The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Episode 44



Chapter 44


(Yura's Wedding Party²)


-


-


Tetap bersamaku sepanjang waktu


Kau adalah orang paling ku inginkan menemani kekurangan ku


-


-


Mata cantik itu perlahan terbuka. So Hyun sadar setelah sembilan jam tertidur. Dia tersenyum melihat putranya tertidur sambil memeluk tubuhnya. Penuh kehati-hatian dia membenarkan selimut. Mencoba melepaskan diri dari tangan putranya.


Tungkainya membawa mendekat ke jendela. Menyibak sedikit gordennya. Hari sudah gelap. Kepalanya menoleh. Netranya tertuju pada jam di dinding kamar. Jarum pendek menunjuk di angka sepuluh, sedang yang panjang di angka dua. Sudah selama itu dia terbaring.


Helaan napas dia lakukan. Pandangan ia alihkan ke bulan yang tampak indah dengan bentuk bulatnya. Ditaburi bintang yang juga tampak anggun. Telapak tangan mengusap pelan lenganya. Udara dingin menghampiri tubuh. Namun dia masih enggan beranjak. Pemandangan langit malam masih menjadi pusat perhatian.


Seseorang datang menyampirkan selimut. So Hyun tak perlu menoleh untuk melihat. Aroma parfum dari pria itu, sudah menunjukannnya.


"Bagaimana perasaanmu?" Suara berat khas pria itu terdengar.


"Sudah lebih baik."


Pria itu ikut berdiri di samping So Hyun. Matanya juga tertuju pada langit malam yang anggun. Lima menit mereka hanya diam. Tak ada suara maupun pergerakan. Sampai akhirnya So Hyun meraih tangan pria itu. Menggenggamnya erat.


Pria itu menoleh. Menatap manik hitam So Hyun yang balas menatapnya. Tanpa dia kira, kini istrinya bersembunyi di pelukannya. Dia tersenyum samar sebelum mengusap surai panjangnya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar," ujar So Hyun.


"Sebanyak yang kau inginkan, Sayang," balasnya. Dia membalas pelukan itu. Ciuman ringan juga ia daratkan di pucak kepala.


Rasanya terlalu nyaman untuk dilepaskan. Melihat istrinya terbangun sehat, hatinya menghangat. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat istrinya dalam keadaan baik.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Ini sudah lama sejak kau kambuh." Pria itu kembali bersuara setelah lama diam.


"Aku juga tak tahu. Tidak ada yang menganggu. Aku makan teratur. Istirahat cukup. Bahkan aku tak pernah lembur." Desahan halus keluar dari hidung So Hyun. Dia masih betah memeluk prianya.


"Kau meminum obatmu secara teratur?"


So Hyun mengangguk. Kepala diangkat. Manik hitamnya bertemu dengan milik suami. Pria itu menampilkan senyum terbaiknya. Menangkup pipi So Hyun. Memberikan kecupan ringan di bibir wanitanya.


"Tidak apa-apa. Yang terpenting, kau sudah lebih baik sekarang."


So Hyun sedikit menjinjit. Dia mengulang apa yang suaminya lakukan. Memberi kecupan ringan di bibir.


"Aku lapar," ujarnya sambil tersenyum aneh.


"Tentu saja. Kau tertidur sembilan jam. Ayo! Noona sudah memasak untukmu."


"Yura Eonni?"


Jimin mengangguk. Dia menggandengan lengan So Hyun. Menuntunnya menuju ruang makan. "Dia sangat mengkhawatirkanmu."


-o0o-


Dengan napas terengah Yura mendatangi So Hyun. Dia terlambat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Sedang So Hyun yang tadi sibuk dengan tablet, menoleh. Tersenyum ramah pada kakak iparnya.


"Maaf ya, aku terlambat. Jalanan macet tadi," jelas Yura penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa. Hanya lima belas menit." So Hyun kembali memberikan senyum. Lebih baik dari sebelumnya. Dia tak ingin membuat kakak iparnya itu merasa bersalah.


"Sebenarnya ada apa mengajakku kesini?" tanya Yura penasaran. Dia mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas perkataan So Hyun.


"Hanya ingin makan siang bersama. Sudah lama kita tak makan siang bersama. Terakhir kali, saat aku hamil dulu." So Hyun mengangguk membenarkan ucapannya.


"Kau benar." Yura ikut mengangguk. "Kau sudah pesan?"


"Belum. Aku belum paham apa yang Eonni suka, jadi aku menunggumu." So Hyun tersenyum aneh. Dia merasa tak enak mengucapkannya. Terkesan tak sopan menurutnya.


Yura melambaikan tangan. Seorang pramusaji mendekat. Memberikan buku menu untuk mereka. Sedikit berdiskusi sebelum memutuskan. Obrolan kembali mereka mulai setelah pramusaji tersebut pergi.


So Hyun merogoh tas. Mengambil amplop yang sudah dipersiapkan sebelum datang. "Ini untukmu, Eonni." Menyerahkannya pada gadis yang duduk di depannya.


"Apa ini?"


"Hadiah pernikahan." So Hyun meminum teh yang dipesannya sebelum gadis itu datang.


Dengan penuh hati-hati Yura membuka amplop. Menatap tak percaya isinya. Membacanya dengan seksama, kata yang tertera di sana. "Bali," ujarnya lantang.


"Iya, untuk bulan madu kalian."


"Terimakasih," tutur Yura lembut. Matanya berkaca tanda dia senang. Ini hadiah paling indah yang pernah diterima. "Aku memang ingin sekali pergi kesana."


"Tempatnya memang indah," kata So Hyun.


"Kau pernah kesana."


So Hyun mengangguk. "Empat hari tiga malam."


"Bukan dengan Jimin kan?"


"Emh. Saat aku masih tinggal di Paris. Tahun keduaku di ESMOD."


"Dengan mantan kekasihmu?"


So Hyun tersenyum. Dia mengambil cangkirnya kembali. Mengangguk setelah meneguk isinya.


"Aku dengar kau hampir menikah dengannya. Kalau boleh tahu, kenapa tak jadi?"


"Nara Imo tak merestui kami."


"Apa karena perjodohanmu dengan Jimin?"


"Bukan. Ada alasan yang lain. Maaf, karena tidak bisa memberitahukannya."


"Aku mengerti. Aku memang tak bisa memaksa. Tapi, bukankah kau masih terlalu muda untuk menikah."


"Perempuan di keluarga kami memang biasa menikah muda."


Yura mengangkat alis tak paham.


"Kau bisa menyebutnya kutukan keluarga. Jika anak gadis dalam keluarga kami belum menikah sampai usia dua puluh tiga tahun, maka dia tak akan pernah bisa menikah."


"Hah." Yura kaget mendengar penuturan tak masuk akal adik iparnya. Wajahnya masih penuh tanda tanya.


"Mungkin terdengar gila. Tapi memang itu kenyatannya. Nara Imo contohnya."


-o0o-


So Hyun membawa sebuket bunga saat memasuki ruang itu. Di sana ada kakak iparnya yang sudah siap dengan gaun pengantin. "Selamat atas pernikahanmu, Eonni."


Hari ini, akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Di mana dia akan memulai kehidupan baru bernama pernikahan. Status lajangnya berganti menjadi istri orang.


"Terimakasih. Terimakasih juga untuk gaun yang indah ini. Aku sampai tidak bisa berkata apa pun. Ini lebih dari yang aku bayangkan. Kau memang berbakat." Kedipan nakal juga Yura lakukan untuk mengusili adik iparnya.


So Hyun hanya bisa tertawa. Merasa lucu dengan tingkah konyol kakak iparnya. "Awalnya aku juga tak menyadari. Jungkook yang merekomendasikannya. Mungkin aku akan menjadi desainer hebat jika melakukannya, itu katanya sewaktu kecil dulu."


"Jeon Jungkook."


"Iya. Aku pernah menggambarkan desain hodie yang sangat diinginkannya. Dia telat membeli karena memang itu edisi khusus. Dari situ dia berkata jika aku punya bakat."


"Aku dengar kalian berteman sejak kecil."


"Dia teman pertamaku sejak aku pindah ke negara ini."


"Kau pernah menyukainya sebagai pria?"


"No comment."


"Kupikir dia menarik sebagai pria."


"Dia memang menarik. Tapi bukan tipeku." So Hyun ikut mengedipkan sebelah mata. "Kenapa jadi membahas dia. Ayo kita berfoto!"


Mereka mengambil pose yang menarik untuk diabadikan. Diulang dengan pose lain. Hingga tawa terdengar di akhir mereka mengambil gambar.


"Ekhm."


Suara berat di belakang mereka mengalihkan atensi. Secara otomatis mereka menoleh ke sumber suara. Namun kembali melihat ponsel So Hyun yang sudah dipenuhi potret diri, ketika mengenali si pemilik suara. Mereka kembali tertawa melihat hasil yang tak sempurna.


"Kalian mengabaikanku?" ucap pria itu tak terima.


Mereka masih tak peduli dengan ucapan pria itu. Hingga suara seorang anak kecil terdengar. Hal itulah yang mampu mengusik keasyikan mereka.


"Eomma."


"Jungkook-ah. Kemarilah! Kau tidak mau menyapa imo."


Pria kecil itu mendekat. Tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu membalut tubuhnya. Rambutnya ditata rapi. Sangat menggemaskan. Seperti pengantin pria dalam ukuran mini.


"Yura Imo, selamat atas pernikahanmu," tutur Jungkook. Suara khasnya terdengar menggemaskan. Itulah mengapa setiap orang yang diajak berbicara akan tersenyum.


"Terimakasih, Sayang." Usapan lembut Yura berikan.


"Kami ke depan dulu," pamit So Hyun. Dengan menggandeng tangan putranya So Hyun berjalan menjauh. Diikuti oleh pria yang tadi diacuhkan. Pria itu memasang wajah tak ramah. Mungkin marah.


"Oppa," panggil So Hyun. Matanya tak lepas dari mimik wajah pria itu.


Pria itu hanya menjawab dengan gumaman. Sedikit sakit hati karena diacuhkan.


"Kau terlihat lebih tampan hari ini."


"Memangnya kapan aku tak terlihat tampan." Pria itu berucap sinis. Tingkat percaya dirinya memang tinggi.


"Saat kau sedang marah."


Pria itu tersenyum pada akhirnya. Bualan istrinya membuatnya luluh. Dia memang tak pernah bisa berlama-lama marah dengan wanitanya itu. Tangannya menarik lengah So Hyun untuk diapit. Mereka saling menggandeng menuju tempat diadakannya pesta.


-o0o-


Ketukan demi ketukan Jungkook lakukan di atas tuts-tuts piano. Berkat pelatihan khusus dari ibunya, dia bisa menghafal lagu itu di luar kepala. Menghadiahkan permainan indah itu untuk sang bibi.


Dia tampil setelah ayahnya selesai bernyanyi. Jika saja sang MC tidak menyebutkan namanya, ayahnya tak mungkin tahu. Sengaja dirahasiakan untuk memberi kejutan. Itu ide So Hyun tentu saja.


Jimin berbisik pada So Hyun. "Kau yang mengajarkannya? Aku tak pernah ingat mengajarkan lagu itu."


So Hyun hanya tersenyum. Dia mengalihkan pandangan kembali kearah putranya. Seluruh tamu undangan terpukau.


Anak kecil berusia lima tahun itu, begitu lihai memainkan alat musik bernama piano. Rangkaian nada yang dimainkan terdengar merdu. Suara tepuk tangan terdengar meriah di akhir permainan.


Pria kecil itu berlari mendekat sang ibu, kemudian. Memeluk kaki dan menyembunyikan wajah. Dia sedikit malu.


"Kau hebat, Sayang," bisik So Hyun. Dia mencoba melepaskan pelukan putranya.


Jungkook kecil menatap mata ibunya. "Sungguh!" ucapnya memastikan.


"Emh." Kecupan ringan di dahi So Hyun labuhkan. Menenangkan putranya adalah hal wajib jika tidak ingin kerepotan.


"Anak appa benar-benar hebat. Appa bahkan belum mengajarkan lagu itu." Jimin mengulurkan tangan. Mengusap kepala putranya. Menariknya untuk duduk di pangkuan.


"Eomma yang mengajarkannya."


"Begitukah!"


"Emh." Jungkook mengangguk antusias. "Karena Appa jarang di rumah, eomma yang menemani Jungkook bermain piano. Appa juga harus mendengarkannya. Permainan piano eomma juga sangat bagus," lanjutnya. Dia mengacungkan kedua ibu jarinya.


So Hyun tertawa. Bukan karena mendapat pujian, melainkan ucapan Jungkook. Nada bicaranya terdengar menggemaskan.


"Kau ini bisa saja." Tangannya mengacak puncak kepala Jungkook. "Tentu lebih bagus permainan appamu."


"Tidak. Aku lebih suka, Eomma."


"Terserah padamu." So Hyun mencubit hidung Jungkook dengan gemas. Putranya bersikap manis hari itu.


"Appa jangan marah ya. Jika sedang libur, Appa juga harus mengajari Jungkook lagi."


"Tentu saja."


Mereka tak sadar jika beberapa pasang mata mengawasi tingkah mereka. Juga ikut tersenyum melihat kekonyolan Jungkook kecil.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue..


🍭


🍭


🍭


Saya kembali lagi.


Bagaimana menurut kalian?


Terima kasih sudah jadi pembaca setia.


Tinggal mungkin 2 atau 3 chapter lagi + epilog.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. VOTE, LIKE, dan COMMENT WAJIB!!


See you.😘