The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Episode 39



Maaf banget baru sempat update, aku lagi sakit soalnya. Jadi gak bisa buka HP beberapa hari πŸ™


***


**Chapter 39


(Come Back Home**)


-


-


Bahkan jika aku jatuh berkali-kali


Aku akan bangkit lagi dan pergi menemuimu


-


-


Setelah pulangnya Jungkook dan Aera, Jimin lebih terlihat pendiam. So Hyun bisa merasakannya. Suaminya terlihat berbeda dari sebelumnya. Dia lebih sering melamun dan tak fokus saat mengerjakan sesuatu. Seperti sekarang, entah sudah berapa lama pria itu hanya diam menatap layar laptopnya. Dia bahkan tak sadar jika So Hyun sudah duduk di sampingnya.


Malam itu mereka hanya berdua. Jungkook putra angkatnya sudah tidur. So Hyun menyentuh pelan punggung suaminya. "Oppa," sapa So Hyun mencoba menyadarkan lamunan suaminya.


Pria itu kaget. Terlihat jelas dari ekor matanya, meski pria itu sudah mencoba bersikap normal. "Kau belum tidur?" tanyanya setelah memberikan senyum terbaiknya.


So Hyun hanya menggeleng. Dia masih memberikan tatapan hangat. Tangannya terulur mengusap pelan pipi kanan suaminya. "Kau kenapa?"


"Aku baik-baik saja. Kenapa memangnya?"


"Bohong."


Jimin menatap sendu istrinya. Wanitanya selalu paham apa yang tengah menimpanya. Ya, dia memang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Kau selalu terlihat murung sejak kepergian Jungkook dan Aera eonni. Kau merindukan Seoul?"


Bohong jika dia berkata tidak. Tapi tidak mungkin dia mengatakannya. Dia tidak ingin menyakiti perasaan istrinya. Apalagi jika teringat kenangan buruk di tempat tersebut. Rasa sesak kembali menguasainya. Dia menarik So Hyun ke dalam dekapannya. Menghirup aroma khas istrinya. Perlahan sesak itu menghilang. Terlebih saat dia membelai lembut surai panjang So Hyun sambil memberikan kecupan ringan di puncak kepalanya.


So Hyun bisa mendengar detak keras jantung suaminya. Masih tidak berubah, sejak pria itu menyatakan perasaannya. Dia tersenyum di sela pelukan tersebut.


Tak ada yang bersuara setelahnya. Mereka hanya diam. Saling menyalurkan perasaan lewat pelukan tersebut.


"Ayo kembali ke Seoul!" ajak So Hyun membuka suara.


"Kau yakin!"


So Hyun mengangguk mantap. Dia sudah yakin dengan keputusannya. Cukup setahun saja dia menjadi egois dengan mengekang pria itu. Melihat senyum lebar pria itu adalah hal yang dirindukannya. Bukan berarti pria itu tak pernah tersenyum padanya. Hanya saja pria itu tak bisa menunjukan sisi bahagianya sejak mereka memutuskan untuk bersembunyi.


Jimin melepaskan pelukannya. Menampilkan senyum terbaiknya. Anggukan ia berikan kemudian.


So Hyun ikut tersenyum. Lengannya kembali mengapit tubuh kekar suaminya. Dia sudah bertekad dalam hati untuk membuka lembaran baru bersama suami dan juga putra angkatnya. Dia tak ingin bersembunyi lagi. Cukup setahun dia menata hati dari segala masalah yang menimpa pernikahannya.


-o0o-


"Selamat datang kembali, Sayang."


Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Nara begitu melihat So Hyun beserta keluarga kecilnya memasuki kediaman kakaknya. Seperti permintaan keponakannya, rumah yang pernah kosong itu sudah tampak terawat. Dia memang memerintahkan beberapa orang untuk mendekorasi ulang serta membersihkan rumah tersebut.


Rumah berlantai dua dengan dominasi warna putih itu benar-benar terlihat megah. Air mancur mengalir indah di tengah halaman. Bunga berbagai jenis tersusun rapi. Pohon yang mulanya tak teratur kini tampak rapi setelah dipangkas di beberapa bagian.


"Eomma," sapa So Hyun sambil memeluk Nara.


Setahun tak bertemu membuat gadis bermarga Kim itu merindu. Wanita yang sudah dianggap sebagai ibu keduanya, masih tampak sama. Riasan sedikit tebal yang membuatnya tampak tegas. Barang mewah yang selalu melekat di tubuhnya. Dari ujung kepala hingga kaki. semua masih melekat dalam ingatannya. Hanya satu yang berubah. Wanita itu kini tampak murah senyum dibanding sebelumnya.


"Aku merindukanmu," lanjut So Hyun kembali.


"Aku juga, Sayang," tutur wanita itu.


"Annyeong haseyo, Ommonim." Jimin membungkuk hormat setelah melihat Nara melepas pelukan So Hyun. Senyum terbaik juga dia berikan.


"Lama tak bertemu, Jimin."


"Jungkook, beri salam untuk halmoni," panggil So Hyun pada putranya.


Jungkook yang semula bermain dengan bunga di taman berlari menghampiri So Hyun. dia menatap lekat wajah wanita yang tampak asing di matanya. "Halmoni," ucapnya pelan.


"Kenapa wanita secantik dia dipanggil halmoni. Aku tidak suka. Aku akan memanggilnya Grandma. Annyeong haseyo, Grandma." Pria kecil berkemeja abu-abu itu memberikan senyum terbaiknya.


"Terserah padamu, Sayang." Nara membungkuk untuk mengusap puncak kepala Jungkook.


-o0o-


"Kenapa berhenti?" tanya Chanyetol yang melihat istrinya terdiam.


Pandangannya fokus pada rumah yang berdiri megah di depannya. Sudah lama dia tak berkunjung ke sana. Ada rasa takut saat akan melangkah. Dia khawatir mertuanya akan marah karena sudah mengajak pergi putra satu-satunya itu.


"Ayo!" ajak Jimin kemudian. Tangannya menarik lengan istrinya. Dia berhenti saat mendengar suara lirih istrinya.


"Aku takut."


"Apa yang kau takutkan?" Masih dengan mengapit tangan istrinya Jimin bersuara. Matanya menatap lembut manik hitam istrinya.


"Bagaimana jika abeonim dan ommonim marah?"


Jimin tersenyum. Mengusap lembut pipi istrinya. "Percaya padaku. Mereka tidak akan marah."


Ini sama seperti kali pertama dia menginjakan kaki di kediaman keluarga suaminya. Perasaan was-was muncul begitu saja.


"Eomma, ini rumah siapa?"


Suara khas putranya terdengar. Membuatnya rasa was-was itu berkurang. Dia duduk berjongkok untuk menyamakan tinggi putranya.


"Rumah ibunya appa. Kau bisa memanggil mereka halmoni dan harabeoji." Senyum tulus menghiasi wajahnya. Tangan rampingnya juga menyentuk puncak kepala putranya.


"Appa juga memiliki kakak perempuan. Kau bisa memanggilnya imo," tambah Jimin yang juga ikut duduk berjongkok.


"Iya. Jungkook mengerti."


Mereka membunyikan bel rumah kemudian. Tak menunggu lama pintu kediaman itu terbuka. Menampilkan sosok cantik kakak Jimin. Mereka sama-sama termangu. Antara heran dan tak terduga. Jika saja tak ada suara dari dalam, mereka pasti hanya saling menatap.


"Siapa, Sayang?"


Ibu Jimin datang dengan busana santainya.


So Hyun membungkuk memberi salam. Dia sudah bisa menguasai diri. Senyum termanisnya juga dia sunggingkan. "Annyeong haseyo. Lama tak bertemu..." Belum selesai dia berucap wanita yang menjadi mertuanya itu sudah lebih dulu mendekapnya.


"Ya Tuhan, Sayang. Bagaimana kabarmu? Eomma sangat mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja kan?"


Pertanyaan bertubi dari ibu mertuanya membuatnya bingung. Namun lega yang mendominasi. Wanita itu tak marah padanya, justru malah sebaliknya. Dia baru bersuara setelah dekapan itu terlepas.


"Aku baik-baik saja, Ommonim," jawab So Hyun ramah.


Seulas senyum juga tersungging di bibir Jimin. Melihat betapa hangat ibunya menyambut mereka merupakan kebahagiaan tersendiri. Dia menarik pinggang kakaknya yang juga tersenyum.


Sedangkan anak kecil yang bernama Jungkook itu hanya menatap aneh aksi orang dewasa di depannya. Netranya berganti arah. Dari ayahnya kemudian ke ibunya, lalu kembali ke ayahnya dan kemudian ibunya. Dia belum paham dengan situasi yang dialaminya hari ini.


"Siapa ini?" tanya ibu Jimin saat tak sengaja mengalihkan atensinya.


"Annyeong haseyo, Halmoni. Namaku Jungkook. Park Jungkook." Dengan membungkuk sopan pria kecil itu memperkenalkan diri. Penuh percaya diri dan tanpa rasa takut.


Ibu Jimin menoleh ke arah putranya, seolah minta penjelasan tentang sosok anak kecil yang menurutnya tampan.


"Kami mengadopsinya," jelas Jimin.


Ibunya mengangguk paham. "Jadi ini cucu eomma." Ibu Jimin membungkuk untuk menyamakan tinggi wajahnya. "Ayo masuk, Sayang!" ajaknya sambil menarik lengan mungil Jungkook.


πŸ’Œ


πŸ’Œ


πŸ’Œ


To Be Continue..


πŸ’Œ


πŸ’Œ


πŸ’Œ


Janganlah lupa tinggalkan VOTE, LIKE COMMENT!!


Akhirnya So Hyun dan Jimin kembali ke kehidupan awalnya kembali😊, siapa yg senang mereka kembali?πŸ‘†