The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 36



Chapter 36


(Only You)


__


__


Meskipun banyak yang menentang kita di dunia ini, aku akan tetap berada bersamamu.


Hidup dan mati ku bersamamu


__


__


Nara masih betah mengusap lembut sebuah bingkai foto. Foto pernikahan keponakannya beberapa bulan lalu. Dia sejak tadi termenung dalam kamarnya. Mengingat kejadian di mana keponakan yang paling disayangnya menangis.


*


*


*


Flashback


Malam itu Nara ingin menjenguk keponakannya setelah menerima kabar jika keponakannya keguguran. Dia yang datang ke ruang inapnya tak menjumpainya di sana. Dia mencoba menghubunginya. Dan ternyata keponakannya ada di atap rumah sakit.


Dengan tergesa dia melangkah ke sana. Kaget adalah hal pertama yang dirasakannya. Bagaimana tidak? Keponakan tengah berdiri di pagar pembatas. Jika wanita itu hilang keseimbangan, dia yakin akan jatuh ke bawah.


“So Hyun,” teriaknya dengan lantang. Perlahan dia berjalan mendekat.


So Hyun menoleh sambil mencoba tersenyum. Sangat kentara jika itu dipaksakan. Pandangnnya kembali teralih ke gedung-gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Matanya perlahan terpejam. Menikmati semilir angin malam yang melewatinya.


“Apa yang kau lakukan? Cepat turun! Kau tidak mencoba untuk bunuh diri kan?” Beberapa pertanyaan ia layangkan. Dia begitu panik melihat keadaan keponakannya. Terbesit begitu saja bayangan setahun lalu setelah wanita itu kehilangan janinnya.


“Dokter bilang, jika kemungkinan untukku hamil sangat tipis. Hanya tiga persen. Apa yang harus aku lakukan Imo? Aku tidak akan bisa memberikannya anak.” So Hyun berucap tanpa menoleh ke arah bibinya.


Tubuh Nara terasa lemas. Berita kehilangan calon cucunya sudah membuatnya terluka. Ditambah kenyataan pahit yang harus dialami keponakannya. Membuatnya semakin perih. Saat akan berucap, So Hyun sudah kembali bersuara. Hingga membuatnya harus menutup kembali mulutnya.


“Haruskah aku berpisah dengannya?”


“Apa maksudmu?” tanya Nara. Kalimat yang diucapkan keponakannya di luar perkiraannya.


“Dia masih sangat muda. Aku tak ingin seumur hidupnya harus terjebak hidup dengan gadis setengah gila yang bahkan tak mampu memberinya anak.” So Hyun mengambil nafas dalam. “Imo yang bilang jika semuanya terserah padaku. Bolehkah aku melakukannya?” So Hyun menoleh, menatap lekat bibinya. Menanti setiap kalimat yang akan keluar dari bibirnya.


“Apa itu akan membuatmu bahagia?”


“Aku tidak yakin. Tapi aku akan berusaha.”


“Kau mencintainya?” Nara kembali bertanya. Meski sebenarnya dia sudah tahu dari tatapan keponakannya saat memandang suaminya. Dia mencintainya, bahkan tanpa harus berucap.


“Iya. Sangat. Dia sudah menyembuhkan luka hatiku. Membayangkan hidup tanpanya, aku tidak bisa. Tapi aku juga tidak mau egois.” Tanpa So Hyun sadari air matanya sudah meleleh. Meluncur begitu saja melewati pipinya.


“Lakukan apapun yang menjadi keinginanmu. Imo akan membantu apapun yang menjadi pintamu.” Ingin sekali dia memeluk keponakannya tersebut. Menenangkannya, menghibur, bahkan mengusap air matanya. Dia sudah menganggap So Hyun seperti putrinya.


“Jika itu terjadi. Bawalah aku pergi dari sini!”


“Kau ingin pergi kemana?”


“Kemanapun. Asal bersama Imo.” So Hyun meloncat turun. Dia memeluk wanita yang sudah membiayai hidupnya selama ini. “Kau tahu Imo, kenapa aku tidak pernah membantah permintaanmu?”


Nara hanya terdiam. Dia bisa merasakan kemejanya yang mulai basah. Keponakannya masih menangis. Usapan lembut di rambut keponakannya, hanya itulah yang bisa dilakukannya.


“Kerena aku menyayangimu. Imolah yang memegang tanganku saat aku benar-benar sendiri. Imo juga yang sudah membuatku tumbuh menjadi seorang gadis.” So Hyun masih terisak meski pelan.


Nara masih bungkam. Air matanya mulai menggenang. Sebisa mungkin, dia mencoba menahan agar tidak mengalir.


“Eomma, bolehkah aku memanggil Imo seperti itu. Aku akan menjadi putrimu mulai sekarang.”


Nara sudah benar-benar tak bisa menahannya. Air matanya perlahan mengalir. Seumur hidupnya, dia ingin meski sekali seseorang memanggilnya seperti itu. “Eoh, apapun yang kau mau, Sayang.”


“Terimakasih, Eomma.”


Flashback end


*


*


*


“Maafkan Imo, Sayang. Hanya ini yang bisa Imo lakukan untukmu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia.” Usapan lembut pada foto keponakannya kembali Nara lakukan. Tak terasa setitik kristal bening membasahi kaca bingkai tersebut.


“Aku harap kau memenuhi janjimu untuk menjaga So Hyun. Semoga kalian bahagia.”


-o0o-


Jimin masih betah memandang lekat wajah istrinya. Meski matahari sudah tinggi wanita itu belum membuka mata. Bahkan sebenarnya sebentar lagi akan memasuki jam makan siang. Tangannya terulur merapikan anak rambutnya. Kecupan ringan di dahi juga ia berikan.


Dia masih ingat mengapa dia sampai berakhir di tempat tersebut. Hari di mana setelah istrinya memintanya membawa pergi dia bertemu dengan bibinya. Lebih tepatnya, bibi istrina.


*


*


Flashback


“Dia sudah tidur?” tanya bibi mertuanya dengan nada lirih, namun masih bisa ditangkap baik oleh telinganya.


“Iya,” jawab Jimin. Dia berjalan mendekati bibi mertuanya yang sudah duduk di sofa. Lalu dia juga ikut duduk.


“Maaf, sudah membuatmu terjebak di situasi tak menguntungkan ini.”


“Maksud, Imo?” tanya Jimin. Di benar-benar tak paham dengan wanita yang duduk di sebelahnya.


“Aku mendengar tadi.”


Jimin menundukkan kepalanya. Dia tak tahu harus berbuat apa. Tadi sebenarnya dia hanya refleks menjawab permintaan istrinya. Dia bahkan belum punya pandangan akan pergi ke mana dia nantinya.


“Kau mencintainya?”


Jimin mengangkat wajahnya. Dia tak pernah menduga akan mendapat pertanyaan itu dari bibi mertuanya. “Iya. Tentu saja,” jawabnya mantap.


“Kau benar-benar akan membawanya pergi?” Lagi, bibi mertuanya memberikan pertanyaan yang di luar nalarnya.


Jimin masih diam. Tampak ragu saat akan berucap. “Iya.” Meski dengan tidak percaya diri, Jimin berusaha menjawab.


“Kemana kau akan membawanya?”


“Tentang itu, aku belum memikirkannya.”


Wanita itu terlihat menghela nafas. Raut wajahnya begitu tegas. Wibawanya membuat Jimin selalu ciut jika berada di dekatnya. “Kau mau berjanji untuk membahagiakannya.”


“Iya, aku akan berusaha.”


“Terimakasih. Kau boleh membawanya pergi.” Wanita itu merogoh tasnya. Mengambil amplop dari sana. Memberikannya pada Jimin.


“Apa ini?” tanya Jimin sambil menerimanya.


“Bawa dia pergi ke sana. Itu adalah salah satu tempat yang disukainya.” Helaan nafas kembali wanita itu lakukan. “Dia mencintaimu. Aku sangat tahu. Kau mungkin juga sudah tahu. Kau tahu kenapa aku memilih menikahkannya denganmu?”


“Karena permintaan Kim ahjussi,” ujar Jimin asal. Ya, karena memang hanya itu alasan yang diketahuinya.


“Sebenarnya bukan dia yang akan dijodohkan dengan keluargamu. Melainkan Hyunmin.” Ada jeda sebelum wanita itu melanjutkan kalimatnya.


Jimin bahkan kaget. Fakta itu mampu mengguncang hatinya.


“Itu hanya alasanku untuk membuatnya mau. Setelah mereka berpisah, aku yakin So Hyun pasti tidak akan pernah memikirkan untuk mencari pengganti. Itu hanya usahaku untuk membuatnya mau membuka hati kembali. Aku hanya terfikir keluargamu kala itu. Karena itu aku kembali membahas perjodohan yang sebenarnya tidak akan terlaksana. Dan baiknya keluargamu tidak menolak.”


Ada sedikit perih saat Jimin mendengar faktanya. Ternyata dia hanya dimanfaatkan untuk kepentingan bibi mertuanya. “Bolehkah aku bertanya satu hal? Kenapa anda menentang hubungan mereka?” Dia mendengar banyak versi tentang ini. Dia ingin sekali mendengar penjelasan orang yang bersangkutan sendiri.


Wanita itu menghembuskan nafas dalamnya. Rasanya enggan, namun dia tetap harus menjelaskannya. “Awalnya aku juga setuju. Pemuda itu begitu baik. Bahkan tanpa celah. Saat mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar dokter dan pasien. Aku biasa saja. Aku ikut bahagia saat mereka memutuskan untuk menikah.”


“Saat dia memperkenalkan kedua orangtuanya, saat itulah aku menolaknya dengan tegas. Ayah dari pemuda itu adalah pria yang aku cintai. Dulu, aku pernah hampir membunuh istrinya setelah dia memutuskan untuk menikah. Jika bukan karena ayahku yang menyembunyikannya dengan baik, mungkin aku masih mengejarnya.”


“Bagaimana mungkin aku bisa berbesan dengannya, jika aku masih memiliki perasaan untuknya. Karena itu aku memintanya untuk mengakhiri hubungannya. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan membuat dosa besar untuk mereka**.”


Flashback end


*


*


*


Saat masih bergelut dengan pemikirannya, mata So Hyun terbuka. Jimin memberikan senyum terbaiknya. “Kau sudah bangun?” tanyanya dengan lembut.


“Kita ada di mana?” tanya So Hyun dengan suara lemahnya. Dia bisa mendengar suara ombak menabrak batu karang.


“Tempat yang kau sukai. Dekat pantai. Bukahkah kau menyukai pantai?” ujar Jimin masih dengan senyum manis khasnya.


So Hyun tidak berkata apapun. Dia merapatkan tubuhnya. Memeluk hangat tubuh suaminya. “Terimakasih,” tuturnya kemudian.


💜


💜


💜


To Be Continue...


💜


💜


💜


Saya kembali lagi.


Bagaimana menurut kalian?


***Jangan lupa tinggalkan VOTE, LIKE COMMENT!!


Terima kasih sudah jadi pembaca setia.


See you***.