The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 25



TERIMAKASIH TELAH MENUNGGU AUTHOR SELAMA SEMINGGU πŸ™πŸ˜Š


Hari ini update 2 part dulu, bsk satu lagi🀞


***


Chapter 25


(GIFT)


_


_


_


Dengan langkah tak bersemangatnya So Hyun menuju apartemennya. Wajah lelah terlihat jelas. Matanya dipejamkan sebentar sebari menunggu pintu lift terbuka. Kepalanya juga ia sandarkan pada dinding. Untung saja hanya ada dia di dalam lift tersebut, jadi dia tak perlu malu dengan penilaian orang.


Setekah pintu lift terbuka, dia kembali berjalan tak bersemangat. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Belum lagi tour ke perusahaan lain untuk meeting dengan para klien. Benar-benar menguras tenaganya. Dan lagi pria yang sudah berstatus sebagai suaminya tak memberinya kabar berhari-hari. Pesan yang dikirimkannya tak dibalas. Telfon yang dilakukannya juga diabaikan. Membuatnya semakin pusing.


Tangannya menutup mulut karena menguap. Dia sudah mengantuk. Secepatnya dia harus menuju kamar untuk bertemu bantal dan selimutnya. Dengan tergesa dia menekan password apartemennya. Membuang sembarang heelsnya sebelum memakai sandal rumahannya. Tanpa menyalakan saklar lampu, dia bergegas menuju kamarnya.


Matanya sudah sedikit terpejam. Tangannya terulur meraba dinding. Dia sudah hafal dimana letak saklar lampu kamarnya. Dengan cepat pula dia menekannya. Seketika matanya terbuka lebar. Dia tersadar karena seorang pria tengah tersenyum manis padanya.


"Surprise," ucap priaa itu masih dengan senyum manis. Di tangannya memegang kue yang di atasnya terdapat lilin bertuliskan angka satu sebanyak tiga buah.


So Hyun menatapnya heran. Ini bukan ulang tahunnya, juga bukan ulang tahun pria itu. Lalu untuk apa kue tersebut? Di sela kebingungannya, pria itu sudah menariknya untuk duduk di sofa kamarnya.


"Happy anniversary, sayang," ujar pria itu setelah menyalakan lilin.


"Anniversary?" ulang So Hyun sambil mengangkat alisnya.


"Emmh," jawab pria itu disertai anggukan. "Yang ke seratus sebelas hari."


So Hyun tertawa. "Bukankah biasanya yang ke seratus. Kenapa ini yang ke seratus sebelas?"


"Seharusnya begitu. Tapi kau tahukan jika aku masih ada promosi album waktu itu," tutur pria itu lagi.


"Iya sih," jawab So Hyun membenarkan.


"Tiup lilinnya dulu. Jangan lupa buat permohonan."


So Hyun termenung. Dia memang sedang membuat permohonan. Entah apa? Dia mengatakannya dalam hati. Matanya kembali ia buka. Setelah mendapat anggukan dari suaminya, dia meniup lilin tersebut. "Terimakasih." Tangannya terulur memeluk pinggang suaminya. Menghirum aroma tubuh prianya yang selama ini dirindukannya. Hal itu bisa membuang rasa lelahnya.


"Sama-sama sayang." Pria itu membalasnya dengan memberikan usapan lembut di surai panjang istrinya. "Jadi apa permohonanmu?"


"Rahasia. Nanti tak akan terkabul jika aku memberitahukannya padamu," So Hyun melepaskan pelukannya dan menatap tajam pria itu. "Lalu apa yang kau minta?"


Pria itu mendekatkan wajahnya. Mengecup singkat bibir istrinya. "Aku harap kau cepat hamil," ucapnya kemudian.


"Bagaimana bisa cepat hamil jika kita jarang melakukannya," tutur So Hyun lirih sambil membuang muka. Cukup lirih karena pria itu tak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kau bilang apa?"


"Bukan apa-apa? Aku akan memotong kuenya." Dengan cepat tangannya mengambil pisau. Dia benar-benar memotong kue tersebut. Meletakan potongan kecil pada piring kecil yang ada di meja. "Ini tidak ada kacangnya kan?" tanyanya sambil memberikan piring itu pada suaminya.


"Tentu tidak, kau kan alergi kacang."


So Hyun menyuapkan kuenya. "Mashita," ucapnya di sela-sela kunyahannya. Dia makan dengan lahap. Tak heran jika di sekitar mulutnya terdapat krim.


Pria itu menarik wajah So Hyun. Mendekatkan bibirnya. Melumat bibir tipis istrinya. Dia membersihkan sisa-sisa mayones yang menempel di sekitar mulut istrinya. Dengan wajah tanpa dosa, dia kembali memakan kue setelah melepaskannya.


So Hyun masih membulatkan matanya. Dia belum paham dengan apa yang barusan suaminya lakukan. "Yak," protesnya setelah tersadar.


"Siapa suruh makannya berantakan," jawab pria itu masih dengan wajah tak berdosanya.


"Aish, bilang saja mau mencuri kesempatan," kata So Hyun dengan nada protesnya.


"Ini." Jimin mengulurkan kotak beludru berwarna merah pada So Hyun, masih dengan senyum yang mengembang.


"Apa ini?" So Hyun yang masih ragu akhirnya menerima kotak tersebut.


"Buka saja."


Seperti perintah suaminya, dia membuka kotak tersebut. Benda berkilau itu mampu membuatnya menyipitkan mata. Kalung emas putih berliontinkan dua kupu-kupu dengan mutiara di atasnya. Sungguh indah. Dia tak sadar jika setitik air mata meluncur melewati pipinya. Dia terharu sekaligus bertanya. Dari mana pria itu tahu jika dia sangat menyukai hewan mungil tersebut.


"Kau tak menyukainya?" tanya pria itu ragu melihat reaksi istrinya. Gadis itu terdiam menimbulkan banyak pertanyaan.


So Hyun menatap sendu suaminya. Antara senang dan sedih, pria itu tak bisa membedakannya.


"Kau menangis?" tanya pria itu kembali yang melihat bekas air mata So Hyun. Dia mengusapnya.


"Dari mana kau tahu jika aku menyukai kupu-kupu?" Masih dengan tatapan sendu So Hyun berucap.


Pria itu merebut kotaknya. Mengambil kalung dan memakaikannya. "Kau yang bilang sendiri, dulu."


"Aku. Kapan? Aku tidak ingat pernah memberitahukanmu."


"Tentu saja. Kau bahkan mungkin tak ingat jika kita pernah berkencan dulu. Meski hanya sehari."


So Hyun tersenyum samar. Dia ingat sekarang. Dia memang pernah mengatakan hal itu. Tak disangka jika pria itu akan mengingatnya sampai hari ini. "Terimakasih, oppa," ucapnya sambil mencium singkat pipi suaminya.


"Kau menyukainya kan?"


"Emmh. Ini indah." Kepalanya ia sandarkan pada lengan suaminya. Untuk hari ini, dia ingin bermanja dengan suaminya. Dia bahkan tak peduli dengan tubuhnya yang masih terasa lengket karena keringat. Salahkan pria itu yang mengabaikannya beberapa hari ini.


"Kau belum berbaikan dengan Jungkook?" ucap pria itu setelah lama terdiam. Masih dengan tangan yang mengusap surai panjang So Hyun.


So Hyun yang masih betah menyandar di lengan suaminya menggeleng. Tidak ada kata yang keluar setelahnya.


So Hyun hanya diam. Ada sedikit rasa sakit mendengarnya. Apa sampai sebegitu besarnya dampak kemarahannya. Sebenarnya tak mengerankan. Mengingat dulu pria bermarga Jeon tersebut juga mengalaminya. Dia akan sakit jika tak segera berbaikan dengannya. Kenapa sekarang terulang lagi? Benar jika mereka memiliki ikatan yang sebenarnya lebih dari seorang sahabat. Mungkin seperti anak kembar.


"Kau tak akan menjenguknya? Dia sangat keras kepala tak mau dibawa ke rumah sakit," pria itu kembali menjelaskan.


So Hyun masih bereaksi sama, diam. Dia mendengus pasrah kemudian. "Haruskah!" ucapnya ragu.


"Jika kau tak keberatan. Siapa tahu dia akan sembuh setelah melihatmu. Tapi semua terserah kamu sih."


So Hyun hanya diam. Dia justru menguurkan tangannya untuk memeluk suaminya. Memejamkan matanya, berharap akan segera terlelap.


-o0o-


So Hyun kembali menarik tangannya saat akan memencet bel. Dia masih ragu dengan tindakannya. Lagi dia mengulurkan tangannya, namun kembali ia tarik. Dia mengutuki dirinya sendiri karena kebodohannya. Mengapa hanya hal sepele dia tak bisa melakukannya.


Dia memang sedang berada di depan dorm para personil BTS tinggal. Tujuannya untuk menjenguk Jungkook. Dia bahkan sudah membuatkan bubur untuk pria kelinci tersebut. Setelah mengambil nafas dalam, dia kembali mengulurkan tangannya. Namun, belum sempat tanganya menyentuh bel, pintu di depannya sudah terbuka. Dengan cepat dia menarik tangannya.


"Kim daepyo," ucap seseorang yang dia yakini bernama Jin.


So Hyun menunduk hormat memberi salam. "Annyeong haseyo," ucapnya kemudian.


Pria itu juga membalas salam So Hyun. "Ada perlu apa?"


"Apa Jungkook ada?" tanya So Hyun dengan ragu. Dia terlihat tak enak mengatakannya.


"Ada. Mari silahkan masuk," ajak pria itu.


So Hyun mengikuti kemana pun pria itu membawanya. Dia bertemu personil BTS yang lain di ruang TV, sepertinya. Dia tersenyum dan memberi salam pada mereka. Dan kembali melangkah menuju sebuah ruang yang diyakininya sebagai kamar Jungkook.


"Ini sudah hari keenam dia sakit. Dia susah sekali dibujuk untuk makan dan minum obat. Aku harap anda bisa melakukannya," ucap pria tampan itu kembali. Dia membukakan pintu kamar Jungkook kemudian. "Aku akan mengambilkan makanan untuknya."


"Ini saja, aku membawakan bubur untuknya." So Hyun memberikan bubur yang di bawanya.


"Aku akan menaruhnya di mangkuk dan membawakan minum. Anda bisa menemuinya terlebih dulu."


"Iya, terimakasih," ujar So Hyun.


Pria itu tersenyum dan berlalu pergi.


Dengan ragu So Hyun berjalan mendekat. Jungkook benar-benar terlihat mengenaskan. Wajahnya pucat dengan handuk kecil di dahinya. Tubuhnya di bungkus selimut yang cukup tebal. So Hyun mendengus kesal. Mendudukan dirinya pada kursi samping ranjang. Tangannya terulur mengambil handuk dan menyentuh keningnya. Terasa begitu panas.


"Kau bodoh atau apa sih? Kenapa kau sakit hanya karena hal itu? Membuat orang cemas saja," ucap So Hyun cukup lantang.


Jungkook membuka matanya. Pandangannya masih buram. "So Hyun-ya," ucapnya kemudian. Pandangannya sudah sedikit jelas sekarang.


"Iya ini aku, So Hyun."


"Mianhae." Jungkook kembali berucap, masih dengan nada lirih. Dia ingin bangun, namun sepertinya tak berhasil karena kepalanya pusing. So Hyun membantunya kemudian. Menyandarkannya pada dashbor ranjang.


"Aku akan memaafkanmu jika kau sembuh."


Jungkook tersenyum samar. Dia senang melihat sahabatnya masih sama. Ini memang kesalahannya sudah membuat gadis itu marah. Dan akibatnya dia sakit setelah melakukannya.


"Kau bukan lagi bocah berusia dua belas tahun, kenapa masih sakit karena merasa bersalah denganku?"


Jungkook ingin menjawab, hanya saja fisiknya terlalu lemah. Dia hanya bisa mendesah pasrah. Dan kembali tersenyum samar mendengar celotehan gadis itu.


Jin datang dengan membawa nampan berisikan semangkuk bubur, segelas air putih, sendok, dan juga obat. "Kau harus makan," ucapnya menyerahkan nampannya.


"Terimakasih," ucap So Hyun menerima nampan tersebut.


"Aku harus pergi. Ada jadwal setelah ini," pamit Jin.


"Hati-hati, hyung," tutur Jungkook.


Jin tersenyum sebelum menutup pintu.


"Ini, kau harus menghabiskannya. Aku sudah susah payah membuatkannya untukmu," ujar So Hyun sambil menyerahkan nampannya. Karena Jungkook sangat lambat, dia menarik kembali nampannya. Meletakkannya di nakas samping tempat tidur. "Biar aku saja yang menyuapimu." Dengan hati-hati dia menyapkan bubur hasil masakannya.


Jungkook menerimanya dengan senang hati. Dia juga terlihat lahap memakan suap demi suap yang diberikan So Hyun. Seulas senyum tak lepas dari bibirnya. Sebegitu berdampaknya melihat gadis yang tengah menyuapinya. Rasa mualnya melihat makanan mendadak hilang. Begitu juga dengan pusingnya. Semua terasa ringan. Apalagi mendengar nada mengeluh yang keluar dari mulut sahabatnya. Semua seperti obat tak terlihat untuknya. Bahkan dia yakin akan sembuh meski tanpa meminum obatnya.


"Terimakasih," ucap Jungkook setelah menelan pil dan menghabiskan minumannya.


"Eoh. Jangan sakit lagi hanya karena aku marah padamu," tutur So Hyun masih dengan nada mengeluhnya.


Jungkook mengangguk. Ini adalah hari paling membahagiakan setelah pertengkarannya dengan gadis itu. Tanpa pikir panjang dia menarik gadis itu. Mendekapnya erat, menyalurkan perasaannya.


"Saat ini aku akan membiarkanmu. Tapi tidak lain kali," keluh So Hyun, namun dia membalas pelukan pria itu.


Jungkook kembali tersenyum mendengarnya. Perasaan hangat menyelimuti hatinya. Dia berjanji tak akan lagi membuat gadis itu marah. Atau dia akan kehilangan hal-hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


Mereka tak sadar jika sepasang mata mengawasi tingkah mereka sejak tadi. Seulas senyum tercetak di wajah tampannya. Dia menutup pintu dengan hati-hati agar apa yang dilakukannya tak diketahui kedua orang tersebut.


🌼🌼🌼


To Be Continue..


🌼🌼🌼


Hayo siapa tuh yang ngintip?πŸ˜†πŸ˜†


Budayakan LIKE dan COMMENT?!


Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca cerita ini.


SEE YOU.