![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 27
(Getting Pregnant)
_
_
_
_
Jimin masih setia mengusap surai panjang istrinya yang kini berbaring memeluknya. Lengannya dijadikan bantal oleh istrinya. Setelah kegiatan panas beberapa waktu lalu, istriya mulai terlelap. Terbukti dengan dirasakannya napas teratur istrinya di permukaan kulit. Mereka memang masih belum berpakaian, hanya selimut yang menjadi kain penutup.
So Hyun membuka matanya kembali merasakan usapan lembut di kepalanya. Suaminya belum terlelap, itu adalah pemikirannya. Jika sudah, tak mungkin tangannya masih mengusap kepalanya. Kepala ia angkat. Manik hitamnya bertemu dengan milik suaminya. Masih dengan mata setengah terpejamnya So Hyun bersuara, “Kau belum tidur?”
Hanya gelengan yang didapatnya. “Kenapa? Kau tak bisa tidur? Atau kau belum puas?” Beberapa pertanyaan muncul dari bibir tipisnya. Netranya sudah mulai jelas dengan keadaan kamarnya yang tampak remang. Hasil pancaran cahaya dari lampu kecil yang terduduk manis di nakas.
Kekehan kecil terdengar dari mulut suaminya. Gelengan kembali dilakukannya. Tangannya masih setia mengusap lembut surainya.
Dengan tatapan penuh tanya, So Hyun masih setia memandang wajah suaminya. Masih sama seperti dalam ingatannya. Rambut pinknya sudah berubah menjadi biru laut. Sejak kapan? “Kau mengganti warna rambutmu lagi?” tanyanya yang baru tersadar.
“Iya. Untuk syuting album baru,” tutur pria itu akhirnya bersuara. Tangannya sudah beralih menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
“Lagi?” Ada nada tak suka diucapan So Hyun. Tentu saja, dia akan semakin jarang bertemu dengan pria itu.
“Repackage dari album sebelumnya.”
Hanya dengusan kesal yang ditunjukan So Hyun sebagai jawaban.
“Boleh kutanya satu hal?” Suara khas suaminya kembali terdengar.
So Hyun hanya mengangguk.
“Kau pernah tidur dengan pria itu?” Jimin menekankan kata pria itu di ucapannya. Entah mengapa dia tak pernah suka menyebutkan nama pria itu meski dia ingat jelas siapa namanya.
So Hyun kembali mengangguk. “Seharusnya kau sudah tahu. Bukankah aku sudah tidak perawan saat kau meniduriku waktu itu.” Helaan napasnya kembali terdengar. “Kenapa tiba-tiba bertanya itu? Kau membuatku terlihat buruk.”
“Aku hanya penasaran, sayang. Aku tak bermaksud seperti itu,” kata Jimin. Kecupan ringan ia daratkan di puncak kepala So Hyun. Dia melihat raut sedih di wajah istrinya, itulah mengapa dia melakukannya.
“Dulu, kupikir dia akan menjadi lelaki terakhir dalam hidupku. Dan hanya dia yang aku butuhkan. Karena itu aku memberikan segalanya untuknya.” Tanpa disadari setitik air mata jatuh melewati pipinya. Sekelebat kebersamaan bersama pria itu terngiang dalam benaknya. Rasanya begitu sesak, mengingatnya. “Aku tak pernah menyangka jika Imo akan menentangnya.”
“Aku sudah mendengarnya. Dia sudah menceritakan semuanya padaku.”
“Kau pernah bertemu dengannya?” So Hyun menegakkan kepala. Dia cukup kaget mendengar ucapan suaminya.
Jimin mengangguk. “Di malam saat kau menghilang dari rumah sakit.”
“Jadi aku menemuinya.” So Hyun tampak menerawang karena tak mengingatnya.
“Kau tak mengingatnya?” tanya Jimin. “Aa, kau memang akan lupa kejadian saat kau tengah kambuh,” ucapnya kembali mengingat cerita panjang pria itu.
“Seberapa banyak yang dia katakan?”
“Sebagai dokter atau sebagai orang yang mencintaimu?”
“Dua-duanya.”
“Banyak hal. Dari awal sampai akhir. Aku bahkan sampai terheran, kenapa dengan mudahnya dia memberitahukan semuanya?”
So Hyun berdecak kesal. “Dia menang pandai menyimpan rahasia. Kecuali catatan medis pasiennya. Kalau yang satu itu dia tak akan memberitahu meski aku memohon padanya.”
“Kau pasti sangat mencintainya.” Meski harus menahan sakit Jimin tetap bersuara.
Anggukan kembali So Hyun lakukan. “Dia yang menggenggam tanganku saat aku benar-benar sendiri. Saat aku tak punya tujuan hidup setelah kepergian keluargaku, dia yang menunjukan jalannya. Mengajariku banyak hal. Dan yang pasti, dia juga yang membuatku bisa tersenyum kembali. Aku bahkan pernah hampir bunuh diri, setelah hubungan kami benar-benar berakhir.” Nyeri semakin menjadi. Air matanya mulai deras mengalir. Ingatan itu kembali membuka luka So Hyun yang sudah hampir memudar.
“Kau menangis?” Jimin mengeratkan pelukannya. “Maaf, aku tak bermaksud membuatmu teringat kembali.” Usapan pelan juga dia lakukan di punggung istrinya.
So Hyun menggeleng. Dia tahu itu sakit. Tapi dia memang harus mengatakannya. “Masih ada satu hal yang belum aku beritahukan padamu.”
“Tidak usah jika itu akan menyakitimu.”
“Tidak. Aku harus mengatakannya.” So Hyun mengambil napas dalam. Sesak semakin mendominasi.
“Tidak usah dipaksa, sayang. Lain kali jika memang sudah siap, kau bisa mengatakannya. Kita masih memiliki banyak waktu.”
So Hyun masih mengeluarkan air matanya. Untuk saat ini dia memang tak bisa. Dia kembali mengambil napas dalam. Sesaknya masih terasa meski tak sesakit tadi. Tangannya terulur memeluk tubuh suaminya. Menghirup aroma khasnya. Rasanya begitu menenangkan. Seolah beban yang ditanggungnya perlahan memudar.
“Tidurlah! Bukankah kau besok akan ke Jepang?” Masih dengan usapan lembut Jimin berkata.
So Hyun mengangguk mengiyakan. “Kau juga.” Tepat setelah mengatakan itu matanya terpejam. Dan entah sejak kapan dia mulai pergi ke alam mimpi.
-o0o-
Ini sudah hampir dua bulan sejak malam dimana So Hyun ingin menceritakan satu kejadian. Dan dia belum juga membuka mulut. Rasanya begitu berat mengungkapnya. Pun suaminya tak pernah menanyakannya. Dia takut jika pria itu akan kecewa atau bahkan mungkin meninggalkannya. Membayangkannya saja sudah membuat dadanya nyeri. Bagaimana jika benar-benar terjadi?
Dia kembali menghela nafas. Mematikan TV yang tak satupun dari acaranya menarik untuk dilihat. Sudah tiga hari dia hanya tiduran di atas ranjang. Mual selalu datang terutama di pagi hari. Tak enak makan, pusing dan juga badannya terasa lemas. Apalagi suaminya tak ada, membuatnya semakin bertambah sakit.
Kepalanya semakin bertambah pusing sekarang. Dia memilih memejamkan mata berharap rasa sakitnya akan berkurang. Tak sengaja lengan baju kirinya tersingkap. Memperlihatkan bekas luka yang cukup panjang. Seperti teriris benda tajam. Bekas luka yang didapatnya setahun lalu. Dia selalu bisa menyembunyikannya. Dia bahkan yakin jika suaminya belum tahu bekas luka itu.
Tangannya terulur mengusapnya. Dia tak ingat pasti kenapa dia bisa mendapatkan luka itu. Yang dia ingat sehari setelah penyakitnya kambuh, tangannya sudah dibalut kain kasa. Terluka karena tindakan yang di luar kendalinya, yang berakibat memberikan bekas luka yang lumayan panjang.
“Sayang, bekas luka apa itu?” suara khas suaminya terdengar.
Entah karena melamun atau apa, So Hyun tak sadar jika di belakangnya suaminya tengah mendekat. Dan sekarang duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur ingin menyentuhnya, namun dengan cepat So Hyun menarik tangan dan menyembunyikannya.
“Coba aku lihat!”
So Hyun masih kukuh menyembunyikan tangannya.
Bukan Jimin jika dia tak bisa mendapat apa yang dia mau. Dengan tegas dia kembali berucap, “Kemarikan tanganmu, aku ingin melihatnya.”
So Hyun menggeleng. Dia masih teguh menyembunyikannya.
Jimin memberikan tatapan tajamnya. Seolah meminta. Setelah membuang nafasnya, So Hyun menyerah. Dia mengulurkan tangannya. Dengan sigap pria itu menyingkap lengan baju istrinya.
“Kapan kau mendapatkan luka ini?” tanyanya sambil mengusap lembut lengan istrinya.
“Setahun yang lalu.”
“Kenapa aku tak menyadarinya?”
So Hyun tersenyum. Dia bangkit dan beralih memeluk pria itu. Aromanya masih sama. Ya Tuhan, betapa dia merindukan pria itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan hal yang ingin kau beritahukan dulu?”
So Hyun hanya mengangguk. Dia masih sibuk melepas rindu pada pria itu. Usapan halus di kepala langsung ia dapatkan. Rindunya perlahan menguap bersana udara yang dihembuskannya.
“Maaf ya, sudah meninggalkanmu cukup lama.” Kecupan ringan juga pria itu berikan. Ada rasa bersalah sudah meninggalkan istrinya sendiri. Apalagi dia tak bisa sering menghubunginya.
So Hyun melepas pelukannya. Dia menggeleng tidak setuju dengan ucapan suaminya. Dia tersenyum seolah berkata tidak apa-apa.
“Wajahmu pucat, sayang. Kau baik-baik saja?”
Hanya anggukan yang diberikan. So Hyun masih enggan membuka mulutnya kembali. Senyum manis masih terlihat di wajahnya. “Aku hanya sedikit pusing.” Dia membungkam mulutnya. Rasa mual tiba-tiba saja datang. Secepat kilat dia berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya di kloset. Namun sayang, hanya cairan bening yang keluar dari sana.
“Kau baik-baik saja?” Dengan hati-hati Jimin memijat tengkuk istrinya. Dia berharap bisa mengurangi rasa mual yang diderita istrinya.
Setelah menetralkan dirinya, So Hyun kembali mengangguk. “Aku baik-baik saja.”
“Kau makan kacang lagi?”
Dengan cepat dia menggeleng. Dia selalu menghindari makanan itu. Sebisa mungkin dia mulai hati-hati memilih makanan yang akan masuk ke perutnya. Jadi, bukan itu alasan kenapa dia merasa mual.
“Sudah berapa lama kau mengalami ini?”
“Tiga hari.”
“Dan kau belum ke dokter?”
So Hyun menggeleng.
Dengusan kesal terdengar dari hidung Jimin. “Kita ke dokter sekarang.”
“Tidak usah. Ini tidak akan sembuh meski kita ke dokter,” jawab So Hyun dengan ringan. Tangannya terulur memeluk pinggang suaminya. “Hanya akan sembuh jika kau di sini.”
“So Hyun, aku serius.” Jimin melepaskan pelukan istrinya. Manatap tajam manik hitam miliknya.
“Aku juga serius.” Helaan lega kembali So Hyun lakukan. Pelukan hangat juga kembali dia berikan. “Ini biasa terjadi di trisemester awal.”
“Apa maksudmu?”
“Kau akan menjadi seorang ayah.”
“So Hyun, kau…” Jimin tak melanjutkan kalimatnya setelah mendapat anggukan dari istriya. Ini adalah berita membahagiakan. Kabar gembira yang selalu ingin didengarnya. Rasa syukur terucap dalam hati. Juga tak hentinya dia memberikan kecupan ringan di kepala istrinya sambil berkata terimakasih.
🌼🌼🌼
To Be Continue...
🌼🌼🌼
Siapa nih yang bahagia So Hyun hamil? *Angkattangannya😆
Huft... Akhirnya Taehyung tau😆
Jangan lupa tinggalkan jejaknya.
Terima kasih sudah mau membaca cerita gaje ini😊😊
LIKE COMMENTNYA!! WAJIB!!