The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]

The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]
Chapter 17



Bisa di tambah dong Like Commentnya 😆


***


Chapter 17


(May I Love You?)


-


-


Satu langkah, dua langkah hatiku melompat


Perasaanku tumbuh dan aku tidak bisa menyembunyikan itu


-


-


So Hyun menarikan jarinya diatas nuts-nuts piano. Matanya terpejam sebari mengingat nada lagu yang dimainkannya. Sesekali dia menuliskan nada untuk lagu tersebut. Mengulang beberapa kali nada yang baru dituliskannya. Dia mendengus kesal kala nada tersebut tak enak di pendengarannya. "Ternyata susah juga?", ucapnya sendiri.


Ya, dia sedang mencoba melanjutkan lagu yang dulu ditulis kakaknya. Lagu itu dipersembahkan untuknya, belum selesai karena memang kakaknya berjanji menyelesaikannya setelah mereka pindah ke Amerika. Namun nasib berkata lain, hingga membuatnya harus berpisah dengan pria yang selama ini dikaguminya.


Bagi So Hyun, sosok Hyunmin adalah sosok yang hangat, perhatian meski kadang terkesan cerewet, dan juga baik. Masih membekas dalam ingatannya bagaimana kebaikan hati pria itu. Yang membuatnya mengerti arti dari persaudaraan yang sesungguhnya.


Netranya kini ia tujukan pada foto yang terpajang rapi di atas piano. Seorang siswa SMA yang tengah tersenyum manis. Dia memang sengaja membawa foto dari ruang kerjanya itu ke tempat dia duduk sekarang. "Oppa, seharusnya waktu itu kau menyelesaikan lagumu dulu", ucapnya dengan dengusan kesal.


"Aku akan memainkan lagu untukmu", ucapnya lagi.


Setelah mengambil nafas dalam, tangannya mulai menari di atas nuts-nuts piano tersebut. Dia masih hafal lagu itu. Lagu pertama yang dibawakan kakaknya ketika konser pertamanya digelar. Itu adalah lagu ciptaan ayahnya. Dan itu diberi judul, Promise.


"Bagaimana menurut oppa?", So Hyun kembali bertanya pada foto yang dipajang di depannya.


Dia mendengus kesal setelah lama terdiam. "Iya, aku tahu aku memang tak sebagus dirimu. Itulah mengapa aku berhenti bermain piano". Hanya helaan nafas pasrah yang terdengar lagi setelahnya. Netranya kembali menelisik seisi ruangan tersebut. Tak disangka disana berdiri seorang pria yang melipat tangannya di depan dada.


Gadis bersurai panjang itu mengangkat alisnya. Wajahnya menunjukan keheranan. Jarinya juga menunjuk sang pria, seolah berkata sejak kapan pria itu berdiri disana.


Pria itu berjalan mendekat dan ikut duduk di bangku yang sama dengan So Hyun. "Jadi itu alasanmu. Pantas saja aku tak pernah melihatmu bermain piano. Ku pikir kau tak bisa memainkannya", ucap pria itu yang masih mendapat tatapan tajam So Hyun.


"Kenapa?", tanya pria itu lagi. Dia sedikit risih dengan tatapan tajam istrinya.


"Sudah berapa lama kau berdiri disitu?", ucap So Hyun akhirnya bersuara.


"Sejak kau mulai memainkan lagu itu. Itu lagunya Kim ahjussi kan. Tidak, maksudku abeonim. Promise kalau tidak salah", ucap pria itu kembali.


So Hyun memejamkan matanya sambil membuang muka. Itu adalah hal memalukan yang dilakukannya, menurutnya. Dia memang jarang bermain piano, karena menurutnya permainannya payah. Alasan dia berhenti mempelajari piano adalah kenyataan dimana kakaknya lebih handal dalam bidang ini daripada dia. Dia tak ingin dibanding-bandingkan dengan pria itu. Alasan klasik.


"Aish. Seharusnya kau bilang jika sudah datang. Memalukan", ucap So Hyun lirih.


"Apa yang memalukan?".


"Tentu saja permainan pianoku", ucap So Hyun. Dia juga mengangkat tangannya saat pria itu akan mengucapkan sesuatu. Memberi isyarat untuknya agar tak mengeluarkan suara. "Aku sudah tahu jika aku payah dalam hal ini. Jadi jangan berkomentar apapun", jelasnya kemudian.


"Tidak. Kau tidak sepayah itu. Tadi bagus kok", ucap Jimin meyakinkan. Entah kenapa kali ini dia tak setuju dengan pendapat istrinya. Kenapa gadis itu bersi keras mengatakan jika dirinya payah. Padahal kalau boleh jujur dia cukup terkesima mendengar permainan piano gadis itu.


"Jangan bohong hanya untuk menyenangkanku. Kalau memang buruk ya katakan saja jika itu buruk. Dasar menyebalkan", ucap So Hyun memukul pelan lengan Jimin.


"Aku serius".


So Hyun menatap dalam mata pria itu. Tak ada kebohongan disana. "Terserahlah!", ucapnya pasrah. "Kau mau memainkannya untukku", lanjutnya.


"Kau mau lagu apa?", tanya Jimin dengan senyuman khasnya.


So Hyun mengambil buku yang dipajangnya di atas piano. Membalik beberapa halaman. Lalu menunjukannya pada Jimin. "Ini", ucapnya.


Jimin menerima buku itu dengan senang hati. Dia membolak-balik beberapa halaman untuk mengetahui isi buku tersebut. Dia menatap So Hyun dalam. Seolah bertanya buku milik siapa itu.


So Hyun yang paham tatapan dalam Jimin, akhirnya membuka suara. "Itu buku milik Appa yang diwariskan pada Hyunmin oppa. Aku akan memberikannya padamu, jika kau mau menyelesaikan lagu itu".


"Memangnya lagu ini belum selesai?", tanya Jimin saat melihat halaman yang ditunjuk So Hyun.


"Coba saja kau mainkan dulu".


Jimin mengangguk. "Baiklah!". Tangannya dengan terampil menyentuh nuts-nuts piano tersebut. Terdengar rangkaian nada yang begitu merdu dipendengaran.


Perasaan kagum menghinggapi diri So Hyun. Ini kali pertama dia melihat pria itu bermain piano di depan matanya. Tepat seperti yang orang-orang katakan, dia begitu mahir memainkannya. Seulas senyum tersungging begitu saja di wajah cantiknya. Perasaan bahagia juga menghinggapinya. Seolah berjuta kupu-kupu menari menggelitik perutnya. Kalau boleh jujur, dia benar-benar terpesona.


Benar-benar tipe pria idaman, pikir So Hyun. Tipe ideal So Hyun sebenarnya adalan pria yang terlihat mempesona saat bermain piano, seperti ayah dan juga kakaknya. Sepertinya dia menemukannya sekarang. Tapi, ini rahasia. Hanya Tuhan dan dia yang tahu. Dia bahkan tidak memberitahu Jungkook. Dia hanya memberitahu jika tipe idealnya adalah pria yang bisa memasak.


"Kau benar, ini memang belum selesai", ucap Jimin.


Hal itu membuat lamunan So Hyun buyar. Dia menatap intens pria itu yang masih mengamati sederet tulisan dalam buku tersebut. Sepertinya pria itu tak sadar jika istrinya tengah menatapnya lekat. Tatapan kagum dan memuja jelas terpanjar dari iris So Hyun. "Moshita", ucapnya tanpa sadar.


Jimin yang mendengar istrinya bergumam menoleh. Ada raut kaget ketika hal pertama yang dilihatnya adalah istrinya tengah memandang kagum padanya. Hanya sebentar, yang kemudian digantikan senyum manis khasnya. "Kau baru sadar jika aku keren", ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Emmh", jawab So Hyun disertai anggukan.


Pria itu tersenyum semakin lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Mereke hanya saling menatap untuk beberapa detik. Tangan Jimin terulur menyelipkan anak rambut So Hyun ke belakang telinga saat pandangannya terhalang. Dia teramat merindukan wajah gadis itu. Haruskan dia menyebutnya sebagai wanita? Sepertinya iya, So Hyun bukan lagi seorang gadis sekarang. Dialah membuat gadis itu menjadi seorang wanita.


So Hyun menurunkan tangan Jimin yang masih mengusap lembut rambutnya. Menyatukannya dengan tangannya. Dia menggenggamnya. Menatap Jimin intens. "Terima kasih untuk semuanya", ucapnya tulus.


"Kau tidak perlu berterima kasih. Memang ini yang seharusnya aku lakukan", jelas Jimin. Dia menarik genggaman So Hyun, mengecup punggung telapak tangan istrinya kemudian. "Aku tulus mencintaimu. Kau tak perlu meragukannya", lanjutnya kemudian.


Entah perasaannya apa yang menimpa So Hyun sekarang. Rasanya seperti melayang di atas awan. Jantungnya sudah tak terkontrol sejak tadi. Bibirnya juga tak henti menyunggingkan senyum. Pipinya sudah memerah seperti tomat. Dia bisa gila jika terus seperti ini. "Kau sudah makan?", ucapnya mengalihkan perhatian. Dia juga perlahan menarik tangannya.


"Belum". Jimin menggeleng.


"Kau mau makan apa? Spagetti, steak, pasta".


"Apapun yang kau masak".


"Kau harus memilihnya. Aku tidak suka jawaban seperti itu", ucap So Hyun memasang wajah kesalnya. Memajukan bibirnya dan melipat tangan di depan dada.


Jimin gemas dibuatnya. Dia memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir So Hyun. Salahkan kenapa bibir istrinya terlalu menggoda. "Pasta saja", ucapnya kemudian.


Jimin mengacak pelan puncak kepala So Hyun. Dia tahu jika istrinya masih kesal, apalagi setelah seenaknya dia menciumnya. "Aku akan menyelesaikan lagu itu untukmu. Itu buatan Hyunmin kan!", ucapnya mengalihkan pembicaraan.


So Hyun mengangguk sebagai jawaban. Wajah kesalnya sudah hilang. "Kau mandi saja dulu. Aku akan memasak untukmu". Dia berdiri yang diikuti Jimin. Dia berbalik bermaksud pergi. Saat kakinya akan terulur untuk melangkah, dia membatalkannya. Kembali berbalik dan tersenyum ramah pada Jimin. Kakinya menjinjit, memajukan wajahnya, dan mengecup singkat bibir pria itu. Sangat singkat karena dia dengan cepat berbalik. Berusaha pergi secepat mungkin. Namun sayang, tangannya sudah lebih dulu ditarik pria itu.


Jimin dengan cepat melumat bibir So Hyun. Dia juga menarik tengkuk istrinya untuk memperdalam ciumannya. Memiringkan kepalanya untuk mendapat pasokan oksigen.


So Hyun hanya pasrah membiarkan pria itu menguasai bibirnya. Tanpa sadar tangannya terulur merangkul leher suaminya.


Ciuman itu terlepas setelah tak ada lagi pasokan oksigen yang memasuki paru-paru mereka. Mereka terengah dan tertawa setelahnya.


-o0o-


"Kenapa dia belum juga kemari?", tanya So Hyun entah pada siapa. Dia meletakkan pasta yang sudah jadi ke meja. Menuang air putih kemudian. Dengan penuh pertanyaan So Hyun berjalan menuju kamarnya. Takut sesuatu terjadi pada pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Tungkainya berjalan cepat membawanya ke tempat dimana suaminya berada. Dia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah, suaminya berdiri di tengah ruang dengan masih memakai bathrobe dan mengusap rambunya dengan handuk. Pandangan pria itu terfokus pada foto besar yang dipajang di dinding tepat di atas ranjangnya.


"Kau sedang apa?", tanya So Hyun yang berjalan mendekat.


"Sejak kapan kau memasang foto itu?", bukannya menjawab pria itu justru bertanya balik. Dia sudah melempar handuknya ke keranjang tempat baju kotor.


"Sejak kau tak pulang. Imo yang mengirimkannya", jelas So Hyun. "Di depan juga ada. Yang bersama keluarga", imbuhnya.


Jimin menarik pinggang So Hyun. Dia memeluknya dari belakang. Kepalanya ia sandarkan di pundak kanan So Hyun. Pandangannya masih betah memandang foto pernikahan mereka. Walau dia tahu senyum yang dipasang istrinya saat itu adalah senyum palsu. Dia tak peduli, yang terpenting wanita itu sudah menjadi miliknya sekarang.


"Kenapa? Kau tidak suka aku memasangnya?", tanya So Hyun hati-hati. Dia bergerak gelisah saat merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuknya. Jika dibiarkan mereka tidak jadi makan malam. Yang ada dia yang akan dimakan pria itu.


"Aku menyukainya", jawabnya masih dengan posisi yang sama.


"Jimin-ssi, ganti baju dulu. Kita makan, katanya kau belum makan", ucap So Hyun. Dia semakin bergerak gelisah karena pria itu sudah menciumi tengkuknya.


"Sebentar saja. Kau tahu seberapa besar rindunya aku padamu?", ucapnya disela-sela kegiatannya.


"Iya, aku tahu. Tapi kau tetap harus makan. Kesehatan itu yang paling utama", bantah So Hyun.


"Bersiaplah tidak tidur malam ini", bisik Jimin. Dia melepaskan pelukannya. berjalan cepat menuju walk in closetnya.


"Tidak, tidak. Kau tidak akan dapat jatah malam ini", jelas So Hyun.


"Apa?", pria itu berhenti dan berbalik. Menatap tajam So Hyun.


So Hyun hanya menanggapinya dengan senyum. "Aku sedang datang bulan", ucap So Hyun masih dengan senyum yang mengembang.


"Kim So Hyun", ucap Jimin sedikit berteriak.


"Haruskah aku menunjukannya padamu!", jawab So Hyun masih dengan senyum yang sama.


Jimin mengacak kesal rambutnyanya yang masih setangah basah. "Terserahlah!", dia kembali melanjutkan perjalannya, memasuki walk in closet.


"Aku tunggu di meja makan", teriak So Hyun karena pria itu sudah menghilang dibalik pintu. Dia meninggalkan kamarnya dengan senyum. Senang karena melihat raut kesal di wajah suaminya.


-o0o-


Jimin berjalan menuju ruang makan dengan wajah yang ditekuk. Raut kesal masih tergambar jelas disana. Dia sudah tampak rapi dengan kaos putih lengan pendek dan celana selututnya. Langkahnya terhenti kala melihat hal indah di depannya.


Ruang itu bercahaya remang-remang yang berasal dari lilin. Mejanya dihiasi bunga mawar yang cantik. Dua piring pasta sudah tertata manis disana. Jangan lupakan beberapa makanan pendamping. Dua gelas air putih juga bediri kokoh disana.


"Kau mau wine?", tanya So Hyun yang menyadari kehadiran suaminya.


"Boleh", jawab Jimin sambil mendekat. Dia masih memandang kagum meja makannya. "Kau yang menyiapkan ini semua?".


So Hyun yang sudah kembali dari mengambil botol wine mengangguk. Dia mengambil gelas di lemari dan kembali mendekat. "Kita tidak akan bisa makan malam romantis di luar. Jadi, aku akan membuat makan malam romantis di rumah", jelasnya. Tangannya tergerak menuangkan wine.


Jimin tersenyum senang. Dia kembali memeluk istrinya dari belakang. Mencium kilat pipinya. "Terima kasih. Seharusnya aku yang berinisiatif seperti ini".


"Aku tahu kau tak akan punya waktu untuk hal-hal seperti ini", jelas So Hyun. Dia meletakkan botol wine di meja setelah selesai.


"Kau marah?".


"Tidak. Aku paham kok. Suamiku kan artis terkenal. Jadi orangnya pasti sibuk", ucap So Hyun dengan nada manis. Tidak ada nada kesal disana. "Duduklah. Kita makan dulu".


Jimin mengangguk dan melepaskan pelukannya. Dia duduk di kursi yang ditarik So Hyun.


"Seharusnya kita makan steak. Tapi karena kau meminta pasta, ya sudah", ucap So Hyun kembali setelah mendudukan dirinya.


"Pasta juga enak. Selamat makan". Jimin mulai menyuapkan pasta ke mulutnya.


So Hyun tersenyum senang melihatnya. Perasaan bahagia menghinggapi hatinya. Entah karena melihat pria itu makan dengan lahap atau karena adanya pria itu dihadapannya. Yang pasti, dia mulai merindukan pria itu jika tak ada didekatnya. Mungkin perlahan, dia mulai menyukai pria itu.


🍭


🍭


🍭


To Be Continue...


🍭


🍭


🍭


So Hyun akhirnya menyadari bahwa dia mencintai Jimin😆 cinta memang begitu, sulit dipahami😁


Saya kembali lagi dengan chapter 17.


Terima kasih sudah setia menunggu FF receh ini.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


See you next time......