The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 28



**Chapter 28


(Bring Up)




Semoga lagu yang dipenuhi penyesalan ini akan menggapai langit


Aku berdoa sepanjang malam berharap aku bisa menyentuh hatimu**




Senyum mengembang masih terpatri di wajah tampan Jimin. Setelah saling bertukar pesan dengan istrinya, lelah yang dirasakannya setelah tampil di panggung perlahan memudar. Sejak hari di mana istrinya menyampaikan kabar gembira, dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya setiap hari. Bahkan jika memiliki banyak waktu luang, sampai lima kali dalam sehari.


Dia teramat bahagia dengan kehidupannya sekarang. Keinginannya untuk menjadi seorang ayah, benar-benar akan terwujud. Tak ayal, kadang rekan-rekannya dibuat terheran dengan tingkahnya yang kelewat aneh.


Seperti sekarang, senyum itu masih terlihat bahkan saat dia sudah berada di dorm selepas menyelesaikan konsernya. Langkahnya begitu ringan. Terkadang juga bersiul. Tangan panjangnya mengambil gitar. Memainkan melodi baru yang terngiang di otaknya.


Saat seperti inilah, dia bisa membuat lagu. Dengan cepat dia mengambil buku dan menuliskan komposisi nada yang baru saja dimainkannya. Mengulangnya beberapa kali, hingga terdengar nada yang indah di pendengarannya.


“Kau tak mandi?” suara khas Taehyung terdengar di indranya. Ya, pria yang sudah menjadi teman sekamarnya sejak debut baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terlihat segar dengan rambut setengah basahnya.


“Nanti saja, aku baru saja terfikirkan melodi baru,” jawabnya cepat. Tangannya masih sibuk menggesek senar gitar.


“Akhir-akhir ini kau terlihat bahagia,” ucap Taehyung kembali setelah memakai kausnya.


Jimin hanya mengangguk. Dia kembali memainkan serangkaian nada yang baru ditulisnya. “Ada banyak hal baik yang kualami akhir-akhir ini.”


“Bagaimana kabar Kim daepyo?”


Jimin menghentikan permainan gitarnya. Menatap aneh rekan sekamarnya. Kenapa pria itu bisa memberikan pertanyaan yang aneh. “Apa maksudmu? Bagaimana aku tahu? Dan kenapa bertanya padaku?”


“Jangan berpura-pura. Kau pikir aku tak tahu.”


Jimin masih menatap aneh Taehyung. Seolah di depan wajahnya tergambar tanda tanya besar.


“Aku tahu kau sudah menikah dengannya.”


Jimin mengangkat alisnya sebentar. Langsung tergantikan dengan membulatkan mata. Menatap tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Taehyung tersenyum melihat ekspresi bingung di wajah rekannya. “Awalnya aku ragu, tapi setelah mendengar percakapanmu dengannya keraguanku hilang. Dan lagi, Kim daepyo mengiyakannya,” jelas Taehyung panjang lebar.


Masih dengan tatapan tajam dan penuh tanya, Jimin memandang Taehyung. Sang Empunya yang paham kembali bersuara, “Kau ingat hari di mana kau menelfonnya, dan bertanya perihal flashdiskmu beberapa waktu lalu? Saat itu, Kim daepyo bersamaku. Dia menyelamatkanku dari kejaran fans dan mengantarku pulang ke dorm.”


Jimin masih diam. Entah mencoba mengingat kapan kejadian yang dimaksud Taehyung atau karena tak pernah menduga jika rahasianya akan terbongkar. Yang pasti, mereka hanya saling menatap. Seolah berkata dengan bahasa yang hanya mereka berdua ketahui.


“Hyung, makan malam sudah siap?” ujar seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk. Dia memandang ke arah dua orang yang diam sambil menatap. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya lagi.


Jimin lebih dulu memutus kontak matanya. Mengangguk sebelum menjawab, “Iya, nanti aku ke sana. Aku mau membersihkan diri.” Dengan cepat dia memasuki kamar mandi, tanpa menanggapi perkataan Taehyung yang tadi.


“Ck ck ck,” decak Taehyung sambil menggelengkan kepala. “Dia tak pernah benar-benar serius menjawab ketika ditanya,” lanjutnya.


“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” Raut penuh tanya tergambar jelas di wajah pria berwajah bayi tersebut.


“Bukan urusanmu, Kutil (kookie di pelesetkan😂),” jawab Taehyung sambil menepuk pelan pundak pria itu. “Ayo, aku sudah lapar,” ajaknya sambil berlalu.


Pria itu hanya mengangkat bahu karena tak paham. Mengikuti langkah rekannya kemudian, setelah sebelumnya menutup pintu kamar.


-o0o-


So Hyun membuka kamar kakaknya. Sejak kembalinya dia ke Korea, ini kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah peninggalan ayahnya. Rumah yang memberikannya banyak kenangan. Dan juga membuatnya melakukan banyak hal. Bukan tanpa alasan, mengapa dia memilih tinggal di apartemen dan bukan di rumah ini. Dia belum siap dengan fakta bahwa dia sendirian di kota itu.


Dia hanya diam setelah pintu terbuka. Mengamati setiap ornamen yang ada di dalamnya. Di atas dipan terdapat foto besar kakaknya. Terlihat angkuh karena tak memperlihatkan senyumnya. Khas kakaknya ketika menjadi model iklan dulu. 


Matanya kembali menelisik mengitari ruang. Foto di bingkai yang terletak di atas nakas kembali menarik perhatiannya. Tungkainya membawanya mendekat. Terduduk di ranjang yang masih terbungkus kain putih. Tanpa perlu menarik kainnya, pantatnya sudah mendarat di sana. Mengambil bingkai tersebut.


Seulas senyum terlihat di bibirnya. Itu adalah potret dia bersama kakaknya. Mengingat penampilan di masa mudanya membuatnya ingin tertawa. Betapa dulu dia terlihat seperti anak lelaki sungguhan. Pakaian serta gaya, didukung dengan potongan rambut yang kelewat pendek.


Alasannya sederhana. Dulu dia tak ingin kehilangan sahabat rasa saudaranya, Jungkook. Jika dia berpenampilan seperti gadis pada umumnya, dia takut jika pria itu akan jatuh cinta padanya. Bahkan tanpa penampilan itu, pria itu sudah jatuh hati padanya.


“Oppa, aku merindukanmu.” Usapan lembut ia berikan pada potret kakaknya. Seketika angannya menerawang mengingat kali terakhir pertemuan mereka.


*


*


*Flashback


21 Maret 2008


“Appa, tidak bisakah aku tidak ikut?” tanya So Hyun yang duduk di kursi belakang. Mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan sedang. Di sampingnya duduk kakak laki-lakinya yang terlihat sibuk memainkan ponsel.


“Memangnya kau mau tinggal di sini sendirian?” sahut kakak laki-lakinya. Pandangannya sudah ia alihkan pada adik perempuannya.


“Masih ada Imo, aku bisa tinggal dengannya. Ya, ya. Appa,” tutur So Hyun kembali masih dengan nada memohonnya.


“Apa yang membuatmu berubah pikiran, Sayang? Padahal kemarin kau begitu antusias.” Kini suara lembut ibunya yang terdengar.


“Benar kata ibumu, apa yang merubah pikiranmu?” Kali ini baru suara Sang Ayah.


“Aku baru ingat, jika aku punya janji membuatkan hodie untuk Jungkook di hari ulang tahunnya nanti.” Gadis berambut pendek itu kembali bersuara. Masih terdengar nada sedikit memohon dari tuturnya.


“Hanya karena itu?” Itu suara Sang Ayah.


Sang kakak juga ikut menatap aneh gadis setengah pria tersebut. Ibunya bahkan sampai menghadap ke belakang mendengar penuturan putrinya.


So Hyun mengangguk dengan cepat.


Sang Kakak tersenyum. Dia juga mengacak pelan puncak kepala So Hyun. “Sebegitu sayangnya kau pada Jungkook,” tutur Sang Kakak kemudian.


“Bukannya begitu. Tapi aku sudah janji. Tidak mungkin kan aku mengingkarinya?” ucap So Hyun lagi masih dengan nada memelasnya.


“Jika memang begitu, apa boleh buat?” jawab Sang Ibu.


“Aku akan menyusul kalian setelah lulus nanti. Aku janji.” So Hyun mengacungkan kelingkingnya sebagai pendukung.


“Baiklah! Berjanjilah untuk satu hal?” Kakaknya kembali bersuara.


“Apa?” pandangannya kini ia alihkan ke arah kakaknya. So Hyun dapat melihat senyum tulus dari pria itu.


“Kau harus memanjangkan rambutmu. Saat kau menyusul nanti, pastikan rambutmu sudah panjang. Berpenampilanlah layaknya kebanyakan gadis,” ujar kakaknya panjang lebar.


“Tapi.”


“Tidak ada tapi-tapian. Jika kau mau, kau bisa pergi. Jika tidak, jangan harap bisa turun dari mobil ini.” Kini Sang Ayah yang bersuara.


So Hyun kini menatap Sang Ibu, memohon bantuan. Tapi sepertinya ibunya setuju dengan kedua anggota keluarga yang lain. Terbukti dengan senyum yang ditampilkan yang juga disertai anggukan.


“Iya deh, So Hyun setuju,” pasrahnya kemudian.


Mereka semua tertawa mendengar penuturan gadis setengah pria tersebut. Tak terkecuali Sang Supir yang sedari tadi menjadi penonton.


“Gadis pintar,” ucap kakaknya lagi. Tangannya masih setia mengacak rambut pendek adiknya.


Mobil itu berhenti di persimpangan. Menurunkan gadis setengah pria tersebut. “Jaga dirimu baik-baik, Sayang,” ucap Sang Ibu.


So Hyun mengangguk. “Kalian juga. Sampai jumpa lagi,” ucapnya sebagai salam perpisahan.


Setelah memastikan So Hyun mendapat kopernya, mereka kembali melajukan mobil. So Hyun melambai sebelum berbalik. Senyum manis tak henti tersungging dari bibirnya. Dia bersiul senang sambil menyeret kopernya.


Baru sekitar sepuluh langkah, dia mendengar decitan rem keras. Serta bunyi tabrakan keras. Seketika itu, tubuhnya menegang. Dia masih belum sanggup menoleh. Tersemat harapan di hatinya semoga bukan mobil yang ditumpangi keluarganya.


Setelah memantapkan hati, So Hyun menoleh. Tubuhnya limbung, terduduk lemas di trotoar. Tidak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaannya sekarang. Mobil yang ditumpangi keluarganya sudah terbalik. Tak jauh dari situ ada truk yang sedikit ringsek bagian depannya.


**Flashback off***


*


*


“Aku sudah memanjangkan rambut dan berpenampilan seperti gadis. Aku sudah menapati janjiku. Aku harap kau bisa melihatku, Oppa.”


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Suara itu membuat netra So Hyun beralih. Dari melihat potret kakaknya, menuju asal suara. Bibi keduanya sudah berdiri di ambang pintu. Perlahan dia mulai berjalan mendekatinya.


“Hanya sedang ingin ke mari,” jawab So Hyun kemudian. Dia mengembalikan bingkai foto itu ke tempat asalnya.


“Kau ingin tinggal di sini?” Lagi, terdengar pertanyaan dari Sang Bibi.


“Mungkin nanti, setelah aku melahirkan,” tutur So Hyun sambil tersenyum.


“Maksudmu?” tanya bibinya yang tak paham. Sebelum So Hyun membuka suara, bibinya sudah lebih dulu membuat kesimpulan. “Kau hamil?”


So Hyun mengangguk.


“Kau yakin dengan pilihanmu. Bukankah itu akan berdampak untuk kese…” belum sempat bibinya melanjutkan kalimatnya, So Hyun lebih dulu memberikan isyarat untuk diam.


“Selama aku tidak keguguran lagi, itu tidak akan jadi masalah,” jelas So Hyun kemudian.


“Kau sudah berkonsultasi dengan Dokter Song?”


So Hyun kembali mengangguk.


Bibinya menghela nafas. Seolah tidak setuju dengan pelikiran keponakannya. “Aku tidak akan menghalangi keputusanmu. Tapi berjanjilah, jangan mempersulit dirimu.”


-o0o-


“Daepyonim mau pesan apa?” tanya sekretarisnya setelah memasuki kafe.


“Latte. Sepertinya macaronnya enak,” jawab So Hyun.


“Aku saja yang mengantri. Daepyonim cari saja tempat duduk yang nyaman. Ibu hamil tidak boleh lelah,” ujar Aera setengah bercanda.


So Hyun tersenyum miring. Namun dia mengikuti perkataan gadis itu kemudian. “Aku mengerti.” Langkahya menuju meja yang ada di pojok ruang. Dekat jendela. Sengaja, karena memang pemandangannya cukup indah. Dia baru saja menyelesaikan meeting bersama kliennya tadi. Karena haus dia mengajak gadis bermarga Min tersebut mampir ke sebuah kafe.


Tak lama gadis itu datang membawa pesannya. Kafe itu memang terlihat sepi. Maklum saja ini jam kerja kantor juga masih jam sekolah. Biasanya memang tempat ini ramai dengan anak SMA.


“Jadi kau berkencan dengan pria itu?” tanya So Hyun setelah meminum lattenya. Tadi pagi, dia tak sengaja melihat sekretarisnya diantar oleh seorang pria.


Seburat merah dapat So Hyun lihat di wajah sekretarisnya. Gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu tersipu. Dia meneguk minumannya kembali sebelum bersuara. “Iya.”


“Sudah berapa lama?”


“Tiga bulan.” Raut berseri tergambar gamblang di wajah manis Aera.


So Hyun tersenyum setelah meletakkan cangkirnya. “Sebegitu bahagianya dirimu?”


“Tentu saja. Dia sangat baik.”


“Karena pria itu atau karena pada akhirnya kau bisa membuka hati untuk pria lain.” So Hyun kembali bersuara setelah menelan macaronnya.


“Maksud daepyonim?”


“Bukankah kau masih belum bisa melupakannya?”


Aera mengangkat alisnya tak paham.


“Kau masih sering gugup kan jika di dekat Jimin,” tutur So Hyun kembali. Dia melirik dari ekor matanya. Kembali menyuapkan macaron ke mulutnya.


Aera terdiam. Pandangannya mendadak kosong. Memang benar yang dikatakan bosnya. Tapi itu rasanya salah, mengingat bagaimana status pria itu sekarang.


“Tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak akan marah.”


Aera menatap tajam bosnya, seolah minta penjelasan dari argumen yang baru saja di ucapkannya.


“Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa kita akan jatuh cinta. Jadi selama kau tak merusak hubungan kami, kenapa aku harus marah?”


“Ya Tuhan, kenapa kau jadi membahas itu.”


“Aku tahu seberapa keras usahamu untuk hal ini. Jadi aku hanya berusaha menghargainya.”


Aera hanya tersenyum mengejek sebagai tanggapan. Dia kembali meminum minumannya.


“Jadi ceritakan bagaimana kau bisa memutuskan berkencan dengannya?”


-o0o-


Brak. Pintu ruang latihan itu terbuka lebar. Menampakkan seorang gadis dengan wajah tegangnya. Para personil BTS yang kebetulan telah selesai dengan koreografinya menoleh. Menatap tak percaya gadis yang berdiri di sana.


Jungkook adalah pria yang pertama kali mendekat. “So-ah,” sapanya pada gadis tersebut. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi. Dia terkejut melihat raut tegang di wajah sahabatnya.


So Hyun hanya menatap datar Jungkook. Nafasnya memburu. Dia tak sadar jika tungkainya kembali membawanya melangkah. Berjalan ke arah Jungkook.


Saat Jungkook pikir gadis itu akan menemuinya dugaannya salah. Gadis itu melewatinya. Pandangannya tak lepas dari gerak tubuh sahabatnya. Sampai dia melihat gadis itu memeluk pria yang sudah lima tahun ini menjadi rekannya.


“Aku takut,” itu adalah kalimat pertama yang So Hyun ucapkan setelah memeluk pria itu.


Semua mata kini tertuju pada tingkah So Hyun yang tak biasa. Menimbulkan pertanyaan besar untuk mereka. Jelas saja, mereka tak pernah melihat kedekatan kedua orang yang tengah berpelukan sekarang. Kecuali, pria bermarga Kim.


Pria itu menegang. Dia merasakan nafas memburu So Hyun. Ditambah tubuh bergetarnya. Apalagi keringat dingin sepertinya muncul di sepanjang kening gadis itu.


Dengan sigap, dia membalas pelukan gadisnya. Ya, dia tahu apa yang terjadi pada gadisnya. “Tidak apa-apa. Ada aku. Aku di sini. Jangan takut,” ucapnya berusaha menenangkan. Usapan lembut ia berikan pada surai panjang So Hyun.


Pria itu memberi isyarat berhenti saat Jungkook mendekat. Perasaannya ikut tak menentu melihat kondisi istrinya. “Kau mendengar suara itu lagi?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Meski dia tak yakin apakah So Hyun akan menanggapinya atau tidak.


Anggukan kepala, dapat dia rasakan. So Hyun menanggapinya. Dia membuang kasar nafasnya. Pikirannya bertambah kacau melihatnya. Usapan halus masih ia berikan pada So Hyun. “Tidak apa-apa. Jangan takut. Aku masih di sini.”


Dengan hati-hati dia membawa istrinya menjauh. Di abaikannya tatapan penuh tanya dari rekannya. Dia akan menjelaskannya nanti. Yang jadi prioritasnya sekarang adalah bagaimana membuat istrinya tenang.


Dia ikut membaringkan diri. Masih dengan memeluk istrinya. Ya, dia memutuskan untuk membawa istrinya ke kamarnya. Pesan pria yang tak ingin disebutkan namanya, terngiang di otaknya. Hal pertama yang harus dilakukannya yaitu membuatnya tenang. Jika perlu, buat dia tertidur.


Dia bisa merasakan dengusan halus dari hidung istrinya. Sudah terlihat biasa, tidak memburu seperti tadi. Tubuh bergetarnya juga sudah tak terasa. Keringat dinginnya juga tampak menghilang. Perasaan lega menyelimutinya. Dia berhasil menenangkan gadisnya. Tepukan pelan di punggung So Hyun masih dia berikan. Dia ingin membuat gadis itu semakin terlelap.


“Apa yang membuatmu kambuh, Sayang?” ucap pria itu meski tahu tak akan mendapat respon. Gadisnya sudah terlelap. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut istrinya. Betapa dia sangat merindukan gadis itu. Seminggu lebih, dia tak melihat wajahnya. Kecupan dalam dia berikan di kening So Hyun.


Dia beranjak. Tenggorokannya terasa kering. Dia memang belm sempat minum setelah latihan tadi. Langkah lebarnya membawanya menuju dapur. Mengambil air dalam kulkas.


Rekannya sudah berkumpul di depan TV. Menatap tajam Jimin yang baru kembali dari dapur. Tatapan minta penjelasan dapat dilihatnya. Setelah menarik nafas dalam. Dia ikut duduk, bergabung bersama rekan-rekannya.


“Jadi, hyung benar-benar sudah menikah dengannya?” Jungkook adalah orang pertama yang membuka suara.


Dia tak merasa heran mendengarnya. Mungkin Taehyung sudah menjelaskannya pada mereka. “Ya, kami memang sudah menikah,” jawabnya mantap. Mungkin inilah saat yang tepat untuk memberitahu rekan-rekannya, meski sebenarnya keadaannya tak sesuai harapan.


Ada perasaan sakit saat mendengarnya. Jungkook merasakannya. Sekarang dia tahu, kenapa gadis itu menolaknya dulu. “Sejak kapan?”


“Sehari, sebelum ulang tahunmu.”


Jungkook tersenyum miring. Itu bahkan sudah sangat lama. Dan saat itu, dia bahkan belum mengingat siapa So Hyun. Jadi itu bukan kebetulan saat pria itu datang memberitahukan So Hyun ingin menemuinya. Bisa jadi, mereka memang datang bersama.


“Bagaimana bisa kau menikah dengannya?” Masih Jungkook yang bersuara. Pria itu masih tak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Yang lain memilih diam, meski masih terbesit banyak pertanyaan.


Di situlah Jimin menceritakan kronologinya. Bagaimana dia dan gadis bernama Kim So Hyun menikah. Dan tentu kabar gembira yang sudah didengarnya.


***💜


💜


To Be Continue...


💜


💜***


Jangan lupa tinggalkan LIKE dan COMMENT!


Member BTS akhirnya tau, Jungkook patah hati tuh, sama author aja yuk Kook, kita langsung ke KUA🤣🤣