The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 16



Vote Comment yang banyak ya😊


terimakasih yang sudah setia membaca cerita abal-abal ini🙏


***


Chapter 16


(Missing You)


-


-


Kau telah melalui berbagai hal


Untuk bisa memegangku, yang memiliki kekurangan


-


-


Pagi itu So Hyun sibuk memasak seperti biasa. Perbedaannya hanya dapur dimana dia memasak bukanlah dapur yang biasa dia tempati. Ini adalah dapur keluarga suaminya. Dia memang masih di rumah mertuanya setelah kemarin alergi kucingnya kambuh. Rumah itu masih tampak sepi karena memang dia bangun lebih awal. Kebiasaan lama, tiap kali menempati tempat baru dia akan selalu terbangun lebih awal.


"So Hyun, kau sedang apa?".


Sebuah suara terdengar menggema di telinga So Hyun. Dia yang sibuk memotong tomat menoleh. Tersenyum setelah mengenalinya. "Selamat pagi ommonim", sapanya. "Aku sedang membuat sarapan".


Wanita paruh baya itu mendekat. Dia bisa melihat beberapa hasil masakan menantunya sudah tertata rapi di meja. Ini aneh. Menurut bibi dari menantunya, gadis itu tak bisa memasak. Tapi melihat hasil masakan yang sudah tertata rapi, sangat mustahil jika gadis itu tak bisa memasak. Masakannya terlihat rapi dengan kadar kematangan yang pas. Terlihat seperti seorang yang sudah profesional.


"Kau bisa memasak?", tanyanya untuk menjawab rasa penasarannya.


"Iya", jawab So Hyun sambil mengangguk.


"Nara bilang kau tidak bisa memasak".


"Itu karena Nara imo tidak pernah melihatku memasak", jelas So Hyun. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya memotong tomat.


"Jadi dia tidak tahu jika kau bisa memasak begitu".


So Hyun kembali mengangguk. "Duduklah ommonim. Sebentar lagi supnya matang", jelas So Hyun.


"Baiklah! Kita lihat seberapa pandainya menantuku", ucap wanita paruh baya itu dengan candaan.


So Hyun hanya tersenyum menanggapinya. Sebenarnya dia masih merasa sedikit canggung jika harus terjebak berdua dengan salah satu keluarga dari suaminya. Wajar saja sih, dia baru beberapa kali bertemu. Meskipun mereka bersikap terbuka dengan kehadirannya, tidak menutup kemungkinan ada kalanya mereka tak suka dengan kehadirannya. Itulah mengapa dia mencoba bersikap baik di hadapan keluarga suaminya. Setidaknya untuk membuat citra dirinya bagus.


So Hyun memasukan potongan tomat yang tadi diirisnya. Juga menambahkan sedikit garam pada supnya. "Ommonim, anda mau mencobanya", So Hyun memberikan sesendok kuah sup untuk mertuanya.


"Hemm, mashita", ucap mertua So Hyun setelah memasukan kuah sup tersebut. "Kau memang pandai memasak".


So Hyun tersenyum canggung. Dia juga mengusap tengkuknya untuk mengurangi kecanggungannya.


"Bisakah kau menambahkan sedikit gula".


"Iya". Sesuai permintaan mertuanya dia menambahkan gula sesuai ukuran yang diperintahkan mertuanya. Dia kembali mengaduk sup tersebut.


"Itu sup kesukaan ayahmu".


"Jadi ini sup kesukaan abeonim", ucap So Hyun kembali memastikan.


"Iya begitulah".


"Bagimana dengan Jimin oppa?".


"Kenapa tak bertanya sendiri padanya?".


"Aku sudah pernah bertanya sendiri padanya", ucap So Hyun. Dia mematikan kompornya. "Apa ommonim tahu apa yang dikatakannya?".


"Memangnya apa yang dikatakannya?".


"Apapun yang kau masak akan aku makan, jadi tak perlu pusing memikirkan apa yang aku sukai".


"Dia bilang seperti itu".


So Hyun mengangguk.


"Dia pasti sangat menyukaimu", gumam wanita itu.


So Hyun yang sibuk mengangkat pancinya tak mendengarnya dengan jelas. "Tadi ommonim bilang apa?", tanyanya mencari tahu.


"Bukan apa-apa", jawab wanita itu sambil tersenyum.


So Hyun tak mau ambil pusing dengan omongan mertuanya. Dia memilih menyibukkan diri dengan menata hasil masakannya.


"Biar eomma yang melakukannya", wanita itu merebut mangkuk yang akan diisi sup oleh So Hyun. "Kau bisa memanggil Jimin. Dan juga bersihkan dirimu, bukankah kau harus berangkat ke kantormu", lanjutnya. Dia mengambil alih pekerjaan So Hyun.


"Iya. Maaf sudah merepotkan anda ommonim".


"Lagi. Sudah ku bilang tidak perlu seformal itu. Sekarang kau juga putriku".


"Iya ommonim", So Hyun tersenyum canggung. Dia meletakkan celemeknya sebelum meninggalkan dapur setelah sebelumnya pamit dengan mertuanya.


So Hyun masih menyandarkan punggungnya di pintu setelah memasuki kamarnya. Lebih tepatnya, kamar milik suaminya. Dia membuang pasrah nafasnya. Entah apa yang menganggu pikirannya. Pandangannya terlihat tak fokus. Dia bahkan berjalan dengan lemas menuju sofa. Terduduk dengan lemas kemudian.


"Kau dari mana?", suara khas milik suaminya memenuhi pendengarannya. Dia mendongakkan kepala menatap ke arah suaminya. Pria itu baru saja selesai mandi. Terbukti dengan pakaian yang dikenakannya, bathrobe. Rambutnya juga masih basah yang di usap dengan handuk kecil. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Tapi hari ini dia merasakan perasaan lain. Semua yang pria itu lakukan terlihat seperti slow motion di matanya. Benar-benar terlihat menawan.


"Aish", So Hyun mendesis saat pemikirannya mulai kacau. Dia mulai merasakan perasaan aneh setelah mengahabiskan beberapa malam bersama pria itu. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba membuat fikirannya kembali tenang.


"Kau baik-baik saja?", tanya Jimin kembali.


So Hyun terdiam. Dia menatap lekat Jimin.


"Kenapa? Alergimu kambuh lagi", Jimin berjalan mendekati So Hyun.


So Hyun berdiri. Menggeleng sebagai jawaban. "Aku mau mandi". Dia berjalan meninggalkan Jimin.


"Memang kau habis dari mana?".


"Jalan-jalan", jawab So Hyun. Dia berbalik kembali sambil tersenyum sebelum menutup pintu kamar mandi.


Jimin tersenyum miring. "Bilang saja habis masak", ucapnya meski dia tahu So Hyun tak akan mendengarnya.


-o0o-


"Selamat pagi appa", sapa Jimin. Dia yang baru memasuki ruang makan duduk di sebelah ayahnya.


"Pagi sayang", tuan Park yang sibuk dengan membaca berita dari ponselnya menoleh. Pandangannya mengikuti gerak putranya, kembali menatap ponselnya kemudian. Di samping kanannya duduk putrinya yang juga terlihat sibuk dengan ponselnya. Nyonya Park terlihat sibuk menuang air putih untuk keluarganya.


"Selamat pagi eomma, selamat pagi juga noona", sapa Jimin pada dua wanita di depannya.


"Pagi juga sayang", jawab nyonya Park. Kakaknya hanya menjawab dengan gumaman.


Di belakangnya terdapat So Hyun yang sedang berjalan ke arah mereka. Dia sudah terlihat segar setelah membersihkan diri. "Selamat pagi abeonim", sapanya sambil tersenyum ramah.


"Pagi juga sayang. Bersinmu sudah sembuh?", jawab tuan Park yang disertai pertanyaan.


"Iya", jawab So Hyun masih dengan senyum yang mengembang. Dia ikut duduk disebelah Jimin.


"Bagaimana tidak sembuh, jika dia mendapat obat yang mujarab dari Jimin", nyonya Park yang sudah selesai menuang air putih menyela. Dia ikut duduk di samping putrinya.


"Ne~", So Hyun menatap bingung nyonya Park. Dia tak mengerti maksud pembicaraan mertuanya.


Kakak perempuan Jimin ikut tersenyum mendengar penuturan ibunya, apalagi ditambah melihat raut bingung dari adik iparnya.


"Eomma mengintipku semalam", kini Jimin yang bersuara.


"Aku tak bermaksud mengintip. Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan menantuku", jawab ibunya tanpa dosa.


"Itu sama saja", bantah Jimin.


So Hyun memalingkan wajahnya karena malu.


"Sudah-sudah, kita sarapan dulu", ucap tuan Park menengahi.


Mereka makan dalam diam setelahnya. So Hyun memakan sarapannya sambil was-was. Dia takut hasil masakannya tak sesuai dengan selera keluarga suaminya. Sesekali dia melirik ke masing-masing anggota keluarga suaminya. Tidak ada yang protes sampai detik ini. Dia bisa bernafas lega kemudian.


Tuan Park berhenti setelah beberapa kali menyuapkan kuah sup ke mulutnya. Dia merasa ada yang lain dari rasa sup tersebut. Bukan seperti apa yang selama ini istrinya masak. "Kenapa supnya rasanya berbeda?", tanya tuan Park.


So Hyun mendongakkan kepalanya. Menatap tuan Park ragu. Dia benar-benar cemas sekarang. Bagaimana jika supnya tak enak?


"Kenapa? Ini enak kok", ucap nyonya Park sambil melirik ke arah So Hyun.


Kakak perempuan Jimin juga terlihat beberapa kali menyuapkan kuah sup. "Iya, rasanya memang berbeda", dia ikut bersuara.


"Tentu saja. Bukan eomma yang memasaknya", jawab Jimin santai. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Maksudmu apa? Jika bukan eomma lalu siapa?", ucap kakak perempuan Jimin.


So Hyun hanya terdiam. Dia mengunyah ragu makanannya.


Kakak perempuan Jimin, tuan serta nyonya Park terdiam. Saling memandang. Seolah berbicara lewat pandangan tersebut.


"Jika bukan ibumu berarti.....", tuan Park menoleh ke arah So Hyun. "So Hyun kau yang memasak ini?", lanjutnya.


"Iya", jawab So Hyun disertai anggukan. "Apa rasanya tidak enak?", tanyanya ragu.


"Ini enak kok. Bahkan lebih enak dari masakan ibumu", jelas tuan Park yang disertai dengan senyum untuk meyakinkan pendapatnya. Dia tahu jika menantunya merasa tak enak.


"Ekhmm", nyonya Park berdehem mendengarnya.


"Benar kok. Ini memang enak", tuan Park kembali bersuara.


"Masakan So Hyun memang enak", ucap Jimin.


Mereka tertawa mendengar penuturan Jimin. Tentu saja. Suami mana yang tak ingin membela istrinya. Entah itu benar atau tidak, yang pasti suami yang baik pasti akan melindungi sang istri.


-o0o-


Love you so bad Love you so bad


Neol wihae yeppeun geojiseul bijeonae


Love you so mad Love you so mad


Nal jiwo neoui inhyeongi doelyeo hae


Love you so bad Love you so bad


Neol wihae yeppeun geojiseul bijeonae


Love you so mad Love you so mad


Nal jiwo neoui inhyeongi doelyeo hae


I'm so sick of this


Fake Love Fake Love Fake Love


I'm so sorry but it's


Fake Love Fake Love Fake Love


Suara musik itu terdengar menggema di ruang latihan. Para personil BTS memang sedang latihan dance untuk album terbaru mereka. Entah sudah berpuluh kali mereka mengulang koreografi dance untuk lagu tersebut. Peluh sudah membasahi wajah mereka. Ada gurat lelah, namun tak menjadi halangan mereka untuk tetap melanjutkan latihannya.


Tepat setelah musik berhenti, sang pelatih memberikan instruksi untuk berhenti. Dia juga memberikan tepuk tangan untuk mereka. Mengacungkan jempolnya tanda jika apa yang mereka kerjakan benar-benar sudah bagus.


"Good. Cukup untuk hari ini. Kalian bisa beristirahat. Besok kita siap untuk syuting", jelas sang pelatih.


"Ne. Gamshamnida", ucap mereka serentak. Menunduk memberi salam pada sang pelatih.


Setelah mengambil peralatannya sang pelatih dan asistennya meninggalkan para member BTS yang sedang mengistirahatkan diri. Ada yang meminum air mineral, sibuk dengan ponselnya dan ada pula yang mengobrol ringan. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu rehatnya sebaik mungkin. Ya, setelah ini mereka akan sibuk dengan syuting pembuatan video klip, latihan, dan yang pasti sibuk mempromosikan album terbaru mereka.


"Kau sedang apa?".


Itu adalah isi pesan Jimin yang dikirim untuk istrinya. Terhitung sudah lima hari pria itu tak pulang ke apartemen istrinya. Padatnya jadwal dan juga sibuknya latihan membuatnya harus menetap di dorm tempat tinggalnya sebelum dia menikah. Meski begitu, dia masih menyempatkan diri untuk mengirim pesan atau menelfon jika memang benar-benar sendiri.


Sebari menunggu pesannya dibalas. Dia ikut duduk bersama rekan-rekannya. Raut lelah terlihat jelas di wajahnya. Peluh sudah membasahi kaos oblongnya.


"Pulang yuk", ajak Jungkook yang kini sudah berdiri.


Jimin yang sudah memakai jaketnya merogoh kantung celananya. Ada getaran dari ponselnya. Pesannya dibalas. Senyum mengembah di wajahnya bahkan sebelum dia membuka pesan tersebut. Dia menutup mulutnya menahan tawa setelan membuka pesan dari istrinya. Hal ini mengundang rekannya yang lain untuk bertanya.


"Apa yang kau tertawakan?", tanya Yoonggi yang berdiri di sampingnya.


"Bukan apa-apa, hyung.", jawab Jimin sambil mencoba meredam tawanya. "Ayo", ajaknya sambil mencangklong tasnya.


Tidak ada yang bertanya setelah itu. Selain karena tak mau ambil pusing, mereka juga lelah. Lagipula ini bukan kali pertama lelaki yang menjadi rekannya itu tertawa sendiri setelah melihat ponselnya.


Jika kalian ingin tahu mengapa Jimin menahan tawa tadi, itu karena isi pesan yang dikirim istrinya. Bagaimana tidak, istrinya mengirimnya foto dengan pose yang unik. Wajahnya tampak sedih dengan menopang dagu. Matanya sedikit terpejam dan tak menghadap kamera. Ditambah tulisan pesan yang berbunyi "Merindukanmu".


Sepanjang perjalannya menuju dorm, masih terlihat jelas raut senang di wajah Jimin. Dia tidak bisa mempungkirinya betapa senangnya suasana hatinya. Dia juga merindukan gadis itu, bahkan sangat. Apalagi masakannya. Membayangkan makan masakan gadis itu membuat perutnya bertambah lapar. Dia memang sedang lapar sekarang setelah latihan berjam-jam.


Disela-sela perjalannya dia mencoba mengetikan beberapa kata untuk istrinya. Dia bahkan memilih berjalan paling akhir, supaya rekannya tak bisa membaca apa yang ditulisnya. "Aku juga", balasnya.


"Oppa sendiri sedang apa?".


Jimin kembali menahan tawanya saat membaca kata yang selama ini tak pernah diucapkan gadis itu untuknya. Oppa, ya kata itu. Pernah sih gadis itu memanggilnya dengan sebutan itu, dulu saat dia masih sering berkunjung ke rumah keluarga istrinya. Tapi setelah menikah dengannya, gadis itu tak pernah memanggilnya dengan kata itu.


"Oppa sedang perjalanan menuju dorm".


"Bolehkah aku berkunjung?".


"Memang kau punya alasan jika mereka menanyaimu".


"Tentu saja. Mau ketemu Jungkook".


Jimin tampak berfikir. Dia lupa fakta jika istrinya adalah teman baik Jungkook. "Datang saja. Bawa makanan sekalian".


"Okay. Kapan oppa sampai?".


"10 menit lagi".


Jimin menyimpan ponselnya dalam saku celananya. Kembali menyusul langkah rekan yang sudah jauh di depan.


-o0o-


So Hyun menikmati musik yang ia putar dari ponselnya. Tangan kirinya menopang dan tangan kanannya ia ketukan di meja mengikuti alunan lagu tersebut. Sesekali dia ikut bergumam menyuarakan lirik dari lagu tersebut.


sarangeul haetta uriga manna


jiuji mothal chueogi dwaetda


Itu adalah sebagian lirik yang disuarakan oleh So Hyun. Di belakangnya sudah tetata rapi makanan hasil masakannya. Seperti permintaan suaminya, dia membawa makanan.


Lebih tepatnya dia memasak di tempat itu. Memang saat membalas pesan yang dikirim suaminya, dia sedang memasak. Entah mendapat keberanian darimana dia nekat mendantangi dorm tempat para personil BTS tinggal.


Dia juga membawa bahan makanan tadi. Niat awalnya memang ingin memasakan mereka, terutama suaminya. Sudah lima hari pria itu tak pulang ke apartemennya. Ada perasaan aneh yang cukup mengusiknya. Seperti ada sesuatu yang kurang jika pria itu tak pulang. Dia masih enggan mengatakannya dengan rasa rindu. Meski tadi dia menulis pesan jika dia merindukan pria itu, tapi sebenarnya itu hanya candaan.


uriga mandeun love scenario


ijen jomyeongi kkeojigo


majimak peijireul neomgimyeon


joyonghi mageul naerijyo


Dia kembali menyuarakan lirik lagu tersebut. Lagu yang cukup asyik didengar, menurutnya. Tangannya masih ia ketukan mengukuti alunan musik.


Sementara itu, para personil BTS mulai memasuki tempat tinggal mereka. Mereka saling menatap saat mendengar suara musik dari ruang tengah.


"Kalian dengar itu?", tanya Jin yang memang dia berjalan di depan.


"Eoh, siapa yang menyalakan musik?", Namjoon sang leader kini ikut bersuara.


"Manajer Han, mungkin!", ucap Yoonggi asal.


"Bukankah dia di rumah mertuanya. Tadi dia bilang tak bisa menemani kita latihan karena pergi kesana kan", itu suara Taehyung.


"Kalau tidak dilihat, tidak akan tahukan", ucap Jungkook yang langsung berjalan ke sumber suara. Dia berhenti saat melihat seorang gadis duduk membelakanginya.


"Kenapa berhen...", ucap Hoseok tak melanjutkan kalimatnya setelah melihat objek yang sama dengan Jungkook.


"Siapa?", Taehyung yang berjalan mendekat bertanya. Dia juga berhenti, memandang tak percaya objek di depannya.


"Nuguseyo?", Jimin yang baru mendekat kini bersuara. Ini aneh karena tiba-tiba di dalam tempat tinggal mereka terdapat seorang gadis.


So Hyun menoleh. Ada raut kaget, hanya sebentar karena setelahnya tergantikan dengan senyum yang mengembang. "Annyeong", sapanya.


"Kim daepyo?", jawab mereka serentak.


"Bukan kok. Aku Kim So Hyun", jawab So Hyun.


Mereka tertawa mendengar penuturan So Hyun. Itu sama sajakan. Namanya memang Kim So Hyun, tapi mereka memanggilnya dengan Kim daepyo karena mengormatinya sebagai pimpinan Hera Fashion yang secara tak langsung sudah ikut menggaji mereka.


So Hyun ikut tertawa. Dia memang sedang ingin membuat lelucon, setelah melihat raut lelah di wajah ke delapan pria yang ada di hadapannya. "Jangan panggil aku seperti itu jika bukan di kantor. Lagipula aku lebih muda dari kalian semua", ucapnya enteng. Dia mematikan musik dari ponselnya.


"Sedang apa kau disini?", tanya Jungkook.


"Merindukanmu", ucap So Hyun setelah sebelumnya melirik ke arah Jimin. "Sudah lama kan kita tak bertemu", jawab So Hyun.


Jungkook mengangkat alisnya.


"Kenapa? Tidak boleh ya. Ya sudah, aku pulang", ucapnya lagi. Dia berdiri setelah mengambil ponselnya. Berjalan meninggalkan Jungkook. Tangannya ditahan Jungkook dilangkah kelimanya.


"Bukan seperti itu", ucap Jungkook.


"Bercanda kok", ucap So Hyun dengan senyumnya. "Lagian jika kau mengusirku aku juga tak akan pergi", lanjutnya. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Jungkook.


"Mwo!", ucap Jungkook terlihat kaget.


"Bercanda lagi", ucap So Hyun.


Jungkook memutar malas bola matanya. Gadis itu masih sama usil seperti yang diingatnya.


"Oppadeul, apa kalian sudah makan?", ucap So Hyun cukup lantang.


Mereka hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kalian bisa membersihkan diri, aku akan siapkan makanan", ucap So Hyun.


Satu persatu para personil BTS tersebut beranjak. Mengikuti permintaan So Hyun, untk membersihkan diri.


"Apa tidak merepotkanmu?", tanya Jungkook.


"Tentu tidak. Kau tak lihat itu", So Hyun menunjuk ke arah meja.


Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah telunjuk So Hyun. Dia tercengang melihat masakan yang sudah tertata rapi di meja. "Sejak kapan kau menyiapkan itu semua?", tanyanya.


"Sudah sana bersihkan dirimu", ucap So Hyun sambil mendorong tubuh Jungkook.


"Iya, iya", ucap Jungkook pasrah. Dia berjalan meninggalkan So Hyun.


So Hyun tersenyum sebentar melihat kepergian Jungkook. Dia mulai melakukan tugasnya. Mengambil beberapa mangkuk. Mengisinya dengan nasi. Menatanya di meja makan. Meja yang tadi dipenuhi makanan kini bertambah penuh.


"Mau ku bantu", suara itu membuat So Hyun menoleh.


Pemilik suara itu dikenal dengan nama Jin di BTS. Nama aslinya Kim Seok Jin. Katanya dia jago masak diantara rekan-rekannya.


"Boleh", jawab So Hyun. "Aku belum menata minuman", jelasnya kemudian.


"Biar aku yang melakukannya", ucap si tampan Jin.


So Hyun mengangguk. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya, menuangkan sup ke mangkuk.


"So Hyun-ssi", panggil si tampan Jin.


"Iya".


"Ponselmu berbunyi".


So Hyun melirik ponselnya yang tergeletak manis di meja. Cukup jauh darinya dan lebih dekat dengan si tampan Jin. Dia mengangkat alisnya setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


"Yeobseyo", dengan ragu So Hyun mengangkatnya.


"Daepyonim gawat. Aku lupa jika sekarang anda ada janji makan malam dengan CEO JB Group. Dia sudah menunggu anda".


"Apa?", ucap So Hyun cukup lantang.


"Maaf, ini kesalahanku. Bisakah anda datang!".


"Baiklah, dimana tempatnya?".


"SNT Restoran".


"Aku akan sampai dalam lima belas menit" ucapnya mengakhiri panggilan. So Hyun membuang pasrah nafasnya.


"Jin-ssi", panggil So Hyun pada pria yang kini menuangkan air putih di gelas.


"Ada apa?".


"Aku harus pergi. Sekretarisku membuat kesalahan, katanya aku free hari ini. Tapi ternyata sudah ada janji. Sampaikan salamku untuk Jungkook. Mianhaeyo".


Si tampan Jin mengangguk. "Hati-hati di jalan".


"Emmh". So Hyun segera berlalu. Mengambil coatnya dan berjalan cepat meninggalkan ruang tersebut. Di depan pintu dia bertemu Jimin. Saat menghindar ke kanan, pria itu menghalangi jalannya. Saat menghindar ke kiri pria itu juga menghalangi jalannya. Hal itu terulang sebanyak tiga kali. Dan itu membuatnya mendengus kesal. Dia berhenti dan menatap tajam Jimin.


"Jimin-ssi, aku sedang buru-buru", ucapnya kesal.


"Owh, maaf", Jimin bergeser untuk mempersilahkan So Hyun lewat.


So Hyun berjalan dengan cepat. Berhenti dilangkah ketiga. Dia berbalik. "Makan yang banyak ya", ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia juga memberikan senyum termanisnya.


"Hati-hati", ucap Jimin.


So Hyun mengangguk. Dia juga membuat hati kecil untuk Jimin sebelum pergi.


Jimin tersenyum senang menatap kepergian So Hyun. Dia berjalan mendekati Jin setelah gadis itu menghilang di balik pintu. "Kim daepyo mau kemana? Buru-buru sekali", tanyanya pada si tampan Jin. Tangannya terulur ingin mengambil salah satu makanan yang ada di meja, namun dengan cepat di tepis Jin.


Jin memberi Jimin sumpit sebelum menjawab. "Dia ada janji. Katanya sekretarisnya membuat kesalahan, dikiranya sekarang free".


"Owh", Jimin mengangguk paham.


"Hyung, dimana So Hyun?", tanya Jungkook yang baru memasuki ruang tersebut. Dia sudah terlihat rapi dengan kemeja dan celana selututnya.


"Pergi", Jawab Jimin sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Tanpa pamit padaku", ucap Jungkook kembali.


"Dia ada janji. Katanya sekretarisnya membuat kesalahan, dikiranya sekarang free. Dia titip salam untukmu", jelas Jin. Jawaban yang sama seperti jawabannya pada Jimin. Hanya kalimat terakhir yang membedakannya.


Ada raut kecewa di wajah Jungkook. "Padahal ada yang ingin aku bicarakan dengannya", ucapnya pasrah. Dia duduk di salah satu kursi di ruang tersebut.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


3000 words💪


So Hyun mulai merindukan Jimin. Jimin keinginan mu tercapai😆


Hati-hati saat nanti udah cinta, tau-tau ada pelakor or pebior🤣🤣


Budayakan Like COMMENT !!


Hargailah Author ini 🙏🙏