![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
Sekarang kita menuju konflik baru😉
***
Chapter 32
__
__
__
So Hyun masih sibuk dengan tabletnya saat Jimin membuka pintu kamarnya. Pria itu tersenyum mendapati istrinya sudah pulang ke tempat tinggalnya.
“Kau sedang apa?” tanya pria itu setelah mendudukan pantatnya di samping So Hyun.
“Menggambar,” jawab So Hyun singkat. Dia bahkan tak menoleh ke arah pria yang menyapanya. Tangannya dengan lincah menari di atas benda persegi empat tersebut. Dengan pena kecil sebagai media menggambarnya.
Jimin mendekatkan wajahnya, dia ikut melirik hasil gambar istrinya. Dia tersenyum mendapati gambar yang belum selesai tersebut. “Bukankah matanya terlalu besar.” Jimin mulai memberikan komentaranya pada gambar hasil kerja keras istrinya.
“Tentu saja, dia sedang kaget.” Masih dengan padangan yang fokus pada layar, So Hyun menjawab.
Jimin masih betah memandang setiap gerik istrinya. Seulas senyum ia tampilkan. Perasaannya menghangat melihat istrinya baik-baik saja. Lelah yang dirasakannya perlahan memudar. Tangannya tanpa sadar terulur, mengusap pelan surai istrinya. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyanya kemudian.
“Baik. Seperti biasa.” So Hyun mematikan tabletnya. Memandang hangat wajah suaminya. Dia suka saat pria itu melakukannya. Mengusap surainya dengan lembut. Ditambah tatapan teduhnya, membuat jantungnya perpacu lebih cepat. Seolah beribu kupu-kupu menari menggelitik perutnya. “Oppa sudah makan?”
Lagi, mendengar wanitanya memanggil dengan panggilan sayangnya, hatinya kembali menghangat. Jimin mengangguk. Dia menarik tangannya kembali. Terlihat ragu saat akan menyimpanya. Dia teringat sesuatu. Kembali mengulurkannya untuk maraih tangan istrinya.
“Ada yang membuatku penasaran. Aku ingin bertanya padamu?” Dia berdiri dan mengajak serta istrinya. Berjalan meninggalkan kamarnya.
So Hyun hanya dia mengikuti. Tabletnya ia biarkan tergeletak di sofa. Masih dengan perasaan penuh tanya dia berjalan. Dia ingin sekali berucap, namun dia tahan. Dia membiarkan pria itu untuk memulainya.
Mereka berhenti di depan ruang pribadi So Hyun. Jimin melepaskan genggamannya. Memasukan kata sandi yang berhasil diingatnya. Dia harus berterima kasih pada mantan kekasihnya itu.
“Dari mana kau tahu kata sandinya?” So Hyun bertanya setelah pria itu berhasil membukanya.
Jimin hanya tersenyum. Dia enggan berkomentar. Lagi dia menarik lengan istrinya untuk diajak masuk. Dia berhenti di tengah ruang. Menatap foto besar istrinya. “Kapan kau mengambil foto itu?”
So Hyun juga ikut menatap lekat gambar dirinya. Ingatannya menerawang mengingat kapan foto itu diambil. “Tahun keduaku di ESMOD. Itu hanya satu dari sekian foto yang Kevin berikan.”
“Kevin?” Jimin mengangkat alis mengetahui satu nama.
“Aa, aku belum memberitahumu kan. Dia adalah teman baikku di Paris. Jika di sini aku punya Jungkook, maka di sana aku punya Kevin,” jelas So Hyun. Matanya masih menerawang memandang potret dirinya.
“Teman rasa pacar yang lain ya.”
Refleks So Hyun menoleh. Mendengar kalimat aneh dari suaminya dia membulatkan mata. Menatap heran pria yang berdiri di sampingnya.
“Sebenarnya, jika orang lain tak mengenal baik kalian, mereka pasti mengira jika kau dan Jungkook adalah sepasang kekasih.”
“Begitukah!” So Hyun berucap dengan nada manjanya. “Kau tidak sedang cemburu kan?” So Hyun kembali berucap. Kali ini disertai senggolan pelan sikunya di pinggang suaminya.
Jimin hanya mengangkat bahu. Dia berbalik, berjalan ke arah lemari kaca tempat menyimpan gitar.
“Aku punya sesuatu untukmu?”
“Aku sudah tahu. Lukisan itu kan?” Jimin menunjuk benda yang tertutup kain di sebelah lemari kaca tersebut.
“Kau sudah pernah masuk ke sini?”
Jimin hanya mengangguk. Pandangannya kembali terfokus pada gitar yang tergeletak manis di rak lemari.
“Kau bisa bermain gitar?” Lagi dia memberikan pertanyaannya. Meski sudah mendengar cerita dari mantan kekasihnya, namun tak lantas membuat rasa penasaran terhadap istrinya hilang.
So Hyun mengangguk. Dia memeluk pinggang Jimin dengan tangan kanannya. Bersandar pada bahu suaminya. “Dulu, sekarang tidak lagi?”
Pria itu mengangkat alisnya tak paham. “Kenapa?”
“Karena luka ini,” jelas So Hyun sambil mengangkat tangan kirinya. “Arteri, saraf serta tiga tendonku terpotong saat aku mendapat luka ini. Dampaknya tanganku sering kebas jika terlalu banyak digunakan untuk aktivitas,” sambungnya lagi. “Aku sudah pernah mencoba memainkannya kembali. Hanya semenit, dan rasanya sangat menyakitkan. Karena itu aku memilih menyimpannya.”
“Jangan khawatir. Mulai sekarang, kapanpun kau ingin bermain gitar bilang saja padaku. Aku akan memainkannya untukmu,” ucap pria itu sambil memeluk So Hyun dari belakang. Tangannya berada di perut istrinya. Mengusapnya lembut.
“Terimakasih.” So Hyun berucap tulus. Tangannya ia pindahkan di atas tangan suaminya.
“Desainnya bagus, tapi sepertinya sudah lama.”
“Bukankah kau yang memilihkannya?”
“Maksudmu?”
“Itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke tiga belas dari Hyunmin oppa. Dia bilang temannya yang bisa bermain gitar yang memilihkannya. Bukankah kau satu-satunya temannya yang bisa bermain gitar!”
Jimin tampak berfikir mendengar perkataan istrinya. Dia mencoba mengingat kapan kejadiannya. “Sepertinya iya,” ucapnya disertai anggukan. “Tapi dia bilang itu untuk gadis spesial dalam hidupnya.”
“Aku juga seorang gadis.”
“Benar juga. Jika bukan gadis, dia tidak mungkin ada kan,” ujar Jimin kembali sambil mengusap pelan perut So Hyun.
-o0o-
“Kau tidak mau ikut?” So Hyun bertanya pada sekretarisnya. Mereka masih di mobil gadis itu.
Aera menggeleng. “Di sana ada Jungkook kan?”
“Kau ada masalah dengan Jungkook?”
“Tidak,” jawab Aera dengan cepat. Dia membuang muka. Kenapa dia bisa keceplosan menyebut nama pria itu. Pria yang akan dihindarinya mulai sekarang. Bukan apa-apa sebenarnya, dia masih merasa malu dengan kejadian malam itu.
“Benarkah!” Lagi So Hyun bertanya untuk memastikan. Dia menjumpai gelagat aneh pada tingkah sekretarisnya.
Gadis itu mengangguk, masih dengan membuang muka.
Sampai di depan pintu, So Hyun menekan tombol bel. Tak lama kemudian terdengar pintu itu terbuka. Seorang pria tersenyum ramah padanya.
“Kim daepyo.”
“Annyeong haseyo.” So Hyun menunduk memberi salam.
“Mau mencari Jungkook?” tanya pria yang diketahui sebagai leader grup suaminya. “Bukan lagi ya. Mau ketemu Jimin?” Pria itu kembali berucap bahkan sebelum So Hyun bersuara.
So Hyun hanya mengangguk dan tersenyum hambar. Dia sedikit malu rupanya.
“Mari silahkan masuk. Dia sedang membuat lagu bersama Taehyung.”
Sesuai saran pria itu, So Hyun ikut masuk. Dia berhenti sebentar setelah pintu tertutup. “Ini untuk kalian.” So Hyun menyodorkan kotak makanan pada pria itu.
“Apa ini?” tanya pria itu setelah mengambil kotak tersebut.
“Makanan.”
“Terimakasih. Dia ada di sana.” Pria itu menunjuk sebuah ruang. “Anda langsung saja ke sana.”
“Terimakasih.” So Hyun menunduk dan berlalu pergi. Dia membuka pintu ruang itu tanpa mengetuk. “Apa aku mengganggu?” ucapnya ragu.
Dua orang yang sedang duduk berhadapan itu menoleh. Tatapan heran mereka berikan. Hanya sesaat, kerena setelahnya mereka tersenyum. Terutama pria yang sedang memegang gitar.
“Tidak. Masuklah Kim daepyo,” ujar pria yang memegang pensil.
So Hyun berjalan mendekat. Berdiri di samping pria yang memegang gitar.
“Aku sudah bilang jika hari ini akan pulang. Untuk apa kemari?” Kini pria yang memegang gitar yang bersuara.
“Tidak boleh kah?”
“Bukannya begitu”
“Aku hanya mampir sebenarnya. Ada meeting dengan Lee daepyo dua puluh menit lagi. Dan juga aku mau bilang jika Sera imo meminta kita untuk makan malam di rumahnya. Kau tak perlu pulang ke apartemen, langsung saja datang ke sana,” jelas So Hyun panjang lebar.
“Makan malam.”
“Iya. Katanya dia senang karena sebentar lagi akan punya cucu.”
Pria yang memegang gitar itu tersenyum.
“Karena urusanku sudah selesai aku pergi dulu.” So Hyun mendekatkan wajahnya. Mencium singkat pipi suaminya. “Sampai ketemu nanti malam.” Dengan cepat dia melangkah. Tak peduli meski perbuatannya disaksikan orang lain.
“Hanya begitu saja,” protes pria yang memegang gitar.
So Hyun yang hampir mencapai pintu menoleh. “Eoh. Sampai jumpa,” ujar So Hyun. Dia juga melambaikan tangan. “Sampai jumpa Taehyung-ssi.”
Saat akan berbalik dia menabrak seseorang. Dia mendengus kesal melihat wajah pria yang menabraknya. “Sejak kapan kau disitu?” tanyanya dengan nada ketus.
“Baru saja. Kau sudah akan pergi?” Pria itu balik bertanya.
“Emmh. Aku ada meeting. Sampai jumpa.” So Hyun berkata sambil tersenyum. Baru dua langkah dia kembali berbalik. “Kau tidak melakukan sesuatu yang buruk pada sekretarisku kan?”
“Maksudmu?”
“Dia tak mau kuajak kemari. Katanya karena ada kau. Padahal biasanya dia selalu antusias jika kuajak bertemu mantan kekasihnya itu.”
“Mantan kekasih?”
“Iya, pria yang memegang gitar itu.” So Hyun menunjuk ke arah pria yang masih memegang gitar. Semua orang yang ada di ruang itu mengalihkan pandangannya. Menatap tak percaya pria yang dimaksud So Hyun.
“Itu tidak penting sekarang. Jawab dulu pertanyaanku?”
Pria itu hanya diam. Dia tak mungkin mengakui perbuatan brengseknya kan. Terlebih di ruang itu ada orang lain, meski sebenarnya adalah rekannya.
“Kenapa diam?”
“Memangnya apa yang aku lakukan padanya. Kami bahkan tidak dekat. Hanya kebetulan bertemu karena dia selalu berada dekat denganmu.”
“Masuk akal sih! Tapi dia tak akan berkata seperti itu jika tidak ada sesuatu di antara kalian.”
Pria itu hanya diam. Memang benar terjadi sesuatu di antara mereka. Namun dia masih belum siap menceritakannya. Dia masih merasa bersalah meskipun dia sudah minta maaf sebelumnya.
“Awas saja, jika kau berani menyakitinya. Aku pergi dulu.” So Hyun memukul pelan lengan pria itu.
Pria itu hanya menatap nanar pintu yang tertutup. Perasaan bersalah kembali mengusiknya. Dia berbalik dan ikut duduk di samping rekannya. “Kau benar-benar mantan kekasih sekretarisnya?” tanya pria itu kemudian.
“Ya, kami berkencan saat SMA dulu.”
**💜
💜
To Be Continue...
💜
💜**
Berbelit-belit sekali ya hubungan mereka 😂 kalau gak paham bisa tanya author😁
Jangan lupa tinggalkan jejak ya!!
LIKE COMMENT WAJIB😁
• TERIMAKASIH YANG SUDAH VOTE , LIKE DAN KOMEN CERITA INI, 😘 •