The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 1



Chapter 1


(Bad Day)


-


-


-


Suara alaram itu terdengar saat jam menunjuk angka enam. Seperti biasa gadis itu mematikannnya sebelum berbunyi untuk kedua kalinya. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya setelah terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan dia turun dari tempat tidurnya. Menyibak gorden kamarnya yang tepat berada di sebelah kiri tempat tidurnya. Sinar matahari seketika masuk membuat ruang yang diJinminasi warna putih itu menjadi terang.


Gadis itu masih berdiri di tempatnya. Dia memejamkan matanya, membiarkan sinar matahari menerpa wajahnya. Selama sekitar sepuluh menit dia membuka matanya kembali. Pemandangan kota Seoul adalah hal pertama yang dilihatnya. Dia tersenyum, memandang jalan dari kamarnya yang masih tampak lengang. Begitulah rutinitas pagi gadis itu. Entah mengapa dia tak merasa bosan dengannya.


Dia berjalan pelan menuju ranjangnya, untuk menata serta membersihkannya. Kemudian berjalan menuju kamar mandinya. Setelah sekitar limabelas menit, gadis itu keluar dengan wajah yang sudah tampak segar dari sebelumnya. Dengan mengenakan bathrobe ia mengambil ponselnya yang bergetar. Dia duduk di tepi ranjang untuk mengangkat pangilan ponselnya.


"Ya, eonni. Ada apa?", jawabnya setelah menggeser layar ponselnya.


Gadis itu terlihat mengangkat alisnya mendengar pembicaraan orang yang menelfonnya. "Benarkah! Seingatku aku tak punya janji dengannya", jawabnya lagi.


"Kau tidak lupakan jika ini hari jumat", ucapnya kembali.


Dia mengusap tengkuknya mendengarkan lawan bicaranya. Dia juga mendesah pelan. Sepertinya dia tak sependapat dengan lawan bicaranya. "Tidak bisakah kau mengaturnya untukku".


"Aku tak bisa depyonim. Tuan Lee yang memintanya sendiri. Katanya harus hari ini. Besok dia ada kepentingan. Dan lagi waktunya juga sudah mepet, katanya".


"Itu bukan urusanku. Salahnya sendiri, memesannya dadakan. Bilang padanya, aku tak akan datang", nada bicara gadis itu terdengar marah.


"Anda yakin depyonim? Ini merupakan kesempatan langka. Anda akan sangat menyesal jika tak menerima tawaran ini".


"Aku tak peduli".


"Depyo~nim. Ayolah! Ini bisa jadi kesempatan untuk membuktikan jika anda memang layak mendapatkan posisi anda. Bukahkan anda selalu ingin dapat pengakuan dari imo anda".


Gadis itu memijat pelan keningnya. Menimbang setiap perkataan sekretarisnya. Dia kemudian menggelengkan kepalanya. 'Siapa yang peduli dengan omongan imo? Aku juga tak pernah meminta posisi itu', ucapnya dalam hati. "Sekali tidak ya tidak. Aku tak pernah meminta posisi ini. Jadi biarkan imo mengoceh sesukanya. Dan sejak kapan aku menginginkan pengakuan imo? Kau jangan asal bicara sekretaris Min", protes gadis itu.


"Aku tak asal bicara depyonim, anda sendiri yang mengatakannya waktu itu".


"Terserah! Aku tak akan datang", jawab gadis itu kembali.


"Aku akan menyuruh tuan Lee menghubungi anda sendiri".


Belum sempat gadis itu menolak sekretarisnya sudah menyudahi panggilannya. "Selalu seenaknya", gadis itu kemudian membuang asal ponselnya ke ranjang. Dia berjalan cepat menuju walk in closenya. Mengambil pakaian untuk dikenakannya. Pilihannya jatuh pada minidress selutut motif bunga berlengan pendek.


Dia berniat mengenakannya di kamar mandi, hanya saja deringan ponsel membuatnya menghentikan niatnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Melihat sebentar layar ponselnya. "Ck", dia berdecak pelan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan malas dia mengangkat panggilan tersebut. "Yeobseyo".


"Apa kau sibuk?".


"Seharusnya kau sudah tahu. Untuk apa bertanya? Buang-buang energi saja", jawab gadis itu sedikit sinis.


"Ya Tuhan, gadis ini", terdengar nada keluhan dari seberang sana. "Aku hanya bertanya, apa salahnya sih. Siapa tahu saja kau sedang ada kegiatan", lanjutnya.


"Tidak. Aku sedang tidak sibuk. Kenapa memangnya?", tanya gadis itu kembali.


"Aku tahu kau tidak suka bekerja di hari jumat. Tapi untuk kali ini saja, aku minta bantuanmu. Aku membutuhkan pesanan itu segera. Aku tidak bisa menemuimu besok. Kau maukan!".


"Aku tidak yakin!".


"So Hyun-ya. Aku mohon".


"Jika ini untuk satu orang, aku akan langsung menyetujuinya. Tapi ini untuk tujuh orang, mustahil melakukannya dalam waktu seminggu. Jika kau memang mengharapkan aku mau melakukannya, kau bisa undur jadwal rilis album baru artiBigHitu itu", jelas gadis itu panjang lebar.


"Aku tak bisa mengundurnya. Aku tak ingin membuat fansnya kecewa".


"Ya sudah. Jangan meminta bantuanku".


"So Hyun-ya".


"Kau bisa berjanji satu hal padaku",.


"Apa?".


Gadis itu tersenyum sebelum mengatakannya. "Minta Nara imo membatalkan perjodohanku".


"Hahaha", terdengar suara tawa dari seberang sana.


"Kenapa malah tertawa! Aku serius", ucap gadis itu sedikit berteriak. Dia sedikit kesal dengan lawan bicaranya.


"Ekhm. Ekhm", lawan bicaranya mencoba meredam tawanya. "Aku tak bisa So Hyun-ya. Itu permintaan terakhir ayahmu. Kau memang harus menerima perjodohan itu. Lagipula dia pria yang baik. Kau tak akan menyesal jika menikah dengannya".


"Jadi kau mengenalnya? Kau mengenal pria itu!".


"Tentu saja".


"Siapa dia?".


"Kau penasaran kan? Tapi aku tak akan memberitahumu".


"Oppa, siapa dia? Siapa pria itu?", nada bicaranya bahkan terdengar manis. Seperti gadis yang tengah merengek pada kekasihnya.


"Kau hanya memanggilku oppa jika ada maunya. Jika kau mau menerima pesananku, aku akan memberitahumu nanti".


Gadis itu membuang pasrah nafasnya. Pada akhirnya, tetap ada imbalan yang yang harus dilakukannya. "Kau tak perlu memberitahuku. Siapa juga yang penasaran dengan pria itu? Aku tutup dulu". Gadis itu bermaksud mengakhiri panggilan tersebut, namun suara pria yang menelfonnya menghentikan niatnya.


"So Hyun, tunggu!".


"Apa lagi?", ucap gadis itu kembali.


"Kau akan menerima pesananku kan?", terdengar nada memelas dari seberang sana. "Sebenarnya aku tak tahu pasti siapa pria yang akan dijodohkan dengan mu. Tapi kata abeoji, dia memang pria yang baik. Dia datang dari keluarga baik-baik. Dan lagi, ayahnya adalah teman dekat ayahmu. Coba kau ingat-ingat siapa saja teman dekat ayahmu, mungkin kau akan tahu dari situ".


"Dimana kau sekarang?".


"Aku masih di rumah. Kenapa?".


"Aku akan ke rumahmu sekarang. Kau bilang aku harus menerima pesananmu kan".


"Tidak jangan. Temui aku di gedung BigHit saat makan siang nanti. Sekalian bawa makan siang ya, aku rindu masakanmu".


"Aku bukan kekasihmu".


"Kau yang menolak menjadi kekasihku".


"Aish, jinja. Apa kau gila! Tidak ada sepupu yang berkencan".


"Iya, aku tahu. Sampai jumpa nanti. Terima kasih sudah menerima pesananku. Aku menyayangimu".


Gadis itu memutar malas bola matanya, mendengar pengakuan sayang dari si penelfon. Dia kembali melempar ponselnya ke ranjang. Ada banyak hal tak terduga yang dilewatinya hari ini. Rencananya dia akan berdiam diri di rumah sepanjang hari, menggambar, menonton TV, bersih-bersih rumahnya atau bergumul dengan selimutnya. Sepertinya dia harus menunda rencananya. Dia kembali dengan kegiatan awalnya, berganti pakaian.


-o0o-


Seorang gadis turun dari taksi tepat dia halaman gedung BigHit. Dia membungkuk hormat kepada sang supir sebelum mobil itu melaju kembali. Dengan langkah hati-hatinya dia berjalan memasuki gedung. Dia melirik jam tangannya sekilas. Belum waktunya makan siang, jadi dia datang lebih awal. Lebih baik daripada terlambat.


Dia hampir sampai di depan meja resepsionis. Perlukah dia bertanya? Sepertinya tidak usah, dia sudah terbiasa datang ke tempat itu. Dia berjalan melewatinya begitu saja. Namun baru dua langkah, suara resepsionis menghentikannya.


"Kim So Hyun-ssi".


Gadis itu menoleh dan berjalan menuju meja resepsionis. "Iya. Ada perlu apa?", tanya gadis itu kemudian.


"Apa anda bermaksud menemui tuan muda Lee?", tanya resepsionis itu.


"Emmh. Aku ada janji dengannya", jawab gadis itu kembali.


"Tuan muda Lee sudah pergi sejam yang lalu", ucap resepsionis itu sambil melirik jam tangannya. "Beliau menitipkan ini", resepsionis itu mengambil map dari mejanya.


Dengan sedikit heran, gadis itu menerima mapnya. Dia membuka sebentar map yang diterimanya. Melihat-lihat isinya. "Terima kasih", ucapnya pada resepsionis tersebut. Dia kembali menutup mapnya.


"Iya, sama-sama".


Gadis itu kemudian berjalan menuju loby. Dia merogoh tasnya. Mengambil ponsel untuk menghubungi orang yang akan ditemuinya. Cukup lama dia menunggu, namun suara operatorlah yang menjawabnya. Dia menghubungi nomor itu kembali, dan yang menjawab juga suara operator lagi. Berkali-kali dia menghubungi nomor yang sama, namun suara operatorlah yang menjawabnya. "Kemana sebenarnya perginya pria itu?", ucapnya entah pada siapa.


Dia kembali menghubungi nomor tersebut. Sebari menunggu, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempatnya berdiri. Dia melihat tiga orang pria tengah berjalan ke arahnya. Dia tak mengenalinya, karena mereka semua memakai kacamata hitam dan juga masker.


Hanya satu yang dia tahu. Pria yang paling tinggi diantara ketiganya. Pria yang mengenakan kaos hitam lengan panjang dan celana jeans warna biru yang sobek dibagian lututnya. Jangan lupakan kacamata serta topinya.


Ketiga pria itu berjalan begitu saja melewatinya. Dia mengangkat alisnya, 'Apa pria itu tak mengenalinya?', pikirnya. Sebelum pria itu berjalan semakin menjauhinya, gadis itu memasukan ponselnya ke dalam tas. Lalu berteriak lantang memanggil pria tersebut. "Yak, Jeon Jungkook".


Ketiga pria itu menoleh. Mereka melihat gadis yang tadi dilewatinya berjalan ke arah mereka. Gadis itu mengenakan minidress motif bunga dengan switer rajut putih sebagai baju luarnya. Di lengan kirinya membawa tas slempang dan juga map. Tangan kanannya memegang kotak makanan.


"Kau memanggilku?", tanya pria yang paling tinggi setelah gadis itu berhenti di depannya.


"Memang siapa lagi disini yang bernama Jeon Jungkook?", jawab gadis itu enteng.


Pria itu mengangguk. "Ada perlu apa?", tanya pria itu lagi.


"Kau lupa denganku atau kau berpura-pura tak mengenaliku", jawab gadis itu kembali.


Pria itu mengangkat alisnya. Dia menatap dari atas sampai bawah gadis yang ada di hadapannya. Dia tak pernah mengenal gadis ini. Dan dia rasa, ini kali pertama dia berjumpa dengan gadis itu. Dia ingin membuka mulutnya, namun ucapan gadis itu sudah menyelanya.


"Aaa, aku tahu. Kau berpura-pura tak mengenaliku setelah terkenal. Iya kan?", ucap gadis itu kembali.


"Kau mengenalnya Jungkook?", tanya pria yang ada di samping kiri pria tinggi itu.


Pria yang paling tinggi itu menggeleng. "Ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis ini, hyung", ucapnya kemudian.


"Kau siapa?", tanya pria paling tinggi lagi.


Gadis itu tersenyum miring. Dia menertawakan dirinya sendiri yang dengan boJinhnya memanggil pria yang ia yakini telah mengenalnya.


"Ya, sudah kalau kau memang lupa padaku", ucap gadis itu dengan nada tak sukanya. "Siapa yang dulu berjanji akan menikahiku. Ck", ucapnya lirih, namun masih di dengar oleh ketiga pria di depannya.


Gadis itu kemudian berbalik, berjalan begitu saja meninggalkan mereka. Baru dua langkah, dia berhenti mendengar suara dering ponselnya. Dia merogoh tasnya, menatap layarnya sebentar sebelum menggeser tombol warna hijau. "Yeobseyo".


"Kau dimana?".


"Aku sudah di gedung BigHit. Kenapa kau tak bilang jika tak ada disini? Aku sudah jauh-jauh datang, tapi apa yang justru ku dapat", ucap gadis itu sedikit kesal.


"Maafkan aku So Hyun. Tadi ponselku mati. Tiba-tiba saja ada hal mendesak yang harus ku hadiri. Kau sudah menerima mapnya kan?".


"Emmh", ucap gadis itu singkat.


"Semuanya sudah ada disitu. Maaf tak bisa menemuimu secara langsung. Jangan marah ya", nada bicaranya terdengar memelas.


Gadis itu mengepal tangannya kuat. Dia memejamkan matanya sebentar menarik nafas dalam untuk mengurangi emosinya. "Kau sudah membuatku marah sejak tadi pagi. Ck. Seharusnya aku tak menerima pesananmu. Kau merusak hariku".


"Aku tak bermaksud seperti itu, sungguh. Jangan sampai berubah pikiran ya, please. Aku sangat memerlukan pesanan itu. Kau boleh minta apapun sebagai gantinya".


"Aku hanya meminta satu hal, dan kau tak mau melakukannya. Jadi jangan janjikan apapaun jika kau tak bisa menepatinya", ucap gadis itu.


"Jika yang kau maksud adalah membatalkan perjodohanmu, aku memang tak bisa. Kau boleh meminta apapun, asal jangan itu".


"Terserahlah!", gadis itu mengakhiri panggilannya. Dia tak ingin mendengar lebih banyak ocehan pria itu.


Owh, kenapa dia begitu sial hari ini. Dia memandang nanar kotak makanan yang dipegangnya. 'Sayangkan kalau tidak dimakan. Aku sudah memasaknya sepenuh hati', ucapnya dalam hati.


Gadis itu menoleh. Dia kembali melihat tatapan aneh dari pria tinggi yang disapanya tadi. 'Jadi ketiga pria itu masih menatapnya', pikirnya. Dia berjalan mendekati pria tinggi itu. "Kau sudah makan siang?", tanyanya kemudian.


"Ambil ini. Sayang jika tidak dimakan", gadis itu menyodorkan kotak makanan pada pria tinggi itu.


Pria tinggi itu masih terdiam. Dia masih bimbang antara menerimanya tau tidak. Pasalnya gadis yang menyodorkan kotak makanan tersebut tak dikenalnya. Dan lagi gadis itu juga terlihat aneh karena mengaku jika dia mengenalnya.


"Aku tak meracuninya. Kau jangan khawatir", ucap gadis itu kembali seolah tahu keraguan yang sedang melanda pria itu. Dia menarik salah satu lengan pria tinggi itu, lalu memindahkan kotak makanan tersebut ke tangannya. "Jangan menyapaku, meskipun kau mengingatku. Ingat, aku sedang marah padamu", lanjut gadis itu kembali.


Dia berbalik kembali. Berjalan tergesa meninggalkan pria tinggi itu. Di langkah ketiganya dia berhenti. Berbalik, dan berjalan kembali ke arah pria tinggi tadi.


Dia menendang cukup keras kaki pria itu. "Itu karena kau sudah berani melupakanku", ucapnya. Dia berjalan tergesa meninggalkannya, sebelum pria itu membalasnya.


"Akh. Yak", ucap pria itu sedikit berteriak. Dia memegang kakinya yang terasa sakit. "Gadis gila", ucapnya kembali. Dia bisa melihat jika gadis itu sudah berjalan jauh meninggalkannya.


Pria yang ada di samping kirinya tertawa melihat tingkah konyol gadis yang mereka temui. Cukup manis sih, hanya saja dia terlihat aneh. Bagaimana tidak, tiba-tiba dia mengaku jika dia mengenal temannya. Dan kesal sendiri saat temannya tak mengenalinya.


"Kau baik-baik saja?", tanya pria yang ada di sampingnya.


"Iya", jawab pria tinggi itu singkat. "Gadis itu benar-benar gila", lanjutnya.


Gadis itu terus melangkah dengan cepat. Dia tersenyum senang disela-selanya. Dia melewati sekelompok pria yang juga berjalan berlawan arah dengannya.


Salah satu dari mereka menatap heran gadis itu. 'Sepertinya aku pernah melihat gadis itu', ucapnya dalam hati. Dia mencoba mengingatnya, namun tak berhasil. Dia melupakannya begitu saja dan melanjutkan perjalannya bersama rekannya.


"Manis", ucap pria yang ada di samping pria tinggi tadi.


"Manis dari mana? Jangan konyol hyung", jawab pria tinggi itu.


"Kau mengenal gadis itu, Jungkook?", tanya salah seorang pria yang baru datang. "Sepertinya kalian terlihat dekat", lanjutnya.


"Tidak, aku tak mengenalnya. Ini kali pertama aku melihat gadis gila itu", jawab pria yang dipanggil Jungkook tersebut.


"Lalu kenapa dia menendangmu?", tanya pria lain yang baru datang.


"Mana aku tahu. Tiba-tiba dia memanggil, mengatakan jika mengenalku dan marah saat aku tak mengenalinya", jelas Jungkook kembali.


"Mungkin salah satu penggemarmu!", kata pria lain yang baru datang.


"Mungkin saja", jawab Jungkook kembali.


"Apa itu?".


"Makanan mungkin", jawab Jungkook kembali. "Buka saja", lanjutnya sambil menyerahkan kotak makanan tersebut.


-o0o-


So Hyun berjalan cepat menuju ruangannya. Dia tak memperdulikan pandangan heran dari karyawannya. Pasalnya, ini pemandangan langka. CEO mereka datang bekerja di hari jumat. Dia masih memasang wajah kesalnya. Dia bertemu sekretarisnya di depan ruangnya.


"Depyeonim", sapa sekretarisnya.


Dia juga tak memperdulikannya. Dia terus berjalan, membuka pintu ruangannya dan menutupnya dengan keras. Dia melempar asal tasnya setelah memasuki ruangannya. Duduk di kursinya, dan membanting map yang dipegangnya. Menyandarkan punggunya di sandaran kursi. Dia memejamkan matanya sejenak. Melamunkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Banyak hal menyebalkan yang dialaminya hari ini. Mulai dari sepupunya yang seenaknya memesan pakaian padanya. Belum lagi permintaan membuatkannya makan siang. Dan setelah dia dengan rela melakukannya, justru kekecewaan yang didapatkannya. Dari tak bertemunya dia dengan sepupu menyebalkannya hingga membuat makan siang yang dibuatnya terbuang sia-sia. Ditambah bertemunya dia dengan pria bernama Jeon Jungkook yang ternyata sudah melupakannya. Double sial.


Pintu ruangannya diketuk. Dia tak memperdulikannya. Tak lama setelahnya, pintu ruangannya terbuka menampilkan wajah sekretarisnya.


"Depyonim", sapa sekretarisnya kembali.


So Hyun membuka matanya kembali. Dia menatap sekretarisnya yang berjalan ke arah mejanya. Tampang kesal masih tergambar jelas di wajahnya.


"Anda baik-baik saja?", tanya sekretarisnya.


Dia mengusap pelan wajahnya. Mencoba menghilangkan rasa kesalnya. Dia mengangguk sebagai jawaban.


"Anda sudah bertemu tuan Lee?", tanya sekretarisnya kembali. Dia duduk di kursi depan meja bosnya.


"Aku tak bertemu dengannya. Dia menitipkan ini", jawab So Hyun. Dia memberikan map yang tadi dibawanya.


Sekretarisnya menerima map yang diberikan bosnya. Membukanya, membaca apa saja yang tertulis dalam map tersebut. "Ini untuk album musim panas. Kenapa dia meminta penyelesaiannya minggu depan. Ini bahkan baru tanggal 7 April", jelas sekretarisnya. Dia kemudian menutup mapnya.


"Mereka harus segera syuting pembuatan MV-nya. Itulah mengapa dia minta cepat diselesaikan", jawab So Hyun.


Sekretarisnya mengangguk paham.


"Kau bisa memikirkannya mulai sekarang", ucap So Hyun lagi.


"Iya, iya. Aku akan menyerahkannya pada tim perencanaan dan pengembangan proyek".


"Tidak, jangan. Aku yang akan bertanggung jawab langsung untuk ini. Kau tahu apa yang akan terjadi kan jika pesanan ini tak selesai dalam tempo yang ditetapkan!".


Sekretarisnya tersenyum. Sepertinya bosnya mulai menyukai posisi yang didudukinya. Terlihat dari sikapnya yang mulai serius dengan pekerjaannya.


"Keluarlah! Aku ingin sendiri", perintah So Hyun.


"Kau sudah makan siang depyonim?", tanya sekretarisnya. Dia tak mengindahkan ucapan bosaya yang berusaha mengusirnya.


"Aku tak selera makan", jawabnya malas.


"Kenapa? Apa kau bertengkar dengan seseorang? Kau terlihat begitu kesal", ucap sekretarisnya kembali.


"Keluarlah! Aku ingin sendiri".


"Iya, iya", jawab sekretarisnya. Dia kemudian berdiri dan berjalan pelan meninggalkan meja bosnya. Baru tiga langkah dia kembali menoleh. "Anda tidak lupakan jika besok berangkat ke Paris", ucapnya kembali.


"Iya", ucap So Hyun, nada bicara naik beberapa oktaf.


Sekretarisnya kembali tersenyum. Dia meneruskan langkahnya kembali. Dia menoleh kembali dilangkah ke empatnya. "Anda tahu, para karyawan heran dengan kedatangan anda. Ini kali pertama anda datang ke perusahaan di hari jumat", ucapnya lagi.


"Aku tak peduli", ucap So Hyun kembali. Dia sedikit berteriak karena kesal. Matian-matian dia berniat menghilangkan perasaan kesalnya, tapi sekretarisnya justru menambahnya.


Gadis itu baru bernafas lega setelah mendengar pintu ruangannnya di tutup. Dia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia memutar kursi kerjanya beberapa kali untuk membuang rasa kesalnya. Belum reda rasa kesalnya, pintu ruangannya kembali terbuka.


"Apa lagi?", teriak gadis itu kembali. Dia kemudian memutar kursinya, untuk melihat orang yang membuka pintu ruangannya.


"Apa lagi?", ucap orang itu menirukannya. "Aku baru saja datang, kenapa kau berteriak padaku", protes orang itu.


So Hyun sempat membulatkan matanya. Dia terkejut melihat orang itu, dia berfikir jika orang yang membuka pintu ruangannya adalah sekretarisnya.


"Maaf imo. Ku pikir kau sekretaris Min", ucapnya dengan nada lembut. "Duduklah!", lanjutnya mempersilahkan bibinya duduk.


Bibinya duduk seperti yang disarankannya. "Aku menghubungimu beberapa kali, tapi ponselmu tak aktif. Kau sengaja menghindariku".


So Hyun teringat jika dia memang mematikan ponselnya setelah pergi dari gedung BigHit. Dia sedang kesal, jadis dia tidak ingin dihubungi siapapun.


Dia tersenyum kemudian. "Tidak, aku tak bermaksud menghindarimu imo. Aku hanya sedang kesal dengan seseorang, jadi aku mematikan ponselku", jawabnya. "Jadi, apa yang membawa imo jauh-jauh datang kemari?", lanjutnya.


"Nanti malam kita akan makan malam dengan keluarga Park. Jam tujuh tepat di rumah imo, jangan terlambat. Tidak ada penolakan. Kau sudah mengulurnya terlalu lama", jelas bibinya.


"Hari ini!", So Hyun kembali membulatkan matanya. Dia tak percaya jika hari ini dia harus bertemu dengan orang yang akan dijoJinhkan dengannya.


"Imo, kenapa mendadak sekali. Tidak bisakah hari lain. Aku sedang sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Besok aku harus berangkat ke Paris", protesnya.


"Sudah kubilang tidak ada penolakan", jelas bibinya telak. "Bedandanlah yang cantik. Jaga sikapmu saat bertemu dengan mereka", lanjut bibinya.


Dia kemudian berdiri dan meninggalkan keponakannya. "Ingat, jangan terlambat", ucap bibinya lagi tanpa menoleh ke arahnya.


"Imo~", teriak So Hyun kembali, namun tak diindahkan bibinya yang kini sudah menghilang di balik pintu. "Hah", desahnya. Dia mengacak pelan rambutnya. Hari ini benar-benar hari yang buruk untuknya.


-o0o-


"Jungkook, kau yakin tidak ikut makan. Ini enak lho", teriak Taehyung. Dia kini tengah menikmati makanan yang diberikan gadis aneh yang ditemuinya tadi di loby. Dia juga sedang berusaha membujuk Jungkook yang bersi keras tak mau memakan makanan gadis yang disebut gila olehnya.


"Iya, ini sangat enak. Kau akan menyesal jika tak ikut makan", kini giliran Hoseok yang bersuara. Ya, para personil BTS kecuali Jungkook, tengah menikmati makanan yang diberikan gadis aneh tadi.


Jungkook yang kini sibuk bermain game di sofa tak bergeming. Dia sejak awal menolak memakan makan itu. Dia masih kesal dengan kejadian tadi. Berani-beraninya, gadis gila itu menendang kakinya.


Dia membanting ponselnya setelah tertulis game over di layarnya. "Ah sial, aku kalah lagi", ucapnya. Perutnya tiba-tiba berbunyi. Dia sedang lapar.


Dengan malas, dia mendekat ke arah meja makan. Bau wangi khas makanan langsung tercium di hidungnya. Dan itu berhasil membuatnya semakin lapar.


"Duduklah! Kau lapar kan!", ucap Namjoon sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Dengan langkah beratnya dia berjalan ke kursi kosong tersebut. Dia mendudukan dirinya dengan malas. Meminum air putih yang sudah tersaji di depannya.


"Cobalah ini", ucap Jin. Dia menyodorkan sepotong daging ke mangkuk nasi Jungkook. "Ini yang paling enak diantara semua ini", lanjutnya.


Dengan malas Jungkook mengambil sumpitnya. Lalu menyuapkan potongan daging yang diberikan Jin tadi. Dia menguyahnya perlahan sebelum menelannya.


"Bagaimana, enak kan? Gadis itu benar-benar pandai memasak", ucap Jin kembali.


Harus diakui, memang benar yang dikatakan Jin. Potongan daging itu benar-benar enak. Teksturnya begitu lembut serta bumbunya yang merasuk, sangat pas dilidahnya. Jungkook mengambil potong daging itu kembali.


Entah sudah berapa banyak yang dia masukan ke mulutnya. Dia juga mengambil jenis makanan lain yang tersaji di meja. Dia terlihat begitu lahap memakannya. Hal itu membuat para personil BTS yang lain menggelengkan kepalanya.


"Mwoya! Kau bilang tak sudi memakannya. Tapi sekarang justru kau yang paling lahap menghabiskannya", protes Jimin. Dia sempat kesal karena potongan daging terakhir yang akan diambilnya direbut oleh Jungkook.


"Kau sudah makan banyak tadi hyung", jawab Jungkook enteng.


"Terserahlah!", ucap Jimin kembali. Dia meneguk air putih di gelasnya. "Aku sudah selesai", lanjutnya. Dia berdiri dan meninggalkan meja makan. Berjalan menuju sofa. Dia duduk dan menyandarkan kepalanya. Memejamkan matanya sebentar.


Deringan ponsel menyadarkannya. Dia merogoh kantung celananya. Melihat layarnya sebelum mengangkatnya.


"Iya, eomma. Ada apa?", ucapnya pada si penelfon.


"Bisakah kau pulang hari ini? Kita ada janji makan malam dengan teman ayahmu", suara wanita terdengar dari seberang sana.


"Hari ini!", Jimin sedikit berfikir. Tidak ada jadwal setelah ini, baiklah sepertinya dia memang harus pulang. Ini sudah lama sejak dia pulang kembali ke rumah.


"Iya eomma. Aku akan segera pulang", ucapnya mengakhiri pembicaraan.


"Kau mau pulang ke rumah?", tanya Yoong Gi yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.


"Iya, ada janji makan malam dengan teman appa", jawab Jimin.


"Hyung, aku ikut", teriak Jungkook tiba-tiba. Dia juga sudah berdiri di sampingnya.


"Tidak Jungkook. Akan sangat merepotkan jika kau ikut", jawab Jimin.


"Dasar pelit. Bilang saja jika kau tak ingin aku ganggu. Aku yakin makan malam itu bukan makan malam biasa. Pasti kau akan dikenalkan dengan anak gadis teman ayahmu itu", ucap Jungkook sinis. Dia ikut duduk di sebelah Baekhyun.


Jimin tertawa. "Jangan sok tahu. Itu hanya makan malam biasa", ucapnya. Dia menepuk pelan pundak Jungkook. "Aku akan mengajakmu lain kali, tapi tidak sekarang. Aku pergi dulu", ucapnya diselingi senyum khasnya.


"Belikan aku Kinder Joy saat kembali nanti", ucap Jungkook kembali.


"Iya, iya", jawab Jimin sebelum dia meninggalkan ruang tersebut.


πŸ’œ


πŸ’œ


πŸ’œ


To Be Continue.....