The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 30



Nih update 2 part tuh, wah pembacanya seneng nih. Btw minta vote dong buat peringkat, cerita ini soalnya diikutin ke lomba Noveltoon. Ayo dong dukung cerita ini dengan vote cerita ini, caranya ngerti kan? kalau gak ngerti boleh komentar di bawah ya.


***


Chapter 30


(Aera & JK)


__


__


__


“Kenapa kita ke sini lagi?” tanya Aera pada So Hyun. Ya, mereka kini tengah mengunjungi kafe yang tempo hari mereka datangi.


“Macaronnya enak,” jelas So Hyun dengan senyum manisnya.


Aera tersenyum mengejek. “Jadi, ceritanya bosku yang cantik ini sedang nyidam.”


“Apaan sih!” So Hyun tersipu.


“Ya sudah. Sana cari tempat duduk. Aku yang akan memesan.”


So Hyun mengangguk. Dia pergi meninggalkan Aera yang sedang mengantri. Netranya menemukan orang yang dicarinya. Sebenarnya, dia memang sedang ada janji dengan seseorang di tempat itu. “Kau sudah lama?” sapanya kemudian. Dia ikut duduk berhadapan dengan pria itu. Meja di depannya terdapat secangkir kopi yang isinya tinggal setengah.


Pria yang tadi sibuk dengan ponselnya menoleh. Mendapati sahabatnya sudah datang dia tersenyum, hanya sebentar. Setelahnya raut aneh terpampang di wajahnya. Dia masih belum terima dengan fakta yang didapatinya beberapa hari yang lalu. Matanya menelisik mengamati penampilan So Hyun dari atas sampai bawah. Rasanya masih tak rela jika kini sahabatnya sudah berstatus sebagai istri orang. Terlebih lagi itu adalah rekannya.


“Jadi sekarang kau sedang hamil?” Sakit saat mengatakannya. Itu adalah hal mengejutkan kedua yang didengarnya hari itu.


“Iya, delapan minggu,” jelas So Hyun. Sebisa mungkin dia menunjukan wajah ramahnya. Dia tahu jika pria yang duduk di depannya masih kecewa dengannya.


“Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?” Lagi, masih dengan nada sedikit tingginya pria itu bersuara.


“Aku sudah memberitahumu.” So Hyun tak bohong saat mengatakannya. Meski pada akhirnya dulu dia mengatakannya sebagai candaan.


“Kau yang bilang jika itu hanya candaanmu.”


“Maaf. Kau sudah tahu sendiri kan alasannya.”


“Jadi kau menemui pria ini?” ucap Aera meletakkan pesanannya di meja. Dia juga menunjuk pria yang duduk di depan bosnya. “Aku akan tunggu di mobil. Kalian mengobrolah yang santai,” ucapnya lagi sebelum kedua orang tersebut bersuara. Dia ingin memberi ruang mereka untuk menyelesaikan masalahnya.


Aera benar-benar pergi meninggalkan mereka. Dia tahu batasannya. Saat akan membuka pintu mobil, tepukan pelan mendarat di pundaknya. Seorang wanita cantik menghampirinya.


“Kau yang bernama Min Aera?” tanya wanita itu kemudian.


“Iya, benar,” jawab Aera.


Plak. Tamparan keras mendarat di pipi Aera. Rasanya begitu sakit. Sambil memegangi pipinya, Aera hendak protes. Namun perkataan wanita itu membuatnya diam.


“Berhenti menemui suamiku.”


“Apa maksud anda?” tanya Aera yang tak paham.


“Kau pikir aku tak tahu, jika selama ini kau berkencan dengannya. Pria bernama Hwang Johan itu, suamiku.”


Aera membulatkan mata. Menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Dia seperti di sambar petir. Sakit mendengarnya, sungguh. “Itu tidak mungkin. Kau hanya mengada-adakan,” bantahnya. Dia mencoba menepis kemungkinannya. Dia tak terima dengan perkataan wanita itu. Terlebih, dia baru pertama kali bertemu.


“Dasar wanita murahan.” Wanita itu bermaksud menampar Aera kembali. Namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh seseorang. Wanita itu mencoba memberontak. Dia ingin melepaskan tangannya.


“Tidak baik, menyelesaikan masalah dengan kekerasan,” ucap orang itu.


“Bukan urusanmu. Lepas!” Akhirnya wanita itu dapat membebaskan tangannya. “Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jika sekali lagi kau mencoba menggoda atau menemui suamiku. Aku akan menghabisimu.” Setelah berkata itu, wanita tadi meninggalkan Aera dan kedua orang yang muncul entah dari mana.


“Eonni, kau baik-baik saja?” tanya So Hyun yang memegang bahu Aera. Gadis itu akan terjatuh jika So Hyun tak memegangnya. Tadi So Hyun memang baru keluar dari kafe. Dia berjalan cepat bersama Jungkook menghampiri Aera melihat kejadian tadi.


Air mata Aera tumpah. “Aku tidak tahu jika dia sudah beristri,” ujarnya sambil terisak.


So Hyun menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mencoba memberinya kekuatan.


“Bawa masuk ke mobil saja. Tak enak dilihat banyak orang,” tutur Jungkook memberi saran. Mereka memang baru saja menjadi pusat perhatian orang yang kebetulan lewat.


-o0o-


So Hyun berjalan tergesa memasuki hotel. Dia menekan angka di mana tujuannya datang. Bar hotel. Setelah mendapatkan telfon jika sekretarisnya tengah mabuk di sana, dia bergegas pergi. Dengan langkah sedikit cepat, dia berjalan.


Sampai di sana dia melihat gadis itu sudah tak sadarkan diri dengan kepala di sandarkan pada meja. Dia membuang kesal nafasnya. Sebegitu berefeknya kejadian siang tadi. Gadis itu pasti bertengkar atau bahkan mungkin putus dengan kekasihnya.


“Anda mengenalnya nona?” tanya seorang bartender ketika dia duduk di samping gadis itu.


“Iya, dia sekretarisku. Terima kasih sudah menghubungiku dan menjaganya,” ucap So Hyun tulus.


“Tidak masalah,” jawab Sang Bartender. Dia kembali pamit undur diri karena harus melayani tamu yang lain.


“Kau sebenarnya kenapa sih? Merepotkan orang saja.”


Suara tak asing mengema begitu saja di telinganya. So Hyun menoleh untuk memastikan jika pemikirannya benar. Benar saja, seorang pria tengah membopong pria lain yang sedak mabuk. Si Pria yang mabuk seperti enggan pergi bersama pria tersebut. Saat sudah dekat, So Hyun menyapa orang itu. “Oppa.”


Pria itu menoleh. Mengangkat alis mendapati pemandangan langka di depannya. “Sayang, apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria yang dipanggil oppa oleh So Hyun.


So Hyun menunjuk gadis yang sudah terlelap karena mabuk.


“Itu Aera?” tanya pria itu lagi. Pria yang dibopongnya sudah tak sadarkan diri.


So Hyun mengangguk. “Aku mendapat telfon dari bartender jika dia mabuk. Aku segera bergegas kemari,” jelasnya kemudian.


“Aku ke sini juga karena mendapat telfon jika dia mabuk.” Tangan pria itu menunjuk ke arah pria yang sudah tak sadarkan diri. “Dia memang selalu menyusahkan,” keluhnya kemudian. “Tunggu di sini! Aku akan bawa Jungkook ke mobil. Setelahnya aku akan membawakannya untukmu.” Pria itu menunjuk gadis yang terlelap di samping So Hyun.


“Kenapa tidak biarkan saja mereka di sini?” ujar So Hyun yang langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.


Namun pada akhirnya pria itu tersenyum. Mengangguk setuju dengan ide istrinya. “Bagus juga.”


-o0o-


“Bagaimana reaksi mereka saat terbangun, aku benar-benar penasaran,” Jimin membuka obrolan di sela-sela makannya. Setelah memastikan kedua orang yang dikenalnya berada di tempat aman, dia membawa pulang istrinya. Dan sekarang, dia sedang sarapan bersamanya.


So Hyun hanya tersenyum di sela-sela kunyahannya. “Kaget tentu saja,” jawabnya setelah menelan makanannya.


“Bagaimana bisa kau terfikirkan ide itu?” tanya Jimin kembali.


“Aku hanya merasa kasihan pada Aera eonni. Ini kali pertama aku melihatnya berkencan selama hampir setahun bersamanya. Tapi dia mendapat orang yang salah. Pria itu ternyata sudah memiliki istri,” jelas So Hyun. Dia kembali memasukan makanan ke mulutnya.


“Kenapa dia sampai tidak tahu?”


“Istrinya baru kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studinya.”


-o0o-


Jungkook masih betah memandang wajahnya di cermin. Dia mengenakan bathrobe setelah mandi tadi. Rambutnya masih setengah basah. Pikirannya menerawang mengingat kejadian semalam. Dia mengacak rambutnya sambil mengutuki kebodohannya. Dia sudah membuat kesalahan fatal. Bagaimana tidak, dia sudah meniduri seorang gadis. Terlebih gadis itu masih perawan sebelumnya. Dia benar-benar brengsek. Lagi, dia mengacak kasar rambutnya.


Dia ingat dia pergi ke bar semalam. Melepas stres dari tuntutan kerja serta fakta jika sahabat yang disukainya sudah menikah. Dia masih belum terima dengan yang satu itu. Apalagi suami dari sahabatnya adalah rekannya.


Tapi yang membuatnya heran, mengapa dia bisa berada di kamar hotel bersama gadis itu? Singkat cerita, dia yang masih setengah mabuk mendengar seorang gadis menangis. Dengan sedikit enggan dia beranjak dari tempatnya berbaring. Gadis itu mengumpat serta menyebutkan nama seorang pria yang diyakininya sebagai kekasihnya. Gadis itu terlihat frustasi. Mungkin habis putus dengan pria yang disebutkan namanya tadi.


Karena terlalu berisik. Jungkook membentaknya. Mereka yang masih setengah mabuk kemudian berdebat. Dan berakhir dengan semakin kerasnya gadis itu menangis. Tak tega melihatnya, dia memeluknya mencoba menenangkannya. Dia mungkin sedikit tahu bagaimana perasaan gadis itu. Dia dibuat semakin frustasi karena gadis itu tak kunjung berhenti menangis. Entah mendapat dorongan dari mana dia akhirnya mencium gadis tersebut dan dia melakukannya. Salahkan gadis itu yang juga membalas ciumannya.


Bukan, bukan. Ini memang salahnya. Gadis itu hanya terbawa suasana. Jika saja jiwa brengseknya tidak muncul, ini tidak akan pernah terjadi. Tapi sebenarnya itu murni karena mabuk. Dia mengusap kasar wajahnya dan kembali mengacak rambutnya. Apa yang harus dikatakannya pada gadis itu jika terbangun nanti?


Minta maaf. Ya, dia harus melakukannya. Entah dia akan mendapat pukulan atau cacian dia harus siap. Itu memang resiko yang harus ditanggungnya. Terlebih lagi dia sudah mengenal gadis itu, meski hanya sebatas pekerjaan dan nama. Gadis itu adalah sekretaris sahabatnya. Min Aera. Jika sampai sahabatnya tahu… Ah, dia tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sementara itu di luar ruang, gadis yang tengah terbaring di ranjang menggeliat pelan. Kepalanya ia gelengkan karena sedikit pusing. Netranya menelisik ke setiap sudut ruang. Memejamkanya beberapa kali. Detik berikutnya membulat sempurna. Sepertinya dia teringat sesuatu. Karena setelahnya dia mendudukan diri, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri. Seperti tengah mencari seseorang.


Dia bernafas lega tak menemukan siapapun. Dia ingat kejadian semalam. Betapa memalukan dirinya. Tangannya memukul kecil kepalanya. “Bodoh, bodoh. Kenapa aku sampai terbawa perasaan?” makinya pada diri sendiri.


Ceklek. Bunyi pintu terbuka mengalihkan atensinya. Seorang pria muncul dari sana. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Pria itu bahkan berhenti di tengah pintu, melihat gadis itu sudah terbangun. “Kau sudah bangun?” ucap pria itu menyapa. Dia berjalan mendekat ke ranjang.


Gadis itu membuang muka. Dia malu, tentu saja.


“Maafkan aku, noona,” ucap pria itu lagi setelah mendudukan diri di tepi ranjang.


Gadis itu memejamkan matanya. Dia merasa tak enak mendengar permintaan maaf pria itu. Dia menggigit bibir bawahnya. Mencoba mencari kata yang tepat untuk diucapkan. Pada akhirnya dia memilih bangkit. Menggulung tubuhnya dengan selimut. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


Pria itu terus menatap apapun yang dilakukan gadis di depannya. Gadis itu belum membuka suara, jadi dia harus menunggu jawaban dari Sang Gadis.


Gadis itu menatap tajam pada pria itu. “Lupakan. Anggap saja tidak pernah terjadi. Lagipula kita sama-sama sedang mabuk semalam.” Tepat setelah mengatakan itu, gadis itu berlari ke kamar mandi.


💌


💌


💌


To Be Continue...


💌


💌


💌


Jangan lupa tinggalkan jejak!! LIKE COMMENTNYA WAJIB YA😁


SEE YOU..❣️