu nanti. Aku sedang menyetir sekarang.”


“Kenapa tidak bilang dari tadi? Ya sudah. Hati-hati.”


“Emh.” Itu adalah kalimat penutup sebelum So Hyun memutuskan sambungannya. Rasanya aneh ada yang mendengar percakapannya. Tapi mau bagaimana lagi?


“Itu suara Jimin kan?” tanya Taehyung sedikit ragu. Dia sangat hafal suara bass milik rekannya itu.


So Hyun mengangguk. “Bukankah kau sudah tahu.”


“Jadi benar ya, kalau itu Jimin,” guman Taehyung tanpa sadar. Pikirannya masih terfokus pada apa yang didengarnya waktu itu.


“Tunggu, maksudmu?” ucap Taehyung yang baru tersadar dengan apa yang So Hyun katakan.


“Bukankah kau sudah mendengarnya di hari itu? Mungkin tidak semua. Tapi aku yakin kau mendengar saat Imo menyinggung pernikahanku,” jelas So Hyun.


Taehyung membulatkan mata mendengarnya. Dia menatap So Hyun tajam seolah minta penjelasan. “Kau tahu jika aku mendengarnya?”


So Hyun kembali tersenyum. Mengangguk kemudian.


“Maaf, aku tidak bermaksud menguping.” Taehyung menundukkan wajahnya. Dia sedikit malu perbuatannya diketahui.


“Aku tahu. Kau memang baru keluar dari kamar mandi.”


Lagi, pernyataan So Hyun membuat pria bermarga Kim itu mengangkat alis. Gadis itu benar-benar seperti peramal yang tahu segalanya.


“Awalnya aku juga tak menyangka jika akan ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku mengetahuinya dari CCTV. Aku berencana menghapus kejadian yang merekam percakapanku dengan Imo. Tak disangka aku menemukan rekamanmu yang bersembunyi di balik dinding,” jelas So Hyun lagi.


Taehyung mengangguk paham. Tentu saja dengan mudah gadis itu bisa mengakses rekaman CCTV. Dia baru teringat jika kala itu ada di perusahaan gadis yang masih terfokus dengan kegiatannya, menyetir. Dia juga tersenyum mengutuki kebodohannya dengan menyebut gadis itu seperti peramal.


“Kita sudah sampai,” ucap So Hyun setelah menghentikan mobilnya.


“Terimakasih sudah mengantarku. Dan maaf atas kejadian waktu itu.” Taehyung menunduk memberi salam. Tangannya sudah terulur akan membuka pintu mobil. Namun perkataan So Hyun menghentikannya.


“Berjanjilah satu hal. Jangan ceritakan apapun yang kau dengar. Terutama pada Jimin.” So Hyun sedikit menekankan suaranya saat dia menyebut nama pria yang sudah resmi menjadi suaminya.


“Aku mengerti,” jawab Taehyung disertai anggukan. “Mungkinkah kau sedang mempertimbangkan saran bibimu?” ada nada penuh keraguan di setiap ucapannya.


“Kalau dulu iya. Sekarang tidak lagi. Aku akan mempertahankannya, apapun yang terjadi.” Masih dengan senyum So Hyun menjawabnya.


“Kau menyukainya?”


“Tidak ada yang bisa menolak pesonanya.”


Taehyung ikut tersenyum. “Kau benar. Jika aku perempuan, aku juga akan menyukainya.”


Mereka berdua sama-sama tertawa. Tidak disangka, jika mereka akan memiliki pemikiran yang sama.


“Sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan dan mengantarku. Aku merasa tak enak sudah merepotkamu Kim daepyo,” pamit Taehyung kembali.


“Tidak masalah. Salam untuk Jungkook ya.”


“Iya.” Taehyung melambaikan tangannya setelah menutup pintu. “Hati-hati,” tuturnya lagi.


So Hyun hanya tersenyum. Dia kembali melajukan mobilnya. Melakukan kegiatan awalnya, pulang ke apartemen.


🌼🌼🌼


To Be Continue...


🌼🌼🌼


Huft... Akhirnya Taehyung tau😆


Jangan lupa tinggalkan jejaknya.


Terima kasih sudah mau membaca cerita gaje ini😊😊


LIKE COMMENTNYA!! WAJIB!!


SEE YOU.