![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
•BUDAYAKAN LIKE DAN COMMENT SETELAH MEMBACA•
Chapter 7
(Jungkook's Birthday 2)
-
-
-
Percayalah, semua akan baik-baik saja
Seiring berjalannya waktu
-
-
-
"Kenapa kau mengajakku kemari?", tanya So Hyun setelah pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
"Aku juga tak yakin. Tapi hanya tempat ini yang terlintas difikiranku", jelas Jungkook. Dia melepas sabuk pengamannya. "Ayo masuk! Ku rasa eomma di rumah", lanjutnya.
"Haruskah!", jawab So Hyun terdengar ragu.
Jungkook turun. Membukakan pintu mobil untuk So Hyun. "Ayo", ajaknya lagi.
Dengan sedikit ragu So Hyun mengikuti pria yang telah berjalan mendahuluinya. Setelah memasukan beberapa nomor password, Jungkook membuka pintu rumahnya. Dia berjalan pelan memasuki rumahnya. So Hyun juga mengikutinya di belakang. Mereka melewati ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan sampai di taman belakang.
"Eomma", sapa Jungkook pada wanita paruh baya yang tengah bermain dengan seekor anjing.
Wanita paruh baya itu menoleh. Tersenyum kemudian, senyum yang mirip dengan pria yang menyapanya. "Sayang, kau disini", ucapnya. Dia berjalan mendekati Jungkook yang diikuti oleh anjingnya.
"Aku membawa seseorang", ucap Jungkook kembali.
"Siapa?", tanya ibunya yang terlihat penasaran.
So Hyun menunduk memberi salam. "Annyeong haseyo", sapanya.
Ibu Jungkook membalas salam So Hyun. Dia manatap So Hyun dari atas sampai bawah. Seperti pernah melihat perawakan gadis itu, pikirnya. "Sepertinya kita pernah bertemu", ucapnya sedikit ragu.
So Hyun tersenyum dan juga mengangguk. "Ini aku ahjumeonim", ucap So Hyun.
"Kim So Hyun", ucap ibu Jungkook terdengar ragu.
So Hyun mengangguk kembali. "Lama tak bertemu ahjumeonim. Bagaimana kabar anda?", ucap So Hyun kemudian.
Ibu Jungkook berjalan mendekat. Tangannya terulur memeluk So Hyun kemudian. "Aku baik sayang. Bagaimana denganmu?", jawabnya. Tangannya mengusap lembut surai panjang So Hyun.
"Aku juga baik ahjumeonim", ucap So Hyun.
"Dimana saja kau selama ini?", ucap ibu Jungkook kembali setelah melepaskan pelukannya. "Kau menghilang setelah kecelakaan keluargamu", lanjutnya.
"Paris. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menerimanya", jelas So Hyun.
"Kau baik-baik sajakan?", ibu Jungkook menangkup wajah So Hyun.
So Hyun mengangguk pelan sebagai jawaban. Seulas senyum juga ia tunjukan untuk membenarkan jawabannya.
"Kau bertambah cantik ya", ucap ibu Jungkook. Dia mencubit kedua pipi So Hyun.
"Ahjumeonim", protes So Hyun. Dia menggelengkan kepalanya mengikuti gerak tangan ibu Jungkook.
"Ayo masuk. Ada banyak hal yang harus kau ceritakan padaku", ucap ibu Jungkook kembali setelah melepaskan cubitannya.
Mereka berdua masuk tanpa memperdulikan pria yang sedari tadi diam menatap tingkah konyol kedua orang itu. Dia berjongkok di depan anjingnya. Mengusap pelan kepala anjingnya. "Kau lihatkan Bunny, mereka mengabaikanku setelah bertemu. Kau tahu, eomma sebenarnya lebih menyayangi So Hyun daripada aku. Mungkin karena dia tak bisa memiliki anak perempuan", ucap Jungkook. Dia menggendong anjingnya itu. Ikut berjalan memasuki rumahnya, menyusul kedua orang yang telah mendahuluinya.
-o0o-
"Kira-kira kemana perginya Jungkook?", tanya salah seorang dari mereka. Ya, para personil BTS kini tengah bersantai setelah menghabiskan makanan yang dibawa So Hyun. "Dia tak akan membuat masalah lagi kan?", lanjutnya.
"Aku tak yakin, kau tahu sendirikan bagaimana dia?", jawab salah seorang yang pandangannya fokus ke layar TV. Dia juga memakan makanan ringan yang tersedia di meja.
"Dia menemui Kim daepyo", jawab salah seorang yang pandangannya fokus pada layar ponsel.
"Mwo?", ucap mereka hampir serentak. Mereka memandang aneh ke arah pria itu.
"Jangan konyol Park Jimin. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Mereka tak dekat. Kau sudah tahu bagaimana hubungan mereka. Aku rasa Jungkook masih sedikit membencinya. Ya, meski dia sudah minta maaf, tapi aku tak yakin rasa bencinya hilang", jelas pria yang masih terfokus pada layar TV.
"Dia menerima kotak besar dari gadis itu. Lari setelah makan masakannya. Dan pergi setelah membuka kotaknya. Bukankah sudah jelas kalau dia akan menemui gadis itu", jelas pria yang dipanggil Park Jimin itu. Pandangannya masih terfokus pada layar ponsel.
"Masuk akal juga", sahut salah seorang dari mereka.
"Ku rasa iya. Lihat ini?", ucap salah seorang yang baru bergabung bersama mereka. Dia menyerahkan kartu ucapan yang dia bawa dari kamar Jungkook.
"Kenapa dia memanggilnya dengan sebutan So-ah?", tanya salah seorang yang berkulit paling gelap diantara mereka semua setelah membaca kartu ucapan tersebut. "Bukankah namanya Kim So Hyun", lanjutya.
"Dia memang lahir dengan nama Kim So-ah", jelas pria yang bernama Park Jimin itu. "So-ah. So dari nama tengahnya. Dan ah adalah semacam panggilan akrab di sini", lanjutnya. Pandangannya masih terfokus pada layar ponsel.
Mereka semua menatap aneh kearah Jimin, seolah minta penjelasan dari argumen yang diucapkannya. Namun sepertinya pria itu tak tahu, dia masih sibuk dengan ponselnya. Dia mengalihkan pandangannya sambil mendesah. "Sial, aku kalah", sepertinya dia sedang bermain game. "Waeyo?", tanyanya ragu setelah tahu dia mendapat tatapan aneh dari rekan-rekannya.
"Darimana kau tahu?", tanya salah seorang dari mereka.
"Kau mengenalnya, Jim?", tanya Taehyung.
Jimin mengangguk. "Kalian juga mengenalnya kan. Dia pemilik Hera Fashion", jelasnya.
"Bukan itu maksudnya. Darimana kau tahu jika dia lahir dengan nama So-ah?", tanya pria yang tadi bertanya, namun tak diindahkan oleh Jimin.
"Ah itu...", Jimin tak melanjutkan kalimatnya. Dia memandang satu persatu dari mereka. "Menurut kalian, bagaimana aku bisa tahu?", bukannya melanjutkan dia justru memberikan pertanyaan balik.
"Yak, bagaimana mungkin kami bisa tahu jika kau tak menjelaskannya", jelas pria yang biasa dipanggil Taehyung.
"Gadis itu yang memberitahumu atau kau mungkin dekat dengan keluarganya", tebak salah seorang dari mereka.
"Kalian tidak pernah membaca artikel ya?", ucap Jimin sambil menggelengkan kepala. Dia berdiri bermaksud meninggalkan ruang itu.
"Kau mau kemana? Kau belum menjelaskannya!", protes Taehyung. Dia juga menarik lengan Jimin.
"Lepas. Aku mau ke kamar mandi", ucap Jimin, tangannya terulur melepas genggaman Taehyung. Berjalan pelan meninggalkan ruang itu. Sebelum benar-benar mencapai pintu, dia kembali berbalik. Berteriak lantang untuk memberitahu rekan-rekannya. "Baca saja di websitenya Hera Fashion". Dia menutup pintu setelahnya.
Salah satu dari mereka mengambil ponsel. Mengetikan beberapa kata. Mencari artikel yang dimaksud rekannya.
"Benar yang dikatakan Jimin hyung. Dia lahir di Australia dengan nama So-ah.", ucap salah seorang personil, Hoseok.
"Benarkah!", tanya Taehyung sedikit penasaran. Dia mengambil ponsel Hoseok. Membaca kata demi kata yang tertulis dalam artikel tersebut. "Daebak, dia lulusan terbaik dari ESMOD", lanjutnya. Dia memberikan ponsel Hoseok kembali.
-o0o-
"Kau masih menyimpan ini", tanya So Hyun. Dia mengangkat sebuah buku. Membukanya setelah mendudukan dirinya di ranjang.
Ya, setelah bercerita panjang lebar dengan wanita yang sudah dianggap seperti ibunya So Hyun diajak Jungkook ke kamarnya. Alasannya untuk berbagi cerita. Dia ingin berbagi privasi dengan gadis itu.
So Hyun membuka lembar demi lembar buku yang berisi foto masa kanak-kanaknya. Dia tersenyum kala melihat pose lucu dari foto tersebut. "Bukankan ini Hana!", tanya So Hyun.
Jungkook yang sedari tadi sibuk membereskan beberapa barangnya mendekat. Ikut duduk di samping So Hyun. Dia mengangguk membenarkan perkataan So Hyun. "Dia pindah ke Hongkong setelah lulus SMA", jelas Jungkook.
"Hongkong!", ulang So Hyun. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar.
"Ayahnya dipindah tugaskan disana", ucap Jungkook kembali.
"Kau masih berhubungan dengannya?", tanya So Hyun kembali. Dia membuka lembar berikutnya. Meneliti sebentar sebelum membaliknya kembali.
"Kami masih bertukar kabar selama setahun. Dia tak ada kabar setelah itu", jelas Jungkook.
"Jadi kau putus dengannya?".
"Kami tidak berkencan. Jadi tidak mungkin putus".
"Kau tak bisa membohongiku". So Hyun memandang tajam ke arah Jungkook.
"Aku berkata benar. Kami tidak berkencan So-ah".
"Sayang sekali. Kalian sebenarnya terlihat cocok", ucap So Hyun pasrah. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke album foto yang dipegangnya. "Mulai sekarang jangan panggil aku dengan nama itu. Aku bukan lagi bocah berusia 5 tahun yang kau kenal dulu".
"Shireo", ucap Jungkook lantang.
"Wae?".
"Jika kau mau memanggilku oppa, maka aku tak akan pernah memanggilmu dengan nama itu", jelas Jungkook diselingi dengan kedipan nakalnya.
So Hyun memutar malas bola matanya. "Lupakan!", ucap So Hyun. Dia memberikan album foto itu dengan kesal. Berdiri kemudian. Berjalan pelan meninggalkan pria itu. Sebelum mencapai pintu dia berbalik. "Terdengar menggelikan jika itu untukmu. Mimpi saja jika kau mau ku panggil seperti itu", jelas So Hyun. Dia berjalan dengan cepat. Membanting pintu kamar Jungkook dengan keras.
Jungkook tersenyum melihat kepergian So Hyun. "Dia bahkan terlihat manis saat marah", gumamnya.
Dia berdiri. Melepar album itu ke ranjang. "So-ah. Kau marah!", ucapnya sambil berjalan menyusul gadis itu.
-o0o-
"Selamat makan", ucap So Hyun. Dia mengambil sumpitnya. Mengulurkan tangan mengambil makanan yang tersaji di depannya. Dia menganggukan kepalanya sambil mengunyah.
"Mashita. Masakan ahjumeonim memang yang terbaik", ucapnya lagi. Ibu jarinya ia acungkan sebagai penguat apa yang baru saja diucapkannya.
"Itu karena kau sudah lama tak memakan masakanku. Sering-seringlah datang kemari", jelas wanita paruh baya yang duduk di depannya.
Jungkook yang duduk di samping So Hyun hanya diam. Dia memilih sibuk mengunyah makanannya.
"Aku tak bisa janji", jelas So Hyun. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku pulang", ucap seseorang dari arah pintu.
Mereka semua menoleh untuk melihat siapa yang tengah datang. Pria berjas yang menenteng tas itu berjalan pelan ke arah mereka.
"Jung Hyun oppa, kau baru pulang", sapa So Hyun pada pria itu. "Kemarilah!", kata So Hyun kembali sambil melambaikan tangannya.
"Siapa ini?", ucap pria itu. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk meneliti gadis yang tengah menyapanya.
"Sudah ku duga kau akan bertambah cantik jika memanjangkan rambutmu", jawab pria itu. Dia melepas jasnya menyampirkannya di kursi sebelah ibunya. "Lama tak bertemu Kim So Hyun", lanjutnya setelah mendudukan dirinya.
"Akan ibu ambilkan nasi untukmu", ucap ibunya. Dia segera berlalu meninggalkan ketiga orang itu.
So Hyun mengangguk. "Iya. Lama tak bertemu Jung Hyun oppa. Aa, bagaimana dengan Jungie oppa? Bukankah itu terdengar lebih akrab", jawab So Hyun diselingi dengan kedipan nakalnya.
Pria itu tersenyum, senyum yang juga terlihat mirip dengan Jungkook. "Boleh juga".
"Dulu kau suka memanggilnya hyung. Sekarang kenapa menjadi oppa? Kau bahkan menolak saat ku suruh memanggilku dengan panggilan itu", Jungkook yang sedari tadi diam kini bersuara. Lebih tepatnya dia sedang protes.
"Terserah aku. Suka-sukaku", jawab So Hyun. Dia mengunyah dengan keras sambil memandang Jungkook. "Bukankah begitu Jungie oppa", pandangannya kini ia alihkan ke pria yang dipanggil oppa olehnya.
Pria itu mengangguk dengan tersenyum. Dia cukup merindukan momen ini. Makan bersama dengan dua orang adiknya. Meski So Hyun bukan berstatus sebagai adik kandungnya, tapi dia menyanyanginya seperti rasa sayangnya pada Jungkook. Apalagi momen dimana kedua orang itu sering beradu mulut seperti sekarang. Itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya.
Ibu Jungkook datang dengan membawa semangkuk nasi untuk putra pertamanya. Tak ada percakapan setelah itu. Mereka diam menikmati hidangan yang tersaji di depannya. Hanya bunyi dentingan sendok dengan mangkuk yang mendominasi ruang makan itu.
"So Hyun-ah", panggil pria bernama Jung Hyun itu.
So Hyun mendongakkan kepalanya menatap pria yang tengah memanggilnya. "Emmh", gumamnya disela-sela mengunyahnya.
"Kau sudah punya pacar?", tanya Jung Hyun. Dia melirik sebentar ke arah Jungkook. Dia berniat menggoda gadis itu, untuk melihat bagaimana reaksi adiknya.
Jungkook ikut mengangkat kepala mendengar pertanyaan kakaknya. Dia menatap aneh pada pria itu. Seolah berkata jangan.
"Belum", jawab So Hyun dengan gelengan.
"Jangan bohong. Tidak mungkin gadis secantik kau tidak memiliki pacar", bantahnya. Ada raut tak percaya di wajah Jung Hyun.
"Aku tidak punya pacar. Tapi aku punya suami", jawab So Hyun acuh. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Semua orang di ruang itu terdiam. Hening menyelimuti ketiga orang itu sejenak. Mereka juga membulatkan mata tak percaya. Menoleh ke arah gadis yang baru saja bersuara.
"Benarkah! Kau sudah menikah", tanya Jung Hyun kembali.
So Hyun mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.
"Dengan siapa?".
"Jimin BTS", jawab So Hyun enteng. Seolah apa yang dikatakannya tak berarti apapun.
"Hah", Jungkook mengangkat alisnya tak percaya. Dia benar-benar terlihat syok dengan ucapan So Hyun.
Ibu Jungkook juga terlihat syok, namun tak sekuat Jungkook.
Berbeda dengan Jung Hyun. Dia justru tertawa mendengar penuturan So Hyun. "Bwahahaha". Dia bahkan memgang perutnya karena terlalu banyak tertawa. "Selera humormu lumayan juga", ucapnya kemudian masih dengan menahan tawanya.
"Aku berkata benar", jelas So Hyun kembali.
Tawa Jung Hyun bertambah keras. Dia benar-benar merasa lucu dengan apa yang gadis di depannya ucapkan.
Jungkook masih diam. Masih belum paham dengan situasi yang menimpanya kali ini.
"Kau terkejut", So Hyun mendorong pelan kening Jungkook dengan jari telunjuknya. "Aish, kau memang tak punya selera humor". Dia meminum airnya kemudian.
Ibu Jungkook ikut tersenyum melihat tingkah So Hyun. Dia kini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu memang kadang kelewat jika sudah bercanda.
"Ini tidak lucu So-ah", jelas Jungkook.
"Itu karena kau tak punya selera humor. Iyakan Jungie oppa", jawab So Hyun.
Jung Hyun mengangguk membenarkan perkataan So Hyun. Dia sudah terlihat tenang karena sudah berhasil meredam tawanya.
Jungkook masih memandang aneh pada So Hyun. Masih tak terima dengan ucapannya.
"Coba kau fikir. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya, padahal kami sendiri tak dekat?", jelas So Hyun. Dia kembali mengunyah makanannya.
"Iya juga sih", ucap Jungkook.
-o0o-
So Hyun berjalan pelan memasuki apartemennya. Di tangan kanannya memegang kotak makanan. Dia memang baru pulang dari rumah Jungkook, setelah hampir seharian berbagi cerita dengan keluarga sahabatnya itu. Dia diberi kimchi, karena memang itu adalah makanan favoritnya jika yang membuat adalah ibu Jungkook.
Setelah meletakkan heelsnya, tangannya terulur menyentuh saklar lampu apartemennya. Ruang yang tadinya gelap kini menjadi terang. Dia mendengus pasrah. entah apa yang dipikirkannya. Dia terdiam sejenak. Membuang kembali nafasnya. Lalu berjalan pelan menuju dapur. Memasukan kimchi yang dibawanya ke dalam kulkas.
Dia mengambil botol jus sebelum menutup pintu kulkas. Membuka tutupnya dan meminumnya sambil berjalan pelan menuju kamarnya. Wajahnya berubah murung kala melihat kamarnya masih gelap. Dia meraba dinding mencari saklar lampu kamarnya. Kembali mendengus pasrah setelah ruang itu menjadi terang.
So Hyun melempar asal tasnya ke ranjang. Berjalan pelan menuju balkon kamarnya. Membuka pintu penghubungnya. Hembusan angin musim semi menerpa wajah cantiknya. Pemandangan malam kota Seoul terpampang apik di depannya.
Netranya menelisik ke setiap penjuru arah yang bisa di jangkaunya. Melihat hal itu, perasaannya sedikit lega. Seulas senyum kecil juga menghiasi wajahnya. Untuk kesekian kalinya dia bersyukur masih bisa merasakan hiruk pikuk kesibukan kota Seoul. Kota dimana dia bisa memiliki kenangan indah masa kecilnya. Meski bukan kota kelahirannya, tapi itu tak merubah fakta bahwa dia berasal dari sana.
Dia kembali meminum jus yang di bawanya. Membiarkan angin musim semi menemani kesendiriannya. Pandangannya kini tertuju pada langit yang dihiasi titik-titik cahaya kecil yang biasa orang sebut dengan bintang. Bulan purnama juga tampak bersinar indah disana.
So Hyun merogoh kantung coatnya kala merasa ada getaran disana. Satu pesan masuk diterimanya. Dengan masih meminum jusnya, dia membuka pesan itu.
"Apa yang kau lakukan sendirian di balkon kamar, Kim daepyo?", begitulah isi pesan yang diterimanya.
So Hyun mengangkat alisnya mendapati nomor baru tengah mengiriminya pesan. Pandangannya ia edarkan mencari keberadaan seseorang. Ya, tak mungkin orang itu tahu jika dia tak berada di sekitarnya. Ketika dia tak mendapati siapapun di sekitarnya dia mendengus kesal. Orang itu pasti hanya asal menebak, pikirnya. Dia memilih tak membalasnya.
Dia kembali meminum jusnya. Memfokuskan pandangannya pada gedung yang memiliki iklan bergerak berupa video pendek mempromosikan produknya.
Ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk kembali diterimanya.
"Apa yang kau cari? Kau sedang tidak mencariku kan?".
So Hyun hanya membacanya, tak ada niatan sedikitpun untuk membalasnya.
"Kenapa tidak dibalas?".
So Hyun kembali membaca pesan itu. Dan dia kembali memilih mengabaikannya. Memasukan ponselnya ke dalam kantung coatnya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan sekali, tapi beberapa kali. Dia merasa kesal dibuatnya. Dengan cepat dia mengambil ponselnya. Tersenyum miring saat membaca pesan itu. Sama seperti sebelumnya, "Kenapa tidak dibalas?", namun dikirim beberapa kali.
"Nuguseyo?", So Hyun mengetikan kata itu sebagai balasannya.
"Kau tidak menyimpan nomor ponselku?", sebuah suara terdengar dari belakangnya.
So Hyun menoleh untuk melihat orang yang berbicara kepadanya. "Ck", dia berdecak kesal kala mengetahui siapa pemilik suara itu. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke arah iklan bergerak itu.
Pria itu merebut jus yang akan diminum oleh So Hyun. Dia meneguknya sampai habis.
So Hyun kembali mendengus kesal. Menatap tajam pria dihadapannya. "Itu punyaku, kenapa kau tak ambil sendiri di kulkas", protesnya.
"Aku haus dan malas ke dapur", ucapnya tanpa dosa. Dia berkedip beberapa kali dengan cepat, untuk menambah kesan memelasnya.
"Ya, ya. Terserahlah!", jawab So Hyun akhirnya pasrah.
Pria itu merebut ponsel yang dipegang So Hyun. "Kau benar-benar tak menyimpan nomor ponselku", ucap pria itu setelah memeriksa ponsel So Hyun. Dia mengetikan beberapa kata untuk menyimpan nomor ponselnya sendiri. Dia mengembalikan ponsel So Hyun setelah selesai. "Ini, aku sudah menyimpannya untukmu".
"Kau tidak menyimpannya dengan nama yang aneh kan?", tanya So Hyun menerima ponselnya. Dia bermaksud memeriksanya, namun pria itu sudah lebih dulu merebut ponselnya. Memasukankanya ke dalam kantung coat yang dipakai So Hyun.
"Tidak usah dibaca", ucap pria itu kembali.
So Hyun menurutinya. Toh dia bisa membacanya nanti. Mereka sama-sama terdiam setelahnya. Menikmati pemadangan kota Seoul di malam hari.
"Ngomong-ngomong, ruang apa yang ada di balik walk in closet-mu itu?", tanya pria itu memecah keheningan.
"Kau tahu?".
"Aku tak sengaja melihatnya tadi. Karena di password, jadi aku tak bisa membukanya", jelas pria itu kembali.
"Itu ruang rahasiaku", jelas So Hyun. "Aku capek, mau istirahat", lanjutnya. Dia berlalu meninggalkan pria itu.
"Memangnya kau habis darimana? Aku tahu kau tidak ke kantormu hari ini?", ucap pria itu yang mengekor di belakang So Hyun. Dia menutup pintu balkon kala gadis itu sudah lebih dulu memasuki kamarnya.
"Aku bermain dengan Bunny", jelas So Hyun. Dia mengambil tasnya di ranjang. Berjalan pelan memasuki walk in closetnya. Menyimpan tasnya kemudian. Meletakkan coatnya di gantungan. Melepas jam tangan serta anting dan menyimpannya.
"Anjingnya Jungkook maksudmu?", tanya pria itu kembali setelah memasuki ruang yang sama dengan So Hyun.
So Hyun mengangguk pelan.
"Jadi benar dia menemuimu tadi".
So Hyun kembali mengangguk. Tangannya terulur mengambil piyamanya. Dia menoleh ke arah pria yang sibuk meneliti koleksi jam tangan miliknya. "Keluarlah, Jimin-ssi. Aku mau ganti baju", pinta So Hyun.
"Kau bukakan dulu ruang itu", pria itu menunjuk ke arah ruang yang dimaksudnya.
"Tidak. Itu ruang rahasiaku".
"Kalau begitu aku tak akan pergi", ucap pria itu. Dia melipat tangannya di depan dada.
So Hyun kini menatap tajam pria dihadapannya. Dia cukup kesal dengan tingkahnya.
"Kenapa? Lagipula aku suamimu, jadi tak perlu malu". Pria itu tersenyum nakal.
So Hyun memutar malas bola matanya. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang itu. Lebih baik dia pergi daripada harus meladeni tingkah gila pria yang sayangnya sudah berstatus sebagai suaminya.
🍭
🍭
🍭
To Be Continue...
🍭
🍭
🍭
Haduh So Hyun sama keluarga Jungkook Deket lagi tuh.
Jimin yang sabar ya, sama author aja dah mending daripada dicuekin So Hyun mulu.. hehe😆😆
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan VOTE DAN COMMENTNYA YA😊😊🙏
TERIMAKASIH, SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA 💜