The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
EPILOG



Epilog





Cintaku adalah Kamu


Cintamu adalah Aku





Senyum mengembang tergambar jelas di wajah So Hyun. Dia baru pulang dari bekerja. Langkahnya terlihat ringan. Bahkan terkesan anggun saat memasuki rumah. Melintasi ruang tamu dan tiba di ruang keluarga. Suaminya duduk di sana. Memangku laptop. Tanpa pikir panjang, So Hyun berjalan cepat ke arah prianya.


“Kau sedang apa?” tanyanya. Dia ikut duduk di samping suaminya. Sebenarnya dia tak perlu bertanya. Pria itu pasti sedang membuat lagu. Terbukti dengan adanya buku serta gitar di meja. Namun, So Hyun tetap melakukan. Dia ingin mencari perhatian pria itu.


Netra pria itu beralih. Senyum terukir melihat wajah wanitanya. “Membuat lagu. Kapan kau sampai?”


“Baru saja.” So Hyun ikut menatap laptop di depannya. Dia tak paham dengan segala bentuk aplikasi yang suaminya gunakan. Hembusan napas halus terdengar dari hidungnya. “Apa itu sudah selesai?” tanyanya kemudian.


“Emh. Kau mau mendengarkan!” tawar suaminya. Setelah mendapat anggukan, pria itu memasangkan headphone di telinga So Hyun. Menekan tombol play dari laptop.


So Hyun tersenyum mendengar. Dia juga menganggukan kepala. Raut senang tergambar di wajah. “Musiknya enak.”


Pria itu tersenyum samar. Menatap dalam wajah istrinya. Ingatan masa lalu tentang kehidupan pernikahannya mulai terlintas. Betapa dia sangat mencintai wanita itu. Tanpa dia sadari, tangannya terulur mengusap surai istrinya. Itu sudah menjadi kebiasaan. Terlebih, istrinya tak pernah protes.


So Hyun tak menanggapi. Dia masih asyik mendengarkan lagu. Rambut yang dulu panjang kini tinggal sebahu. Dia memotongnya setelah melahirkan. Meski itu sudah empat tahun, dia tak membiarkannya panjang. Susah merawat rambut panjang sambil merawat bayi. Itulah alasannya.


“Di mana So Min?” tanya So Hyun setelah melepaskan headphone.


“Dia sudah tidur. Setelah menghabiskan hampir dua porsi ayam goreng.”


“Itu memang makanan favoritnya kan.”


“Memang iya. Dia hampir membuat Jungkook marah karena mengambil bagiannya.”


“Lalu di mana Jungkook?”


“Di kamarnya. Katanya mau berlatih. Dia juga mengusirku saat ingin kutemani. Dia menjadi lebih dingin akhir-akhir ini.”


“Karena kau lebih memanjakan So Min.”


“Dia yang lebih kecil. Jadi harus lebih diperhatikan.”


“Eomma.” Suara anak kecil itu menghentikan debat mereka. Secara spontan menoleh ke sumber suara. Seorang gadis kecil berlari ke arah So Hyun. Wajahnya masih layu khas orang bangun tidur.



#Ilustrasi Wajah So Min


“Kau terbangun,” ujar So Hyun sambil memangku gadis kecil tersebut.


Gadis kecil itu mengangguk. “Emh. Aku lapar,” tuturnya dengan nada lirih. Masih setengah mengantuk. Sangat kentara dari suaranya.


“So Min, sudah makan ayam tadi.” Jimin yang duduk di samping So Hyun ikut manyahut.


“Itu kan tadi. Sekarang So Min sudah lapar.” Gadis itu kembali menjawab. Kali ini dengan nada merengek.


“Aigoo! Putri eomma.” So Hyun mengacak pelan puncak kepala putrinya. “So Min, mau makan apa?”


“Pasta.”


“Iya. Tunggu bersama appa. Eomma akan buatkan.”


“Tentu saja.” Wajah So Min tampak berbinar. Dengan cepat dia turun dari pangkuan ibunya. Beralih mendekati sang ayah.


Jimin ganti memangku So Min. Dia mencium puncak kepala putrinya kemudian. Tersenyum melihat So Hyun yang sudah beralih menuju dapur.


“Appa, aku mau melihat kartun.”


“Fire Robot”


“Iya.”


“Baiklah! Sebentar, appa carikan.” Jimin memeriksa laptopnya. Sejak dia memiliki putri, laptopnya penuh dengan film kartun. Ini permintaan gadis kecil yang kini duduk di pangkuannya. Gadis itu akan duduk tenang jika sudah diputarkan film-film tersebut. Seperti sekarang. Matanya tak lepas dari layar tersebut.


Usapan halus kadang Jimin berikan. Dia teringat debatnya dengan So Hyun saat memberikan nama untuk putrinya. Awalnya dia menolak, tapi mau tidak mau dia harus menerimanya. Istri harus menuruti perintah suami kan, untuk mendapatkan surganya😁.


-o0o-


So Hyun tersenyum menatap putranya masih berkutat dengan piano. Dia mengetuk pintu, untuk mengalihkan atensi sang putra. “Boleh eomma masuk?”


Putranya menatap sebentar. Mengangguk kemudian.


Dengan langkah pelan, So Hyun mendekati sang putra. Ikut duduk di samping pria berusia sepuluh tahun tersebut. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin dia mengadopsi anak kecil itu. “Kau belum tidur?” Usapan lembut So Hyun berikan.


“Nanti saja,” jawabnya singkat. Jemari pria kecil itu masih setia memetik tuts-tuts piano di depannya.


“Apa ini sulit?” So Hyun kembali membuka suara.


“Maksud, Eomma?”


“Apa sulit menjadi pianis?”


Jemari pria kecil itu berhenti. Netranya beralih menatap ibunya.


“Eomma hanya merasa kau tak memiliki banyak waktu bermain. Seharusnya di usiamu yang sekarang, kau sibuk bermain di luar dengan teman sebayamu.”


Pria kecil itu masih diam. Netranya juga masih menatap sang ibu.


“Jika memang sulit. Kau bisa berhenti. Eomma tidak akan memaksamu. Kau bisa melakukan hal lain yang lebih kau sukai.”


“Kenapa harus kesulitan? Aku menyukainya.” Jari pria kecil itu kembali memainkan nada yang tertulis di depannya. Dengan semangat serta penghayatan yang sempurna. So Hyun sampai tersipu dibuatnya.


“Syukurlah!” Helaan napas lega terdengar dari hidung. “Kau mau ikut makan pasta? So Min sedang makan bersama appa.”


“Eomma juga membuatkan untukku?”


So Hyun mengangguk. Senyum samar dia berikan.


“Emh. Aku juga mau.”


“Ayo!”


-o0o-


Suara blizt kamera terdengar begitu mereka menuruni mobil. Dengan mengenakan busana formal pesta, keluara tersebut hadir. Mereka tersenyum ramah pada wartawan yang tengah meliput berita. Dengan perlahan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, seorang putra dan putri berjalan memasuki hotel.


Mereka disambut keluarga pengantin di pintu masuk diadakannya pesta. Membungkuk hormat untuk memberi salam.


“So Hyun-ya, terimakasih sudah datang,” sapa si ibu mempelai pria.


“Tentu harus, Ahjumeonim.”


Wanita paruh baya dengan pakaian hanboknya menoleh pada gadis kecil yang sembunyi di belakang So Hyun. “So Min sudah besar ya,” ujarnya kemudian.


So Min menampakkan diri. Membungkuk kemudian. Mereka tersenyum melihat tingkah lucu So Min. Bagaimana tidak, dia hanya membungkuk. Tak mengucapkan apa pun. Berlari ke belakang ibunya kemudian.


Setelah acara memberi salam dan ucapan selamat, So Hyun dan keluarga kecilnya menuju ruang ganti sang pengantin. Mereka ingin menyapa si pengantin sebelum pesta dimulai.


“Aera Imo,” ucap So Min dengan berteriak lantang. Dia berlari menuju si pengantin wanita.


“So Min-ya,” jawan Aera sambil merentangkan tangan. Dia sudah terlihat cantik dengan gaun pengantin. Rambutnya disanggul ke atas, hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.


So Min duduk di pangkuan Aera. Sejak kecil dia memang sudah terbiasa dengan sekretaris ibunya itu. Bisa dibilang mereka cukup dekat. Terlebih, sekretaris ibunya selalu memberi perhatian lebih. “Imo, selamat atas pernikahannya,” tuturnya dengan nada lucu khasnya.


“Terimakasih ya.” Senyum kembali menghiasi wajah Aera. Dia berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya.


“Selamat atas pernikahanmu, Eonni.” Kini So Hyun yang berucap. Dia ikut duduk di samping Aera.


“Terimakasih sudah datang, Daepyonim.”


“Tentu harus.”


Aera mengalihkan netranya menuju dua pria yang mendekat ke arahnya. Satu dewasa yang tak lain adalah suami So Hyun. Dan satunya, pria kecil putra atasannya.


“Kau bertambah gemuk ya.” Bukannya memberi ucapan selamat, suami So Hyun justru mengatakan sesuatu yang sangat sensitif bagi sebagian besar wanita. Cubitan keras dia terima di paha. Istrinya yang melakukan. Tatapan tajam juga wanitanya berikan. “Aku berkata benar.”


“Ayo keluar! Kau merusak suasana saja.” So Hyun segera menarik lengan suaminya. Melambaikan tangan pada si pengantin wanita.


Suaminya sedikit tak terima. “Mau ke mana? Aku belum memberi ucapan selamat untuknya.” Dia berusaha melepaskan genggaman istrinya, namun akhirnya dia pasrah. mengikuti ke mana pun istrinya melangkah.


“Tidak perlu, nanti saja.” So Hyun membawanya menuju ruang pesta. Melepaskan genggamannya di dekat pintu. Tempat yang tak banyak dilalui tamu undangan. Tangannya dilipat di depan dada. “Kenapa kau berkata seperti itu tadi?”


“Aku berkata benar.”


“Kau tahu, itu adalah hal paling sensitif untuk wanita.”


Pria itu tersenyum miring. Mencium pipi istrinya dengan cepat. “Kau yang sensitif. Marah-marah tak jelas. Kau sedang datang bulan ya?”


“Terserahlah!” So Hyun berlalu meninggalkan suaminya.


Pria itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sepertinya ucapannya benar. “Sayang, tunggu!” teriaknya kemudian. Dengan cepat dia menyusul istrinya.


-o0o-


Suara tangan terdengar meriah, setelah si pengantin melepaskan tautan. Upacara pemberkatan pernikahan Jungkook dengan Aera berakhir. Rasa senang menyelimuti mereka. dengan perlahan mereka menuruni altar. Menyambut satu-persatu tamu yang diundang. Suara musik pengiring pesta mulai terdengar. Ini menjadi momen bersejarah bagi pasangan pengantin baru tersebut.


“Mereka benar-benar cocok ya?” ujar Jimin. Sedikit berbisik ke telinga So Hyun.


So Hyun menoleh. Mengangguk kemudian. “Yang satu dengan sifat kekanakannya, dan yang satu dengan kedewasaannya. Saling melengkapi bukan.”


Jimin ikut menganggu.


“Kau ingin tahu kenapa Aera Eonni bertambah gemuk?”


“Tadi kau marah saat aku mengatakannya.”


So Hyun hanya tersenyum. Moodnya sedang buruk tadi, makanya dia sedikit sensitif. “Dia sedang hamil.”


“Serius!” Raut kaget terlihat jelas di wajah Jimin. Dia juga mengangkat alis tak percaya.


So Hyun mengangguk lagi. “Enam minggu. Aku sampai harus mengubah ukuran gaun pengantinnya.”


“Jadi karena itu dia ingin cepat menikahinya.”


“Bukan. Dia memang ingin menikah di usia dua puluh sembilan.”


“Dari mana kau tahu?”


“Apa yang tidak kuketahui dari Jungkook? Aku bahkan tahu ukuran celana dalamnya.”


“Yak!”


“Hanya bercanda.” So Hyun menyiku pelan perut suaminya. Leluconnya keterlaluan kadang. “Itu Jungkook.” Dia menunjuk ke arah pria kecil yang duduk di depan piano.


-o0o-


“Kau belum tidur?” Jimin menghampiri So Hyun di balkon kamar. Di tangannya membawa secangkir latte favoritnya.


“Masih belum mengantuk.”


“Kau mau?” Sambil mengangkat cangkir, Jimin kembali berucap.


“Tidak, untukmu saja.” So Hyun kembali fokus pada benda persegi empat miliknya. Dia memang sedang mengambar. Melihat bulan purnama, menambah semangat dirinya.


Jimin ikut duduk di samping istrinya. Matanya tak lepas dari gerak jemari So Hyun. betapa terambil jemari itu menari di atas layar. Hingga mampu menciptakan objek yang menurutnya cantik.


“Kau dapat pesanan lagi?”


“Bukan. Ini untuk proyek musim semi nanti.”


Jimin hanya mengangguk. Dia menyesap kembali lattenya. Diam menjadi pilihan. Tak ingin mengganggu istri yang tengah menuangkan ide. Dia ingin seperti istrinya yang selalu mengerti dirinya. Ya, So Hyun tak pernah mengganggunya ketika membuat lagu. Bahkan wanita itu akan melakukan apa pun, untuk mebuat putra dan putrinya tak mengganggu dirinya.


“Bolehkan aku bertanya sesuatu?” So Hyun yang sudah selesai dengan gambarnya, menatap ke arah Jimin.


“Apa?”


“Kau masih ingat pertemuan kita pertama kali setelah aku kembali ke sini?”


“Maksudmu di club itu?”


“Iya.”


“Tentu. Kenapa memangnya?”


“Apa kau sudah tahu jika itu aku?”


“Iya. Awalnya aku pangling. Namun setelah kau menyebutkan nama, aku jadi ingat.”


“Jadi karena itu kau menggodaku?”


Jimin tersenyum. “Eoh.” Dia mimum lattenya kembali.


So Hyun tersenyum aneh. Seolah mengejek apa yang baru saja dia dengar. “Dasar.”


“Aku hanya menggodamu. Aku tidak pernah menggoda wanita mana pun.”


“Aku tidak percaya. Kau itu si pencari perhatian.” So Hyun berdiri membereskan semua peralatan yang tadi dibawanya.


“Kau mau ke mana?”


“Tidur.”


Jimin hanya tersenyum. Kembali meneguk lattenya.


So Hyun kembali berbalik setelah dua langkah. “Kau tak ingin ikut?”


Jimin awalnya kaget. Detik berikutnya dia kembali menyunggingkan senyum. “Tunggu aku!” Dengan cepat dia menghabiskan lattenya. Melangkah cepat menyusul istrinya.


—Fin.—


Udah End ya. Aku sudah nggak bisa memikirkan hal baru untuk cerita ini. Semoga tetap suka. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia ff abal-abal ini. Tanpa dukungan kalian aku bukan apa-apa.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya.