The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 31



Ayo VOTE cerita ini dong. Biar cerita ini peringkatnya naik 😄


***


**Chapter 31




Kamulah yang menguatkanku di masa-masa sulit


Kamu juga yang memberiku kegembiraan di hari-hari yang buruk**




“Kau benar-benar akan pergi?” Entah sudah berapa kali Jimin bertanya.


So Hyun yang sudah siap akan berangkat ke kantornya kembali mengangguk. Dia sedang menunggu sekretarisnya menjemputnya.


Ya, setelah suaminya tahu jika dia pernah keguguran dan sebenarnya dia tidak boleh hamil dulu sebelum sesi terapinya selesai, pria itu lebih protektif padanya. Dia tak boleh menyetir sendiri. Harus pria itu yang mengantar atau sekretarisnya yang menjemput. Bahkan sebelumnya pria itu marah karena keputusan sepihak yang diambilnya.


Pasrah adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya, meski dia pikir itu berlebihan. Dia bisa menjaga dirinya sendiri sebenarnya.


“Tidak bisakah kau hanya tinggal di rumah.” Lagi, nada merengek kembali Jimin lakukan. Perasaan cemas selalu datang tiap kali istrinya akan pergi dari apartemennya. Dia tak ingin istrinya kenapa-kenapa. Ini dimulai sejak wanita itu jujur padanya beberapa hari yang lalu.


“Aku baik-baik saja, Oppa. Aku bisa menjaga diri.” Senyum manis So Hyun tunjukkan. Ini menjadi hal yang dibencinya sekarang. Setiap kali akan berangkat ke kantor, dia harus merengek untuk mendapat izin. Ya, seperti sekarang.


“Janji harus hati-hati,” ujar Jimin lagi.


So Hyun mengangguk, masih dengan senyum mengembang.


“Tidak boleh lelah apalagi stres.”


So Hyun kembali mengangguk.


Jimin membuang pasrah nafasnya. Mendekat ke arah istrinya.


Mendekapnya penuh kasih. Dagunya ia sandarkan di kepala istrinya. “Aku hanyat takut kau kenapa-kenapa, Sayang,” ujarnya kemudian. Usapan lembut ia berikan pada surai panjang istrinya.


“Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”


Jimin melepas pelukannya. Menatap dalam manik hitam istrinya. Mendaratkan kecupan ringan di dahinya. “Ya sudah, hati-hati. Kirim pesan saat sudah sampai nanti,” tuturnya setelah menjauhkan wajahnya.


So Hyun bangkit dari duduknya. Menghampiri sekretarisnya yang sudah berdiri menyaksikannya. Entah sudan berapa lama gadis itu memperhatikan kegiatannya. Yang pasti sekarang, gadis itu sudah menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya di depan dada.


“Aku berangkat dulu, Oppa,” pamit So Hyun sambil melambaikan tangan.


Pria itu bahkan mengatarnya sampai di mobil Aera. Setelah mobil yang membawa istrinya menghilang, dia baru pergi. Berangkat menuju tempat kerjanya.


Sementara itu So Hyun masih sibuk memandang jalanan yang dilewatinya. Setelah membuang nafasnya, di menoleh ke arah Aera. Gadis dengan balutan busana formal kantor itu tengah terfokus pada jalan.


“Maaf ya, Eonni. Sudah membuatmu berangkat pagi-pagi hanya untuk menjemputku. Aku menambah lagi pekerjaanmu,” ucap So Hyun terdengar menyesal. Dia memasang wajah bersalahnya.


“Tak perlu merasa bersalah seperti itu. Ini sudah menjadi salah satu tugasku. Kalau boleh jujur, sebenarnya pekerjaanku menjadi lebih ringan semenjak kau yang jadi bosnya.” Gadis itu memberikan senyum terbaiknya.


“Tetap saja, aku merepotkanmu.” Masih dengan wajah lesunya, So Hyun berkata. “Apa jadwalku hari ini?” tanyanya untuk mengalihkan rasa bersalahnya.


Aera yang sibuk menyetir menunjuk pada tablet yang ada dalam tasnya. So Hyun yang mengerti segera mengambilnya. Memeriksa catatan jadwal untuknya. “YTN?” So Hyun mengangkat alis menyebut nama tersebut.


“Emmh. Anda ada meeting dengan CEO YTN,” sela Aera disertai anggukan.


“Aku tidak ingat kita pernah bekerjasama dengan mereka.” So Hyun yang masih tak paham berujar.


“Dulu mereka pernah bekerjasama dengan kita. Karena ada sedikit masalah, Hwejangnim membatalkan kontraknya,” jelas Aera masih dengan pandangan yang fokus pada jalan. “Mereka mengirim proposal baru untuk pengajuan kerjasama lagi.”


“Aku bisa melihat proposalnya?”


“Anda belum membacanya? Aku sudah menaruhnya di meja anda lusa kemarin.”


“Kenapa aku tidak tahu?”


“Aa, anda menaruhnya di meja dekat sofa kalau tidak salah. Saat aku datang membawa berita penting waktu itu. Di map biru,” jela Aera kembali. Dia sudah membelokkan mobilnya di area kantornya. “Anda bisa mempelajarinya lebih dulu. Masih ada waktu sebelum jam meetingnya,” lanjutnya setelah mematikan mesin mobilnya.


-o0o-


“Senang bekerja sama dengan anda Kim dapyeo,” ucap pria berjas mahal tersebut. Tangannya ia ulurkan bermaksud ingin berjabat tangan dengan So Hyun.


So Hyun tersenyum dan membalas uluran tangan pria itu. “Iya. Aku harap ini akan menjadi kerja sama yang menguntungkan. Senang bekerja sama dengan anda Kang daepyonim.”


Setelah beramah-tamah, So Hyun pergi dari ruang meeting. Ditemani oleh sekretaris cantiknya. Dengan langkah anggunnya dia berjalan santai, sambil memeriksa beberapa pesan yang mampir di ponsel pintarnya.


Dia melihat gadis cantik dengan busana formalnya tengah berjalan ke arahnya. Dia tersenyum mengenalinya. Setelah memasukan ponselnya ke dalam tas, So Hyun menyapanya. “Yura Eonni,” ucapnya dengan senyum mengembang.


Sang Gadis menoleh. Menatap penuh tanya wanita yang memanggilnya. Cukup lama gadis itu memandang, masih mencoba mengingat. Dia tersenyum aneh kemudian. Mengejek dirinya sendiri yang tak mengenali adik iparnya. Tentu saja, mereka baru beberapa kali bertemu. Ditambah, So Hyun sudah terlihat berbeda dari terakhir yang diingatnya.


“Kim So Hyun,” ucap gadis itu sedikit ragu. Masih dengan senyum anehnya.


So Hyun mendekat. “Iya. Ini aku. Jangan bilang Eonni tak mengenaliku?”


“Bagaimana kabarmu? Maaf, aku tidak bisa sering berkunjung ke rumah ommonim.” Ada raut bersalah di wajah So Hyun.


Ya, dia hanya dua kali mengunjungi rumah mertuanya. Pertama dengan suaminya. Yang kedua adalah saat dia tak sengaja datang ke kompleks perumahan mertuanya. Ada janji dengan kliennya. Lalu dia memutuskan untuk mampir, meski pada akhirnya dia disuruh menginap.


Setelah cipika cipiki dengan adik iparnya, gadis itu menjawab, “Aku baik. Aku juga sudah tahu. Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu,” dengan nada menggodanya.


“Emmh,” sanggah So Hyun dengan anggukan. Pekerjaannya memang tak membiarkannya istirahat jika dia tak pandai mencuri waktu.


“Kau sudah makan siang?”


“Belum. Aku baru selesai meeting tadi.” Masih dengan senyum, So Hyun berkata.


“Mau makan siang denganku?” tawar gadis itu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah gadis yang sibuk dengan ponselnya di belakang So Hyun.


“Makan siang?” So Hyun tampak berfikir. Dia menoleh ke arah Aera. “Sekretaris Min, apa aku punya jadwal setelah ini?”


Aera mengangkat wajahnya. Tersenyum sebelum menjawab. “Tidak. Jung daepyonim dari JH Entertainment baru saja membatalkan janjinya,” jawab Aera sambil menunjukkan ponselnya.


“Membatalkan janji?” tutur So Hyun mengulang kalimat Aera.


“Istrinya mau melahirkan,” jelas Aera diselingi senyum khasnya.


“Aa,” So Hyun mengangguk paham.


“Bagaimana tawaranku? Aku tahu restoran enak dekat sini,” kini gadis yang berstatus sebagai kakak ipar So Hyun membuka suara setelah sebelumnya sibuk menatap interaksi antara bos dan karyawan tersebut.


“Baiklah!” jawan So Hyun disertai anggukan. “Sekretaris Min, kau mau ikut?”


“Tidak usah, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lagipula aku tak ingin mengganggu kalian.” Aera menunjukkan senyum tulusnya. “Tolong antarkan Kim daepyonim dengan selamat setelah selesai nanti.” Kali ini dia berbicara pada kakak ipar So Hyun. Dia juga menunduk hormat sebagai dukungan ucapannya.


“Iya. Jangan khawatir.”


“Kalau begitu aku pamit dulu. Aku akan kembali ke kantor.” Aera kembali menunduk untuk pamit.


“Hati-hati,” tutur So Hyun.


Setelahnya Aera benar-benar pergi meninggalkan dua kakak beradik tersebut. Mereka masih menatap ke arah Aera yang sudah menghilang di balik pintu.


“Dia cantik ya?” ucap gadis yang masih berdiri di samping So Hyun. “Benar-benar sesuai tipenya.”


“Tentu saja. Mereka bahkan pernah berkencan,” ujar So Hyun masih dengan fokus pandang yang sama.


“Kau tahu siapa yang kumaksud?” Kini pandangan gadis itu beralih pada So Hyun.


So Hyun mengangguk. “Jimin oppa.” Dia juga sudah mengalihkan padangan menatap kakak iparnya yang terlihat heran.


Gadis itu mengangkat alis. Menatap tak percaya wanita di depannya. “Kau baik-baik saja?”


“Tentu saja. Itu memang resiko yang harus aku tanggung kan. Dia memang selalu dikelilingi gadis-gadis cantik,” ucap So Hyun setengah bercanda.


“Kau ini. Ayo!” ajak gadis itu kemudian. Mereka berjalan beriringan menuju basement. Mereka masih berbicang bahkan setelah sampai.


“Bolehkan aku bertanya sesuatu?” tanya kakak ipar So Hyun setelah menekan tombol di kunci mobilnya.


So Hyun hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Kau menyukai Jimin?”


“Hah” So Hyun terdiam. Dia nampak terkejut dengan pertanyaan kakak iparnya.


“Aku hanya penasaran, kalian menikah kan karena perjodohan.” Suara lembut kakak iparnya kembali terdengar.


“Awalnya tidak.”


“Lalu sekarang?”


“Tidak ada yang bisa menolak pesonanya.” So Hyun berkata sambil tersenyum. Dia kemudian membuka pintu mobil kakak iparnya.


“Sudah kuduga. Jadi itu sebabnya aku akan punya keponakan sekarang,” ujar gadis itu setelah duduk di kursi kemudi. “Berapa usianya?” lanjutnya kemudian.


“Delapan minggu.” Masih dengan senyum So Hyun berkata.


“Baiklah! Kita pergi sekarang. Mencari makanan yang enak untuk keponakanku.” Tepat setelah mengatakan itu, kakak ipar So Hyun menyalakan mesin mobilnya. So Hyun yang mendengar hanya tertawa. Dia hanya bisa pasrah kemana pun kakak iparnya membawanya.


💜


💜


To Be Continue..


💜


💜


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE COMMENT!!


Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca💜