![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Huhuhu.. Mian bgt baru keinget kalo aku bakal kasih double part hari ini, padahal tinggal publikasikan doang ini.
Jadi Like Commentnya harus lancar juga ya😊😊
Langsung cus aja,
Happy reading gaes🤗
***
**Chapter 21
(Please, Stay With Me**)
_
_
_
"Kau bisa mengajakku makan malam disaat kau sedang sibuknya mempromosikan album baru," tutur So Hyun dengan nada mengeluh. Dia yang sudah menghabiskan setengah makanannya baru mengajak Jungkook berbicara.
"Aku bahkan bisa mengajakmu berlibur jika mau," jawab Jungkook dengan mulut sedikit penuh. Dia menelan kasar makanannya untuk bisa memperjelas ucapannya.
"Kau mau dipecat?" ucap So Hyun masih dengan nada yang sama.
Jungkook justru menanggapinya dengan senyum. Matanya tak lepas dari So Hyun dengan segala tingkahnya yang kini menyuapkan potongan daging ke mulutnya.
So Hyun hanya bersikap acuh karena tak sadar. Dia sibuk memasukan makanan ke mulutnya. Terkadang dia meneguk air agar tak tersedak.
Senyum mengembang masih tampak di wajah Jungkook. Matanya juga tak lepas dari gadis yang duduk di depannya. Sesekali dia memasukan makanan ke mulutnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya So Hyun yang tersadar. Dia juga menghentikan kunyahannya.
Jungkook semakin memperlebar senyumnya. Tangannya terulur mengusap sudut bibir So Hyun. Membersihkannya dari saus makanan yang menempel disana.
So Hyun menelan cepat makanannya. Rasanya semakin aneh melihat tatapan pria itu. Tatapan masih sama seperti yang terakhir diingatnya, namun menunjukkan semakin besarnya perasaan itu tumbuh. Perasaan yang sudah diketahuinya bahkan sebelum mereka berpisah.
So Hyun memukul kepala Jungkook dengan sumpitnya. "Matamu akan melompat jika kau terus seperti itu," ucapnya kemudian.
"Aku hanya senang melihatmu lagi. Ada banyak hal yang ku sesali setelah kepergianmu. Karena itu, aku akan menghilangkannya selagi bersamamu," ucap Jungkook tulus sambil memegang kepalanya.
Dia meletakkan sumpitnya di meja dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. "Menyebalkan. Kau membuat selera makanku hilang." Dia meminum airnya setelah mengatakannya.
Jungkook tersenyum miring melihat piring yang menyisakan daun salam milik So Hyun. "Tentu saja. Kau sudah menghabiskan makananmu."
So Hyun menutup mulutnya karena menguap. "Ayo pulang. Karena kekenyangan aku jadi mengantuk." Dia kembali menutup mulutnya.
Jungkook mengangguk mengiyakan.
-o0o-
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap So Hyun setelah mesin mobil Jungkook berhenti. Mereka sudah tiba di depan gedung apartemen So Hyun. "Aku masuk dulu," ucapnya lagi. Lengannya ditahan saat akan membuka pintu.
"Kau tidak menyuruhku mampir?" kata Jungkook dengan nada memelasnya.
So Hyun menggeleng sambil melepaskan tangan Jungkook. "Untuk apa? Melihat-lihat, minum kopi, atau menginap. Jangan harap! Aku bukan lagi bocah berusia duabelas tahun yang akan membiarkan seorang pria masuk kamarku seenaknya."
"Menyebalkan."
So Hyun hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia sudah membuka pintu mobil Jungkook bersiap untuk keluar. Lagi-lagi lengannya ditarik Jungkook, hingga membuatnya terduduk kembali. "Apa lagi?"
"Masih ada yang ingin aku katakan," ucap Jungkook setelah melepas tangannya.
Perasaan So Hyun mulai tak enak. Pria itu pasti akan mengungkapkannya lagi.
"Sebenarnya...." Jungkook tak sempat melanjutkan kalimatnya karena So Hyun sudah menyelanya.
"Jangan katakan."
"Maksudmu?"
"Aku tahu apa yang akan kau katakan. Aku juga tahu apa yang kau rasakan, bahkan sebelum kita berpisah. Dan sebenarnya hari itu aku mendengarnya." So Hyun menatap tajam ke arah Jungkook.
"Jika kau sudah tahu, kau tak akan menjawabnya?"
So Hyun memejamkan matanya sebentar. Mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan dengusan yang terkesan kesal. "Aku tidak mau berkencan denganmu." Tepat setelah mengatakan itu So Hyun keluar dari mobil. Dia berjalan tergesa meninggalkan Jungkook.
Dengan cepat pula Jungkook mengejar So Hyun. Tangannya terulur menarik lengan So Hyun dan membuatnya berbalik menghadapnya. "Waeyo?"tanyanya dengan penuh penekanan.
"Kita sudah sepakat. Kau lupa janji yang kita buat dulu? Tidak akan pernah ada cinta sebagai pria dan wanita di antara kita. Kita sahabat, dan akan seperti itu sampai akhir." So Hyun membuang kesal nafasnya. "Mianhaeyo." Dia kembali berbalik setelah melepaskan tangannya.
Jungkook kembali menariknya dengan cepat. "Bagaimana jika aku tidak ingat janji itu?"
"Itu berarti kau....emmmh," belum sempat So Hyun melanjutkan kalimatnya mulutnya sudah dibungkam Jungkook dengan mulutnya. Pria itu kini bahkan melumatnya. Terkesan buru-buru dan sedikit kasar. Semuanya terjadi terlalu cepat, membuat So Hyun tak begitu memahaminya.
So Hyun memberontak ketika sadar. Sia-sia. Pegangan pria itu pada tengkuknya terlalu kuat. Dengan keras dia menginjak kaki Jungkook. Membuat ciuman itu benar-benar terlepas.
So Hyun terlihat terengah menahan amarah, juga karena perbuatan pria yang berdiri di depannya. "Brengsek," umpat So Hyun dalam bahasa yang tak dimengerti Jungkook. Pandangannya tak sengaja menangkap sosok pria yang jauh berdiri dari tempatnya. Pandangan menunjukkan kecewaaan, marah atau perasaan lain yang tak dipahaminya. "Oppa," gumamnya. So Hyun mengenalinya. Pria bermasker itu suaminya.
Ya, pria bermasker itu melihatnya. Mungkin juga melihat kejadian yang baru saja di alaminya. Tidak, pria itu akan salah paham. Dia harus mengejarnya. Menjelaskan semuanya.
"Kim So Hyun," dia mendengar teriakan Jungkook. Tangannya kembali ditahan.
"Apa lagi? Aku sudah menjawabnya bahkan aku sudah memberikan alasannya. Aku tidak akan berubah pikiran. Aku tetap tidak mau. Lepaskan, aku harus pergi." So Hyun berusaha melepaskan cengkraman Jungkook. Setitik air mata mulai membasahi pipinya.
Jungkook belum melepaskannya. Dia masih tak terima dengan perkataan So Hyun.
"Ku pikir aku mengenalmu lebih baik dari siapapun, ternyata aku salah. Kau sudah berubah, Jungkook. Kau menjadi kekanakan dan egois." Tatapan marah dan kecewa ia berikan pada Jungkook.
"Jangan pernah menemuiku lagi sebagai Jungkook yang mencintai So Hyun. Datanglah jika kau sudah menjadi Jungkook yang bersahabat dengan So Hyun. Aku akan menganggap kejadian tadi karena kau sedang mabuk," So Hyun benar-benar berhasil melepaskan tangannya. Dengan cepat dia pergi. Meninggalkan Jungkook dengan perasaan bersalahnya.
-o0o-
So Hyun tersenyum melihat pria itu berdiri di dekat jendela. Dengan nafas terengahnya dia menghampiri pria itu. Memeluknya erat dari belakang. "Oppa," sapanya. Dia menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.
Untuk beberapa saat pria itu mebiarkan So Hyun melakukannya. Hanya sesaat, setelahnya dia melepas paksa tangan So Hyun. Dia menatapnya dengan pandangan marah. "Aku kecewa padamu," ucapnya sebelum berlalu pergi.
So Hyun berhasil menahan lengan pria itu. "Maaf," tutur So Hyun. Begitu singkat. Dia ingin mengatakan banyak hal, namun tak mampu. Lidahnya terasa kelu.
"Aku akan terima jika kalian hanya berpelukan. Tapi apa tadi? Kalian berciuman!" pria itu menahan amarahnya dengan memejamkan mata serta mengalihkan pandangan.
"Kau hanya salah paham," jelas So Hyun. Air matanya mulai keluar.
"Salah paham, setelah apa yang kulihat?"
"Aku tak tahu dia akan melakukannya. Aku, tak pernah menginginkan ciuman itu," jelas So Hyun.
Pria itu membuang nafasnya kesal. Amarah masih mengusainya, membuatnya tak mampu berfikir dengan jernih. Dia mengepal kuat tangannya. "Aku tidak peduli. Kenyataan jika kalian berciuman membuatku benar-benar kecewa." Dengan tenaganya dia melepas cengkraman So Hyun.
"Maaf. Maafkan aku. Jangan pergi, aku mohon." So Hyun kembali berhasil menarik lengan pria itu. Dia kini menangis sambil berlutut.
Pria itu hanya terdiam. Dia bahkan tak berbalik. Tak memperdulikan istrinya yang mulai terisak. Dia hanya sedang dikuasai amarah. Yang membutakan semua perasaannya.
"Aku akan melakukan apapun untukmu," ujar So Hyun dengan isakan. Dia masih berlutut. "Kau ingin punya anak kan. Aku akan melakukannya. Aku akan hamil untukmu. Tapi aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkana aku." Dia semakin terisak.
So Hyun tak pernah suka jika membahas kehamilan. Karena memang sejak awal dia sudah menegaskan pada pria itu, jika dia ingin menundanya. Dia belum benar-benar siap. Tapi sekarang dia bahkan akan melakukannya. Dia pasti benar-benar frustasi sudah membuat pria itu kecewa.
Dia sudah menyerahkan kepercayaannya pada pria itu. Bahkan dia dia sudah jatuh. Jatuh pada pesonanya. Meski sebenarnya itu wajar, mengingat mereka sudah tinggal bersama, makan bersama, bahkah tidur bersama. Dia tak ingin kehilangan itu semua.
"Kenapa aku harus tinggal, jika aku sendiri tak tahu perasaanmu untukku," pria itu masih enggan menatap So Hyun. Perasaan kecewanya masih besar. Hingga mampu menutup rasa ibanya.
"Aku mencintaimu. Hiks... hiks... aku mencintaimu," So Hyun mengatakannya sambil terisak. "Saranghae.... saranghae.... Jeongmal saranghae."
Pria itu mengangkat tubuh So Hyun. Menatap dalam matanya. Menciumnya dengan kasar. Lebih kasar dari yang Jungkook lakukan. Seolah sedang mengungkap betapa marahnya dia. Dia juga menggigitnya. Menimbulkan bau anyir karena sudut bibir yang terluka.
So Hyun tak perduli meski harus membuat tubuhnya terluka. Dia hanya ingin membuat pria itu tinggal. Menghilangkan semua kekecewaan pada dirinya. Juga berharap akan menghilangkah marahnya. Bahkan ketika pria itu memasukinya dengan kasar, dia benar-benar tak peduli.
"Saranghae," ucapnya tulus setelah puncak itu datang. Air matanya ikut jatuh bersama hilangnya kesadarannya.
-o0o-
Jimin mengusap pelan sudut bibir So Hyun. "Mianhae, sudah membuatmu terluka." Dia menyesal sungguh. Membuat gadis itu terluka. Membuat gadis itu mengeluakan air mata. Dia benar-benar kehilangan kendali tadi.
So Hyun tak bergeming. Dia masih terlelap.
Tangan Jimin kembali terulur merapikan anak rambut So Hyun. Dia juga menyusuri setiap lekuk wajah istrinya. Mengusap jejak air mata di pipinya. Mecium singkat bibirnya. "Aku juga mencintaimu, So Hyun."
Merengkuhnya ke dalam dekapannya. "Saranghae." Dia kembali mendaratkan kecupannya. Bukan di bibir, tapi di puncak kepala istrinya. Dia ikut terlelap setelahnya.
⏬
To Be Continue..
⏫
Hati-hati jgn sampai patah hati..
Pengen curhat nih, aku lg senang + sedih juga. Soalnya sahabat kecil cowok aku datang ke rumah tetangga aku. Kebetulan saudaranya tetangga aku. Dulu pas kecil dia sering main kesini, main sama aku juga. Dan pas dia main kesini, aku langsung kaget dong, soalnya pas udh sama-sama gede kita jarang kontakan dan GK pernah ketemu lagi. Hari ini aku ketemu dia, aku seneng sih, tapi dia liat aku, dan sepertinya gk inget aku😥😢. Wajar sih pasti dia udh lupa, tapi gak adil banget gitu kalo aku inget dia tapi dia nggak😖😖 aku harus bagaimana? Pengen rasanya kembali ke masa bersama dia🙃
Maaf aku jadi curhat😂, anggap aja ini selingan cerita ini wkwk🤣🤣
Saya balik lagi dengan chapter 21 Gimana menurut kalian?
Semoga tetep suka ya.....
Terima kasih sudah setia menunggu.
See you next time.
Like Comment juseyo 🙏