The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 34



Chapter 34


(Pain)


__


__


__


Pagi sudah menjelang setelah Jimin tak sengaja tertidur. Tangannya masih setia menggenggam erat tangan istrinya. So Hyun memang sudah dipindahkan ke ruang inap, karena memang harus mendapat perawatan. Dia menatap wajah pasi istrinya setelah tersadar. sudah semalam istrinya belum sadarkan diri. Dan entah berapa lama lagi wanitanya akan terbangun.


Dia mengusam pelan surai panjangnya. Rasanya begitu sakit. Dia bingung apa yang harus dikatakannya jika wanita itu terbangun. Jika dia memberitahukan hal yang sebenarnya pasti akan berdampak buruk untuk kesehatan mentalnya. Namun, jika dia tak memberitahukannya, dia tak pandai mengarang kebohongan. Pasti dia akan langsung ketahuan.


So Hyun membuka perlahan matanya. Pandangannya masih buram jika dia tak mengedipkannya kembali. Rasa pusinglah yang mendominasi. Dia mengedarkan pandangan dan mendapati wajah khawatir suaminya. "Oppa", gumamnya pelan.


"Iya, ini aku. Bagaimana perasaanmu?" sahut Jimin yang disertai pertanyaan. Dia mendengarnya meski wanitanya berujar pelan. Senyum palsu coba dia berikan, meski mungkin akan terlihat aneh.


"Aku hanya sedikit pusing." Masih dengan nada lirih So Hyun menjawab. "Di mana aku?" tanyanya kemudian. Dia mendapati ruang asing setelah mengedarkan pandangan


"Rumah sakit."


Sangat singkat, namun mampu membuat So Hyun memutar kenangan buruk yang baru saja dialaminya. Dia ingat betul bagaimana dia dihampiri sekumpulan gadis yang mengaku sebagai fans suaminya. Dia tak bisa menghindar karena mereka sudah lebih dulu menyeretnya. Mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.


Penganiayaan fisik dia dapatkan setelah gadis-gadis itu mengumpat padanya. Rasanya begitu sakit, dia bahkan tak sadar perlakuan apa saja yang diterimanya. Kerana memang rasa sakitlah yang mendominasi, terutama di perutnya. Salah seorang dari mereka memang menendang perutnva setelah dia tersungkur ke tanah.


Perutnya. Dia membulatkan mata mengingat fakta itu. Terlebih sekarang perutanya sudah terasa baik. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada calon anaknya.


"Dia baik-baik saja kan?" tanya So Hyun kemudian sambil mengusap pelan perutnya.


Jimin hanya bisa diam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Oppa, kenapa diam?" protesnya mendapati suaminya hanya bungkam. "Dia tidak apa- apa kan?" Lagi, So Hyun mengajukan pertanyaan yang sama.


Akhirnya, hanya gelengan yang dia bisa berikan. Dia tahu ini akan menyakiti istrinya, tapi dia tak punya pilihan. Akan semakin sakit jika dia mengarang kebohongan.


"Tidak mungkin. Oppa, kau bohong kan. Katakan kalau itu hanya bohong." Air mata So Hyun mulai mengalir. Dia bahkan mulai terisak.


"Maafkan aku." Hanya kalimat itu yang mampu diucapkannya. Lidahnya menjadi kelu mendengar tangisan istrinya.


"Hiks...hiks...hiks..." tangisan So Hyun semakin menjadi. Baru kemarin rasanya dia bahagia akan menjadi seorang ibu. Tapi kini, dia harus menahan diri.


Jimin yang tak tega memeluk So Hyun mencoba menenangkan dan memberinya kekuatan. Hanya itu yang bisa dilakukannya.


-00o-


Jimin berlari sepanjang lorong rumah sakit menuju ruang inap istrinya. Dia mendapat kabar tak enak. Dia memang baru kembali dari wawancara perihal foto pernikahannya yang bocor.


Perasaannya menjadi kacau hingga membuatnya tak berkonsentrasi. Tabrakan dengan orang yang lewat di depannya terjadi beberapa kali  Sebanyak dia menabrak, sebanyak itu pula dia meminta maaf.


Sebenarnya dia belum tega meninggalkan istrinya yang baru kemarin terluka. Jika bukan karena sekretaris istrinya yang menjaga, dia tak akan pergi. Sepanjang perjalannya, dia hanya bisa berharap sesuatu yang buruk tak menimpa istrinya.


Dia sudah sampai. Ragu yang sempat datang dia tepis. Terlebih dia mendengar bunyi barang pecah dari dalam sana. Secepat yang dia bisa dia membuka pintu ruangan. Di dalam sana sudah berdiri beberapa orang. Dokter yang menangani istrinya, dua perawat, sekretaris istrinya, juga istrinya yang tengah menggenggam sesuatu.


"Kim daepyo, tenanglah! Lepaskan gelas itu." Itu adalah suara dokter yang sedang menenangkan So Hyun.


Tubuh So Hyun bergetar. Wajahnya terlihat panik, belum lagi keringat yang keluar di wajahnya. Apalagi dari tangan kanannya kini meneteskan darah akibat kuatnya genggaman pada pecahan gelas. Tangan kirinya digunakan untuk menutup telinganya. Pandangannya tak fokus. Dia memang tengah mendengar suara-suara itu lagi.


"Daepyonim." Aera ikut berteriak. Dia mengikuti saran dokter untuk membangunkan kesadaran atasannya.


"So Hyun-ah." Jimin mencoba mendekat. Namun ditahan oleh Sang Dokter. Dia juga mendapat isyarat untuk tidak mendekat.


"Tolong aku. Aku takut." Dengan nada bergetarnya So Hyun bergumam. Bibirnya bergetar. Darah dari tangannya semakin banyak yang menetes.


"Tenanglah! Kami ada di sini. Jangan takut. Lepaskan pecahan gelas itu." Suara lembut Sang Dokter kembali terdengar. Dengan perlahan pula dia mendekat. Dia bisa meraih tanganya So Hyun, namun pada akhirnya wanita itu jatuh pingsan.


"Kim daepyo." Dengan sigap dia menangkap tubuh pasiennya.


-o0o-


Langit sudah menghitam kala So Hyun membuka mata. Dia menyerngit mendapati luka di telapak tangan kanannya. Dia pasti berulah lagi tadi. Hembusan teratur nafas seseorang menerpa kepalanya. Tangan kekar seseorang juga tengan melingkar di perutnya. Jangan lupakan lengan lain yang digunakannya sebagai bantal.


So Hyun membalik tubuhnya. Wajah damai suaminya saat tertidur adalah pemandangan pertama yang dilihatnya. Air matanya meleleh. Rasa bersalahnya datang melihat wajah itu. Usapan pelan di dahi suaminya ia berikan, "Maafkan aku," gumamnya pelan.


Tangan pria itu bergerak. Mengambil tangannya dan menyimpannya. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah gagal melindungimu." Perlahan matanya terbuka. Tatapan sendu terpancar jelas di sana. Tangannya terulur mengusap air mata So Hyun. "Jangan menangis! Aku mohon."


So Hyun tak mengindahkannya. Air matanya justru semakin deras mengalir. Bahkan dia sampai terisak. Tak tega melihatnya, pria itu menarik So Hyun ke dalam pelukannya. Membiarkan bajunya basah. Tepukan halus di punggung juga kalimat menenangkan ia lakukan berharap wanitanya akan berhenti menangis.


Mereka tak sadar sepasang mata tengah mengawasi mereka. Pria bertopi itu menutup pintu dengan pelan. Air matanya ikut terjatuh melihat sahabatnya menangis. Sungguh hatinya tersayat mendengar kabar buruk itu. Bertambah parah melihat keadaannya yang belum juga membaik.


Tak kuasa menahan sedih, dia beranjak. Pergi menjadi pilihannya. Meski dia tinggal tak akan pernah mengubah apapun. Karena pada kenyataannya dia tak bisa berbuat apapun untuk wanita itu.


-o0o-


"Tidak bisakan anda memikirkanya sekali lagi?" Lagi suara Aera terdengar.


"Aku sudah memikirkannya masak-masak. Itu adalah hal baik yang bisa aku lakukan untuknya. Aku sudah tidak punya apapurn untuknya. Dia masih muda, jalannya masih panjang. Dia berhak mendapat wanita yang lebih baik dariku," jelas So Hyun.


Aera hanya bisa mendengus kesal. Ini tentang permintaan bosnya. Jika hanya membuatkan surat pembatalan kerjasama akan sangat mudah. Namun ini lain, ini adalah surat pembatalan pernikahan atau yang biasa orang sebut dengan surat perceraian. Dia harus berfikir dua kali. Ditambah bosnya masih dalam keadaan sakit. Ya, So Hyun memang sudah menginap lima hari di tempat itu.


"Tapi, Daepyonim, tetap saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin anda akan mengajukan cerai padanya? Kau pikir dia akan setuju?" Aera masih mencoba membujuk atasannya itu untuk merubah pikirannya. Dia tak ingin wanita itu menyesal dengan keputusan mendadaknya.


"Kau hanya perlu menguruskannya. Jika memang kau tak mau, biar aku menghubungi Pengacara Kim." Terdengar nada tegas di setiap ucapannya. Dia memang sudah bertekad bulat. Berpisah dengan suaminya adalah jalan terbaik yang dia pikirkan. Dengan begitu, pria itu tak perlu bersusah payah mengurusnya.


Aera kembali mendesah. Jika bosnya sudah membuat keputusan, dia tak bisa menentangnya. "Baiklah! Akan segera aku uruskan surat perceraian anda."


"Apa maksudnya itu?" ucap seseorang di belakang mereka. Itu Jimin. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.


Mereka menoleh. So Hyun hanya menatapnya sebentar. Lalu mengalihkan pandangannya, menatap awan yang mulai menguning.


Aera memilih mundur. "Sepertinya kalian memang harus membicarakannya. Aku permisi dulu." Dia menunduk sebelum pergi. Menyisakan pasangan suami istri tersebut.


"Kau tidak serius dengan ucapanmu kan?" tanya Jimin yang sudah duduk di kursi samping ranjang So Hyun.


So Hyun masih diam. Dia masih betah memandang matahari yang mulai menghilang di ujung barat.


"So Hyun." Pria itu mulai menarik tangan So Hyun. Sudah lama dia menunggu wanitanya membuka suara. Namun nyatanya wanita itu justru masih betah memandang ke arah lain


"Mari berpisah." Akhirnya, So Hyun bersuara. Pandangannya sudah terfokus pada pria yang tengah menggenggam tangannya.


"Kenapa kita harus melakukannya?"


"Hanya itu jalan yang terbaik. Aku hanya gadis setengah gila yang bahkan tidak bisa memberimu anak. Aku tidak ingin kau terluka karena harus terjebak hidup denganku. Kau masih sangat muda. Masa depanmu masih panjang. Dan kau berhak mendapat gadis yang lebih baik dari diriku," jelas So Hyun.


"Aku tidak mau."


"Jimin-ssi," tutur So Hyun dengan nada sedikit meninggi. "Kau akan menyesal jika menolak. Mungkin untuk saat ini, bagimu tidak apa-apa. Tapi pada akhirnya, kau pasti akan mengakuinya. Ingatlah! Penyesalan selalu datang di akhir."


Jimin diam. Wanitanya bahkan sudah tak lagi memanggilnya dengan panggilan sayang. Apa yang harus dilakukannya? Ini terlalu mendadak. Bahkan selama ini tak pernah terbesit dalam benaknya untuk berpisah dengan wanita itu.


"Terserah kau mau berkata apa. Tapi yang pasti, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika hanya karena kau tak bisa memberiku anak, kita masih punya banyak cara untuk memilikinya. Dan soal penyakitmu, kau pasti akan sembuh jika berobat dengan benar. Jadi aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu." Dengan nada tegasnya Jimin berucap. Dia sungguh tak tahan mendengar ucapan istrinya.


"Ini terlalu sulit untukku." So Hyun menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Setiap kali melihat wajahmu, perasaan bersalah itu muncul. Aku sudah coba menahannya. Tapi rasanya semakin. Jika kita memilih betahan, kita hanya akan saling menyakiti."


Jimin hanya bisa menelan kasar salivanya. Dia tak punya kata yang tepat untuk diucapkan. Tangannya terulur mengusap puncak kepala So Hyun. Dia punya satu hal yang membuatnya bisa bertahan. "Aku sudah berjanji pada Tuhan untuk menjaga dan melindungimu. Aku tidak bisa mengingkari janji itu."


Setitik air mata lolos melewati pipinya. So Hyun masih menatap pria itu dengan sendu. Dia yang kini tak bisa berucap. Dia melihat ketulusan di mata pria itu. Bukan hanya itu, dia bisa melihat cinta di sana. "Keluarlah! Aku ingin sendiri." Tepat setelah megatakannya, So Hyun membuang muka. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengalihkan percakapan yang tak berujung itu.


"Jika memang itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Tapi untuk berpisah aku tidak bisa. Tidurlah! Kau harus banyak beristirahat. Aku pergi." Jimin kembali mengusap lembut surai panjang istrinya. Dia segera beranjak. Berjalan meninggalkan istrinya.


Bibir So Hyun bergetar. Dia mencoba menahan laju air matanya, namun gagal. Genangannya terlalu banyak hingga berhasil menerobos pertahanannya. Sesak datang menyerangnya.


Melihat betapa gigihnya pria itu mempertahankannya, membuat hatinya menghangat. Jujur, dia sangat senang. Dia tak pernah bertemu pria seperti itu. Dulu saat dia menjalin hubungan dengan dokternya, pria itu dengan mudah menyerah meski dia tak ingin.


Dia tidak boleh menyesal nanti. Tanpa pikir panjang, dia mengejar pria itu. Memeluknya dari belakang sebelum pria itu benar-benar menyentuh gagang pintu. Dia menangis. Hanya menangis. Tanpa sebait kalimat maupun kata.


Jimin menegang. Dia bisa merasakan basahnya kaos yang dikenakannya. Wanitanya menangis. Dia sangat yakin. Meski dia tak tahu pasti apa arti pelukan itu. Dia hanya diam membiarkan wanitanya terisak. Sampai hatinya merasa lega, dia baru berbalik. Melepaskan pelukan istrinya. Menatap dalam manik hitam wanitanya.


"Bawa aku pergi dari sini." Masih dengan air mata mengalir So Hyun berujar. Bahkan suaranya terdengar bergetar. "Aku mohon."


Baru setelah itu, Jimin memeluknya. "Iya. Aku akan membawamu ke tempat di mana hanya ada kita berdua. Aku janji." Dia mencium puncak kepala istrinya kemudian.


💜


💜


To Be Continue..


💜


💜


Selamat berpisah dengan pasangan So Hyun dan Jimin😁


Mampukah part ini membuat kalian menangis?🤧🤧


Jangan lupa tinggalkan jejak!!


Vote, Like, dan Comment wajib!!


Kalo ada yang mau tanya-tanya tentang cerita ini, sok atuh😊