The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Episode 42



***


**Chapter 42


( I'm Fine and Come Back**)


__


__


Aku baik-baik saja, meski mimpi buruk ini terulang.


Ditemani cahaya bulan yang menakjubkan, aku akan datang menemuimu


__


__


So Hyun tersenyum senang melihat hasil masakannya. Dia memang sedang menyiapkan makan siang. Masih dengan mengenakan apron, dia meletakkan sepanci jjampong yang sudah matang. Sebari menunggu putranya datang, dia mengambil air untuk dituang di gelas. Merasa ada yang kurang, So Hyun kembali membuka kulkas. Kimchi wajib ada di setiap momen makannya. Selain suami, putra kecilnya juga suka. Jika tak ada makanan satu itu, pria kecil bernama Jungkook itu pasti merengek tak mau makan.


Dari arah lain, putranya datang dengan sedikit berlari. Dia memeluk kaki So Hyun. kedua tangan Jungkook menarik aproh yang dikenakan ibunya.


“Eomma, aku mau makan jjajamyeon.” Dengan nada merengek, Jungkook berkata. Tarikan halus kembali dia lakukan.


So Hyun melepas tangan putranya. Dia menunduk, berusaha menyamakan tinggi putranya. “Tadi Jungkook bilang ingin makan jjampong. Itu sudah matang.” Usapan lembut ia berikan di puncak kepala Jungkook.


“Tadi iya. Sekarang tidak lagi. Jungkook mau makan jjajamyeon.” Masih dengan nada merengek Jungkook berucap. Menggembungkan pipi. Juga menggelengkan kepala. Khas dia aat menginginkan sesuatu.


“Ya sudah. Kita pesan saja.” So Hyun mencubit pelan hidung putranya.


“Shireo. Aku ingin Eomma yang memasaknya.”


“Ada apa?” Suara berat Jimin terdengar. Dia datang membawa serta Mongsuk di gendongannya.


“Tadi dia minta jjampong. Setelah matang, dia ganti minta jjajamyeon,” jelas So Hyun. Dia sudah berdiri menerima Mongsuk.


“Pesan saja,” ujar Jimin lagi.


So Hyun memberi isyarat untuk menanyakan pada putranya.


“Mau appa pesankan?” Jimin berjongkok. Dia juga memenepuk pelan pundak putranya.


“Shireo. Aku ingin eomma yang memasaknya.” Jungkook mengulang jawaban yang sama, dengan apa yang tadi dikatakan pada ibunya. Tangannya dilipat di depan dada. Pandangannya ia alihkan ke samping, seolah enggan menatap ayahnya.


“Tapi sayang, eomma sudah lelah memasak jjampong untukmu. Kau mau menyuruhnya memasak lagi?” tutur Jimin dengan nada lembut. Dia juga mengusap pelan puncak kepala Jungkook.


Jungkook mendudukan dirinya di lantai. Kakinya ditendang-tendangkan kesembarang arah. Dia juga merengek tanda tak mau. “Shireo. Shireo. Shireo. Aku ingin makan masakan eomma. Pokoknya harus eomma yang memasak,” kata Jungkook. Nadanya begitu keras hingga memenuhi ruang berdominasi warna putih tersebut.


So Hyun tak tega melihat. Dia menurunkan Mongsuk. Mendekat kearah Jungkook. “Iya, eomma akan masakan. Sekarang Jungkook berdiri.”


“Emmh.” Dengan cepat Jungkook berdiri. Kembali memeluk kaki ibunya. “Gomawo, Eomma.” Senyum lebar terlihat jelas di wajahnya.


Jimin melipat tangan di depan dada. Tersenyum mengejek. Dia juga menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan tingkan rewel putranya.


“Sekarang Jungkook ajak Mongsuk bermain. Nanti eomma panggil setelah matang.”


Jungkook mengangguk cepat. Tungkainya meninggalkan dapur setelah menggendong anjing keluarganya.


“Mau aku bantu?” tawar Jimin.


“Kupaskan bawang,” jawab So Hyun yang sedang mengambil bahan di kulkas.


Jimin mengambil pisau. Tangannya terulur menarik bawang yang ada di depannya.


“Di mana aku meletakkan sausnya?” So Hyun kembali meneliti setiap sudut kulkas. Ketemu, hanya saja sudah habis.


“Oppa, aku ke minimarket sebentar. Chunjangnya habis.” So Hyun melepas apron. Menyampirkannya di sandaran kursi.


“Chunjang?” ulang Jimin tak paham.


“Saus jjajamyeon.”


Jimin mengangguk paham. “Mau aku belikan?”


“Tidak usah. Kupaskan saja kentangnya, setelah itu potong dadu.”


Jimin mengangguk disertai senyuman. “Hati-hati,” teriaknya setelah So Hyun meninggalkan dapur. Dia hanya mendengar gumaman dari mulut istrinya.


-o0o-


Meski sedikit menguras tenaga, So Hyun memilih berjalan kaki. Jarak rumah dan minimarket memang terbilang dekat. Di tangannya membawa sekantong palstik belanjaan. Langkahnya terlihat santai. Dia berhenti melihat sekumpulan gadis berjalan kearahnya. Dia berbalik bermaksud pergi. Namun, di belakang dia juga sudah dihadang. Dia hanya bisa diam sambil berjalan mundur.


“So Hyun-ssi.” Teriakan beberapa gadis terdengar, setelah mereka berkumpul.


“Kalian mau apa?” tanyanya ragu. Jantungnya mulai berdetak tak normal. Dia sedikit gugup. Takut, jika kejadian setahun lalu terulang lagi. Dia bisa menebak jika gadis-gadis itu adalah fans dari suaminya.


Mereka masih berjalan mengerumuni So Hyun. Dia sudah tak dapat berjalan mundur. Punggungnya sudah membentur tiang lampu penerang jalan.


“Jangan khawatir! Kami tidak akan menyakiti Anda. Kami hanya ingin minta maaf.” Salah seorang dari mereka bersuara. Mungkin pimpinan grup. Terlihat dari wibawanya ketika bersuara.


“Jeosonghamnida,” ucap mereka semua sambil membungkuk.


So Hyun hanya menatap tak percaya. Dia mengedipkan mata dengan cepat. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja dialami.


“Kami minta maaf atas kejadian waktu itu. Gara-gara kami, Anda harus kehilangan bayi. Sekali lagi kami minta maaf.” Gadis lain kini berucap. Dan sekali lagi, mereka membungkuk sambil berkata maaf.


So Hyun bingung harus merespon apa. Dia hanya bisa mengangguk. Sambil bergumam tanda iya.


“Anda terlihat cantik jika dari dekat,” ucap salah seorang dari mereka.


“Tolong, jaga oppa kami.” Salah seorang lagi menyahut.


“Semoga kalian bahagia.”


“Kami harap dia mau kembali.”


Masih banyak ucapan dukungan yang So Hyun dengar. Sampai-sampai dia tak bisa mengulang jika harus bercerita.


-o0o-


“Kenapa lama?” tanya suaminya yang baru datang.


So Hyun belum menjawab. Dia masih sibuk memakai apron. Terasa sulit, jika saja suaminya tak membantu. “Gomawo,” ucapnya dengan senyum. Dia mengambil pisau untuk mengiris bawang bombai yang tadi dikupaskan suami.


Baru teriris setengah, So Hyun menoleh. menatap kearah suami yang masih berdiri di sampingnya. “Kau pasti terkejut jika tahu apa yang baru saja kualami.” So Hyun tersenyum, kembali melanjutkan kegiatannya mengiris bawang bombai.


“Apa itu?”


“Aku bertemu fanmu,” ujar So Hyun tanpa menoleh. Tangannya sudah beralih memotong daging.


Raut khawatir tergambar jelas di wajah Jimin. Dia menghentikan kegiatan istrinya. Memandangnya lekat. Meneliti setiap bagian tubuh. “Kau baik-baik saja. Mereka tidak melukaimu?” Rentetan pertanyaan ia layangkan sebagai bentuk rasa khawatir.


So Hyun kembali tersenyum. Dia mencoba melepaskan tangan suaminya. “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” ujarnya mencoba meyakinkan. Tangannya kembali memotong daging. Yang kemudian diganti dengan zukini. “Mereka hanya minta maaf,” lanjutnya kembali.


“Benarkah!”


“Emh.” So Hyun mengangguk. Dia mengambil wajan. Mengisinya dengan minyak. Baru kemudian menyalakan kompor. “Dan juga…” So Hyun beralih menatap suaminya. “…mereka ingin kau kembali,” lanjutnya. Dia memasukkan saus jjajamyeon. Mengaduknya secara halus.


“Seperti itukah!”


So Hyun mengangguk. Netranya masih terfokus pada saus jjajamyeon. Setelah cukup mendidih. Dia menuangkan ke dalam mangkok. Kembali menaruh wajan di atas kompor. Memasukkan sesendok minyak goreng. Setelah dirasa panas, dia memasukkan irisan bawang bombai. Menumisnya hingga harum. Potongan daging, kentang serta zukini dimasukkan kemudian. Diaduk sebentar untuk meratakan matangnya.


Dia beralih menatap suaminya. Tatapan suaminya sedikit kosong. Sepertinya tengah memikirkan ucapannya. “Kembalilah, jika kau ingin kembali.” Tangannya menggenggam erat tangan suami. “Sebenarnya, aku ingin melihatmu bernyanyi lagi.” So Hyun kembali mengaduk masakannya.


Jimin memandang aneh kearah So Hyun. Setiap gerak dari istrinya, tak luput dari mata tajam itu. Tangannya terulur manarik pinggah So Hyun. Dia memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di puncak kepala So Hyun. “Haruskah?” gumamnya kemudian.


So Hyun sempat kaget. Dia mengaduk kembali masakannya, setelah berhasil menguasai diri. “Iya. Semua orang menunggumu. Jungkook pasti senang jika ayahnya tampil di TV,” tutur So Hyun.


“Aku mengerti. Sepertinya aku memang harus kembali.”


So Hyun melepaskan pelukan Jimin. Dia berbalik. Tersenyum lebar padanya. berjinjit untuk mengecup ringan bibir suaminya. “Aku menantikannya. Sekarang temani Jungkook, kau menganggu pekerjaanku.” So Hyun segera berbalik. Masakannya sudah matang. Langkah selanjutnya, dia memasukkan saus jjajamyeon. Mengaduk hingga tercampur rata. Menambahkan air sagu kemudian. Dibiarkannya hingga mendidih.


Jimin mendengus kesal. Pada akhirnya, dia hanya berbalik mengikuti perkataan istrinya.


So Hyun tersenyum disela kegiatan. Senang karena suaminya menjadi penurut. Dia mengaduk kembali masakannya.


-o0o-


Ruang rapat itu sudah dipenuhi kru serta personil BTS. Mereka akan meeting membahas konsep serta keperluan lain untuk album terbarunya. Kurang dari tiga menit rapat akan digelar, namun sang pimpinan rapat belum juga hadir. Menunggu, hanya itulah yang bisa mereka lakukan.


Suara pintu terbuka terdengar, sepuluh menit kemudian. Wajah bahagia bisa dijumpai hampir di setiap orang yang berada di sana. Sang pimpinan rapat datang dengan sikap percaya diri. Meski sebenarnya sedikit terlambat, dia enggan berucap maaf. Dia duduk di kursi kebesarannya. Meeting pun segera digelar.


Ketua tim penanggung jawab segera membuka. Terhenti saat akan menjelaskan konsepnya. Sang pimpinan rapat memang memberi isyarat untuk berhenti.


“Kita akan menambah personil,” ujar sang pimpinan.


Mereka semua terkejut. Ini merupakan hal tak terduga. Mereka saling berbisik tanda tak suka.


“Silahkan masuk,” teriak sang pimpinan.


Tak lama kemudian, pintu rapat kembali terbuka. Pria jakung memasuki ruang tersebut. Dia membungkuk memberi salam. “Annyeong haseyo. Park Jimin imnida,” ujarnya memperkenalkan diri.


Senyum bahagia juga terlihat kemudian. Pria pendek itu dipersilakan duduk bergabung dengan personil BTS lainnya.


“Silakan lanjutkan kembali, Timjangnim,” tutur sang pimpinan rapat.


-o0o-


“Bekerja keraslah!”


Tepukan halus di punggung, Jimin terima setelah rapat selesai. Ucapan dari pimpinan agensinya, menambah semangat. Dia membungkuk hormat yang diikuti personil lain, sebelum beliau pergi.


Ucapan semangat dari kru lain juga dia terima. Banyak yang senang saat dia kembali bergabung dengan grupnya, BTS. Tak terkecuali rekan-rekan segrup juga senang. Bahkan teramat senang. Hingga sampai di tempat tinggal pun mereka masih senang bersendau gurau dengannya.


“Ini seperti mimpi, aku akan bisa mengerjaimu lagi,” ujar Taehyung.


Jimin tersenyum mengejek. “Apa hanya itu yang ada di pikiranmu?”


“Tentu saja. Tanganku gatal setelah kepergianmu. Itulah kenapa aku beralih mengerjai Jungkook,” jelas Taehyung kembali.


“Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa terbebas.” Jungkook menyatukan tangan. Wajahnya menatap ke atas, seolah dia tengah berdoa.


Taehyung mendorong Jungkook hingga terjungkal ke depan. Jungkook melirik dengan tajam. Sedang Taehyung justru tertawa keras. Usilannya berhasil membuat Jungkook terusik. Dengan cepat Jungkook mendekati Taehyung. Dia ingin membalas perbuatannya. Sepertinya kalah cepat. Taehyung sudah lebih dulu berlari menghindar. Alhasil mereka saling mengejar.


“Awas kau, Hyung. Lihat saja jika tertangkap,” teriak Jungkook.


Taehyung kembali tersenyum mengejek. Dia masih siaga untuk menghindar.


Personil lain hanya tertawa. Mereka sudah terbiasa melihat tingkah kekanakan rekannya. Kadang mereka juga melakukan hal sama. Tujuannya untuk mempererat ikatan, juga penghilang stres karena pekerjaan.


💌


💌


💌


To Be Continue..


💌


💌


💌


Saya kembali lagi.


Bagaimana menurut kalian? Haduh So Hyun baik bgt sih, akhirnya Jimin comeback 😊 siapa yg seneng Jimin comeback?💜


Vote, Like, dan Comment!! WAJIB!!


Terima kasih sudah jadi pembaca setia.


See you.