![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Chapter 43
(Yura's Wedding Party)
-
-
Tetap bersamaku sepanjang waktu
Kau adalah orang paling hangat yang pernah aku miliki
-
-
Pekerjaan pertama yang So Hyun lakukan setelah kembali ke perusahaan adalah membuatkan gaun pengantin untuk kakak iparnya.
Ketika mendapat kabar jika kakak dari suaminya akan menikah, dia dengan antusias menawarkan diri. Impiannya sejak dulu adalah membuat gaun pengantin untuk diri sendiri. Hanya saja, dia tak bisa melakukan mengingat pernikahannya yang terbilang mendadak.
Park Yura, yang tak lain adalah kakak ipar So Hyun, dengan senang hati menerima. Gelalat bahagia jelas dari tingkahnya ketika menjawab. Menolak adalah hal mustahil. Mengingat betapa terkenalnya adik ipar tersebut.
"Eonni, kau bisa melihat ini. Aku punya beberapa desain jika kau berkenan." So Hyun memberikan buku yang biasa dia gunakan untuk menggambar.
Park Yura menerima dengan senang hati. Matanya berbinar memandang gambar berwarna tersebut. Membalik kertas ketika puas melihat. Mulutnya tak henti mengucap kata pujian. Mengutarakan pendapat untuk desain yang adik iparnya buat.
"Kau memang berbakat. Aku sampai bingung memilihnya," ujar Yura di akhir dia meneliti gambar-gambar tersebut.
"Seharusnya kau ajak calon suamimu. Sekalian memperkenalkannya padaku." Dengan sedikit bercanda So Hyun berucap. Membangun suasana hangat, itulah yang ingin dilakukannya. Dia ingin mengakrabkan diri dengan kakak iparnya tersebut. Mereka jarang mengobrol santai secara pribadi. Selalu ketika dia berkunjung ke rumah mertuanya. Hanya sekali mereka bertemu di tempat kerja. Saat So Hyun berkunjung ke Studio YTN.
"Aku sudah memintanya. Hanya saja dia harus menyelesaikan proyek untuk musim dingin nanti. Dia ketua tim, jadi tanggung jawabnya besar," jelas Yura.
"Sayang sekali." So Hyun mencoba tersenyum maklum. Dia memeriksa tabletnya. Menyerahkan pada Yura kemudian. "Di sini juga ada. Sudah jadi malahan. Eonni, bisa melihatnya."
Senyum mengembang ketika Yura menerima tablet itu. Wajahnya kembali berbinar. Dia kembali dibuat bingung dengan gaun yang tampak anggun. Memperbesar ukuran gambar untuk melihat lebih detail desainnya.
Suara ketukan ruang So Hyun terdengar. So Hyun menoleh. "Masuklah!" ujarnya dengan nada sedikit berteriak.
Pria dengan balutan jas masuk. Tangannya membawa map. Langkahnya terdengar mantap. Dia membungkuk hormat sebelum berucap. "Daepyonim, ini laporan yang Anda minta."
So Hyun menerima uluran map tersebut. "Terimakasih, Timjangnim."
"Iya. Kapan kita akan mengadakan meeting untuk proyek itu?" Pria itu menunjuk map yang dibawa So Hyun.
"Aku akan memeriksanya sebentar, akan aku hubungi setelah itu. Aku punya tamu," jelas So Hyun setengah berbisik. Dia juga menunjuk gadis yang masih sibuk dengan tablet.
Netra pria itu menelisik sosok gadis yang dimaksud bosnya. Postur itu sangat dikenali. Dengan ragu, dia mencoba menyapa. "Yura."
Gadis yang bernama Yura itu menoleh. Kaget adalah hal pertama yang dirasakan. Dia tak menyangka akan bertemu dengan pria yang sebentar lagi hidup bersamanya. "Oppa," ujarnya tanpa sadar.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya So Hyun bingung. Mata hitamnya menoleh kearah Yura kemudian ganti ke pria itu.
"Tentu saja. Dia calon suamiku," tutur Yura.
"Hah." So Hyun bertambah kaget.
"Benar. Dia memang calon istriku." Pria itu menampilkan senyum terbaiknya.
"Jadi..." So Hyun tak bisa melanjutkan kalimat. Dia terlalu syok untuk berucap. Sudah lama dia mendengar jika pria itu punya tunangan. Tanpa terduga itu adalah kakak iparnya. "Aku tidak bisa berkata apa pun." Desahan halus terdengar dari hidungnya.
"Aku juga baru tau setelah apa yang menimpa Anda. Dia tak memberitahuku jika Anda adalah adik iparnya," jelas pria itu.
"Kau pasti sudah tahu sendiri alasannya." Yura ikut bersuara.
So Hyun tersenyum. "Duduklah, Timjangnim. Kau bisa membantu eonni memilih gaun. Aku ke toilet sebentar."
"Terimakasih banyak, Daepyonim."
So Hyun mengangguk. Senyum tulus juga terlihat. Tungkainya membawa pergi ke tempat yang disebut tadi.
Dia menutup pintu dengan cepat. Tangannya berpegang pada wastafel. Wajahnya sedikit pucat. Nafasnya memburu. Belum lagi keringat dingin yang muncul di sepanjang kening. Tatapannya juga tampak kosong.
Dia mendengar suara-suara itu lagi. Telinga kiri ditutup dengan tangan. Napasnya semakin memburu. Keringat dingin semakin banyak yang muncul. Tangannya terulur merogoh saku ketika merasa getaran di sana.
Jimin Oppa adalah nama yang tertera di layar ponsel. Kesadaran yang masih setengah, menuntunnya untuk mengangkat. Beberapa kali dia mencoba mengabaikan, namun suara-suara itu semakin jelas. Dia bisa mendengar suara suaminya setelah mendekatakan ponsel di telinga.
"Oppa," ucapnya sedikit bergetar. Dia sudah tak bisa mendengar segala macam pertanyaan yang keluar dari bibir suaminya.
Dengan segenap tenaga So Hyun mencoba berucap. "Aku takut."
Dia terduduk lemas kemudian. Ponselnya sudah jatuh entah kemana. Dia mendekat ke dinding, menyandarkan kepala. Wajahnya bertambah pucat. Napasnya masih memburu. Kesadarannya semakin menipis. Yang bisa dilakukannya hanya menutup telinga.
Sementara itu, pintu ruangan So Hyun diketuk. Muncul Sekretaris Min dari sana. Terkejut melihat dua orang yang dikenal. "Yoon Timjang," ujarnya sedikit ragu.
Pria yang dipanggil Yoon Timjang tersenyum. Dia membalas sapaan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aa, dimana daepyonim?" tanya Sekretaris Min. Dia menelisik ke sudut ruang mencari keberadaan So Hyun.
Sekretaris Min menunduk memberi salam pada Yura. Dia ikut duduk di sofa.
"Apa dia sudah lama? Ada berkas yang harus segera ditandatangani."
Gelisah melanda Sekretaris Min. Tampak jelas dari cara duduk. Hal itu membuat map berwarna biru di tangan ikut bergetar.
"Iya, kenapa So Hyun lama sekali." Yura bersuara. Netranya menuju pintu yang masih tertutup di sudut ruang.
"Apa terjadi sesuatu?" Yoon Timjang kini yang bersuara.
"Aku akan melihatnya." Sekretaris Min berdiri. Meletakkan mapnya di meja. Bergegas menuju pintu di sudut.
Ketukan dengan jari ia lakukan. "Daepyonim, kau masih lama?" ujarnya dengan lembut. Dia diam guna mendapat respon.
Namun nihil, tak ada sahutan. Diulangnya lagi. Hasilnya juga sama, tak ada tanggapan. Tangannya memutar knop, tidak dikunci. Perlahan dia membuka.
So Hyun terduduk di lantai adalah pemandangan pertama yang dilihat. Tanpa pikir panjang Sekretaris Min berlari sambil berteriak. "Daepyonim."
Teriakan Sekretaris Min mampu mengalihkan atensi dua orang yang duduk di sofa. Mereka ikut berlari menyusul gadis itu.
"Daepyonim, kau baik-baik saja." Kesedihan menyelimuti Sekretaris Min. Apalagi So Hyun hanya diam. Bosnya masih membuka mata, namun pandangannya kosong. Napasnya memburu. Juga tubuhnya bergetar.
"Ada apa, Sekretaris Min?" tanya Yoon Timjang yang memasuki ruang tersebut.
"Bantu aku mengangkatnya. Sepertinya dia kambuh."
Pria itu dengan sigap mengambil tubuh So Hyun. Menggendong ala bridal menuju sofa. Dua orang gadis mengekor di belakang. Dengan penuh hati-hati pria itu membaringkan So Hyun.
"Anda membawa obat?" tanya Sekretaris Min. Dia menyampirkan selimut di tubuh So Hyun.
So Hyun hanya mengangguk. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Tubuhnya masih bergetar. Napas juga masih terengah.
"Kau baik-baik saja?" Yura duduk di samping So Hyun sepeninggalan Sekretaris Min. Dia tak bisa menyembunyikan kecemasan.
"Eonni, ponselku dimana?" ucap So Hyun sedikit terbata. Bahkan terkesan tak jelas jika tak benar-benar paham.
"Ponsel?" ulang Yura penuh keheranan. Dia menatap kearah calon suaminya. Pria itu justru mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Jimin Oppa tadi menelepon." Masih dengan nada terbata So Hyun berucap.
Sekretaris Min kembali dengan obat dan minum. Dia membantu So Hyun meminumnya. Bernapas lega melihatnya yang mulai tenang.
Yura kembali dengan ponsel di tangan. Sayang, panggilan itu sudah berakhir. Dia cukup paham maksud So Hyun tadi. Bergegas dia mencari keberadaan benda persegi panjang milik adik iparnya.
"Dia akan baik-baik saja kan?" tanyanya dengan raut sedih. Melihat wajah adik iparnya yang sudah memejamkan mata, membuatnya sedikit tercubit.
Sekretaris Min mengangguk. "Dia sudah meminum obatnya. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Yang dibutuhkannya sekarang hanya istirahat," jelasnya. Sakunya bergetar. Panggilan masuk dia terima. Menggeser ikon di layar dengan ibu jari.
"Yeobseyo," ucapnya mengawali pembicaraan.
"So Hyun bersamamu?" Suara berat di ujung telepon terdengar.
"Iya. Jangan khawatir. Dia sudah terlelap setelah meminum obat."
"Syukurlah! Tolong jaga dia. Aku akan menjemputnya."
"Iya." Sekretaris Min mengakhiri panggilan. Tatapan tanya dia dapatkan dari Yura.
"Apa itu Jimin?"
Sekretaris Min mengangguk. "Dia akan menjemput daepyonim."
π
π
π
To Be Continue...
π
π
π
Saya comeback, walaupun part ini sedikit pendek wkwk, eh lumayan kokπ Adakah yang kangen? Kangen dong pasti, yah dikit lagi mau tamat nih ceritanyaπ Minggu-minggu ini udah tamat kayaknya.
Jangan kangen ya!!π³π³
Udah bacakan ceritanya? Nah sekarang waktunya VOTE, LIKE, dan COMMENT!
OK say?? Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita abal-abal iniππ
Love you my readers π