The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 38




πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†


Little Jungkook - Park Jungkook


(Familiar kan😁, iya orang itu Eun woo. Anggap aja Jungkook kecil itu dia πŸ˜€)


***


Chapter 38


(Finding you)


__


__


__


Takdir yang mempertemukan kita kembali...


__


__


__


"Jungkook mau dimasakkan apa?" tanya So Hyun setelah sampai. Mereka memang tengah pergi ke pasar sekarang.


"Sashimi," ucap ayah dan anak itu secara serempak.


So Hyun tersenyum mengejek. Sejak pria kecil bernama Jungkook itu tinggal dengan mereka, dua pria itu selalu memiliki selera yang sama. "Baiklah, kita beli ikan dulu."


"Ayo!" tutur Jimin sambil menggandeng lengan Jungkook.


Tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi, terlihat dua orang tengah meributkan sesuatu. Sang Perempuan tengah memberikan nasehatnya.


"Mereka tidak akan mengenaliku kan?" Sang Pria bersuara dengan nada berbisik. Sebagian wajahnya ditutup syal yang juga dililitkan di leher. Kacamata hitam bertengger manis di hidungnya.


Gadis itu melepas kacamata Sang Pria. "Akan lebih mencolok jika kau memakai ini." Dia menyimpannya kemudian.


"Kau benar." Pria itu mengangguk setuju. "Kita mau cari apa?" Mereka mulai berjalan memasuki pasar.


"Tentu saja mencari makanan untuk persediaan kita nanti."


"Ayo!" Tangan pria itu terulur menggenggam tangan Sang Gadis. Sepertinya dia ingin menegaskan jika gadis itu adalah miliknya.


-o0o-


"Eomma, ayo kita beli itu." Tangan pria kecil bernama Jungkook itu terus menarik lengan So Hyun. Dia sudah tak sabar, meski kini ibunya tengan menunggu barang belanjaannya di bungkus Sang Penjual.


"Sebentar, Sayang. Ikannya belum dibungkus." Dengan penuh kelembutan So Hyun mencoba memberi pengertian.


"Tapi penjualnya sudah jauh, jika tidak sekarang kita akan kehilangannya. Eomma, ayo!" Masih dengan nada merengeknya Jungkook berucap. Dia memang sedang tergoda dengan dagangan pedagang keliling.


"Pergilah! Biar aku yang jaga," ujar Jimin kemudian.


So Hyun akhirnya mengangguk. Dia hanya bisa menatap sendu suaminya, karena memang dia sudah ditarik pria kecil yang sudah menjadi bagian dari keluarganya.


Dengan penuh semangat Jungkook berjalan bahkan terkesan berlari mengejar Si Penjual. Butuh waktu lima menit untuk menemukannya. Senyum lebar tak dapat ditahan melihat Si Penjual tengah menerima pembeli.


"Jungkook, mau beli yang mana?" tanya So Hyun. Dia juga mengusap pelan kepala putranya.


"Ini." Jungkook menunjuk salah satu barang yang disukainya.


Setelah mendapat bayarannya, Si Penjual kembali melanjutkan langkahnya. Sedang So Hyun hanya diam mengamati putranya yang terlihat senang dengan mainan barunya. "Ayo! Eomma lupa belum beli tomat," ajaknya kemudian.


"Aku mau ke kamar kecil sebentar," tutur Jungkook yang terlihat menahan sesuatu.


"Eomma tunggu di sana ya."


Jungkook hanya mengangguk. Dia berlari dengan cepat. Ini memang bukan kali pertama dia datang ke tempat tersebut. Itulah mengapa So Hyun membiarkannya. Karena memang pria kecil itu tak mungkin tersesat. Kalau boleh jujur, sebenarnya justru pria kecil itulah yang lebih mengenal lingkungan di sana.


Jungkook bertemu pria yang dianggapnya aneh, setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dari jenis dan cara berpakaiannya sangat kentara jika pria dewasa itu bukan dari lingkungannya.


"Ahjussi, dari mana?" Tanpa rasa takut, Jungkook kecil mengajukan pertanyaan pada pria asing yang berdiri di sampingnya.


Pria itu menengok ke kanan dan ke kiri. Mencoba memastikan jika pria kecil di sampingnya tengah berbicara dengannya. "Kau berbicara denganku?" ujarnya sambil menunjuk ke dirinya sendiri.


"Tentu saja. Di sini tidak ada siapa pun selain Ahjussi."


"Kau kenal denganku."


"Tidak. Hanya saja sangat jelas jika Ahjussi bukan penduduk di sini."


Pria itu mengangkat alisnya. Tak pernah menyangka jika anak kecil itu sudah paham jika dia orang asing.


"Ahjussi, dari mana?" Lagi Jungkook kecil mengajukan pertanyaannya.


"Aku dari Seoul."


"Seoul! Ayah dan ibuku juga berasal dari sana."


"Benarkah!"


Jungkook kecil mengangguk.


Pria itu membungkuk, mencoba menyamakan tingginya dengan anak kecil di hadapannya. "Siapa namamu?"


"Kwon... Sekarang bukan lagi. Park Jungkook. Ahjussi bisa memanggilku Jungkook," jawab pria kecil itu disertai senyuman.


"Kau tidak berbohong kan? Atau kau sengaja menyebutkan nama itu karena sudah mengenaliku.


"Untuk apa aku berbohong. Dulu namaku Kwon Jungkook, tapi sekarang sudah berganti menjadi Park Jungkook. Dan lagi, aku benar-benar tak mengenali, Ahjussi. Ini bahkan kali pertama aku bertemu denganmu."


Pria itu tercengang. Dia tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan orang yang memiliki nama yang sama dengannya. Terlebih itu adalah seorang anak kecil yang terlihat cerdas. Dari penampilan bahkan tutur katanya, benar-benar kejutan.


"Memangnya nama Ahjussi siapa?"


"Kita memiliki nama yang sama. Namaku juga Jungkook. Jeon Jungkook."


Kedua pria itu hanya saling menatap. Tak ada yang tahu apa arti tatapan mereka. Seolah terlihat mereka sedang berkomuikasi lewat tatapan itu.


"Jungkook-ah. Kau dimana?"


Suara itu memecah keheningan mereka. Dengan segera Jungkook kecil beranjak meninggalkan pria dewasa yang mengaku memiliki nama yang sama, Jungkook.


"Eomma, aku di sini."


Pandangan pria itu mengikuti arah Jungkook kecil berlari. Dia terpaku melihat wanita yang tengah dihampiri Jungkook kecil. Kakinya berjalan tanpa diperintah. Membawanya mendekat ke arah wanita itu. "So-ah," gumamnya tanpa sadar.


Tanpa banyak bicara, pria itu berjalan semakin dekat. Memeluk So Hyun, bahkan tanpa meminta izin. Tak terasa setitik kristal bening itu jatuh. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Antara lega dan bahagia. "Aku merindukanmu," tuturnya sambil mempererat pelukannya.


So Hyun hanya bisa tersenyum dalam pelukan pria itu. "Aku juga merindukanmu," gumamnya kemudian.


-o0o-


Gadis itu terus mengawasi gerak-gerik seorang pria yang tengah membeli sesuatu. Sejak dia tak sengaja melihat pria itu, dia tertarik untuk mengikutinya. Bahkan tanpa memperdulikan kekasihnya yang sudah berjalan entah kemana. Dia masih ragu antara menyapa atau tidak. Karena memang dia juga masih ragu apakah pria itu adalah pria yang dikenalnya.


"Terimakasih, Ahjumma," ucap pria itu dengan ramah. Senyum khasnya juga ia berikan.


"Jimin-ah."


Refleks pria itu menoleh mendengar namanya dipanggil. "Iya," ucapnya bahkan sebelum tahu siapa yang memanggilnya.


"Jadi benar kau," ucap gadis itu lagi. Dia sudah tak bisa menahan dirinya, itulah mengapa dia kini menyapanya.


"Iya, ini aku. Lama tak bertemu, Min Aera." Masih dengan senyum khasnya Jimin menjawab.


Aera termangu. Dia tak bisa berkata apapun. Rasanya seperti mimpi bisa melihat pria itu lagi. "Jika kau di sini, lalu So Hyun?"


"Dia di sana." Jimin menunjuk ke arah pria dan wanita serta anak kecil yang berjalan ke arahnya.


"Daepyonim," teriaknya kencang. Hal ini mampu mengundang sekelilingnya untuk melihat. Aera tak memperdulikannya. Dia memeluk erat wanita yang selama ini dirindukannya. Berharap jika rindunya akan menguap setelahnya.


"Hyung." Pria bernama Jungkook itu juga berlari ingin memeluk Jimin. Namun dengan sigap Jimin menghindar, jadilah mereka saling mengejar.


Jungkook kecil hanya menggeleng kepala melihat tingkah keempat orang dewasa yang kini mengabaikannya.


-o0o-


"Aku tak pernah menyangka jika kalian masih di Korea. Kupikir kalian sudah pergi ke luar negeri," ucap Jungkook yang kemudian menyesap minumannya. Dia sedang duduk bersama Jimin, sambil menatap para wanita yang sibuk berkutat di dapur.


Jimin hanya tersenyum. Meneguk minumannya kemudian. Dia juga tak menyangka jika dirinya tak diketahui banyak orang. Bibi istrinya memang luar biasa, bisa menyembunyikan keberadaan mereka.


"Omong-omong siapa yang memberikannya nama Jungkook. Kenapa dia harus memiliki nama yang sama denganku?" sepertinya Jungkook tak terima jika namanya disamakan dengan pria kecil yang tengah bermain bersama anjing. "Berapa umurnya?" tanyanya lagi, sebelum Jimin bersuara.


"Lima tahun. Tentu saja ayah dan ibu kandungnya. Aku dengar ibunya penggemar beratmu. Mungkin karena itulah dia memberikan nama itu padanya."


Jungkook mengangkat alisnya. Menatap aneh ke arah Jimin. Seolah tak terima dengan penjelasan rekannya.


"Lagi pula, di Korea bukan hanya dia yang memiliki nama sepertimu."


Pada akhirnya Jungkook hanya bisa berdecak dan membuang muka. "Memang benar sih." Jungkook mengangguk setuju. Dia kembali meneguk minumannya.


"Dia baik-baik saja kan? Aku benar-benar khawatir setelah mendengar kalau dia keguguran. Apalagi setelah melihat keadaannya." Jungkook mendesah. Dia teringat hari di mana dia menjenguknya dulu.


"Awalnya tidak baik-baik saja. Butuh waktu enam bulan untuk bisa melihatnya tersenyum kembali. Jika bukan karena Jungkook, aku mungkin belum bisa membuatnya tersenyum." Jimin mengambil nafas dalam. Meminum minumannya kemudian.


"Hari itu, Jungkook datang ke rumahku. Dia memberikan kimchi buatan neneknya. So Hyun yang pertama kali menemuinya. Entah apa yang Jungkook katakan, tapi yang jelas aku bisa melihat senyum So Hyun meski samar. Sejak saat itu hampir setiap hari dia datang ke sini."


"Dan akhirnya dia bisa tersenyum kembali," sambung Jungkook.


Jimin mengangguk sebagai jawaban.


"Jadi sejak itu juga kau mengadopsinya?"


"Bukan. Awalnya hubungan kami hanya sebatas tetangga baik. Tiga bulan yang lalu neneknya tiada. Ya, sejak saat itu kami mengadopsinya." Jimin tampak ragu, namun akhirnya dia mengangguk memantapkan ucapannya.


"Apa orangtuanya setuju?"


"Sejak umur tiga bulan, dia sudah kehilangan orangtuanya."


Jungkook mengangguk paham. "Kau tak akan kembali?"


Jimin terdiam. Dia belum bisa menjawab. Untuk saat ini, dia masih ingin menikmati kehidupan sederhananya dengan So Hyun. "Entahlah! Aku belum memikirkannya."


Jungkook menepuk pelan pundak Jimin. "Kembalilah, Hyung. Kami semua menunggumu."


Jimin menghembuskan nafas dalamnya. "Akan aku pertimbangkan."


"Kau tahu, Taehyung Hyung menjadi lebih pendiam sejak kau pergi. Dia yang biasanya cerewet jadi jarang berbicara."


Jimin hanya tersenyum menanggapinya. Di hati kecilnya ada saat dia merindukan bercengkerama dengan rekan satu grupnya. Mereka diam setelahnya. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Ada yang membuatku penasaran, bagaimana bisa kalian datang bersama? Seingatku kau tak dekat dengan Aera," ucap Jimin kembali memecah keheningan.


Jungkook hanya tersenyum. Ada hal yang memang belum dia beritahukan pada pria itu.


"Jangan bilang jika kalian, berkencan."


Jungkook kembali tersenyum.


"Yak, Min Aera. Kau berkencan dengan Jungkook?" teriak Jimin dengan lantang. Dia tahu pria yang duduk di sampingnya tak akan mau bersuara.


Aera menoleh. Senyum aneh juga diberikannya.


"Benarkah?!" So Hyun ikut bertanya. Dia yang tadinya memotong ikan, mulai menghentikan aktifitasnya.


"Eoh. Waeyo? Jika kalian bisa menikah kenapa aku tak bisa berkencan dengannya," sahut Aera kemudian.


"Wah, wah." Jimin menunjukkan raut terkejutanya. Dia bahkan sampai berdiri. "Kalian memang terlihat cocok," lanjutnya yang disertai anggukan. Kembali mendudukan dirinya.


"Selamat ya!" ucap So Hyun meletakkan sepiring penuh potongan ikan. Kalimatnya ia tujukan pada Aera yang sibuk menata piring di meja.


"Jungkook-ah. Ayo kita makan. Sashiminya sudah siap." Kali ini kalimat So Hyun ditujukan untuk putranya yang sedang bermain bersama anjingnya. "Kalian berdua juga kemari, kita makan sama-sama," lanjutnya yang ditujukan untuk suami dan sahabatnya.


πŸ’Œ


πŸ’Œ


πŸ’Œ


To Be Continue...


πŸ’Œ


πŸ’Œ


πŸ’Œ


Saya kembali lagi.


Bagaimana menurut kalian? Jungkook punya kembaran nih, sie little Jungkook. Jangan sampai keliru ya 😊


Terima kasih sudah jadi pembaca setia. Jangan lupa Tinggalkan VOTE, LIKE COMMENT!!


See you.