The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 20



Chapter 20


(Mongsuk)




Jangan lepaskan tanganku


Jadilah cahaya terangku dalam kenanganku yang gelap




Masih dengan hati yang resah, So Hyun mencoba menjalani aktivitasnya seperti biasa. Semua menjadi berbeda sejak hari itu. Perasaan bersalah masih terus menghantuinya. Dia mencoba menyibukan diri meski ada waktu luang. Jika biasanya dia akan mengambil libur di hari Jumat dan Minggu, maka kini hanya hari Minggu. Di hari Minggu pun ia isi dengan kegiatan-kegiatan sosial. Seperti ke Panti Asuhan atau Panti Jompo. Dia juga kadang ke rumah sakit untuk menjadi relawan.


Banyak kegiatan yang dibenci namun dilakukannya akhir-akhir ini, hanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Namun rasa itu masih selalu hadir. Seperti contoh ketika akan tidur. Tak heran jika kadang dia tak bisa tertidur karenanya. Yang menjadi pilihannya adalah mengkonsumsi obat tidur. Dia mulai menyetok persedian obat tersebut.


Hari ini dia baru pulang setelah jam menunjuk di angka sebelas. Raut lelah terlihat jelas di wajah cantiknya setelah seharian bermain dengan anak-anak di Panti Asuhan. Dia sengaja pulang setelah mereka semua tertidur.


Dengan langkah beratnya dia memasuki apartemennya setelah memakai sandal rumahnya. Dia duduk di sofa depan TV. Hari ini suaminya tak pulang lagi, itulan pesan yang diterimanya siang tadi. Entah sudah berapa hari pria itu tak menunjukkan batang hidungnya di sana. Dia sudah tak bisa menghitungnya. Yang pasti dia harus sarapan sendiri setiap pagi. Terkadang dia sarapan di kantor jika sedang malas memasak.


Setelah meletakkan tasnya di meja, So Hyun merebahkan tubuhnya di sofa. Kepalanya sedikit pusing. Dia memejamkan matanya. Tanpa dia duga dia terlelap setelahnya. Tanpa berganti pakaian dan tanpa melepas coatnya.


Sementara itu di kamar So Hyun terlihat seorang pria tengah menata barang-barang yang tadi dibawanya. Di sampingnya terdapat seekor anjing yang tengah bermain dengan bola karet. Pria itu tersenyum melihat tingkah lucu anjingnya. Sesekali dia mengambilkan bola yang sudah terlempar jauh.


Dia melirik jam tangannya. Sudah selarut ini istrinya belum pulang. Mungkinkah terjadi sesuatu? Perasaan was-was mendatanginya. Atau mungkin istrinya memang tak pulang karena pesan yang dikirimnya siang tadi. Dia memang tak berencana pulang. Namun diurungkannya karena setelah hari itu dia tak akan tahu kapan dia bisa pulang.


Tangannya terulur mengambil ponsel setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia memang sedang menata rumah kecil untuk sang anjing. Dia berharap dengan memberi anjing, kesepian istrinya akan berkurang. Dia memang sedang sibuk-sibuknya mempromosikan album barunya.


Setelah menemukan nomor ponsel istrinya, dia menghubunginya. Tungkainya melangkah menuju dapur untuk mengambil minum. Dia mendengus kesal melihat orang yang dikhawatirkannya tengah terlelap di sofa. Perlahan dia mulai mendekatinya. Tertunduk melihat wajah lelah istrinya.


“Sejak kapan kau datang?” Dia tahu pertanyaannya tak akan didengar istrinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum sambil merapikan anak rambut istrinya.


“Kau bahkan belum mengganti pakaianmu.” Dengan penuh kekuatan dia mengangkat tubuh istrinya. Membawanya ke kamar untuk membuatnya semakin nyaman. Dia melepaskan coat istrinya. Menarik selimut untuknya kemudian.


“Selamat tidur SSo,” ucapnya sebelum mengecup mesra kening istrinya.


-o0o-


Matahari sudah nampak malu-malu di ufuk timur. Sinarnya mulai membuat belahan bumi yang tadinya dingin menjadi hangat. Merubah kegelapan menjadi remang-remang hingga terang. Membangunkan manusia dari mimpi indahnya. Juga menidurkan binatang yang berkeliaran ketika malam. Membuat langit nampak indah berwarna kuning keemasan.


So Hyun ikut membuka matanya. Pemandangan indah langsung tersaji di depannya. Dia tersenyum meski ada pertanyaan. Wajah damai suaminya ketika tidur adalah alasannya tersenyum. Sedang pertanyaannya adalah kenapa dan kapan pria itu pulang?


Jemari lentiknya menyusuri setiap lekuk wajah suaminya. Betapa dia sangat merindukan pria itu? Senyum manisnya, suara dalamnya, tingkah konyolnya, dan semua yang berhubungan dengan pria itu.


Dia kembali tersenyum setelah menyimpan tangannya. Dia enggan membangunkannya. Karena memang masih betah memandanginya, juga sebab tak tega. Melihat wajah polosnya, membuat hatinya menghangat seolah beban dalam dirinya melayang dan hilang.


“Sudah puas melihatnya?” suara khas pria itu terdengar. Matanya masih tertutup.


“Belum. Jangan buka dulu matanya,” pinta So Hyun yang dijawab anggukan.


Pria itu menarik tubuh So Hyun, mendekapnya meski dengan mata yang tertutup. “Aku merindukanmu,” bisiknya.


“Aku juga,” tutur So Hyun.


Senyum mengembang terukir indah dari bibirnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain tidur sambil memeluk istrinya. “Biarkan seperti ini dulu,” ujar pria itu lagi.


So Hyun hanya mengangguk disela pelukannya.


Mereka benar-benar terdiam. Menikmati momen langka itu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Terhitung sudah limabelas menit mereka hanya diam dengan mata terpejam.


“So Hyun-ah,” panggil pria itu. Dia melepaskan pelukannya setelah membuka mata.


“Hmmh,” guman So Hyun sambil membuka mata.


“Kau terlihat semakin kurus ya. Tubuhmu bahkan lebih ringan dari sebelumnya.” Tangan pria itu mengusap pelan pipi So Hyun.


So Hyun mengangguk. “Aku kehilangan tiga kilo berat badanku.”


“Sebanyak itu. Sudah ku bilang kan tidak usah diet.”


“Aku tidak diet. Kau sendiri yang melarangku.”


“Lalu kenapa? Kau bahkan punya lingkaran hitam di matamu,” ucap pria itu sambil mengusap tempat dimana dia melihat ucapannya tadi. “Aku juga melihat obat tidur di laci. Apa kau susah tidur akhir-akhir ini?”


“Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika tidak ada yang memelukku.”


Pria itu tersenyum. Dia juga mengecup singkat bibir istrinya. “Maaf.”


So Hyun bangkit. Dia duduk, masih dengan kaki yang tertutup selimut. Suara dengusan juga terdengar. “Itulah kenapa sejak awal aku tidak suka berkencan apalagi menikah dengan idol.”


“Kenapa?”


“Mereka tidak punya hari Minggu.”


“Jadi, kau menyesal menikah denganku?”


“Sedikit.” So Hyun kembali bangkit. Kali ini dia turun dari ranjangnya. “Aku lapar.” Dia berjalan meninggalkan pria itu dengan raut wajah tak terbacanya.


“Guk, guk. Guk, guk.” Seekor anjing kecil mengampiri kaki So Hyun. Anjing itu juga mengusap-usapkan kepalanya.


So Hyun menunduk. Mengangkat anjing itu tinggi-tinggi. “Manisnya. Jimin-ssi, kau yang membawa ini?” ucapnya. Pandangannya ia tujukan pada pria yang sudah terduduk di ranjang.


Pria itu mengangguk. Dia ikut bangkit dan mendekati So Hyun.


“Siapa namanya?” tanya So Hyun. Dia sudah menggendong anjingnya.


“Kau bahkan membuatkan rumah untuknya?” ucap So Hyun yang melihat perubahan baru di kamarnya.


“Aku hanya tidak ingin kau kesepian selama aku tidak disini. Karena kau bilang ingin menunda kehamilan, jadi hanya itu yang terfikir olehku. Apalagi kau alergi kucing,” kata pria itu sambil tersenyum tulus.


So Hyun mendekatkan wajahnya. Mencium singkat bibir suaminya. “Terima kasih,” senyum manis juga ia berikan.


“Kau ingin memberinya nama apa?”


“Mongsuk. Dia kan perempuan.”


“Emmh. Jika kau memang menyukainya, kenapa tidak?” ucap pria itu yang disambut gonggongan anjing itu. “Dia bahkan terlihat menyukainya,” lanjutnya kembali sambil mengusap anjing itu.


“Kau benar Oppa.” So Hyun ikut mengusapnya.


Pria itu terdiam. Menatap dalam pada So Hyun yang masih sibuk bermain dengan anjingnya. Dia mendengar kata yang jarang wanita itu ucapkan. “Katakan lagi.”


“Apa?” tanya So Hyun yang belum paham. “Aaa,” ucapnya setelah paham. “Oppa. Kenapa, kau ingin kupanggil seperti itu?”


Pria itu mengangguk dengan cepat.


So Hyun tersenyum lebar, namun terlihat aneh. “Jika aku ingat,” senyumnya seketika hilang. Dia juga menyerahkan anjing yang digendongnya. “Aku mau buat sarapan.” Dia segera berlalu.


“Yak, Kim So Hyun.”


So Hyun tak memperdulikan teriakan suaminya. Dia terus berlalu “Datanglah setelah memberi makan Mongsuk,” tuturnya sebelum menghilang di balik pintu.


-o0o-


So Hyun masih terdiam di ruangannya. Jam pulang kantor sudah berjalan sejam yang lalu. Dia masih terlihat enggan beranjak. Bukan karena ada berkas yang harus ditandatanganinya. Bukan karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikannya. Juga bukan karena ada meeting yang harus dihadirinya. Hanya satu masalah, pesan dari sahabatnya. Jungkook. Pria itu menunggunya di basement kantornya.


“Daepyonim.” Entah sudah berapa lama gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah So Hyun, namun sang empunya tak merespon. Baru ketika gadis itu menepuk pundaknya, So Hyun terlonjak kaget.


“Iya,” jawabnya asal. “Ada apa Sekretaris Min?” lanjutnya setelah kesadarannya kembali.


“Anda tidak akan pulang?”


“Iya. Kau duluan saja!” ucap So Hyun sambil tersenyum.


“Memangnya anda mau lembur. Aku rasa tidak ada pekerjaan yang harus dilembur,” ucap Sekretaris Min dengan raut penuh tanda tanya.


So Hyun tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya kesegala arah. Bingung harus berterus terang atau tidak.


“Apa ada masalah?”


So Hyun menggeleng.


“Lalu?”


So Hyun masih terdiam. Bunyi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dia melirik sebentar ke arah layar. Dia kembali membuang muka setelah membaca nama si pengirim.


“Kenapa tak dibuka?” tanya Sekretaris Min.


So Hyun kembali menggeleng.


“Mau aku bukakan,” tutur Sekretaris Min kembali. Dia mengambil ponsel So Hyun. “Ini dari Jungkook. Dia menunggumu di basement.”


“Aku tahu,” jawab So Hyun singkat.


Sekretaris Min menutup mulutnya. Raut terkejut juga terlukis di wajahnya. “Dia sudah mengirim pesan dari sejam lalu. Kenapa anda tak menemuinya?” Tatapan tajam juga ia layangkan pada So Hyun.


So Hyun hanya mendengus pasrah dan membuang muka.


“Kalian bertengkar?”


Lagi-lagi So Hyun hanya menggeleng.


“Jika tidak bertengkar, kenapa tidak menemuinya? Kau tak kasian padanya? Dia sudah menyempatkan waktunya untukmu disaat dia sedang sibuk mempromosikan album barunya. Dimana lagi kau akan dapat sahabat seperti dia?” ujar Sekretaris Min panjang lebar. Dia selalu bisa memberikan pengertian untuk gadis yang sedang duduk melamun tersebut. Karena memang dia sudah menganggap So Hyun seperti adiknya.


“Kau benar. Kenapa aku jadi seegois ini?” So Hyun mendengus pasrah. Dia mulai bangkit. Merapikan pakaiannya. Mengambil tas dan coatnya. “Ayo!”


Sekretaris Min mengangguk. Dia ikut meninggalkan ruang So Hyun. Mereka berjalan beriringan menuju basement.


“Apa jadwalku besok?” tanya So Hyun yang sudah memasuki lift.


“Besok hari Minggu,” jelas Sekretaris Min.


“Aku bahkan sudah lupa hari,” keluh So Hyun pada dirinya sendiri.


Sekretaris Min hanya tersenyum mendengarnya.



To Be Continue..



Jungkook mau ketemu So Hyun, kira-kira buat ngomongin apa ya??🤔🤔


Gimana menurut kalian?


Semoga tetep suka ya…..


Terima kasih sudah setia menunggu.


See you next time.


LIKE!! COMMENT!! AYO!! AKAN DOUBLE UP KALAU VOTE COMMENTNYA MEMUASKAN 😁