The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 29



**Chapter 29


(Secret Room**)


__


__


__


“Daepyonim,” suara Sekretaris Min menggema begitu Jimin memasuki apartemennya.


Tadi sebelum dia membawa istrinya pulang, dia memang mendapat telfon dari gadis itu yang bertanya perihal keberadaan wanita yang ada digendongannya. Dia bisa melihat jelas raut khawatir di wajah gadis yang pernah singgah di hatinya. Bahkan kini gadis itu ikut membantunya membaringkan So Hyun di ranjangnya. Memberikan selimut hangat kemudian.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa kambuh?” Suara berat Jimin terdengar setelah memastikan istrinya berbaring dalam keadaan nyaman. Tangannya terulur mengusap puncak kepala So Hyun.


“Aku rasa dia tak meminum obatnya,” jawab Aera ragu. Dia memang belum yakin dengan apa yang baru saja diutarakannya.


“Obat?” Jimin kembali bertanya.


“Kau sudah tahu kan apa penyakitnya. Setelah kambuhnya hari itu, dia masih mendapat perawatan. Dokter Song adalah dokter yang menanganinya selama dia di sini. Aku juga baru tahu baru-baru ini, jika dia diam-diam selalu mengikuti terapi dengan Dokter Song,” jelas Aera.


Jimin memejamkan matanya sebentar. Kenapa dia bahkan sampai tidak tahu? Ya Tuhan, suami macam apa dia yang bahkan tak tahu bagaimana kondisi kesehatan istrinya? Dia menghela nafas. Mengutuki kebodohannya.


“Dia tidak ingin membuatmu khawatir. Karena itu dia menyembunyikannya.”


“Tapi aku tak pernah mendapati obat apapun di sini.” Entah kenapa Jimin ingin mengatakan hal itu.


“Kau sudah pernah masuk ruang pribadinya?”


Jimin menggeleng. Dia tahu sekarang. Dia memang tak pernah membahas ruang itu sejak hari di mana istrinya enggan memberitahu kata sandinya. Jadi ruang itulah tempat istrinya menyimpan rahasianya. “Dia tak memberitahukan kata sandinya.”


“Bagaimana bisa? Aku saja pernah memasukinya.”


“Dia memberitahumu?” tanya Jimin memastikan. Rasanya tak adil jika bukan dirinya yang tahu tentang tempat priabdi itu.


“Sebenarnya tidak sih. Waktu itu dia terburu-buru dan lupa menguncinya. Kami ada janji, jadi aku menjemputnya kemari. Saat aku mencarinya, aku tak sengaja menemukan tempat itu. Aku masuk begitu saja, karena kupikir dia ada di ruang tersebut.”


“Jadi kau tahu kata sandinya?”


Aera menggeleng. “Tapi sepertinya aku tahu. Mau aku coba bukakan?”


Awalnya Jimin ragu. Setelah mempertimbangkan beberapa alasan dia mengangguk setuju. Mereka akhirnya berdiri di depan ruang pribadi So Hyun. Berbekal keyakinan, Aera mulai memasukan kata sandi yang difikirkannya. Dan benar saja, pintu itu bisa dibuka.


“Dari mana kau tahu jika itu kata sandinya?” tanya Jimin yang terheran. Dia tak pernah menyangka jika gadis itu bisa membobol ruang tersebut.


“Sekedar pemberitahuan, jika dia tak suka kata sandi yang rumit,” jelas Aera dengan senyum manisnya.


Pemandangan pertama yang tampak setelah membuka pintu adalah foto So Hyun berukuran cukup besar di dinding. Dengan pose di mana dia tak menatap kamera. Mengenakan minidrees lengan pendek bermotif bunga. Rambut panjangnya digerai, di atasnya disematkan topi bermotif. Duduk di bangku kayu dengan posisi kaki kanan menyentuh lantai, sedang kaki kirinya menggantung di udara. Tersenyum manis hingga menampakkan sebagian giginya. Di tangan kanannya melingkar jam tangan dengan warna cukup manis.


Jimin menatap tak percaya foto itu. Itu terlalu indah. Posenya begitu menarik, hingga terlihat seperti seorang model.


“Itu fotonya saat masih kuliah di ESMOD,” jelas Aera. Dia masih ingat penjelasan yang diberikan bosnya dulu.


Mereka semakin berjalan masuk. Ruang dengan ukuran yang tidak lebih besar dari kamar tidurnya itu penuh dengan ornamen. Di pojok kanan dari foto besar tadi, terdapat rak buku. Berbagai buku dengan ketebalan berbeda berjejer manis di sana. Tepat di bawah bingkai foto tadi terdapat meja kerja lengkap dengan kursinya. Di samping kirinya terdapat rak yang dihuni beberapa alat melukis. Sampingnya lagi ada lemari kaca yang menyimpan gitar di sana.


Langkah lebar Jimin membawanya mendekat. Tertarik dengan gitar yang di simpan manis di lemari tersebut. Beberapa buku untuk menulis nada ada di sampingnya, dan juga segelas pensil.


“Kau percaya jika dia bisa bermain gitar?” ucap Aera dengan nada bertanyanya.


Jimin menoleh dan mengangkat alis. “Memangnya dia bisa?”


Aera mengangguk. “Dia berhenti bermain piano di usianya yang ke sepuluh. Alasannya sederhana, hanya karena dia benci fakta jika kakaknya lebih handal dalam hal itu.”


“Dan setelah itulah dia mulai belajar bermain gitar, begitu maksudmu?” kata Jimin menyela.


“Justru itu adalah hal terakhir yang dicobanya. Dia belajar balet setelahnya. Karena dia pernah terkilir saat belajar, dia berhenti. Lalu mempelajari biola, celo, harpa, bahkan seruling. Merasa tak ada yang cocok dia berhenti. Dan terakhir, dia memilih gitar.” Aera terlihat antusia menceritakannya. Dia masih mengingat cerita dari bibi bosnya. Dia memang mendapat informasi detail tentang bosnya dari bibi keduanya.


Jimin sedikit tercengang. Namun tersenyum akhirnya. Dia senang mendapat pengetahuan baru tentang istrinya. Netranya kembali menelisik. Menemukan benda yang tertutup kain. “Apa ini?” Jimin menunjuk benda itu. Saat tangannya terulur ingin membuka kain penutupnya, Aera mencegahnya.


“Jangan!” Aera ingat apa yang ada di balik kain itu. Lukisan bergambar wajah mantan kekasih So Hyun. Sekarang dia ingat, jika pria yang dilihat di lukisan So Hyun dulu adalah pria yang diketahui sebagai mantan kekasih bosnya. Karena itu dia tak ingin membuat Jimin kesal dengan melihat lukisan tersebut.


Sepertinya Jimin tak mengindahkannya. Terbukti dengan sudah ditariknya kain penutup tersebut.


“Sudah kubilang jangan. Itu lukisan tentang…” Aera tak melanjutkan kalimatnya melihat lukisan tersebut. Bukan seperti apa yang terakhir dilihatnya. Dia tercengang, sungguh.


Jimin juga. Dia bahkan membulatkan mata tak percaya. Itu adalah dirinya. Ya, dia sangat yakin. Dan gadis itu, mungkin So Hyun. Lukisan itu memang menggambarkan dirinya tengah mencium seorang gadis yang diyakininya sebagai istrinya. Di tengah padang rumput dengan pemandangan langit sore. Dalam lukisannya terdapat beberapa kata dalam Bahasa Inggris.


“Our love story like a beautiful music, I hope. KSH love PJM.” Aera membaca kalimat yang terdapat dalam lukisan. “Kapan dia melukis ini?” tanyanya entah pada siapa. Karena memang tak ada tanda jika kalimatnya ditujukan pada pria di sampingnya.


Jimin masih belum bersuara. Pandangannya masih fokus pada lukisan tersebut. Dia tahu inisial itu. KSH adalam nama istrinya. Kim So Hyun. Dan PJM adalah namanya. Park Ji Min. Ada perasaan aneh menyusup ke hatinya. Senang, bahagia, juga terharu. Semua melebur menjadi satu. Air matanya hampir jatuh, jika dia tak bisa menguasai dirinya.


Jimin keluar dari kamar mandinya dengan mengusap rambut basahnya. Setelah berdebat dengan istrinya tadi, dia memilih membersihkan diri. Perdebatan kecil tentang kegiatan istrinya. Kamarnya sepi karena memang istrinya sedang memasak, meski tadi dia sudah melarangnya. Dia terpaksa membiarkan karena melihat istrinya memang sudah lebih baik.


Dia melihat ponsel istrinya bergetar di nakas. Tangannya terulur mengambil ponsel tersebut. Dokter Song adalah nama yang tertera di sana. Dia mengangkat alisnya tak tahu, namun detik kemudian tersadar mengingat ucapan Aera semalam. Tanpa pikir panjang dia menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


“Kim daepyo, aku hanya ingin mengingatkan jika kita hari ada sesi terapi. Datanglah setelah makan siang.” Suara seorang wanita langsung menggema di telinga Jimin. Dia bisa bernafas lega karena ternyata itu adalah perempuan. “Aa, anda juga tidak lupa meminum obatnya kan. Jangan sampai anda mengalami stres. Itu akan berdampak buruk untuk kesehatan mental anda.”


“Oppa, sarapannya sudah siap,” ucap So Hyun yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


Jimin menoleh dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Senyum manis istrinya adalah pemandangan pertama yang dilihatnya.


“Aku setuju dengan rencana anda hamil, karena janji yang anda buat. Rajin minum obat dan datang saat ada sesi terapi. Karena anda pernah keguguran sebelumnya, pastikan itu tidak akan terjadi lagi. Atau anda akan kesulitan untuk hamil lagi.”


Penjelasan Dokter Song membuat Jimin mendadak kosong. Poin yang dia ingat adalah pernah keguguran. Kapan? Kapan itu terjadi? Kenapa setelah sekian lama tinggal dengan gadis (bukan kini dia sudah menjadi wanita) tak lantas  membuatnya memahaminya. Dia selalu percaya diri jika dia sangat mengenal wanita itu, tapi nyatanya itu hanya kepercayaannya saja.


“Kim daepyo?” suara Dokter Song kembali Jimin dengar. Karena memang sejak tadi dia tak bersuara.


“Iya, akan aku sampaikan padanya Dokter Song,” ucap Jimin lantang. Dia segera memutus sambungan telfonnya. Matanya masih tertuju pada wajah istrinya. Dia bisa melihat perubahan mimik wajah So Hyun.


Ya, So Hyun kaget tentu saja. Harapannya kini hanyalah semoga Dokter Song tadi tak mengatakan sesuatu yang ingin dirahasiakannya. Tapi melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya mustahil Dokter Song yang sudah merawatnya itu tak mengatakan apapun.


Masih dengan tatapan kosongnya Jimin menatap So Hyun. Dia melempar asal ponsel itu ke ranjang. Matanya masih tak lepas dari raut wajah istrinya. Begitu banyak pertanyaan yang mendadak berkeliaran di otaknya. Dia ingin berucap tapi rasanya begitu sulit.


So Hyun hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia tahu dia yang salah di sini. Seharusnya dia jujur dari awal tentang kondisinya. Tapi mengingat jika hatinya sudah jatuh pada pesona pria itu, membuatnya mendadak ciut. Dia tak ingin pria itu meninggalkannya, ketika dia sudah berhasil membangun kepercayaan pada pria itu. Dia tak ingin kembali hancur seperti kala itu. Kala di mana dia harus kehilangan orang yang dianggap sebagai tempat pemberhentian terakhirnya.


“Apa maksudnya Dokter Song? Apa benar jika kau pernah keguguran?”


So Hyun menelan kasar salivanya. Terlambat, pria itu sudah mendengarnya. Dia tidak akan mengelak kali ini. Setelah menghembuskan nafas dalamnya, So Hyun berjalan mendekat. Menarik lengan pria itu. Mengajaknya duduk di ranjang. Sudah saatnya dia jujur pada pria itu. Jika memang nanti pria itu memilih meninggalkannya, dia mungkin sudah siap. Kemungkinan itu memang pastilah ada.


“Maaf sebelumnya. Maaf karena tak jujur dari awal.” Entah mengapa rasa bersalah mulai menggerogotinya. Terasa sakit, namun akan semakin sakit jika dia tak mengungkapnya. Tangannya masih menggenggam tangan pria itu.


Jimin tak bereaksi apapun. Dia tak tahu harus melakukan apa. Pikirannya masih kosong. Dia hanya diam menanti setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.


“Memang benar aku pernah keguguran. Setahun yang lalu sebelum aku kembali ke negara ini.” So Hyun mengambil nafas dalam setelah mengatakan itu.


“Kau mengandung anak pria itu?”


So Hyun mengangguk.


Ada sesak yang mengganjal ketika mendengarnya. Jimin mengambil nafas dalam, berusaha untuk menetralkan emosinya. Dia tidak boleh terbawa emosi sebelum mendengar sampai selesai cerita istrinya.


“Aku juga baru tahu setelah kehilangannya. Setelah hari di mana dia memilih melepaskanku. Aku pergi ke Inggris. Aku tidak ingin mengikuti ajakan Imo untuk kembali ke sini, jadi aku bersembunyi. Hanya dua minggu, karena setelahnya Imo berhasil menemukanku. Saat aku lari dari kejaran pengawal yang akan membawaku, aku tak sengaja menabrak pengendara sepeda. Benturannya sangat keras, sampai aku tak sadarkan diri.” So Hyun mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan.


“Saat aku terbangun aku sudah berada di rumah sakit. Dan Imo memberitahukan jika aku keguguran.” So Hyun berhenti. Dia belum menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan ceritanya.


Sedang Jimin masih diam. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Dia hanya menatap datar istrinya.


“Selama masa perawatan, PTSD-ku kambuh. Aku melukai tanganku sendiri, itulah kenapa aku mendapat bekas luka ini.” So Hyun menunjukan bekas lukanya. “Aku mendapat perawatan intensif selama tiga bulan di sana. Setelah itu aku baru kembali ke negara ini.”


“Jadi, itu alasanmu ingin menunda kehamilan?” akhirnya pria itu merespon.


Anggukan kembali So Hyun berikan. “Aku belum siap jika harus kehilangan lagi.”


Jimin menarik So Hyun. Mendekapnya penuh kasih. “Seharusnya kau cerita dari awal. Dengan begitu aku tak akan memaksamu.”


So Hyun menggeleng di dekapan suaminya. “Aku sudah berjanji padamu.”


Jimin memejamkan matanya sebentar. Dia tak pernah menyangka jika istrinya mau membahayakan diri untuknya. “Terimakasih, Sayang.” Usapan lembut ia berikan pada surai panjang istrinya kemudian.


💌


💌


💌


To Be Continue...


💌


💌


💌


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. LIKE COMMENT WAJIB!!


Tunggu saja next chapternya…


See you.