The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 13



Chapter 13


(THE BEGINNING of LOVE)


_


_


Aku mencintaimu sejak lama. Dan aku akan tetap melanjutkan rasa ini -PJM


Cinta berawal dari kepercayaan. Dan aku akan mencobanya. -KSH


_


_


So Hyun membuka matanya kala kilauan cahaya mengusik pandangannya. Dengan malas, dia menyesuaikan penglihatannya. Memejamkannya berkali-kali untuk membuatnya menjadi jelas. Dia menutup mulutnya, karena menguap.


Begitu pandangannya menjadi jelas, netranya kini tertuju pada wajah polos pria yang tengah dipeluknya. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Kenapa dia bisa berakhir bersama pria itu? Kepalanya sedikit pusing. Dia menggelengkan beberapa kali untuk menguranginya. Tangannya juga ia tarik melepas pelukannya.


Pria itu menggeliat kecil. Dia juga membuka matanya. “Morning”, sapanya.


So Hyun hanya diam memandang wajah pria itu.


Tangan pria itu terulur menyentuh kening So Hyun. “Demammu sudah turun”, ucapnya lagi.


So Hyun masih diam. Dia hanya mengedipkan matanya, masih memandang pria yang berbaring bersamanya.


“Apa kepalamu masih pusing?”, pria itu masih setia berbicara dengan So Hyun, meski tak mendapat respon.


“Sedikit”, kini So Hyun menanggapinya.


Mereka hanya saling manatap dalam diam. Cukup lama. Dan itu membuat jantung Jimin berdetak semakin cepat.


“Mau aku ambilkan air”, ucap Jimin. Dia tak ingin terjebak dengan situasi canggung bersama gadis itu.


So Hyun mengangguk sebagai jawaban.


Jimin turun dari ranjang. Segera beranjak meninggalkan kamar So Hyun. Beralih menuju dapur untuk mengambil minuman. Dia melihat seorang gadis tengah asik memasak di dapurnya.


“Selamat pagi”, sapa gadis itu yang tangannya masih sibuk mengaduk sesuatu di panci.


“Sejak kapan kau ada disini?”, tanya Jimin. Dia menuangkan air ke gelas.


“Aku sangat mengkhawatirkan So Hyun, jadi pagi-pagi tadi aku segera kesini”, jelas gadis itu. “Apa dia belum bangun?”, tanyanya lagi.


“Sudah. Ini. Aku sedang mengambilkan minum untuknya”, Jimin mengangkat gelas yang dipegangnya.


“Sarapannya sebentar lagi siap. Bawa dia ke meja makan”, jelas gadis itu.


Jimin hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia kembali ke kamar istrinya dengan membawa segelas air untuknya.


Istrinya tengah duduk bersandar pada dasbor ranjang. Dia menoleh mendengar langkah kaki Jimin. Dengan senyum yang mengembang dia menerima gelas yang disodorkan Jimin. Meminumnya dengan segera. Menghabiskannya dalam sekejab. “Terima kasih”, ucapnya sambil menyerahkan gelasnya kembali.


“Bagaimana perasaanmu?”, tanya Jimin. Dia ikut duduk di samping istrinya.


“Sudah lebih baik”, jawab So Hyun.


“Syukurlah”, ucap Jimin dengan senyum khasnya.


“Aku lapar”, ucap So Hyun sambil tersenyum. Senyum malu.


“Ayo makan. Aera sudah memasak untukmu”, jelas Jimin. Dia berdiri, mengulurkan tangannya untuk So Hyun.


“Aera eonni disini”, ucap So Hyun menerima uluran tangan Jimin.


“Dia mengkhawatirkanmu. Karena itu pagi-pagi sekali dia sudah datang”, jelas Jimin. Dia membantu So Hyun berdiri. Menggandengnya dan menggiringnya berjalan.


“Sebentar, aku mau cuci muka dulu”, ucap So Hyun.


Jimin hanya mengangguk mempersilahkan.


-o0o-


“Bukankah kau ada jadwal hari ini”, tanya So Hyun yang melihat Jimin ikut duduk di sampingnya. Dia sedang menonton TV setelah menghabiskan sarapannya. Aera sudah pergi sejak tiga puluh menit yang lalu.


“Iya, nanti setelah makan siang”, jawab Jimin.


So Hyun hanya mengangguk. Dia memfokuskan kembali pandangannya pada benda berbentuk persegi panjang tersebut. Tak ada percakapan diantara mereka. Mereka sibuk memandang layar kaca yang menampilkan drama.


“Aku merindukan eomma”, ucap So Hyun lirih. Kepalanya ia sandarkan pada lengah kokoh Jimin.


“Mau aku antar”, ucap Jimin.


So Hyun mengangkat kepalanya, mengangguk dengan antusias. “Aku akan mengambil mantelku”, ucapnya segera berlalu.


-o0o-


“Eomma, appa, oppa, annyeong. Bagaimana kabar kalian? Aku baik meski tak sebaik bersama kalian. Aku merindukan kalian”, ucap So Hyun. Ya, dia kini berada di depan tempat penyimpanan abu kedua orang tua serta kakak laki-lakinya.


“Eomma, aku tidak datang sendiri. Seperti yang kau lihat, aku bersama pria tampan yang kini sudah menjadi suamiku. Appa, kau benar-benar pandai memilih menantu ya. Oppa, kau pasti tak menyangka jika adik iparmu adalah sahabatmu sendiri”, ucap So Hyun lagi.


Jimin tersenyum mendengarnya. Senang rasanya mendengar So Hyun bisa bercanda.


So Hyun melirik ke arah Jimin. “Kau tak ingin menyapa mereka?”, tanya So Hyun.


Jimin mengangguk. Dia menunduk memberi salam. “Annyeong haseyo, abeonim, eommonim, hyungnim. Maaf baru bisa menyapa kalian sekarang. Seperti yang So Hyun tadi katakan. Aku sudah menjadi menantu untuk kalian. Mulai sekarang aku akan menjaga So Hyun untuk kalian. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan itu padaku”.


So Hyun hanya bisa memandang aneh pada Jimin.


-o0o-


“Jimin-ssi. Bolehkan aku bertanya satu hal padamu?”, ucap So Hyun membuka pembicaraan. Mereka masih di dalam mobil, di area penyimpanan abu kedua orang tua So Hyun.


Jimin yang bermaksud memasang sabuk pengamannya menoleh. “Emmh, kau mau tanya apa?”, jawabnya.


“Apa kau menyukaiku?”.


Jimin mengangkat alisnya. “Maksudmu?”.


So Hyun memandang sebentar ke arah Jimin. Membuang muka kemudian. “Aku selalu bertanya alasan kenapa kau tak menolak perjodohan ini. Kau mungkin mengenalku dulu, tapi itu bukan jaminan kau mengenal diriku yang sekarang. Kita bahkan hanya bertemu beberapa kali. Padahal kau sedang berada di puncak populeritas sekarang. Ya, meski pernikahan rahasia tapi tak menutup kemungkinan akan terbongkar bukan. Jika itu terjadi, aku yakin akan berpengaruh besar terhadap karirmu. Tapi dengan tanpa keraguan kau menerimanya. Dan hanya itu alasan yang masuk akal yang aku fikirkan”. So Hyun menatap pemandangan dari dalam jendela kaca mobil.


Jimin menghela nafas. Gadis itu masih penasaran dengan tindakannya. Ya, selama ini dia memang tak mengatakan mengapa dengan tanpa ragu dia menerima perjodohan itu. “Kau masih penasaran dengan itu”, jawabnya.


“Tentu saja. Aku sudah terikat denganmu”, jelas So Hyun.


“Kau memang benar. Aku menyukaimu”.


So Hyun tercengang. Dia mendesah pasrah. Jadi benar dugaannya. Pantas saja pria itu tak pernah marah padanya. Bahkan ketika dia bertingkah menyebalkan sekalipun, pria itu selalu menanggapinya dengan senyum lebar. “Sejak kapan?”, tanyanya kemudian.


“Aku juga tak tahu sejak kapan”, jawab Jimin. Dia terlihat tengah memikirkan sesuatu. “Mungkin, sejak kita berkencan dulu”, lanjutnya yang terdengar ragu.


So Hyun tersenyum mengejek. Benar-benar pria yang tangguh. Perasaannya tak berubah meski sepuluh tahun sudah berlalu. “Jangan lakukan itu”, So Hyun yang semula membuang muka kini menatap dalam pria itu.


Jimin mengangkat alisnya tak paham.


“Jangan pernah menyukaiku apalagi mencintaiku”.


“Kenapa aku tidak boleh melakukannya?”.


“Itu akan berdampak sangat buruk untukmu. Setiap hari kau hanya akan memikirkanku. Kau akan selalu penasaran dengan apa yang aku lakukan. Apa aku sudah makan? Apa aku tidur nyenyak? Apa aku menjalani aktivitas dengan gembira? Kau akan merasa gila jika sehari saja tak mendengar kabarku. Dan kau tak akan pernah bisa melihat gadis lain selain diriku. Kau akan mengalami itu semua, Jimin-ssi”, jelas So Hyun.


Jimin tersenyum mendengar penuturan gadis itu. “Aku memang sudah mengalami itu semua”, jawabnya. Dia mengambil nafas dalam. “Kau tahu, dulu aku selalu menepis semua perasaan itu. Aku selalu berfikir jika itu tak kan mungkin terjadi. Tidak mungkin kan aku suka pada gadis tomboi yang selalu bersikap menyebalkan jika bertemu denganku”, lanjutnya.


So Hyun kembali tersenyum mengejek. “Gadis tomboi yang menyebal, manis sekali”, ucapnya menyela dengan nada menyindirnya.


“Tentu saja. Coba kau ingat, apa kau pernah bersikap manis padaku? Tidak kan. Kau hanya akan bersikap manis jika ada perlu. Namaku saja kau sering lupa”, tegas Jimin kembali.


“Ck, itu karena kau tak benar-benar mengenalku”, bantah So Hyun. Ya, dia dulu memang selalu berterus terang dalam bersikap. Jika mereka tak dekat, maka dia tak segan menunjukan sikap acuhnya.


“Mungkin kau benar. Kita memang tak begitu dekat dulu. Kau bahkan marah saat aku memberi coklat di hari kasih sayang, padahal kau sudah tahu alasan kenapa aku memberikannya”, Jimin mendesah pasrah.


“Semakin aku menepisnya, semakin besar pula perasaan itu. Aku mulai mencoba berkencan untuk menepis rasa tersebut. Itulah kenapa aku bisa berkencan dengan Aera. Aku mulai melupakan perasaan itu. Tapi seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh begitu kuat. Aku mencintai Aera, tapi rasa itu tak sebesar rasa cintaku padamu. Aku tak ingin melukainya, karena itu aku memilih mengakhirinya”, jelas Jimin kembali.


So Hyun hanya terdiam. Tak ada niatan untuk membalas penjelasan pria itu.


“Awalnya, aku juga menolak perjodohan ini. Aku sedang gila karena tak tahu dimana keberadaan orang yang ku rindukan, bagaimana mungkin aku akan menerima perjodohannya. Tapi setelah aku tahu siapa yang akan dijodohkan denganku, aku senang. Tanpa pikir panjang aku menerimanya, dengan senang hati, tanpa paksaan”.


So Hyun mendengus pasrah. Dia sekarang tahu alasan pria itu. Tapi, semua akan menjadi rumit menurutnya, karena melibatkan perasaan. Dia tak tahu apakah dia masih bisa membalas perasaan pria itu atau tidak. Dia tak ingin melukai perasaan tulus pria itu.


“Kau sudah tahu alasanku, apa itu cukup membuatmu menghilangkan rasa penasaranmu?”, ucap Jimin lagi.


So Hyun hanya bisa mengangguk. Berbagai perasaan mulai berkecamuk dalam dirinya. Perasaan bersalah, khawatir, takut, dan entah apa lagi yang dirasakannya. “Aku mungkin tidak bisa membalas perasaanmu, Jimin-ssi”, ucap So Hyun tulus. Matanya tak lepas dari wajah tampan pria itu.


Pria itu tersenyum manis. Dia menggenggam salah satu tangan So Hyun. “Aku tidak pernah berharap kau akan membalas perasaanku”, ucapnya.


“Aku hanya ingin kau tahu, jika disampingmu ada pria yang tulus mencintaimu”, ucap Jimin. Wajahnya terlihat berbinar tanda dia sedang bahagia.


So Hyun kembali tercengang. Sungguh, dia tak pernah mengalami ini semua. Tak bisa berbuat apa-apa pada orang yang sedang menyatakan perasaan padanya. Bahkan dia tak bisa berucap untuk sekedar membalas ucapan pria itu.


“Kau hanya perlu percaya padaku. Jika aku akan selalu ada untukmu dan akan selalu melindungimu”, Jimin mengusap pelan punggung tangan So Hyun. “Aku mencintaimu So Hyun, sangat”, lanjutnya lagi. Dia juga mengecup singkat punggung tangan So Hyun.


“Aku hanya gadis yang penuh kekurangan. Jika imo tak sungguh-sungguh merawatku, aku yakin aku tak menjadi gadis normal sekarang. Kau tahu kan, jika aku pernah memiliki gangguan kejiwaan. Aku merasa tak pantas untukmu Jim……”, So Hyun tak sempat melanjutkan kalimatnya.


Jimin menarik tangan So Hyun, hingga membuat wajahnya mendekat. Dia juga mendekatkan wajahnya. Mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Melumatnya pelan untuk membuatnya bungkam. Dia tak ingin mendengar alasan penolakan gadis itu.


So Hyun membulatkan mata saat pria itu melumat pelan bibirnya. Dia masih belum paham dengan apa yang menimpanya. Dia ikut memejamkan mata kala tangan pria itu menarik tengkuknya untuk membuatnya semakin mendekat. Dia membiarkan pria itu menguasai bibirnya. Dia membalas lumatan pria itu karena terbawa suasana.


Mereka terengah setelah menyudai aktivitasnya. Jimin masih menahan wajah So Hyun. Kening mereka masih menyatu. So Hyun bisa merasakan deru nafas memburu pria itu.


“Aku tidak peduli dengan itu semua So Hyun. Tidak ada manusia yang sempurna. Kau hanya perlu percaya padaku”, ucap Jimin.


So Hyun mengangguk. “Aku akan mencobanya”, jawabnya kemudian.


Jimin kembali mendaratkan bibirnya. Dia kembali melumat bibir So Hyun. Sedang So Hyun hanya bisa pasrah dengan apa yang pria itu lakukan padanya.


-o0o-


“Kenapa kita ke bandara?”, tanya So Hyun. Ya, mereka kini berhenti di area bandara internasional di kota tersebut. Setelah pergi dari tempat penyimpanan abu milik kedua orang tua So Hyun, Jimin membawanya ke tempat itu.


“Bukankah kau ada jadwal setelah jam makan siang. Ini sudah hampir jam makan siang”, ucap So Hyun lagi. Ya, setelah pembicaraan panjang tadi, So Hyun sedikit melamun. Itulah kenapa dia tak sadar jika mobil yang ditumpanginya menuju ke arah tempat itu.


“Dia akan kembali ke Paris hari ini. Temui dia”, ucap Jimin.


So Hyun menatap tajam Jimin. “Siapa? Jackson maksudmu?”, tanya So Hyun.


Jimin mengangguk sambil tersenyum.


“Jimin-ssi. Kau……”, So Hyun tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia tak habis pikir dengan pria yang kini duduk di sampingnya. Dia baru ingin belajar mempercayai pria itu, tapi kenapa justru dia membiarkan dirinya bertemu dengan pria lain yang jelas-jelas bahwa dirinya mencintai pria tersebut. “Bagaimana jika aku ikut pergi bersamanya? Aku baru mau belajar mempercayaimu”, jelas So Hyun kembali.


“Aku percaya padamu”, ucap Jimin. Tangannya menggenggam tangan So Hyun. “Kau mungkin akan menyesal jika kau tak menemuinya sekarang”.


So Hyun tak bisa berkata apa-apa lagi. Pria ini sungguh berhasil mengacaukan pikirannya.


“Pergilah! Aku tidak ingin kau menyesal nantinya”, ucap Jimin lagi. “Aaa, kau bisa pulang sendiri kan. Aku ada jadwal setelah ini”.


So Hyun mengangguk. “Hati-hati”. Dengan tak bersemangat dia keluar dari mobil pria itu. Dia melambaikan tangan dan tersenyum manis setelah menutup pintu.


Setelah mobil pria itu hilang dari pandangan, So Hyun segera memasuki area bandara. Mencari keberadaan pria yang akan ditemuinya. Dengan langkah tergesa, bahkan terkesan berlari So Hyun mencari keberadaannya.


So Hyun terengah saat menatap seorang pria yang duduk bersantai di kursi tunggu. Dia segera menghampiri pria itu. “Jack”, sapanya.


Pria itu mengangkat kepalanya. Dia sedikit terkejut. Tak pernah menyangka jika gadis itu akan menemuinya. Dia bahkan tak bilang pada gadis itu jika dia akan kembali ke Paris hari ini, kecuali pria itu. Pria yang sudah menjadi suami gadisnya. “So-ah”, ucapnya. Dia berdiri.


So Hyun memeluk erat pria itu. Nafasnya masih memburu karena berlari kecil tadi.


“Kau baik-baik saja?”, tanya pria itu. Dia bisa merasakan nafas tak teratur So Hyun.


So Hyun melepas pelukannya. Mengangguk kemudian. “Aku hanya terengah karena sedikit berlari tadi saat mencarimu”.


Pria itu tersenyum. Senyum yang mungkin akan dirindukan So Hyun. “Kenapa? Kau takut tak akan bertemu denganku?”, goda pria itu. Dia juga mendorong pelan kening So Hyun denga jari telunjuknya.


So Hyun hanya bisa mengangguk pasrah. Memang benar yang dikatakan pria itu.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?”, tanya pria itu.


“Aku sudah lebih baik”, jawab So Hyun.


“Mulai sekarang, jangan pernah memaksakan diri. Kau sudah tahu akibatnya kan. Kau bisa sakit lagi”, pria itu memegang kedua bahu So Hyun. “Jaga dirimu baik-baik”.


“Iya, aku akan mengingat pesanmu dokter Park”, ucap So Hyun sedikit bercanda saat memanggil pria itu.


“Gadis pintar”, pria itu mengacak pelan puncak kepala So Hyun.


“Aku akan merindukanmu, Jack”, ucap So Hyun. Dia memberikan pelukan hangat pada pria itu.


“Iya, aku juga”, jawab pria itu.


Mereka diam untuk sesaat. Menikmati pelukan hangat yang mereka ciptakan. Menyalurkan semua perasaan lewat pelukan tersebut.


“Dia pria yang baik, kau bisa percaya padanya”, ucap pria itu yang masil belum melepas pelukannya.


“Aku tahu”, jawan So Hyun. Dia yang pertama melepas pelukan itu. Ya, setelah dia mendengar suara peringatan keberangkatan pesawat. “Pergilah, pesawatmu sebentar lagi berangkat”.


Pria itu menatap aneh ke arah So Hyun. Seolah tak rela melepas gadis itu. Ingin sekali dia bertindak egois dan membawa gadis itu kabur. Namun itu bukan hal pantas untuk dilakukannya. Banyak orang yang akan terluka jika dia melakukannya. Dia memegang kedua pipi So Hyun. Mendekatkan wajahnya. Mencium mesra kening gadis itu. “Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu”, ucapnya melepas kecupan itu.


So Hyun yang tadi menutup mata kini membukanya kembali. “Terima kasih untuk semuanya, Jack. Aku juga berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau pasti akan menemukan gadis yang lebih baik dariku”.


Pria itu kembali tersenyum. “Tentu saja”, dia mengacak pelan puncak kepala So Hyun. “Aku pergi”. Pria itu menarik kopernya kemudian. Berjalan meninggalkan So Hyun sambil melambaikan tangan.


So Hyun membalas lambaian tanga pria itu. Dengan sekuat tenaga dia mecoba tak menangis di depan pria itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia kan menangis sebentar lagi. Rasanya sangat sakit melepas kembali pria itu. Seperti ada pisau yang menancap tepat di jantungnya. So Hyun bahkan masih menatap punggung pria itu yang mulai menghilang.


Dia tak sadar jika di belakangnya seorang pria mengawasinya sejak tadi. Ya, pria itu berniat pergi setelah melihat So Hyun turun dari mobilnya. Namun hati kecilnya seolah tak setuju dengan tindakan. Itulah mengapa dia hanya bisa mengawasi gadisnya dari kejauhan. Takut jika gadis itu akan ikut pergi bersama pria lain. Dia bernafas lega melihat apa yang baru saja terjadi. Dia berjalan menjauh. Ini adalah hal gila yang pernah dilakukannya. Ah, dari awal dia memang sudah gila karena gadis itu.


-o0o-


Jimin mendapati apartemennya masih gelap saat kembali. Dia memang baru pulang dari pekerjaannya. Dengan langkah sedikit tak tenang dia menyalakan semua lampu untuk membuat tempat itu terang. Dia bertanya-tanya, apa gadis itu belum pulang.


Tungkainya membawanya ke kamar. Masih gelap. Benar dugaannya, gadis itu belum pulang. Dia berniat pergi, namun terhenti kala mendengar suara isakan. Dia mendekat ke sumber suara. Gadis itu menangis. Punggungnya bersandar pada ranjang. Wajahnya tak terlihat karena disembunyikan diantara lututnya yang ditekuk.


Jimin berjalan mendekat, hatinya seperti teriris melihat gadisnya sedang kacau. Dia mengusap pelan rambut gadis itu. “Kau baik-baik saja”, ucapnya pelan.


“Keluar, aku ingin sendiri”, ucap So Hyun. Dia bahkan tak menunjukan wajahnya. Dia masih sedikit terisak.


Jimin masih enggan beranjak. Dia masih setia mengusap surai panjang gadis itu.


“Aku bilang keluar, aku ingin sendiri”, So Hyun mendorong pelah tubuh Jimin.


“Baiklah, jika itu bisa membuatmu tenang”, jawab Jimin. Dia akan beranjak, kembali terhenti saat gadis itu memeluknya. Dia kembali mengusap surai panjang gadis itu. Dia juga membalas pelukan tersebut.


So Hyun semakin mempererat pelukannya. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Dia juga masih sedikit terisak.


Pria itu menuntun So Hyun berbaring di ranjang saat tangisannya sudah reda. Dia menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. “Tidurlah, kau pasti lelah setelah menangis tadi”. Dia mengingkirkan anak rambut dari wajah So Hyun.


So Hyun masih memandang lekat pria itu. Pandangannya sedikit memburam karena air matanya yang belum mengering. “Jimin-ssi”, panggilnya pada pria yang masih duduk di sampingnya.


“Iya. Ada apa?”.


“Kau mau tidur denganku?”.


“Aku memang selalu tidur denganmu kan”.


So Hyun masih memandang aneh pria itu. “Ku pikir kau sudah dewasa”, ucapnya kemudian, Masih dengan pandangan yang sama.


Jimin mendekatkan wajahnya. Dia mengecup singkat kening So Hyun. “Tidak sekarang”, jawabnya. Dia juga mengecup pelan bibir So Hyun. Saat akan menjauhkan wajahnya, So Hyun menahan tengkuknya. Mata mereka bertemu.


Tidak, So Hyun masih menatapnya dengan tatapan memohonnya. Pertahanannya akan runtuh jika gadis itu terus memandangnya seperti itu. Dia mencoba melepas tangan So Hyun, namun gadis itu justru mempereratnya. “Kau akan menyesal, jika tidak melepaskanku So Hyun”, ucapnya.


“Aku tidak peduli”, jawab So Hyun.


Tidak kata yang terucap dari pria itu. Dia masih memandang intens istrinya. Ya, mereka sudah menikah bukan. Tak akan ada yang menyalahkan perbuatannya nantinya. Dia akhirnya mendesah pasrah. Kembali menempelkan bibirnya pada bibir gadisnya. Dia membiarkan naluri menuntunnya.


*AutoSkipmalampertama*


🍭


🍭


🍭


To Be Continue…


🍭


🍭


🍭


Ini dia momentum yang kalian tunggu, So Hyun dan Jimin😊


Huft... Akhirnya Jack pergi dengan tenang... 😁😁


Itu awal mula Jimin mencintai So Hyun. Sudah tidak penasaran lagi kan!😊 Romantis banget sih enchim hehe🤧 malam pertama mereka akhirnya... Meskipun aku skip😁


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara Like Commentnya sebanyak-banyaknya. Biar semangat nih author🙏🙏


Apalagi kalau yang Comment makin dikit😥, makin sedih saya😭😭🤧