![The Marriage Curse [PARK JIMIN & KIM SO HYUN]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-marriage-curse--park-jimin---kim-so-hyun-.webp)
*Chapter 24
(Feeling For You)
—
—
Aku merasa kau akan datang, sehingga aku terus menunggumu
Kalau aku menangis, aku mungkin tak bisa melihatmu*
—
—
So Hyun membereskan pakaian yang berserakah di lantai kamarnya. Ini adalah ulah suaminya yang membuangnya sembarangan.
Mengingat kejadian semalam membuat jantungnya kembali berdetak keras. Kupu-kupu juga seolah menggelitik perutnya. Seulas senyum juga tersungging melihat wajah damai suaminya yang masih terpejam.
Setelah meletakkannya ke dalam keranjang, dia berjalan menuju jendela. Menyibak gorden kamarnya. Matahari sudah nampak tinggi. Dia memang sedikit kesiangan tadi.
Pandangannya ia alihkan pada jam dinding kamarnya. Masih ada waktu sebelum jadwal Sang Suami. Dia berencana membuat sarapan terlebih dulu, baru kemudian membangunkannya.
Masih dengan senyum mengembang, So Hyun menuju dapur. Membuka isi kulkasnya. Dia baru ingat jika persediaan makanannya sudah habis. Jika dia berbelanja terlebih dulu, tak akan sempat. Pria itu pasti tak akan mendapat jatah sarapan darinya.
Dia memutar otak untuk membuat hidangan dari bahan yang masih tersisa. Dia terfikirkan satu menu. Menu yang hampir tak pernah dibuatnya.
Dia merogoh kantung roknya. Mengambil ponsel dari sana. Membuka laman internet untuk mencari resep hidangan yang sedang difikirkannya. Dia mengangguk paham membacanya.
Nasi goreng kimchi menjadi pilihannya. Setelahnya, dia mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Nasi, kimchi, daun bawang, kecap manis, bawang bombai, telur, bawang putih, minyak wijen, minyak sayur, merica dan garam. Karena tidak ada daging, dia meninggalkan bahan tersebut.
Dia memulai dengan memotong kimchi menjadi lebih kecil. Memotong dadu bawang bombai. Mengiris tipis daun bawang dan mencincang halus bawang putih. Mengambil wajan, lalu memanaskannya. Menuangkan minyak sayur adalah langkah selanjutnya.
Bawang bombai dan bawang putih ditumis terlebih dahulu. Setelah harum dia memasukan kimchi. Mengaduknya dengan rata. Sekitar lima menit kemudian, dia menambahkan daun bawang. Melihat daun bawang yang sudah sedikit layu, So Hyun mematikan kompornya. Memasukkan nasi dan mengaduknya rata. Ditambahkan minyak wijen dan kecap manis sebelum menyalakan kompor kembali.
Langkah akhir, dia menambahkan garam dan merica bubuk. Mencicipinya sedikit sebelum diangkat. Menyajikannya dalam piring. Sebagai pelengkap dia menggoreng telur mata sapi. Setuhan akhir, meletakkan telur di atas nasi dan menaburkan irisan daun bawang yang masih ia sisakan sedikit. Benar-benar terlihat lezat.
Sempurna merupakan ungkapan yang tepat untuk hasil pekerjaannya. Makanan hasil masakannya sudah ia tata rapi di meja. Tinggal memanggil prianya. Setelah melepas apronnya dia bermaksud pergi, namun pria itu sudah lebih dulu datang dengan wajah segarnya. Sangat ketara jika dia baru selesai mandi.
“Morning,” sapa So Hyun. “Sarapannya sudah siap.”
Pria itu terheran dengan apa yang tersaji di meja. Baru kali ini hanya satu menu yang ada di meja makan. Itupun menu yang tak pernah dibuat istrinya. “Nasi goreng kimchi,” ucapnya mengenali nama masakan tersebut.
“Emmh. Maaf, aku kehabisan bahan makanan. Hanya ini yang tersisa untuk dimasak. Aku akan belanja setelah ini,” jelas So Hyun sambil tersenyum tak enak. Dia merasa sedikit bersalah tentang hal itu.
“Tak apa. Ini juga sudah mengenyangkan,” tutur pria itu. Dia mendudukan dirinya kemudian. “Selamat makan,” ucapnya kembali dengan cukup lantang. Dia mulai mengambil sendok dan menyuapkan makanan.
So Hyun dibuat senang olehnya. Dia ikut duduk dan makan. “Bagaimana rasanya. Aku baru pertama kali membuatnya?” tanyanya terdengar ragu. Dia takut jika rasa masakannya tak enak di lidah pria itu.
Pria itu menghentikan kunyahannya. Menatap dalam mata istrinya. “Apa yang tidak bisa kau lakukan? Kenapa setiap kali kau melakukan sesuatu, selalu berhasil.”
So Hyun mengangkat alisnya tak paham. “Apa maksudmu?”
Dia mengacungkan ibu jarinya. “Ini sangat lezat,” ujarnya kemudian.
“Jadi, apa yang tak bisa dilakukan oleh istriku,” ucapnya lagi setelah menelah makanannya.
“Tidak ada. Bahkan jika aku belum pernah melakukannya, hanya dengan sedikit belajar aku pasti bisa melakukannya,” jawab So Hyun penuh percaya diri. Dia juga mengedipkan nakal kelopak matanya. Senyum aneh juga terpampang di wajah cantiknya.
“Dasar.” Pria itu mengacak pelan rambut istrinya. Juga ikut tersenyum setelahnya.
-o0o-
“Kau tak pernah menggunakan kartu kredit yang aku berikan,” ucap Jimin setelah memeriksa ponselnya. Pria itu memang sudah memberikan fasilitas hidup berupa kartu kredit di awal-awal pernikahan mereka.
“Belum,” jawab So Hyun yang sudah meletakkan kembali botol parfumnya. Dia sudah rapi dengan penampilannya. Hari ini dia ada meeting penting untuk proyek barunya. Dia berbalik dan mendapati tatapan tajam suaminya.
“Kenapa? Aku tahu, penghasilanku mungkin tak sebanyak dirimu. Tapi, bagaimanapun juga aku ini suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikanmu nafkah.” Hanya itu kalimat yang dapat direkam So Hyun.
Pria itu masih berucap panjang, namun dia sela dengan memberikan kecupan singkat di bibir. Pria itu seketika terdiam. Mengedipkan matanya beberapa kali. Sepertinya dia masih belum paham dengan apa yang istrinya baru saja lakukan. Dia menatap tajam setelahnya.
So Hyun hanya memberikan senyum manis. Sebenarnya dia tak memiliki alasan pasti mengapa dia tak menggunakan kartu kredit yang pria itu berikan. Karena itu, dia memilih membuat pria itu diam. Merasa masih mendapat tatapan tajam dari suaminya, dia kembali mengecup singkat bibir suaminya. “
Saranghae oppa,” ucap So Hyun kemudian masih dengan senyum manisnya.
Pria itu benar-benar dibuat frustasi oleh So Hyun. Dia ingin marah tapi tak bisa. Sikap istrinya barusan benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Dia bahkan membuang muka saking gemasnya.
Dia ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya, tapi bingung harus berbuat apa? Yang bisa dilakukannya hanyalah mengusap pelan surai panjang istrinya dengan kedua tangannya. Kecupan di dahi juga ia berikan. “Kenapa aku tak bisa marah padamu?” tuturnya kemudian.
So Hyun mengulurkan tangannya. Memeluk erat pria itu. “Karena itu, berhentilah membahas itu. Aku pasti akan menggunakannya, tapi nanti. Bukankah kita harus berhemat. Kau bilang kau ingin punya anak kan.” Kepalanya sudah ia sandarkan di dada suaminya.
Pria itu mendesah. Dia dibuat kagum dengan pemikiran istrinya. Gadis itu bahkan sudah berfikir jauh ke depan. “Aku tahu. Tapi memang aku memberikannya khusus untukmu. Jika untuk kebutuhan anak kita nanti, aku sudah mempersiapkannya. Kau tidak perlu khawatir.” Usapan lembut pada rambut istrinya juga dia berikan.
“Gomawo.” Lagi senyum manis itu masih menghiasi wajah cantik So Hyun.
So Hyun melepas pelukannya. Mengangguk kemudian. “Aku berangkat dulu,” tuturnya setelah mengambil tas dan ponselnya. Saat akan melangkah tangannya ditahan pria itu. “Ada apa?”
“Aku antar ya!” tawar pria itu.
“Kau yakin. Bagaimana jika…” Belum sempat So Hyun menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan kecupan ringan. Sama dengan apa yang dilakukannya tadi.
“Tidak ada penolakan. Tunggu di sini, aku ambil jaket dulu.” Pria itu segera berlalu, memasuki walk in closetnya.
So Hyun hanya mendengus kesal. Pria itu memang kadang suka seenaknya. Dia merogoh tasnya mendengar deringan ponselnya. Sekretarisnya menghubunginya. “Yeobseyo, ada apa Sekretaris Min?” jawabnya memulai pembicaraan.
“Aku mengerti. Aku memang sudah mau berangkat, sampai bertemu di kantor.” Itu adalah kalimat penutup yang So Hyun katakan. Dia baru sadar jika suaminya tengah memperhatikan tingkahnya. Pria itu sudah terlihat rapi dengan penampilannya.
“Ayo,” ajak pria itu sambil mengulurkan tanannya.
So Hyun menerima uluran tangannya. Menggandengnya erat menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.
“Aku mungkin tak akan pulang untuk beberapa hari ke depan,” ucap Jimin memulai pembicaraan. Pandangannya kembali fokus pada jalan.
So Hyun yang terlihat sibuk dengan tabletnya menoleh. Tersenyum dan mengangguk. “Aku mengerti,” ucapnya kemudian.
“Kita sudah sampai,” tutur Jimin yang melihat istrinya kembali fokus pada tabletnya. Dia sudah mematikan mesin mobilnya.
So Hyun memeriksa keadaan sekitarnya. Memang benar yang dikatakan suaminya. Dia tak pernah sadar jika perjalannya akan terasa singkat. Mungkin efek dari sibuknya memeriksa laporan yang ada di e-mailnya. “Terimakasih sudah mengantarku, oppa. Aku masuk dulu.” So Hyun memberikan kecupan singkat di pipi Jimin.
“Jangan pulang sendiri. Mintalah Aera untuk mengantarmu.”
So Hyun mengangguk. Dia melambaikan tangan setelah menutup pintu. Masih betah memandang mobil itu yang mulai berjalan menjauh.
-o0o-
“Kau baik-baik saja?” tanya Jimin. Dia duduk di tepi ranjang Jungkook. Tangannya terulur menyentuh kening pria itu yang tengah berbaring. Suhu cukup panas masih dapat dirasakannya.
Sudah hampir lima hari pria berkulit otot itu berbaring. Setelah sebelumnya pingsan sehabis konser. Para rekannya ingin membawanya ke rumah sakit, namun pria itu begitu keras kepala dan berkata hanya ingin tinggal di dorm.
Dan inilah akibatnya, demamnya tak kunjung reda. Setiap hari semakin terasa panas. Juga disertai hadirnya batuk dan pilek. Padahal ini adalah musim panas.
“Kau bukan hanya sakit karena kelelahan kan?” Lagi, Jimin membuka suara. Di kamar itu memang hanya ada dia dan Jungkook. Yang lain sedang sibuk di luar kamar.
“Maksud hyung?” Suara Jungkook terdengar serak dan cukup lirih, namun pria jakung itu masih bisa mendengar.
“Jika hanya kelelahan, sehari istirahat biasanya kau sudah sembuh. Ini sudah hampir lima hari dan keadaanmu masih tak berubah. Justru bertambah parah. Kenapa? Kau punya masalah?” Jimin masih setia memberikan pertanyaan.
Jungkook hanya menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya kelelahan,” jawab Jungkook masih dengan suara lirihnya.
“Jangan bohong. Aku bisa membacanya.”
Jungkook hanya memberikan tatapan datarnya. Ucapan Jimin memang ada benarnya, hanya saja dia enggan mengakuinya.
“Kau bertengkar dengan Kim daepyo?” Jimin sepertinya belum menyerah memberikan pertanyaan pada pria yang tengah berbaring itu.
Jungkook membulatkan matanya. Dia cukup terkejut bagaimana pria yang tengah duduk di sampingnya bisa tahu. Dia juga memberikan tatapan aneh. Namun mengangguk kemudian.
“Jadi benar! Padahal aku hanya asal menebak.” Bohong saat dia mengatakan jika dia asal menebak.
Dia tahu apa yang menimpa hubungan persahabatan rekan dan istrinya tersebut. Tapi dia memilih tak memberitahu. Memang belum ada yang tahu hubungan barunya dengan So Hyun. Mungkin Taehyung, tapi pria itu juga terlihat ragu karena dia bisa memberikan seribu alasan tiap pria bermarga Kim itu membahasnya.
“Aku tak tahu kenapa kalian bertengkar. Segera berbaikanlah. Minta maaf jika memang kau salah. Kau banyak berubah setelah kembali bertemu dengannya,” lanjut Jimin.
Jungkook mengangguk. “Terimakasih hyung,” tuturnya masih dengan nada yang lirih. Khas orang sakit.
“Istirahatlah lagi. Jangan banyak pikiran jika memang ingin sembuh. Kau sudah minum obatmu?”
Jungkook mengangguk.
“Aku keluar dulu,” pamit Jimin.
🌼🌼🌼
To Be Continue...
🌼🌼🌼
Saya balik lagi. Gimana menurut kalian?
Semoga tetep suka ya…..
Terimakasih sudah setia menunggu.
See you next time.
LIKE COMMENT juseyo❣️❣️