The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 4



Chapter 4


(Remember That)





So Hyun merogoh tasnya, mencari keberadaan ponselnya setelah menutup pintu ruangan itu dengan keras. Dia mencari nomor seseorang di kontak ponselnya, menekan ikon panggil sebelum menempelkannya di telinga. Cukup lama dia menunggu. Sebari menunggu dia menyandarkan punggungnya pada pintu. “Yeobseyo”, ucapnya setelah merasa panggilannya dijawab.


“Manajer Im, apa baju yang aku berikan minggu lalu sudah selesai?”, tanya gadis itu hati-hati. Dia tampak mendengarkan penjelasan lawan bicaranya dengan seksama. “Bukan apa-apa. Aku hanya takut salah tanggal”, raut wajahnya terlihat tak enak.


“Jadi benar tanggal 12 kan?”, tanya So Hyun kembali. Dia mengetukkan heelsnya beberapa kali ke lantai. Mendengarkan setiap kata yang lawan bicaranya katakan. Dia juga terkadang mengangguk kecil tanda dia sudah paham. Senyum kecil juga dia sunggingkan. Sepertinya ada obrolan lucu diantara mereka. “Terima kasih atas penjelasannya Manajer Im. Selamat bekerja kembali”, begitulah So Hyun mengakhiri panggilannya.


Dia menatap layar ponselnya. Entah apa yang dicarinya, dia terlihat menggeser beberapa kali layar ponselnya. “Bukankah seharusnya tanggal 15. Inikan baru tanggal 8”, katanya entah pada siapa. Dia kembali memasukkan ponselnya. Mengambil tabletnya kemudian.


Pandangannya ia edarkan ke seluruh penjuru ruang. Dia bisa melihat banyak cermin disana. Kursi juga berjajar rapi. Banyak make up yang masih tetata rapi disana. Sepertinya itu ruang make up. So Hyun tak mempermasalahkannya. Dia berjalan mendekati salah satu kursi. Menariknya sebelum mendudukinya. Tangannya sibuk dengan tabletnya. Dia tak sadar jika di belakangnya kini berdiri seorang pria.


Pria itu menatap aneh gadis yang duduk membelakanginya. Seingatnya tidak ada gadis itu sebelum dia berganti pakaian tadi. Tunggu! Dia sepertinya tau perawakan gadis itu. Ya, dia yakin. Blazer yang dipakainya, rambut panjang itu. “Kim So Hyun”, ucapnya lantang. Dia lantas mendekati gadis itu.


So Hyun yang merasa namanya dipanggil menoleh. “Iya”, jawabnya. Dia mendengus kesal melihat orang yang memanggilnya. Pria itu lagi. Dia kembali ke posisi awal sebelum dirinya dipanggil. Dia tak memperdulikan pria itu yang sudah duduk di sebelahnya.


“Kau sedang apa disini?”, tanya pria itu setelah mendudukan dirinya.


So Hyun hanya diam. Tangannya masih sibuk dengan tabletnya. Dia tak menoleh sedikitpun. Sedang malas mendengar ocehan atau memang sedang tidak mood. Kenapa juga dia harus masuk ruang itu tadi.


“Kau tidak sedang mengikutiku kan?”, pria itu kembali bersuara.


So Hyun menghela nafas mendengarnya. Tangannya masih sibuk dengan tabletnya. “Mengikutimu! Jangan bercanda Jimin-ssi. Masih banyak kegiatan penting yang bisa aku lakukan daripada harus mengikutimu”, jawabnya tanpa menoleh. Matanya masih sibuk memandang tabletnya.


“Lalu!”, tanya pria itu lagi.


So Hyun mematikan tabletnya. Memasukannya ke dalam tasnya. “Itu tidak penting sekarang. Kita harus bicara. Kita belum menyelesaikannya tadi pagi”, ucap So Hyun. Dia membenarkan posisi duduknya yang kini menghadap pria itu.


“Apa lagi?”, ucap pria itu.


“Kenapa kau mau menerima perjodohan ini?”, ucap So Hyun. “Ah, bukan”, ucapnya kembali dengan cepat. Dia juga menggelengkan kepalanya. “Tidak bisakah kau membatalkannya?”.


“Kenapa aku harus membatalkannya?”, jawab pria itu. Sebenarnya itu lebih tepat jika dikatakan sebagai pertanyaan.


So Hyun mengghela nafasnya. Jawaban itu lagi. “Kita belum saling mengenal. Dan lagi, dunia kita berbeda”.


“Siapa bilang kita tidak saling mengenal. Aku mengenalmu, meski mungkin kau tidak mengingatku”, jelas pria itu.


“Hah”, So Hyun sempat kaget. Hanya sebentar. Dia mencoba menormalkan dirinya. “Bagaimana bisa? Aku baru pindah kesini sekitar enam bulan yang lalu. Jangan mengada-ada Jimin-ssi”.


Pria itu tersenyum. Senyum yang mampu membuat siapapun terpukau. Tapi tidak dengan gadis itu, sepertinya. “Sebelum kau pindah ke Paris”, jawabnya.


Darimana pria itu tahu jika dia tinggal di Paris sebelumnya. Seingatnya dia tak pernah memberitahukannya. So Hyun mengangkat sebelah alisnya. Memandang tajam pria itu kemudian.


“Kau adiknya Kim Hyunmin kan?”, tanya pria itu kembali.


So Hyun mengangguk. Dia kini tahu darimana pria ini mengenalnya. Salah satu teman dari kakaknya. Meski dia tidak ingat apa pria itu benar-benar teman kakaknya. Ya, banyak sekali teman yang dimiliki kakaknya dulu. Dan kakaknya sering sekali mengenalkannya padanya. Dia mau-mau saja, karena dia tak mau ambil pusing. Hanya berkenalan apa salahnya. Tapi buruknya, dia tak pernah mau mengingatnya. Jadi, setiap kali teman kakaknya menyapanya di jalan So Hyun selalu bertanya ‘Nuguseyo?’. Dan itu membuat teman-teman kakaknya tampak seperti orang bodoh yang mengira mengenalnya.


“Itu tidak penting sekarang. Aku hanya butuh penjelasan, kenapa kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini?”, So Hyun kembali bersuara.


“Aku tidak punya alasan untuk menolak”, jawab pria itu. Jawaban itu lagi. Sama seperti tadi pagi.


“Itu bukan penjelasan”, ucap So Hyun sedikit kesal.


-o0o-


“Ada apa ini?”, tanya seorang pria yang usianya sekitar pertengahan tigapuluhan. Dia baru datang dari arah lain. Dia sempat melihat seorang gadis memasuki salah satu ruang di tempat itu dan membanting pintunya dengan keras.


Sekretaris Min menunduk hormat pada orang tersebut. “Annyeong haseyo Manajer Han”, sapanya.


“Sekretaris Min”, sapa pria itu. Dia juga menunduk hormat pasa sekretaris Min. “Sebenarnya ada apa ini?”, tanya pria itu kembali.


Sekretaris Min tersenyum canggung. Dia merasa tak enak mengatakannya. Tidak mungkin dia bilang jika salah satu artis pria itu tengah bermasalah dengan atasannya, hingga membuatnya harus membatalkan pemotretan. “Sebenarnya….”, sekretaris Min tak sempat melanjutkan kalimatnya. Dia sudah disela salah seorang dari sekian banyak orang di tempat itu.


“Jungkook membuat masalah, hyungnim”, ucap salah seorang pria yang biasa dipanggil Namjoon.


“Apa?”, pria itu tampak terkejut. Dia memejamkan matanya sebentar mencoba mereda emosinya. “Sekarang apa lagi?”.


Pria bernama Namjoon itu mencoba menjelaskannya. Sedang pria yang dipanggil Manajer Han itu tampak kesal. Ini memang bukan kali pertama Jungkook membuat masalah. Biasanya pria yang dipanggil Manajer Han itu selalu menyelesaikannya dengan baik. Tapi masalahnya sekarang adalah dengan siapa Jungkook membuat masalah. Sepertinya kali ini dia harus mencoba dengan keras, mengingat siapa orangnya.


“Jungkook. Tidak bisakah sekali saja kau tak membuat masalah. Apa kau tahu siapa gadis itu?”, pria yang dipanggil Manajer Han itu tampak benar-benar marah.


“Kenapa aku harus peduli?”, pria bernama Jungkook itu menjawab acuh. Dia memasukan tangannya ke dalam kantung celananya, kemudian menyandarkan punggungnya di dinding.


“Tentu saja kau harus peduli. Dia keponakannya Lee hwejangnim. Sepupunya Lee daepyonim. Kau paham sekarang”, jawab pria yang dipanggil Manajer Han.


“Apa!”, jawab mereka hampir serempak. Ya, para personil BTS tengah kaget mendengar penjelasan manajernya.


“Bukankah keponakan Lee hwejangnim Sunny sunbae!”, tanya Jungkook yang juga sedikit terkejut tadi.


“Dia keponakan dari istrinya”, ucap pria yang dipanggil Manajer Han kembali.


Jungkook hanya bisa terdiam sekarang. Dia mengedipkan matanya dengan cepat beberapa kali, mencoba memahami situasi. Dia tak sedang salah dengarkan! Dia akan benar-benar dapat masalah jika memang apa yang dikatakan manajernya benar.


“Minta maaf padanya sekarang”, pria yang dipanggil Manajer Han itu kembali bersuara.


“Tapi hyung?”, Jungkook mencoba mengelak. Entah mengapa rasa gengsinya masih tinggi. Sebenarnya dia masih kesal dengan gadis itu.


“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang atau kau mau kehilangan pekerjaanmu”, pria yang dipanggil Manajer Han itu masih tampak marah.


“Tidak apa-apa Manajer Han. Sebenarnya daepyonim dalam suasana hati yang buruk hari ini. Mungkin ucapannya tadi hanya efek dari suasana hatinya yang buruk. Aku akan mencoba membujuknya”, sekretaris Min kini bersuara.


“Tidak. Jungkook memang harus melakukannya. Kami sungguh minta maaf Sekretaris Min”, pria yang dipanggil Manajer Han itu membungkuk hormat pada sekretaris Min.


Pintu yang tadi dimasuki So Hyun terbuka menampakkan sosok yang sedang mereka bicarakan. So Hyun berjalan mendekati sekretarisnya.


“Daepyonim”, sapa sekretarisnya.


“Bukankah pemotretannya seharusnya di tanggal 15. Kenapa menjadi hari ini?”, tanya So Hyun.


“Iya. Lee daepyonim yang meminta diajukan”, jelas sekretarisnya.


“Kenapa kau tak bilang padaku”, terlihat raut kecewa di wajah So Hyun. “Apa kau lupa jika masih ada produk yang belum jadi?”, lanjut So Hyun.


“Ah iya. Kenapa aku bisa lupa! Maafkan saya daepyonim”, ucap sekretaris Min merasa bersalah. Dia mengusap tengkuknya mengungkapkan penyesalannya.


Pintu itu kembali terbuka. Terlihat sosok jakung keluar dari sana.


Sepertinya So Hyun tak menyadarinya. Terbukti dengan terduduknya dirinya kembali ke lantai setelah tak sengaja menabrak pria jakung di belakangnya. Padahal tabrakan itu tak terlalu keras.


“Daepyonim”, teriakan sekretarisnya kembali dia dengar.


So Hyun masih terdiam. Dia tak merespon. Dia masih mencoba menormalkan dirinya. Dia memejamkan matanya beberapa kali. Kepalanya sedikit pusing. Keseimbangan tubuhnya bahkan lemah.


“Kau baik-baik saja?”, tanya pria pendek itu sambil berjongkok. Dia mencoba membantu So Hyun berdiri.


So Hyun mengangkat tangannya bermaksud menolak bantuan pria itu, namun tak diindahkan. Pria itu sudah memegang lengannya dan menarik tubuhnya hingga membuatnya berdiri kembali.


“Kau sungguh baik-baik saja! Wajahmu terlihat pucat”, ucap pria itu kembali. Dia melepaskan genggaman tangannya dari lengan So Hyun.


“Daepyonim, kau tidak meminum obatmu?”, tanya sekretarisnya.


So Hyun menoleh. Wajahnya memang tampak pucat. “Sepertinya tidak”, jawabnya sambil menggeleng.


“Daepyo~nim”, ucap sekretaris Min. Nadanya sedikit tinggi. Seperti nada sedang kesal. “Alergimu baru kambuh semalam, dan kau tak meminum obatmu. Apa kau mau pingsan lagi?”, terdengar nada tegas disetiap ucapannya. Raut wajah itu menunjukan kecemasannya.


So Hyun menundukan kepalanya. Dia kini merasa bersalah setelah melihat raut cemas di wajah sekretarisnya. “Kau tahu aku sedang buru-buru tadi”, jawab So Hyun. Nadanya terdengar pelan. Dia terlihat seperti gadis kecil yang ketahuan mencuri.


“Itu bukan alasan”, jawab sekretaris Min. Nadanya masih terdengar tegas. “Baru kali ini aku melihatmu begitu ceroboh”, lanjutnya kembali. “Apa kau membawa obatmu?”.


So Hyun menggeleng. “Tapi sepertinya di mobilku ada”, ucapnya.


“Kau tidak membawa mobil”, ucap sekretaris Min kembali.


“Aku memang tidak membawa mobil. Aku kan menumpangmu tadi. Dia yang membawa mobilku”, So Hyun menunjuk orang yang masih berdiri di belakangnya.


Sekretaris Min diam. Dia menatap So Hyun tajam.


“Kenapa menatapku seperti itu?”, tanya So Hyun yang sedikit risih dengan tatapan sekretarisnya.


“Kau tak akan mengambilnya!”, itu lebih ditekankan menjadi kalimat perintah.


“Iya, iya. Kau harus menyelesaikan itu. Aku akan pulang setelah ini”, jawab So Hyun.


“Kau benar-benar mau membatalkannya?”.


“Bukan dibatalkan, tapi ditunda. Ubah tanggalnya menjadi tanggal semula. Aku akan bicara pada Hyunjoon oppa nanti”, jelas So Hyun kembali. “Aku pergi”.


-o0o-


“Sudah separuh jalan. Manajer Kang yang menjadi penanggung jawab, jadi jangan khawatir. Anda tahu sendiri bagaimana kinerjanya”, jelas sekretarisnya yang masih setia berdiri di depan meja atasannya.


“Bagaimana dengan pesanan Lee daepyonim?”, tanya So Hyun kembali. Dia menutup berkasnya. Menyerahkan kembali pada sekretarisnya.


“Anda baru mengirim desainnya kemarin. Kurasa mereka baru mulai mengerjakannya hari ini”, jelas sekretaris Min kembali. Dia menerima berkas yang diberikan atasannya.


“Baguslah! Semuanya harus selesai sesuai pesanan”, ucap So Hyun lagi.


“Iya”.


“Apa jadwalku setelah ini”.


“Tidak ada”.


“Baiklah! Kau boleh pergi”.


Sekretaris Min menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang kerja atasannya. Dia melangkah dengan tenang, namun belum sempat dia menyentuh gagang  pintu atasannya kembali bersuara.


“Suruh manajer Im mengirim laporan perkembangan pesanan dari Plaza Hotel”, suara So Hyun terdengar lantang.


Sekretaris Min kembali menoleh. “Iya, akan saya lakukan”, dia kembali menunduk hormat dan menghilang di balik pintu.


So Hyun menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya ia pejamkan sebentar, mencoba merilekskan dirinya. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini. Sebuah e-mail masuk di laptop kerjanya. Dia kembali membuka matanya. Melirik sekilas jam dinding di ruangannya. Jam makan siang sudah berjalan.


Dia berniat membuka e-mail masuk tersebut. Suara ketukan pintu juga terdengar olehnya. Dia menoleh melihat siapa yang tengah memasuki ruangannya. Baru sepuluh menit gadis itu keluar, dia sudah datang kembali. “Ada apa sekretaris Min?”, tanyanya.


“Ada yang ingin bertemu dengan anda”, jelas sekretarisnya.


“Siapa?”, tanya So Hyun sedikit penasaran.


“Anda bisa melihatnya sendiri”, jawab sekretaris Min diselingi senyum yang menurut So Hyun cukup aneh. Entah senyum yang dipaksakan atau mengejek, dia tak tahu pasti maksud senyum itu.


“Mari silahkan masuk!”, sekretaris Min kembali bersuara, namun itu ditujukannya pada orang yang berada di belakangnya.


Orang yang di maksud sekretaris Min masuk. Pakaiannya cukup aneh menurut So Hyun. Dia membulatkan mata kala mengenali orang tersebut.


“Saya permisi dulu”, pamit sekretaris Min. Dia menunduk hormat sebelum menutup pintu.


So Hyun menghela nafasnya sebentar. “Duduklah! Beri aku waktu lima menit, kita akan bicara setelah itu”, ucap So Hyun.


Orang itu mengangguk mengerti. Dia duduk di sofa ruang kerja So Hyun. Melepas topi serta maskernya.


Waktu lima menit itu So Hyun gunakan untuk memeriksa e-mail masuk yang belum sempat diperiksanya. Dia tersenyum senang membaca kalimat demi kalimat yang tertulis disana. Salah satu beban di pikirannya menghilang. Dia harus berterima kasih pada salah satu bawahannya itu. Kinerjanya sungguh bagus. Dia bisa menyelesaikannya bahkan sebelum tenggang waktu yang diberikannya.


So Hyun menutup laptop kerjanya. Dia berdiri dan berjalan mendekati orang tersebut. Mendudukan dirinya tepat menghadap orang itu. “Jadi apa yang membawa anda rela datang kemari, Jungkook-ssi”, So Hyun menekankan kata ssi di ucapannya. Rasanya aneh memanggil pria itu dengan embel-embel tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, pria itu tak mengenalinya.


Pria itu tampak gelisah. Terbukti dari caranya membenarkan posisi duduknya beberapa kali. Nafasnya juga terlihat tak teratur. Tangannya juga mengenggam erat ujung mantelnya. So Hyun bisa melihat pria itu tengah menelan ludahnya. Khas seorang Jungkook yang tengah gelisah. Bahkan setelah sekian lama tak bertemu, pria itu masih sama seperti yang diingatnya.


“Kenapa? Kau mau minta maaf!”, ucap So Hyun lantang.


Jungkook membulatkan matanya. Dari mana gadis itu tahu jika dirinya akan meminta maaf? Dia mengdipkan matanya beberapa kali seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


So Hyun bisa melihat dengan jelas raut wajah pria itu. Seolah berkata darimana dia mengetahuinya. “Jika kau mau minta maaf soal kemarin, kau tak perlu melakukannya. Aku tak marah dengan kejadian itu”, So Hyun kembali bersuara.


“Tapi aku harus tetap melakukannya”, Jungkook berdiri. Dia membungkukkan badannya, “Mianhamnida”, ucapnya lagi. Dia mendudukan dirinya kembali setelahnya.


So Hyun tersenyum melihatnya. Ini sama seperti waktu itu, ingatan kecil tentang Jungkook dulu berputar di kepalanya. Sebuah ide terlintas begitu saja di otaknya. Semoga dengan dia melaksanakan idenya pria itu akan mengingatnya. “Aku akan menerima permintaan maafmu, jika kau mau mentraktirku makan”, ucap So Hyun kemudian.


“Hah”, Jungkook sempat tercengang. Ini cukup aneh menurutnya. Tapi pada akhirnya dia menyetujui permintaan gadis itu.


-o0o-


Mereka sudah berdiri di depan rumah makan bertuliskan sup nenek. Untuk sesaat Jungkook terdiam. Dia tak pernah menyangka jika gadis itu akan mengajaknya ke tempat seperti itu. Dia fikir gadis itu akan mengajaknya makan di hotel berbintang atau setidaknya di restoran mahal, tapi apa ini. Gadis itu mengajaknya makan di rumah makan sederhana di pinggiran sungai Han.


“Kenapa diam? Ayo masuk”, ajak So Hyun yang melihat Jungkook masih diam. Dia menarik lengan pria itu karena tak kunjung bergerak. Dia tahu jika pria itu pasti memiliki banyak pertanyaan untuknya.


Mereka memilih duduk di pojok ruang. So Hyun sengaja memilihnya. Selain karena dapat melihat langsung pemandangan sungai Han, dia juga harus menjaga pria itu dari keramaian. Ya, pria itu kan idol terkenal. Dia tidak mau acara makan siangnya terganggu karena ketahuan fansnya.


Tak lama setelah duduk, pelayan rumah makan tersebut datang. So Hyun menyebutkan beberapa menu, setelah meminta pendapat pria itu. Sebenarnya dia tak perlu melakukannya. Dia sudah sangat hafal apa yang pria itu sukai. Tapi setidaknya dia harus menjaga formalitasnya.


Jungkook menatap aneh gadis yang duduk di depannya. Gadis itu sangat sesuatu. Gadis itu sepeti sudah tahu apa yang disukainya. Meski tadi gadis itu bertanya, tapi pertanyaannya lebih tepat disebut saran. Waktu itu, gadis itu bilang jika mengenalnya. Tapi kapan? Dia tak pernah ingat mengenal gadis itu.


“Kenapa menatapku seperti itu?”, tanya So Hyun yang mendapat tatapan aneh dari pria yang duduk di depannya.


Jungkook menggeleng. “Bukan apa-apa”, jawabnya.


“Kenapa? Kau tidak suka tempatnya?”, So Hyun kembali bertanya.


“Bukan karena tempatnya. Bukankah ini aneh. Seharusnya….”, belum sempat Jungkook melajutkan kalimatnya, So Hyun sudah menyelasanya.


“Jika kau pikir aku akan mengajakmu ke hotel berbintang atau restoran mahal, kau salah. Sebenarnya aku tak suka makan di tempat seperti itu”, dia sedikit berbisik saat mengatakan kalimat terakhirnya.


“Hah”, Jungkook kembali tercengang. Ini fakta aneh lain yang dia ketahui dari gadis itu. Dia ingin bertanya lebih, hanya saja pelayan rumah makan tersebut sudah datang membawa pesanan mereka. Dan itu membuatnya harus diam sebentar untuk menyaksikan makanannya tertata rapi di meja.


“Mari makan”, ajak So Hyun. Dia mengambil sendoknya. Mencoba sesendok kuah sup yang dipesannya. “Rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu”, ucapnya kemudian.


“Jadi kau sering kesini?”, tanya Jungkook.


“Emmh”, So Hyun mengangguk. “Aku sering datang bersama keluargaku”, jelasnya. Dia kembali menyuapkan kuah sup tersebut.


Jungkook yang tergoda melihat cara gadis itu makan, dia mengambil sendok kemudian. Dia mengikuti gadis itu, menyuapkan kuah supnya. Enak, sangat enak malahan. Dia kembali mengambil kuah itu.


So Hyun tersenyum, dia tahu jika pria itu akan menyukainya. “Aku juga pernah mengajak temanku kesini”, ucap So Hyun kembali.


Jungkook mendongakkan kepalanya. Dia menatap gadis itu, untuk memperjelas pendengarannya.


“Aku juga mengatakan hal sama padanya. Aku akan memaafkannya jika dia mau mentraktirku makan”, jawab So Hyun diselingi senyuman. Dia sedang teringat kejadian itu.


“Dan kau juga mengajaknya kesini”, ucap Jungkook. Itu hanya asumsinya.


So Hyun mengangguk.


“Kau sungguh memafkannya setelah itu?”, tanya Jungkook kembali.


So Hyun kembali mengangguk. “Sebenarnya aku tak yakin soal itu. Aku hanya mengikuti saran ayahku. Saat kau benar-benar marah dengan seseorang cobalah untuk mengajaknya makan. Dan benar yang dikatakannya, rasa marah itu hilang dengan sendirinya”, jelas So Hyun. Dia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Jungkook kembali tercengang. Itu cara yang aneh menurutnya. Dia seperti pernah mendengar hal itu. “Bagaimana bisa?”, tanyanya kemudian.


“Kau akan melihat sosok lain seseorang saat sedang makan”, jelas So Hyun.


Jungkook mengangguk paham. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Selain itu, dengan makan bersama kau bisa memperat hubungan”, ucap So Hyun kembali.


“Maksudnya?”, tanya Jungkook tak paham.


“Saat makan bersama, kau akan merasa sama dengan orang tersebut, tidak peduli setinggi apapun derajat sosial orang itu. Kenapa? Karena pada intinya manusia itu sama. Sama-sama membutuhkan makan. Dan itu juga dapat membuat kita merasa nyaman bersama orang tersebut. Bahkan kadang, kau bisa jatuh cinta pada orang yang sering kau ajak makan”, So Hyun tersenyum mengucapkan kalimat terakhirnya.


“Itu yang dikatakan ayahku. Dia juga jatuh cinta pada ibuku karena seringnya mereka makan bersama”, lanjut So Hyun.


Jungkook terdiam mendengarnya. Cerita itu sepertinya tak asing diingatannya. Dia seperti pernah mendengarnya.


“Kau akan merasakan perasaan lain saat makan bersama orang lain, yang tak bisa kau dapatkan saat makan sendiri”, jelas So Hyun kembali. Dia kembali melahap makanannya.


Tidak ada percakapan diantara mereka setelah itu. So Hyun yang sibuk dengan makanannya. Juga Jungkook yang terlihat merenung mendengar cerita gadis itu. Dia memang memakan makanannya, tapi pikirannya entah kemana. Dia mencoba mengingat dimana pernah mendengar cerita tersebut.


-o0o-


Jungkook menghentikan mobilnya tepat di depan perusahan yang So Hyun kelola.


“Terima kasih sudah mengantarku Jungkook-ssi”, ucap So Hyun. Dia melepas sabuk pengamannya.


Jungkook mengangguk. “Terima kasih juga sudah menceritakan cerita menarik”, jawab Jungkook.


So Hyun menoleh ke arah Jungkook. “Aku mengatakannya bukan untuk bercerita, tapi untuk mengingatkanmu”, ucap So Hyun diselingi senyum manisnya.


Jungkook mengangkat alisnya tak paham. Seolah bertanya apa maksudnya.


So Hyun tahu maksud Jungkook. Tapi dia memilih diam. Dia tak ingin memberi penjelasan apapun pada pria itu. Dia membuka pintu mobil. Menunduk hormat sebelum menutup pintunya.


Jungkook hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Matanya masih tak lepas dari punggung gadis itu yang semakin menjauh. Setelah memastikan gadis itu tak terlihat di pandangannya, dia melajukan mobilnya kembali.


💜


💜


💜


To Be Continue...


💜


💜


💜