The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 33



BUDAYAKAN VOTE, LIKE COMMENT SEBELUM MEMBACA!!


***


**Chapter 33


(Miscarriage)


Siap-siap bawa tisu ya.


JANGAN BULLY AUTHOR YA PEMBACA ๐Ÿ˜Š


Sorry for typo.


Happy reading**.


_


_


kapanpun, selalu, aku milikmu


Aku ada di sampingmu untuk


memberikanmu pelukan


_


_


Jungkook kembali menghembuskan nafas. Rasanya begitu berat. Mengingat apa alasan dia datang ke tempat itu. Dia ingin meluruskan masalahnya. Harus, atau rasa bersalah akan selalu menggerogotinya.


Dia sekarang berada di depan apartemen sekretaris sahabatnya. Setelah tadi merengek meminta alamat gadis itu dari sahabatnya. Dan terpaksa dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya demi alamat tersebut. Dia bahkan dapat nomor telfonnya.


Dengan memantapkan hati dia menekan bel. Cukup lama menunggu tak ada tanda-tanda pintu terbuka. Lagi dia menekan bel tersebut. Tak ada sahutan. Dia bahkan mengentuk pintunya. Namun nihil tak ada tanggapan. Mungkin gadis itu tidak ada di apartemennya. Pemikirannya mulai bersuara.


"Kau siapa?"


Suara yang tak asing memenuhi pendengarannya. Jungkook menoleh. Bernafas lega karena pemilik apartemen tersebut telah kembali. Dia membuka maskernya. "Ini aku, Jungkook."


Helaan nafas kasar keluar dari hidung gadis itu. Wajahnya berubah masam. Dia selalu berusaha untuk menghindari pria itu. Namun tanpa diduganya justru pria itu datang mencarinya. "Untuk apa kemari?" ucap gadis itu dengan nada ketusnya.


"Aku mau minta maaf."


Gadis itu memutar malas bola matanya. Dengusan kesal kembali terdengar. "Sudah aku bilang untuk melupakan kejadian itu."


"Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja rasa itu tak hilang


Gadis itu kembali menghela nafas. Dia bisa melihat kantung hitam di bawah mata pria itu. Pria itu pasti kurang tidur. Meski dia tak yakin penyebabnya. Entah karena masalah dengannya atau memang karena pekerjaannya.


"Itu urusanmu." Setelah mengatakannya, gadis itu beralih menuju pintu apartemennya. Memasukkan kata sandi. Membuka pintu dengan cepat. Saat akan menutupnya, pria itu menghalanginya.


"Apa lagi?" protes gadis itu


"Bantu aku?"


"Bantu apa?"


"Menghilangkannya."


Gadis itu kembali mendengus kesal. Rasa iba melihat wajah memelas pria itu, datang. Dia benci dirinya, kenapa harus menjadi gadis baik. "Bagaimana caranya?"


"Ikutlah denganku?"


"Kemana?"


"Ikut saja." Tanpa meminta persetujuan, pria itu langsung menarik tangan gadis tadi. Menaiki lift hingga membawanya ke tempat di mana dia memarkirkan mobilnya. Membukakan pintu penumpang, sebelum mempersilahkan gadis itu masuk. Melajukan mobilnya kemudian. Dia menghentikan mobilnya di sebuah retoran tradisional.


Tidak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan. Bahkan saat menu mereka datang, mereka masih diam seribu bahasa. Memilih mengambil sumpit untuk makan.


Gadis itu bosan dengan situasinya. Sesekali dia melirik ke arah pria yang sibuk dengan makanannya. Dia berinisiatif membuka suara. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepalanya.


"Dari mana kau tahu alamatku?"


"Dari mana kau tahu alamatku?"


Pria itu mengangkat kepala. Menelan makannya. "Aku meminta pada So Hyun."


"Kenapa dia memberitahukannya?" ujar gadis itu dengan nada lirih


"Aku yang memaksanya." Sepertinya pria itu mendengar gumamannya. Terbukti dengan jawaban yang baru saja pria itu utarakan.


"Kau menceritakannya?"


"Iya. Aku tak punya pilihan. Dia tak akan memberikannya jika tak tahu masalahnya."


Gadis itu membuang muka. Dia akan malu setelah ini


"Maaf."


"Behentilah mengatakan kalimat itu." Gadis itu kembali menghela nafas. Masih dengan marah Aera memakan makanannya.


Mereka kembali terdiam. Sibuk dengan makanan juga merasa canggung. Mereka terlihat seperti pasangan yang tengah marahan. Meski sebenarnya suasana canggung yang lebih mendominasi


"Apa yang membuatmu begitu merasa bersalah?" tanva Aera kembali membuka suara.


Jungkook tampak berfikir. Dia memang tak tahu pasti kenapa dia merasa gelisah setelah kesalahannya malam itu. Dia menelan makanannya sebelum menjawab. "Karena aku sudah merebut pengalaman pertamamu," tuturnya sambil membuang muka.


Ya, mungkin memang karena itu rasa bersalahnya begitu besar. "Begitu juga denganku." Ada jeda cukup panjang sebelum Jungkook mengucapkan itu.


"Uhuk, uhuk." Aera tersedak mendengar penuturan terakhir Jungkook. Jadi karena itu. Pantas saja pria itu terlihat begitu bersalah.


Jungkook menyodorkan minumannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian setelah. Aera menerima minumannya. Aera hanya mengangguk setelah minum


-00o-


"Daepyonim tunggu di depan ya. Aku mau mengambil mobil dulu," ucap sekretaris Min setelah pintu lift terbuka.


So Hyun hanya mengangguk segera saja dia meninggalkan gadis vang sudah setahun ini menjadi sekretarisnya. Pintu lift kembali tertutup, menyisakan Aera seorang diri. Dia memang sedang dalam pejalanan pulang, setelah seharian berkutat mengatur ini itu untuk Sang Atasan.


Wajahnya terlihat lelah. Hari ini memang akhir pekan, itulah kenapa tugasnya bertambah mengingat besok akan libur. Ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Lee daepyo yang tak lain adalah sepupu atasannya tertulis di layar.


"Yeobseyo," ucapnya membuka pembicaraan.


"Lindungi So Hyun. Jangan sampai dia tertangkap fansnya Jimin."


Suara keras itu langsung menyambut pendengaran Aera. Dia membulatkan mata. Kaget tentu saja. "Kenapa?"


"Foto pernikahannya bocor."


"Iya, saya mengerti." Setelah mengatakan itu. Aera menutup panggilannya. Secepat mungkin dia menyusul ke tempat di mana bosnya berada. Dia juga menghubungi seseorang sebelum terlambat.


"Yeobseyo. Timjangnim, tolong bawa Kim dapyo masuk. Dia ada di depan kantor, cepat. Aku segera ke sana."


Tanpa menunggu reaksi Sang Penerima telfon Aera sudah mematikan ponselnya. Dengan gelisah dia membuka pintu lift. Sepertinya keberuntungan tak berpihak padanya, cukup lama dia menunggu pintu itu tak kunjung terbuka.


Dengan nafas terengan dia akhirnya berhasil. Kembali melangkah cepat. Dia berpapasan dengan pria yang ditelfonnya tadi di depan lift.


"Sekretaris Min, sebenarnya ada apa?" tanya pria itu dengan wajah paniknya.


"Kenapa kau masih di sini?" tanya Aera dengan nada sedikit tinggi.


"Aku masih di ruangku saat kau menelfonku tadi"


"Aish, sial." Aera mengumpat kesal. Tanpa mengajak pria itu dia kembali melangkah. Cukup tergesa, hingga menimbulkan banyak pertanvaan di benak Sang Pria. Dia mengikutinya akhirnya.


Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai depan kantor, mengingat betapa luasnya bangunan tersebut. Terlambat. Dia sudah melihat banyak gadis berkumpul di sana. Seperti tengah menganiaya seseorang, Terbukti dengan umpatan keras vang terdengar. Aera membulatkan mata. Jangan bilang jika itu adalah bosnya.


"Tidak, daepyonim." Sambil berteriak dia menuju ke kumpulan gadis tersebut.


"Berhenti." Lagi, Aera berteriak. Nafasnya memburu


Berhasil, sekumpulan gadis itu berhenti dari aktivitasnya menatap tajam ke arah Aera.


Aera tak memperdulikan tatapan tajamtersebut. Dengan panik dia mencoba menembus sekumpulan gadis tersebut. Tubuhnya bergetar melihat atasannya tengah berbaring di tengah kerumunan tersebut. Tubuhnya lemas dan jatuh terduduk di samping atasannya.


Baju yang dikenakan atasannya sudah kotor. Ditambah wajah manisnya vang kini penuh luka. Tangannya terulur mengangkat kepala atasannya. "Daepyonim, bangun. Kau baik- baik saja kan." Air matanya tumpah, dia tak kuat menahannya. Dia merasa sangat bersalah karena gagal melindungi gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya.


Tak ada respon. Atasannya masih memejamkan mata. Tepukan di pipi juga berkali-kali dilakukannya, berharap Sang Atasan akan tersadar. "Daepyonim, daepyonim." Panggilan juga berkali- kali dilakukannya. Juga untuk membuat atasannya tersadar.


"Daepyonim." Pria yang tadi mengikuti Aera berteriak. Langsung terduduk di samping So Hyun. Raut kaget terlihat jelas di wajahnya.


"Panggil 119. Cepat," perintah Aera. Dia sedang berusaha membuat atasannya


bangun.


Pria itu mengikuti perintah Aera. Dengan cepat tangannya merogoh kantung celananya. Mengambil ponsel untuk menghubungi 119


"Akh"


Samar, Aera mendengar rintihan So Hyun. "Daepyonim." Masih dengan air mata yang mengalir Aera berucap.


"Sakit," gumam So Hyun pelan sambil memegang perutnya.


"Apa yang sakit? Katakan, Daepyonim." Masih dengan memangku kepala atasannya, Aera berujar.


"Akh. Perutku sakit," ujar So Hyun dengan terbata. Tangannya masih setia memegang perutnya.


"Rasakan itu. Itu akibat sudah mengganggu oppa kami." Salah seorang gadis itu berteriak memaki. "Iya, rasakan itu," sahut gadis yang lain. Lalu diikuti beberepa gadis di sampingnya. Gadis-gadis itu memang masih berkerumun di pinggirnya.


"Diam!" pria itu berteriak cukup lantang. Dia tak tahan melihat ocehan gadis yang diyakini masih memakai seragam SMA itu. "Kalian tak lihat di sudah tak berdaya," lanjutnya kemudian.


"Aku akan menuntut kalian semua jika terjadi sesuatu padanya," tutur Aera masih dengan air mata yang mengalir. Hatinya sudah hancur melihat keadaan atasannya. Semakin hancur mendengar umpatan-umpatan tak suka dari gadis-gadis tersebut.


-00o-


Sepanjang perjalannyanya menuju ruang pemeriksaan Aera masih menangis. Tangannya menggenggam erat tangan So Hyun. Dia memang ikut lari, mengimbangi ranjang yang didorong, tempat di mana atasannya tengah berbaring. Kalimat doa selalu dialantukan dalam hati. Berharap sesuatu yang buruk tidak akan menimpa bosnya.


Dia dilarang masuk oleh perawat di depan pintu yang bertuliskan UGD. Dia hanya bisa menatap nanar pintu itu. Di belakangnya ada pria yang tadi menemaninya. Yoon Jaewoon.


"Tuhan, semoga dia baik-baik saja. Aku mohon." Berkali-kali Aera mengucapkan kalimat itu sambil berjalan mondar mandir


"Sekretaris Min, daepyonim pasti baik- baik saja. Tenanglah!" Tepukan pelan di pundak Aera ia berikan. Pria itu tahu betapa paniknya gadis itu. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya juga. Tapi dia berusaha mengusai diri agar terlihat tenang.


"Bagiamana aku bisa tenang? Dia mengeluhkan perutnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayinya," jawab Aera masih dengan tangisan.


"Bayi?" pria itu megulang satu kata yang membuatnya terkejut.


Aera hanya bisa mengangguk. Pria itu memang belum tahu perihal pernikahan atasannya. "Dia sedang hamil."


Dari arah lain seorang pria tengah berlari ke arah mereka. Berpakaian tertutup, karena memakai masker dan topi. "Aera-ya, di mana So Hyun?" panggil pria itu sambil melepaskan masker dan topinya.


"Jimin-ah." Aera menoleh. "Dia masih di dalam. Dokter belum selesai memeriksanya"


Pria vang dikenal sebagai timjangnim di perusahaan So Hyun juga ikut menoleh. Dia sedikit terkejut mengetahui Si Pria yang memanggil sekretaris atasannya dengan panggilan akrab. Artis papan atas yang tengah naik daun.


Tunggu! Sebenarnya apa hubungan mereka? Bermacam pertanyaan muncul di kepala pintarnya. Sampai dia tak sengaja melihat benda mengkilap di jari manis artis tersebut. Coraknya sama dengan milik atasannya.


Sekarang dia tahu, jika atasannya sedang hamil kemungkinan besarnya mereka sudah menikah. Tapi kapan? Dia mulai paham, mereka pasti harus menyembunyikan pernikahan tersebut mengingat pekerjaan yang dimiliki Sang Artis. Jadi gadis-gadis yang tadi menyerang bosnya adalah fans dari pria artis tersebut.


"Maafkan aku. Aku gagal menjaganya." Masih dengan sedikit isakan Aera berucap.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri," jawab Jimin


Tepat setelah itu, pintu ruangan terbuka. Menampakkan seorang dokter cantik dengan pakaian dan jas yang pas di tubuhnya. Mereka bertiga mendekat.


"Bagaimana keadaan So Hyun, Dokter?" Suara Jimin adalah yang pertama terdengar.


"Dia baik-baik saja," ucap Sang Dokter.


"Syukurlah!" Aera dapat bernafas lega mendengarnya. Begitu juga dengan dua pria di sebelahnya.


"Tapi..." Ada nada keraguan di kalimat dokter tersebut. "...dia kehilangan bayinya. Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkฤฑn."


Ucapan itu terdengar seperti petir yang menyambar di cuaca cerah. Bahkan Aera limbung. Jika Yoon timjangnim memegangnya, mungkin dia sudah jatuh ke lantai. "Tidak mungkin," kata Aera. Air mata yang tadinya sudah mengering kini mengalir kembali. Tangisannya kembali pecah.


Jimin, jangan tanya keadaannya. Dia lebih dari sekedar hancur. Wanitanya baik baik saja saat akan berangkat tadi. Bahkan dia memberinya ciuman mesra sebelum meninggalkan apartemen. Tapi kini, dia harus mendengar kabar buruk. Bukan hanya istrinya yang dalam keadaan sakit, tapi dia juga harus kehilangan calon anaknya.


"Yang sabar ya." Tepukan pelan di bahu Jimin dokter itu berikan. "Saya permisi dulu. Anda bisa melihat keadaannya."


"Terimakasih, Dokter," ucap Jimin susah payah setelah bisa mengontrol diri.


Dia memasuki ruang tersebut yang diikuti kedua orang di belakangnya. Tubuhnya mulai bergetar. perasaan campur aduk mulai menghinggapinya.


Usapan lembut di puncak kepala ia berikan tatkala dia sudah berada di samping ranjang istrinya. Perasaan bersalah mulai menyerang. Terlalu kuat hingga mampu mencabik setiap bagian hatinya. Bertambah perih melihat luka di wajah istrinya.


Wajahnya pucat. Keningya di balut kasa. Belum lagi luka lebam di sudut bibir dan juga pelipisnya. "Maafkan aku," gumamnya pelan. Dia mendudukan diri di kursi. Menggenggam erat tangan mungil istrinya.


"Daepyonim, maafkan aku," tutur Aera yang masih terisak. Dia berbalik tak kuasa melihat keadaan bosnya. Di belakangnya secara sigap Yoon timjangnim memeluknya. Mencoba menenangkan rekannya. Dia cukup mengenal gadis itu. Tiga tahun menjadi rekan kerja, membuatnya sedikit tahu sisi kehidupan gadis tersebut.


๐Ÿ’œ


๐Ÿ’œ


To Be Continue...


๐Ÿ’œ


๐Ÿ’œ


Bagaimana chapter ini? Mampukah menggetarkan hati kalian๐Ÿคง๐Ÿคง


Maafkan authornya yang suka mengacak-acak hati kalian ketika membaca ini๐Ÿ˜๐Ÿ’œ


Jangan lupa tinggalkan jejak!!


VOTE COMMENT WAJIB!!


Ada yang kepo endingnya? Apakah akan sad ending atau happy ending? Kalau banyak yang kepo, nanti aku beritahu di part selanjutnya ๐Ÿ˜‰