The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 22



Chapter 22


(Scandal)




Ingatlah aku mencintaimu, kasih


Bahkan jika aku tak pernah bisa melihatmu lagi


Cinta ini akan tetap ada




🎡


Terungkap! Jungkook BTS memiliki kekasih. Dia terlihat beberapa kali jalan dengan seorang gadis. Gadis tersebut ternyata adalah CEO dari Hera Fashion.


Itu adalah satu dari beberapa artikel yang menjadi pencarian nomor satu di internet. Sang Maknae dari BTS itu mendapat skandal baru setelah sukses mempromosikan album barunya. Rekor yang hebat. Yang mampu membuat seorang pria paruh baya mendengus kesal setelah diberitahu asistennya.


“Sudah ku bilang padanya untuk hati-hati.” Terdengar dengusan kesal lagi dari hidung pria paruh baya tersebut. “Aku berusaha keras untuk menyembunyikan pernikahannya, tapi apa yang dilakukannya,” gumamnya kemudian.


“Panggil So Hyun kemari,” tutur pria paruh baya tersebut kepada asistennya.


“Iya, saya mengerti,” jawab pria berjas abu-abu tersebut. Dia menunduk hormat sebelum melangkah.


“Tunggu! Aku akan menelfonnya sendiri. Carilah solusi untuk masalah itu,” ujar pria paruh baya itu kembali.


Pria berjas abu-abu itu kembali menunduk bermaksud pergi. Suara pintu yang terbuka menghentikan langkahnya.


“Abeoji, gawat….,” pria yang baru masuk itu tak melanjutkan kalimatnya setelah melihat asisten ayahnya.


“Aku tahu,” jawab pria paruh baya itu ketus.


“Hyung, sudah memberitahukannya?” tanya pria yang baru masuk tersebut.


Pria berjas abu-abu itu mengangguk. Dia kembali menunduk hormat dan meninggalkan ruang.


“Bagaimana ini abeoji?” tanya pria yang baru masuk setelah duduk.


“Bagaimana apanya? Tentu kau harus menyelesaikannya. "Telfon So Hyun, dan suruh dia kemari.”


“Iya.” Pria yang baru masuk itu menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang ayahnya.


-o0o-


So Hyun terbangun setelah merasa benda berbulu menggelitik tubuhnya. Dan benar saja, Mongsuk anjingnya tengah bergelut manja dengan dirinya. “Mongsuk,” panggilnya dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya. Dia medudukan dirinya. Menggendong anjing itu di pangkuannya. Mengusap lembut bulunya.


Tangannya berhenti mengusap menyadari sesuatu. Suaminya tidak ada di kamarnya. Kamarnya bahkan rapi. Dan dirinya juga sudah berpakaian meski itu hanya sebuah kemeja yang kebesaran. “Dia pergi?” ucapnya pada diri sendiri.


Pandangannya berubah sendu. Dia teringat kejadian semalam. Pria itu benar-benar marah padanya. Mengusap kasar wajahnya adalah bentuk dari pengurangan rasa bersalahnya. Tidak hilang, namun sedikit berkurang. “Mongsuk, apa daddy mu benar-benar pergi?” Dia membuang pasrah nafasnya.


Anjing itu hanya menjilati tangan So Hyun. Kadang juga menggonggong kecil.


Entah sebab apa setitik air mata jatuh melewati pipinya. Hatinya teriris jika asumsinya benar.


“Kau sudah bangun?” suara berat milik suaminya terdengar.


So Hyun menoleh dengan cepat. Benar saja, suaminya baru memasuki kamarnya. Dengan senyum mengembang pria itu berjalan ke arahnya. Dia tak bisa menghindarkan pandangannya ke arah lain. Hanya satu objek, suaminya. Rasanya seperti mimpi melihat pria itu tersenyum. Itu adalah kemungkinan terakhir yang difikirkannya setelah kejadian semalam.


Pria itu duduk di ranjang, masih dengan memasang senyum manisnya.


Tanpa fikir panjang, tangannya terulur memeluk pinggang suaminya. Menenggelankan wajahnya disana. “Oppa,” bisiknya. “Ku pikir kau sudah pergi. Syukurlah kau masih disini,” ucapnya lagi. Dia tak dapat membendung air matanya. Dia menangis.


“Memangnya aku harus pergi kemana? Aaa, aku memang harus pergi nanti, ada jadwal,” jawabnya. Pria itu juga mengusap surai panjang istrinya. “Kau menangis?” tanyanya kemudian setelah merasakan basah di kausnya. Dia melepaskan pelukan istrinya. Menatap dalam mata istrinya yang terlihat berkaca.


“Mianhae,” ucap So Hyun masih dengan air mata yang bercucuran.


Pria itu mengusap air mata So Hyun dengan kedua tangannya. “Jangan menangis! Aku juga minta maaf sudah menyakitimu semalam.” Senyum tulus kembali ia berikan. Berharap akan membuat istrinya berhenti menangis. Dia juga mengecup singkat bibir istrinya.


So Hyun tersenyum dan mengangguk. “Kau sudah tak marah denganku kan?” tanya So Hyun dengan nada memelasnya.


Pria itu menggeleng. “Aku akan marah jika kau megulanginya,” ucapnya dengan nada tegas.


“Syukurlah,” ucap So Hyun lirih.


“Ayo sarapan!”


“Tapi aku belum memasak,” ujar So Hyun dengan wajah bersalahnya.


“Aku sudah membuatnya.”


“Oppa bisa memasak?”


“Jika hanya membuat sandwich aku juga bisa.”


So Hyun mengangguk. Dia turun dari ranjang yang dibantu suaminya. Mereka meninggalkan kamar. Yang juga diikuti anjing kecil berwarna putih tersebut.


Sepanjang perjalannya menuju meja makan mereka saling bergandengan. Candaan kecil juga pria itu lantunkan untun menghidupkan suasana. So Hyun hanya tersenyum mendengarnya. Hatinya menghangat merekam setiap momen yang tercipta di antara mereka. Dia akan mengingat baik-baik kenangan hidup bersama pria itu. Berharap akan berlangsung hingga tua. Sampai maut memisahkannya.


Jimin menarik kursi untuk So Hyun. Mempersilahkannya duduk sebelum dirinya.


So Hyun tersipu. Menampakkan seburat merah di pipinya. Dia tak pernah merasa seistimewa ini. Suaminya benar-benar tahu cara memperlakukan gadis. Itulah kenapa seulas senyum tak pernah hilang dari bibirnya.


Setelah menuangkan susu untuk So Hyun, Jimin ikut duduk menghadapnya. “Selamat makan.”


So Hyun mengangguk antusias. Tangannya terulur mengambil pisau dan garpu. Dengan hati-hati dia memotong makanannya menjadi kecil-kecil. Memasukan ke mulutnya kemudian. Dia mengangguk senang merasakan lezatnya makanan yang disantapnya. “Mashita,” ucapnya di sela-sela kunyahannya. Dia juga mengacungkan ibu jarinya.


Jimin ikut tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap. Rasa bersalahnya perlahan menghilang. Dia memasak memang untuk menebus rasa bersalahnya. Juga dengan  berusaha membuat istrinya tersenyum kembali. “Kau harus menghabiskannya,” tuturnya kemudian.


“Emmmh,” gumannya disertai anggukan.


-o0o-


“Sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Manajer Han pada Jungkook. Setelah membaca artikel di internet Manajer BTS tersebut langsung menuju dorm artisnya.


“Hyung, ini sudah kelima kalinya kau mengajukan pertanyaan yang sama. Dan jawabanku juga tetap sama, kami hanya berteman,” ucap Jungkook dengan nada ketusnya. Dia sudah bosan diberi pertanyaan yang sama sejak kedatangan pria yang menjadi manajer grupnya.


“Kau yakin!” lagi pertanyaan yang sama.


Jungkook mendengus kesal. Mengangguk kemudian.


“Akan berbeda ceritanya jika gadis yang terlibat skandalmu bukan dia. Ini Kim So Hyun. Kau sudah tahukan siapa dia.” Manajer Han memijat pelan keningnya. Mengatur jadwal serta tindakan artisnya sudah membuatnya pusing. Kali ini dia harus bertambah pusing dengan skandal yang diciptakan artisnya. “Apalagi ini bukan foto biasa. Kalian berciuman. Jeon Jungkook, sudah berapa kali aku bilang untuk lebih hati-hati.”


Jungkook terdiam. Dia membuang muka. Tak ada niatan untuk menjawab. Ingatan semalam membuatnya merasa buruk. Tidak seharusnya dia memaksakan kehendaknya. So Hyun pasti membencinya setelah ini.


“Kau menyukainya?” Manajer Han kembali melayangkan pertanyaan.


Jungkook hanya membuang nafas beratnya. Masih enggan menjawab.


“Jadi benar kau menyukainya,” itu adalah kesimpulan yang Manajer Han ambil dari tingkah Jungkook. Lima tahun bekerja bersama pria itu membuatnya sedikit paham bagaimana gelagat serta tingkah lakukanya. Ponselnya berbunyi dan membuatnya beralih pada benda persegi empatnya.


Layar itu bertuliskan nama atasannya. Dia mengambil nafas dalam sebelum mengangkatnya. Bersiap mendapat amukan darinya. “Yeobseyo,” ucap Manajer Han setelah menggeser ikon berwarna hijau.


“Batalkan semua jadwal Jungkook untuk hari ini. Jangan biarkan dia pergi kemanapun. Aku akan membahas masalah ini dengan So Hyun.” Suara tegas terdengar dari seberang sana.


“Iya, saya mengerti.” Setelah mengatakan itu panggilan tersebut putus. Manajer Han mendengus kesal. Ini adalah bagian tersulit dari pekerjaannya. Karena biasanya dia akan mendapat amarah dari pemilik acara. Dia harus menebalkan muka dan membuang harga dirinya. Jika tidak demikian maka, hanya akan ada pertengkaran.


“Tetap disini dan jangan pergi kemanapun,” ucap Manajer Han.


“Bukannya aku ada pemotretan!” ujar Jungkook ragu.


“Untuk hari ini kau libur. Daepyonim memintaku membatalkan semua jadwalmu. Ingat pesanku. Aku pergi dulu.” Manajer Han benar-benar meninggalkan kamar Jungkook.


-o0o-


So Hyun sudah terlihat rapi dengan minidress-nya. Setelah sarapan dia membersihkan diri atas perintah suaminya. Meski tak diperintah, dia memang berencana melakukannya. Dia ikut bergabung suaminya di ruang TV kemudian.


“Cantik,” itu adalah kata yang tiba-tiba keluar dari mulut suaminya.


“Memangnya kapan aku terlihat jelek di matamu? Meski aku terbangun dalam keadaan berantakan, kau tetap akan mengatakan cantik,” tutur So Hyun.


Jimin tersenyum. Memang benar yang dikatakan istrinya. So Hyun akan tetap cantik dalam keadaan apapun di matanya. Kecuali satu hal. “Saat kau menangis,” ucapnya menjelaskan.


“Semua orang juga akan tampak jelek jika menangis.”


“Iya, sayang,” ucap Jimin. Tangannya mengacak pelan rambut panjang istrinya.


“Kau tidak ada jadwal hari ini?” tanya So Hyun. Dia menyandarkan kepalanya di lengan kokoh suaminya.


“Ada, pemotretan.”


So Hyun kembali duduk tegak. Dia menatap tajam suaminya. “Kenapa masih di sini?”


Jimin melirik sekilas jam tangannya. “Sebentar lagi. Aku masih ingin bersamamu.” Dia berbaring. Menjadikan paha So Hyun sebagai bantalnya. “Aku juga masih ingin melihat wajahmu,” sambungnya lagi.


“Dasar.” So Hyun mecubit hidung Jimin. Membuatnya merintih kesakitan karena terlalu keras. So Hyun tersenyum puas, kemudian melepaskannya.


“Biarin.” Tangannya terulur mengambil buku di meja. Mencari letak tanda yang dibuatnya. Membacanya dalam hati kemudian.


Jimin masih betah memandang wajah istrinya yang terlihat serius membaca. Senyum manis terus dia sunggingkan. “So Hyun-ah,” panggilnya.


“Emmmh.” So Hyun hanya bergumam sebagai jawaban.


“Kau serius dengan perkataanmu semalam?”


“Yang mana?” So Hyun masih fokus pada buku bacaan.


“Memberiku anak.”


So Hyun mengalihkan pandangannya sejenak. Hanya sejenak. Dia kembali memfokuskan pada kalimat yang tertulis dalam buku tersebut. “Kau benar-benar menginginkannya?” ucapnya setelah lama terdiam.


“Tentu saja. Siapa yang tak ingin punya anak?” ucap Jimin antusias.


“Dalam waktu dekat ini maksudku.”


Jimin mengangguk. “Aku tidak ingin kau kesepian selama tidak ada aku.” Terdengar nada tulus dari ucapannya.


“Sudah ada Mongsuk kan.”


“Dia kan anjing,” ujar Jimin.


So Hyun tampak berfikir. Dia menutup buku yang dibacanya kemudian. Menatap lekat wajah suaminya yang masih berbaring di pangkuannya. Dia merapikan anak rambut Jimin setelah meletakkan bukunya di meja. “Baiklah, jika memang itu maumu. Aku akan melakukannya.”


“Benarkah!” Jimin memperlebar senyum. Raut wajahnya bertambah senang. Dia bahkan bangkit, saking senangnya.


So Hyun mengangguk. Seulas senyum juga diaberikan untuk menambah kesan serius dari tindakannya.


Jimin mendekatkan wajahnya, bersiap akan mencium istrinya. So Hyun memejamkan matanya membiarkan apapun yang akan suaminya lakukan.


“Daepyonim, gawat….” suara teriakan seseorang terdengar menggema di ruang tersebut. Jimin dan So Hyun tersentak kaget. Hingga mampu membuat mereka menjauhkan wajah. Padahal sebentar lagi bibir mereka akan bertemu. Mereka saling membuang muka karena malu.


Gadis itu menutup matanya. Tidak ingin melihat kegiatan yang sudah diganggunya. “Maaf, kupikir kau sendirian.” Dengan cepat dia berbalik. “Kalian bisa menyelesaikannya, aku tunggu di depan,” dengan cepat pula dia melangkah ke ruang lain yang merupakan ruang tamu.


“Sudahlah! Nanti atau sekarang sama saja. Ada apa?” ucap So Hyun dengan nada sedikit keras.


Gadis itu menurunkan tangannya. Kembali berbalik. Berjalan pelan mendekati bosnya.


“Aku siap-siap dulu ya,” ucap Jimin. Dia bangkit setelah mendapat anggukan dari istrinya. Pergi meninggalkan ruang tersebut.


Gadis itu duduk setelah kepergian Jimin. “Ini. Kau terlibat skandal dengan Jungkook.” Dia memberikan tablet yang sedari tadi dipegangnya.


So Hyun tampak serius membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Dia juga mengangkat alis melihat gambar yang menjadi bagian dari apa yang dilihatnya. “Mereka selalu menulis seenaknya. Seharusnya dia juga memposting apa yang aku lakukan setelah foto ini,” ucap So Hyun tampak marah.


“Jadi foto itu benar. Kau dan Jungkook, berciuman.” Terdengar nada ragu dari ucapan gadis tersebut.


“Eoh.”


Gadis itu menelan kasar ludahnya. Tak pernah menyangka jika bosnya akan bertindak demikian. “Dia tahu?” tanyanya masih dengan nada ragu.


So Hyun hanya mengangguk.


“Dia tak marah?”


“Jangan ditanya. Marah sekali tentu saja. Jangan sampai terulang lagi.” So Hyun memeluk dirinya membayangkan kejadian semalam. Juga menggelengkan kepala mencoba menepis ingatannya. “Dia benar-benar menakutkan saat marah.”


“Salahmu sendiri.”


“Jungkook yang menciumku lebih dulu. Aku bahkan menamparnya setelah itu,” jelas So Hyun membela diri. Dia tidak ingin disalahkan, karena memang dia tak bersalah.


“Ada telfon,” Jimin memberikan ponsel So Hyun yang di bawanya. Entah sejak kapan pria itu sudah bergabung dengan So Hyun. Dia ikut duduk di samping So Hyun.


“Yeobseyo,” jawab So Hyun setelah menerima ponselnya. Dia terdiam mendengarkan setiap kalimat yang penelfon katakan. “Sekarang?” ucapnya lagi. “Aku mengerti. Aku akan segera ke sana,” ucapnya mengakhiri panggilan.


“Kau tak jadi berangkat?” tanya So Hyun kepada Jimin. Dia merasa heran mengapa suaminya kembali duduk di sampingnya sambil memainkan ponsel.


Jimin menggeleng. “Karena skandalmu dengan Jungkook, semua jadwal dibatalkan hari ini,” jawabnya masih dengan memainkan ponsel.


“Aku mau ke rumah samcheon. Mau ikut?” pertanyaan So Hyun masih ditujukan untuk Jimin.


“Tidak usah. Aku di sini saja. Kau berangkat saja dengan Aera.”


“Ya sudah. Eonni, tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju.” So Hyun berlalu pergi. dan gadis yang dipanggil Aera itu hanya mengangguk. Dia kembali fokus pada tabletnya.


Tidak ada yang bersuara setelah itu. Sibuk dengan benda segi empat di tangan masing-masing. Sekitar lima belas menit kemudian, So Hyun baru muncul dengan pakaian yang lain. Terlihat rapi dengan rambut yang digerai.


“Ayo, eonni,” ajak So Hyun.


“Aku antar.” Jimin kini bersuara.


“Katanya tidak mau ikut?” dengus So Hyun kesal.


“Kau berangkat dengannya saja ya. Sepertinya aku punya janji,” Aera mengangkat ponselnya sambil menggoyangkannya. “Aku mau menikmati Hari Mingguku,” ucapnya lagi. Dia kemudian berdiri setelah mengambil tasnya. Melambaikan tangan sebelum melangkah.


“Memangnya mau ke mana? Biasanya juga tiduran di rumah,” tutur So Hyun yang mampu membuat Aera berhenti melangkah.


“Ada deh.” Aera kembali melabaikan tangan.


“Bilang saja mau berkencan dengan Yoon timjangnim,” kata So Hyun lagi.


“Yoon Jaewoon. Jangan bercanda, dia sudah punya tunangan. Tahun depan mereka bahkan akan menikah,” bantah Aera kembali. Dia benar-benar berlalu pergi.


“Ayo, oppa,” ajak So Hyun setelah melihat sekretarisnya menghilang di balik pintu. Jimin mengangguk.


-o0o-


“Ini apa?” ucap pria paruh baya itu sambil melempar tablet yang berisi artikel skandalnya dengan Jungkook.


So Hyun hanya membuang pasrah nafasnya. Ya, setelah sampai di kediaman Sang Paman dia langsung diburu pertanyaan seputar skandal tersebut. Wajar sebenarnya, Sang Paman tidak ingin usahanya rugi akibat skandal itu. “Itu hanya salah paham. Aku heran reporter sekarang, mereka selalu menulis berita yang bahkan belum dikonfirmasi dengan benar. Seharusnya dia mencantumkan foto setelah kejadian itu,” ucap So Hyun dengan nada kesalnya.


“Jadi foto itu benar?” Kini sepupunya yang bersuara.


“Eoh. Dia hanya sedang mabuk saat itu. Aku bahkan menamparnya setelah kejadian itu,” jelas So Hyun lagi sedikit berbohong.


“Percuma kau menjelaskannya pada kami, semua orang sudah membaca artikel itu. Jadi bagaimana kau akan mengatasinya?” Sang Paman kembali bersuara.


So Hyun terdiam. Dia masih memikirkan cara yang tepat untuk mengatasinya.


“Kalian berpura-pura berkencan saja. Konfirmasi jika artikel itu benar,” suara pamannya kembali terdengar.


“Samcheon,” ucap So Hyun dengan nada sedikit tinggi.


“Ada banyak komentar positif untuk kalian.”


“Aku tidak mau. Kenapa aku harus berkencan dengannya jika pada kenyataannya aku menikah dengan orang lain.” Wajah So Hyun benar-benar terlihat kesal. Ide gila pamannya benar-benar tak pernah disangkanya.


“Tidak ada cara lain. Jika itu bukan foto berciuman, mungkin akan lain ceritanya.” Lagi Sang Paman masih kukuh dengan pendiriannya.


So Hyun membuang pasrah nafasnya. Dia hafal bagaimana sifat pamannya yang satu itu. Dia harus menemukan satu cara yang tak akan merugikannya maupun pamannya. “Aku akan menyelesaikannya. Samcheon tidak perlu khawatir. Akan aku pastikan tidak ada yang dirugikan di sini,” ucap So Hyun mantap. Dia memang sudah menemukan ide cermelang.


“Apa itu?” sela sepupunya.


“Kau yakin bisa menyelesaikannya?” Terdengar nada ragu dari ucapan pamannya.


So Hyun mengangguk. “Aku Kim So Hyun, samcheon tidak lupa itu kan.”


“Aku mengerti.” Meski hanya kalimat singkat, namun mampu membuat So Hyun menyunggingkan senyum. Dia senang karena pamannya masih menaruh kepercayaan padanya.


Hening kembali tercipta. Entah mengapa tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Sepertinya sedang sibuk memikirkan hal lain.


“Jadi, kapan kau akan memberiku cucu?” Itu adalah pertanyaan yang tak pernah diduga oleh So Hyun. Pertanyaan yang mampu membuatnya tertawa lepas. Sepupunya juga ikut tertawa. Ya, di ruang itu mereka hanya bertiga. Jimin tidak ikut karena memang pamannya tidak mengizinkannya.


“Tunggu saja,” jawab So Hyun masih dengan menahan tawa.


***⏬


To Be Continue..


⏫***


Scandal Jungkook dan So Hyun nih😁


Akankah So Hyun bisa menyelesaikan skandal tersebut?


Cucu? Apakah itu😂?


Like Commentnya!! Wajib!!


Gimana menurut kalian?


Semoga tetep suka ya…..


Terima kasih sudah setia menunggu.


See you next time.